Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hasil Panen Tembakau Wajibkah Dizakati? | rumahfiqih.com

Hasil Panen Tembakau Wajibkah Dizakati?

Thu 11 July 2013 14:33 | Zakat | 8.545 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum.

Saya termasuk salah satu petani tembakau, uang hasil tembakau cukup banyak, bahkan kalau lagi mujur 1 kg tembakau saja bisa mencapai 100 ribu rupiah, bahkan mencapai 200 ribu rupiah.

Apakah saya wajib mengeluarkan zakat dari hasil pertanian tembakau? Sementara rokok sendiri termasuk yang kontroversi soal kehalalan dan keharamannya.

Kalau wajib mengeluarkan zakat bagaimana nishab  dan penghitungan  zakatnya?

Terimakasih ustadz...

Wassalamu'alaikum..

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertanyaan anda ini menarik untuk dibahas dan agak jarang juga dipertanyakan, karena jarang-jarang ada petani tembakau mengirim pertanyaan ke situs ini. Pertanyaannya adalah : adakah zakat atas hasil panen tanaman tembakau?

Jawabannya memang mungkin saja wajib dan mungkin saja tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita akan membahasnya. Dan setidaknya dalam hal ini ada dua sudut pandang.

Pertama dari sudut pandang bahwa tembakau itu adalah bahan baku utama rokok. Dan hukum rokok ini memang diperselisihkan ulama.

Kedua dari sudut pandang yang tidak ada kaitannya dengan hukum rokok, dimana para ulama memang punya syarat dan kriteria tentang tanaman apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya.

A. Hukum Zakat Tembakau Terkait Hukum Rokok

Dalam membahas hukum rokok, kita memang tidak bisa menampik bahwa ada perbedaan pendapat. Sementara kalangan dengan tegas mengharamkan rokok. Dan sebagian lainnya tidak mengharamkannya. Tentu masing-masing pihak datang dengan hujjah masing-masing. 

1. Pendapat Yang Mengharamkan Rokok

Maka bila kita menggunakan logika mereka yang mengharamkan rokok, pastilah mereka juga mengharamkan kita menanam tembakau. Sebab apa yang haram di hilirnya, maka di hulunya pun harus sudah diharamkan. Begitu logika yang dipakai oleh kebanyakan orang.

Dan kalau tembakau itu barang haram, tentu saja penghasilan dari bertani tembakau akan dianggap haram juga. Dan penghasilan yang haram tentu tidak ada kewajiban zakatnya, sebagaimana penghasilan maling yang mencuri harta orang lain.

Jangan kaget kalau sampai ada pihak-pihak yang mengatakan tidak ada kewajiban zakat hasil panen tembakau, dengan alasan rokok itu haram.

2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan Rokok

Namun sebagaimana kita tahu bahwa haramnya rokok itu masih jadi perkara khilafiyah di sebagian kalangan. Setidaknya-tidaknya sebagian kalangan ulama tidak sampai mengharamkan, tetapi hanya sampai memakruhkan saja.

Dengan logika hukum bahwa rokok itu tidak haram, maka tembakaunya juga tidak haram bila ditanam. Dan oleh karena itu bisa saja tembakau ini termasuk harta yang terkena zakat, tergantung mazhab mana yang memfatwakannya.

B. Hukum Zakat Tembakau Tidak Terkait Dengan Hukum Rokok

Sudut pandang yang kedua ini adalah sudut pandang dimana kita menghukumi zakat tembakau tanpa dikaitkan dengan hukum rokoknya. Memang dalam kenyataannya ada ikhtilaf di dalam hukum rokok.

Logika mereka adalah memisahkan hukum rokok dengan hukum tembakau. Sebab tidak semua hasil dari tembakau pasti akan dibuat menjadi rokok. Kalau pun rokok itu haram, bukan berarti tembakaunya harus ikut haram.

Logika ini menggunakan logika menanam pohon anggur. Sebagian dari khamar memang terbuat dari buah anggur yang diperas. Namun bukan berarti semua khamar pasti terbuat dari buah anggur, sebagaimana tidak semua anggur pasti dijadikan bahan baku khamar.

Sehingga logikanya tidak harus apa yang haram di hilir menjadikan yang di hulu ikut jadi haram.

Apakah Tembakau Termasuk Tanaman Terkena Zakat?

Dalam hukum tanaman apa saja yang terkena kewajiban zakat, rata-rata jumhur ulama memang tidak memasukkan tembakau sebagai salah satu panen yang wajib dikeluarkan zakatnya. Walaupun kita juga menemukan pendapat yang menggeralisir bahwa apapun tanaman yang memberikan penghasilan wajib dikeluarkan zakatnya.

