Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kafirkah Indonesia Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah? | rumahfiqih.com

Kafirkah Indonesia Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah?

Mon 4 February 2013 11:35 | Negara | 12.073 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum ustadz,

Pertanyaan saya ini sudah sejak lama terpendam tetapi tidak pernah saya dapatkan jawabannya pak ustadz, yaitu terkait dengan penerapan hukum Islam di Indonesia.

1. Apa status negara Indonesia ini, termasuk negara Islam atau negara kafir?  Kalau dibilang negara Islam, kenapa tidak menerapkan hukum Islam, seperti rajam, potong tangan, cambuk dan qishash? Lalu kalau tidak menerapkan hukum Islam, apakah status kita sendiri sebagai rakyat, apakah kita muslim atau kafir?

2. Apa yang bisa kita lakukan agar negara kita bisa menggunakan dan menerapkan hukum Islam? Apakah memang tidak ada yang bisa dilakukan?

3. Bagaimana proses dan jalan yang harus diupayakan untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam? Apakah harus diperjuangkan lewat politik dan parlemen ataukah lewat jalan memisahkan diri dari NKRI? Atau mungkin adakah jalan lain?

Mohon maaf kalau agak panjang pertanyaannya, tetapi ini sangat penting untuk menambah ilmu dan wawasan.

Mohon jawabannya ustadz, jazakallah khoiron katsiir.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pernyataan bahwa Indonesia bukan negara Islam  adalah benar, kalau maksudnya bahwa hukum positif yang berlaku memang tidak mengacu kepada hukum jinayat yang kita kenal dalam ilmu fiqih.

Tetapi tidak secara otomatis orang Indonesia jadi kafir, fasik dan dzalim, karena hukum yang berlaku bukan hukum Allah. Sebab rakyat itu tergantung siapa yang berkuasa. Orang yang berkuasa itulah yang akan dimintai pertanggung--jawaban oleh Allah SWT, kenapa tidak menjalankan hukum-hukum Allah.

Lalu sebagai rakyat yang beragama Islam, apa yang bisa kita lakukan agar hukum Allah SWT ini berjalan dan diberlakukan? Apakah kita diam saja, karena bukan urusan kita, atau kita harus bertindak?

Jawabnya tentu kita tidak boleh diam saja, kita harus bertindak. Kita tidak boleh tinggal diam ketika mengetahui bahwa hukum Allah dibuang dan disia-siakan oleh penguasa. Kita harus melakukan sesuatu yang sifatnya nyata dan bukan hanya bicara.

Lalu apa tindakan nyata yang bisa kita lakukan dan bukan cuma bicara?

Dalam hal ini umat Islam boleh dibilang agak berbeda-beda pendapatnya.

Sebagian dari umat Islam ada yang berpandangan untuk memisahkan diri dari negara Indonesia, dan bikin lagi negara baru. Salah satunya yang tercatat dalam sejarah adalah Negara Islam Indonesia (NII). Meski kemudian secara umum negara NII ini tidak pernah terwujud, namun mereka yang berpikiran seperti ini memang masih ada.

Sebagian lagi dari umat Islam berpendapat bahwa kita tidak perlu memisahkan diri dari NKRI, tetapi hukum Islam harus diperjuangkan secara resmi lewat jalur parlemen dan juga lewat agenda-agenda dan birokrasi politik. Logikanya : suatu amal yang wajib bila tidak bisa dilaksanakan kecuali lewat amal yang lain, maka amal yang lain itu pun hukumnya wajib juga. Kaidah ini sering dikenal dengan sebutan :

mala yatimmul wajibu illa bihi fa huwa wajib

Maka kalau mau hukum Islam secara resmi diberlakukan secara formal, dan jalannya adalah lewat parlemen. Oleh karena itu hukum masuk parlemen dan dunia politik itu pun ikut jadi wajib juga, bahkan dianggap juga jadi amal ibadah di sisi Allah SWT.