1. Jumhur Ulama : Tidak Ada Zakat Tembakau

Umum kalau kita buka literatur ilmu fiqih, kita akan menemukan pendapat para ulama yang membatasi zakat hasil panen hanya pada jenis tanaman tertentu saja. Dan tembakau tidak termasuk jenis tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya. Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah serta banyak lagi ulama yang sejalan pendapatnya dengan hal ini.

a. Pendapat Shahabat dan Tabi'in

Tidak sedikit dari para shahabat dan tabi'in yang mengatakan bahwa yang wajib dizakati hanya empat macam tanaman saja, yaitu hinthah, syair, tamr dan dzabib. Di luar dari keempat macam tanaman itu tidak ada kewajiban untuk dizakati.

Yang berpendapat seperti ini antara Ibnu Umar radhiyallahuanhu, Musa bin Thalhah, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asya'bi, Ibnu Abi Laila, Ibnul Mubarak dan lainnya. Dasar dari pendapat ini adalah hadits Rasulullah SAW :

إِنَّمَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ  الزَّكَاةَ فيِ الحِنْطَةِ وَالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيْبِ

Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan zakat pada gandum, jelai, kurma dan kismis. (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthny)

Dalam riwayat Ibnu Majah ada tambahan والذرة : dan jagung.

Selain hadits di atas, pendapat ini juga berhujjah dengan perintah Rasulullah SAW ketika mengirim Abi Musa Al-Asy'ari Muadz bin Jabal radhiyallahuanhuma ke negeri Yaman, dimana Beliau SAW menggariskan agar jangan dipungut zakat dari tanaman kecuali yang berupa gandum, jelai, kurma dan kismis.

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِي وَمُعَاذٍ  إِنَّهُمَا حِيْنَ بُعِثَا إِلىَ اليَمَنِ لَمْ يَأْخُذْا إِلاَّ مِنَ الحِنْطَةِ وَالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيْبِ

Dari Abi Musa Al-Asy'ari dan Muadz bin Jabal bahwa ketika keduanya diutus ke negeri Yaman, tidak memungut zakat tanaman kecuali yang berupa gandum, jelai, kurma dan kismis. (HR. Al-Baihaqi)

b. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah menetapkan bahwa bila hasil tanaman itu termasuk makanan pokok yang mengenyangkan dan bisa disimpan dalam waktu lama, barulah ada kewajiban zakat atasnya.

Alasannya adalah karena pada hakikatnya makanan yang mengenyangkan itu adalah makanan yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Sehingga hanya pada jenis makanan pokok itu sajalah ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat.

c. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Mazhab Asy-Syafi’iyah juga tidak memasukkan tembakau sebagai salah satu hasil panen yang terkena kewajiban zakat.

Dalam urusan zakat tanaman, mazhab Asy-Syafi'iyah membagi zakat dari hasil tanaman ini menjadi dua jenis, yaitu tsimar (ثمار) dan zuru’ (زروع).

Jenis Tanaman Pertama : Tsimar : Yang dimaksud dengan tsimar (ثمار) adalah buah-buahan, sebagaimana disebutkan oleh Ad-Dasuqi di dalam kitab beliau. Namun dalam hal ini yang tsimar dibatasi hanya pada dua jenis buah saja, yaitu kurma (تمر) dan anggur (زبيب).

Asy-Syarbini dari mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya, Mughni Al-Muhtaj, bahwa diantara hasil pertanian yang tidak termasuk wajib untuk dizakati antara lain : buah kelapa, buah persik, buah delima, buah tin, kacang almond, apel, dan aprikot. 

  • Kurma :  Yang dimaksud dengan kurma adalah buah yang tumbuh di pohon kurma, namun bukan yang masih segar tetapi justru yang sudah dibiarkan mengering.

Maka orang Arab membedakan antara ruthab (رطب) dan tamar (تمر). Ruthab adalah kurma yang masih segar dan berair, yaitu kurma yang sudah masak dan baru saja dipetik dari pohonnya.

Sedangkan tamar asalnya adalah ruthab juga, namun yang sudah lama dipetik dan kemudian mengalami proses dikeringkan, sehingga sudah menjadi sale. Ibarat buah pisang, ada yang masih berupa pisang segar baru dipetik dari pohonnya dan ada yang sudah dikeringkan menjadi manisan, biasanya orang menyebutnya sale pisang.

Perbedaan antara tamar dan ruthab lainnya adalah tamar itu sudah kering, sehingga bisa disimpan dalam waktu lama, bahkan bertahun-tahun. Sedangkan ruthab itu buah segar, kalau didiamkan beberapa hari akan membusuk sebagaimana umumnya buah-buahan.

Para ulama mazhab As-Syafi'iyah mewajibkan zakat tamar (kurma) dan bukan zakat ruthab. 

  • Zabib : Yang dimaksud dengan zabib adalah buah anggur yang juga sudah dikeringkan. Kita di Indonesia mengenalkan dengan sebutan kismis. Kismis berbeda dengan buah anggur, karena kismis sudah dikeringkan sehingga tahan lama. Sedangkan buah anggur akan membusuk dalam waktu cepat.