Dan sepanjang sejarah, baik di Indonesia maupun di berbagai negara, kita melihat begitu banyak umat Islam berbondong-bondong memperjuangkan syariat Islam lewat parlemen.

Kendala

Namun perjuangan jihad lewat parlemen itu bukan perjuangan yang tanpa hambatan. Setidaknya, kita menemukan bahwa di Indonesia, berbagai partai Islam yang pernah ada seperti Masyumi atau Partai Nahdlatul Ulama di zaman orla hingga PPP di zaman orba, semua punya kisah sendiri-sendiri.

Di antara kendala utama yang mereka hadapi ternyata suara mereka memang masih kalah dibandingkan dengan partai nasionalis semacam PNI atau Golkar, masing-masing di zamannya. Itu kenyataannya yang ada dalam catatan sejarah, tanpa bermaksud mengecilkan peran dari masing-masing partai itu.

Walhasil, sampai hari ini kita masih belum melihat syariat Islam jadi undang-undang yang positif berlaku di NKRI. Artinya, apa yang diperjuangkan memang masih banyak mengalami kendala. Belum sepenuhnya berhasil seperti yang dicita-citakan.

Lepas dari perdebatan abadi tentang seberapa efektif memperjuangkan syariat Islam lewat parlemen dan lembaga lembaga politik, namun rasanya semua pihak sepakat pada satu kenyataan bahwa tingkat dukungan umat Islam terhadap syariat Islam memang masih sangat rendah.

Jadi kalau dilihat secara detail, memang masalah utama ternyata ada pada umat Islam sendiri, yang meskipun mayoritas, tetapi tidak semua merasa hukum Islam itu wajib untuk dijalankan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang justru merasa antipati, phobi dan khawatir kalau syariat Islam ditegakkan.

Dalam pandangan kebanyakan umat Islam, hukum Islam tidak lain hanya kekejaman, darah, kekerasan, cambuk, rajam, salib dan potong tangan. Sehingga belum apa-apa sudah muncul rasa sinis dan kurang simpati kepada apapun upaya untuk menegakkan syariah Islam. Wabil-khusus, keberadaan partai-partai Islam sendiri yang sejatinya adalah fornt terdepan dalam memperjuangkan syariah dalam hukum positif formal di negara Indonesia.

Tidak Adakah Cara Lain?

Jawabnya pasti selalu ada jalan lain, khususnya untuk mengubah paradigma umat yang terlanjur terkena styrotip negatif terhadap syaria Islam. Jalan ini tentu bukan dalam rangka mengecilkan peran saudara- saudara muslim yang telah berjibaku dalam politik dan parlemen, tetapi justru untuk membantu peran mereka tetapi lewat jalan lain.

Jalan lain itu adalah gerakan penyadaran secara kultural dan edukasional yang bersifat massif dan efektif, dalam rangka mempopulerkan ilmu syariah kepada khalayak. Bentuk nyatanya adalah mengajak kembali umat Islam untuk belajar ilmu-ilmu syariah, lewat berbagai jalur yang mungkin digarap.

Ada banyak jalur yang bisa digarap secara serius, seperti berbagai majelis taklim, pengajian, dakwah, ceramah, termasuk aktifitas remaja masjid. Bahkan juga lewat media massa, baik cetak maupun elektronik.

Yang dikampanyekan bukan rakyat disuruh memilih suatu pilihan dalam pemilu atau pilkada, tetapi rakyat dibikin cerdas dalam ilmu syariah. Semakin cerdas rakyat terhadap ilmu syariah, maka semakin banyak dukungan kepada tegaknya hukum Islam dalam ranah hukum.

Kurang lebih perbandingannya seperti semarak jilbab dulu dan hari ini. Dalam kasus jilbab, bisnis jilbab dan busana muslimah di masa sekarang ini tidak seterang masa 30-an tahun yang lalu. Di era tahun 80-an, jilbab masih merupakan pakaian aneh dan dibenci orang. Bahkan sekian banyak siswi sekolah umum dikeluarkan dari sekolah gara-gara pakai jilbab. Di masa itu bisnis jilbab tidak ada yang melirik.

Tetapi karena dakwah tidak pernah berhenti dan tidak pernah padam, akhirnya perlahan tapi pasti, kesadaran para wanita muslimah untuk berjilbab semakin hari semakin besar. Dan bisnis jilbab pun jadi semarak. Dimana-mana orang pakai jilbab, termasuk kalangan artis dan pejabat.

Semua berkat dakwah dan pengajaran tentang agama Islam yang tidak pernah berhenti. Semua orang, termasuk guru ngaji, ustadz, penceramah, murabbi, ajengan, kiyai, dan semuanya bicara tentang kewajiban jilbab di berbagai kesempatan.

Memang sekarang ini dukungan umat Islam terhadap hukum Islam masih seperti dukungan mereka terhadap jilbab di era tahun 80-an. Jadi butuh perjuangan panjang di level paling bawah yang dilakukan secara massif dan efektif oleh semua pihak.

Harapannya, kalau diteruskan tanpa lelah dan tanpa berhenti, suatu hari nanti umat Islam pasti akan masuk ke era kesadaran yang tinggi dan merata untuk berhukum dengan hukum Islam. Dan saat itulah barangkali era keemasan tegaknya syariah Islam di Indoensia.

Harapan itu masih ada, tapi kita tetap harus berusaha mengenalkan syariah Islam tanpa kenal lelah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tertangkap Tangan Sedang Berduaan Dengan Wanita di Hotel
3 February 2013, 23:01 | Negara | 13.851 views
Hukuman Buat Orang Yang Mengkonsumsi Khamar
3 February 2013, 14:03 | Jinayat | 14.571 views
Adakah Nikah Jarak Jauh?
3 February 2013, 00:19 | Nikah | 8.573 views
Mau Tobat karena Mencuri dan Memakan Haram, Bagaimana Caranya?
2 February 2013, 11:56 | Umum | 11.172 views
Utang Piutang Dengan Standar Dinar
1 February 2013, 10:10 | Umum | 5.989 views
Apakah Korupsi Dosa Besar?
31 January 2013, 22:51 | Kontemporer | 7.921 views
Bolehkah Umrah dengan Berhutang
30 January 2013, 22:46 | Haji | 16.304 views
Haruskah Menikah Dengan Ikhwan?
30 January 2013, 08:56 | Dakwah | 10.081 views
Mendirikan Televisi Khusus Konsumsi Umat Islam
30 January 2013, 01:07 | Dakwah | 6.907 views
Hukum Main Drama, Teater, Sinetron dan Film
29 January 2013, 00:22 | Umum | 14.990 views
Bingung Baca Terjemah Quran dan Kitab Hadits
28 January 2013, 23:39 | Quran | 13.331 views
Belanja Dengan Cicilan 0 % Termasuk Riba?
28 January 2013, 03:29 | Muamalat | 42.416 views
Jarak Antar Musholla Berdekatan
28 January 2013, 02:30 | Kontemporer | 9.048 views
Berbekam Bukan Sunnah Nabi?
27 January 2013, 09:05 | Hadits | 13.229 views
Adakah Kedokteran Nabawi?
26 January 2013, 02:33 | Umum | 6.061 views
Ahli Waris : Istri, Ibu Kandung, Dua Anak Perempuan dan Saudara/i
24 January 2013, 23:51 | Mawaris | 25.084 views
Ambil Keuntungan Dari Bisnis Dari Orang Dalam
24 January 2013, 23:14 | Muamalat | 5.569 views
Hak Waris Saudara Kandung
24 January 2013, 22:04 | Mawaris | 14.554 views
Mohon Saya Dihukum Cambuk 100 Kali Karena Zina
23 January 2013, 18:02 | Jinayat | 10.626 views
Bingung Cari di Google Tentang Pro Kontra Perayaan Maulid
23 January 2013, 01:42 | Umum | 15.649 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,307,645 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-9-2019
Subuh 04:29 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:01 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img