Para ulama mazhab Asy-Syafi'iyah mewajibkan zakat kismis dan bukan zakat atas buah anggur segar.

Orang Indonesia bukan tidak kenal kurma dan kismis, keduanya tersedia di pasar dan dijual umum. Hanya saja barangkali agak terasa aneh buat logika orang Indonesia di masa kini, untuk membayangkan bahwa buah kurma dan kismis dijadikan makanan pokok oleh suatu masyarakat. Memang rasanya cukup aneh, tetapi itulah realitas sejarah.

Sebab buat kebanyakan orang Indonesia, meski sudah memakan bermacam jenis makanan dan perutnya sudah buncit, tetapi kalau belum makan nasi, rasanya masih seperti orang yang belum makan.

Begitu ditawarkan makan nasi, dengan senang hati tidak akan menolak. Perut seperti ini disebut juga ’perut melayu’.

Jenis Tanaman Kedua : Zuru’

Yang dimaksud dengan zuru (زروع) adalah bulir-bulir hasil dari tanaman, seperti padi, gandum dan sejenisnya.

Khusus untuk zuru', mazhab As-Syafi'iyah menyebutkan tiga kriteria agar hasil tanaman itu wajib dikeluarkan zakatnya, yaitu sengaja ditanam orang, menjadi bahan makanan pokok dan bisa disimpan lama. 

Kriteria Pertama : Sengaja Ditanam

Sebenarnya kriteria ini juga diberlakukan oleh banyak mazhab yang lain, yaitu bahwa hanya tanaman yang secara sengaja ditanam orang saja yang wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan tanaman yang tumbuh dengan sendirinya tanpa sengaja, tidak ada kewajiban zakat atasnya.

Kriteria Kedua : Bahan Makanan Pokok

Yang dimaksud dengan bahan makanan pokok adalah makanan yang lazimnya dijadikan bahan pangan yang utama dalam keadaan normal, bukan dalam keadaan yang darurat.

Maka termasuk makanan pokok dari hubub seperti padi, gandum, kacang adas, kacang himsh, jagung, sagu dan lainnya. Sedangkan yang termasuk makanan pokok dari tsimar adalah kurma dan kismis.

Kriteria Ketiga : Bisa Disimpan Lama

Selain berupa makanan pokok, para ulama dari kedua mazhab ini juga menetapkan bahwa kriteria hasil tanaman adalah jenis bahan pangan yang bisa disimpan dalam waktu lama, atau diistilahkan dengan muddakhar (مدخر).

Tanaman yang seperti padi, gandum, jagung, kedelai dan sejenisnya termasuk kriteria ini. Tanaman itu tahan untuk disimpan lama dan tidak mengalami pembusukan dengan cepat.

Sebaliknya yang bisa dengan cepat mengalami pembusukan seperti buah-buahan segar semisal anggur, semangka, pepaya jeruk dan lainnya, tidak ada kewajiban zakat atasnya.

d. Mazhab Al-Hanabilah

Mazhab Al-Hanabilah menetapkan bahwa hanya tanaman yang berbentuk hubub dan tsimar saja yang wajib dizakati.

Dan yang dimaksud dengan istilah hubub (حُبُوب) adalah jenis tanaman yang berupa bulir seperti bulir padi, gandum dan sejenisnya. Sedangkan yang dimaksud dengan tsimar (ثِمَار) semacam kurma, zaitun dan zabib.

Adapun buah-buahan segar seperti anggur, semangka, apel atau delima dan sejenisnya tidak termasuk yang wajib dizakati.

Buah-buahan yang bukan makanan pokok, oleh para fuqaha tidak dimasukkan sebagai tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya. Demikian juga dengan sayuran, timun dan kubis juga tidak ada kewajiban zakatnya.

2. Mahzab Al-Hanafiyah : Semua Tanaman Kena Zakat

Dalam ketentuan tentang apa yang wajib dikeluarkan zakat dari hasil pertanian, mazhab Al-Hanafiyah termasuk yang paling berbeda bila dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain. Boleh dibilang bahwa satu-satunya mazhab yang tidak mensyaratkan ini dan itu dalam hal hasil bumi adalah mazhab Al-Hanafiyah.

Dalam pandangan mazhab ini, pokoknya semua jenis dan bentuk tanaman itu wajib dikeluarkan zakatnya, baik makanan pokok atau bukan makanan pokok, baik yang bisa disimpan lama atau yang cepat busuk, baik yang termasuk buah-buahan atau pun bulir-bulir.

Dasar dari pendapat ini adalah keumuman ayat-ayat tentang kewajiban mengeluarkan zakat dari tanaman, tanpa ada pengecualian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْض

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. At-Taubah : 34)

a. Semua Hasil Tanaman

Secara umum mazhab Al-Hanafiyah tidak memberikan syarat dan kriteria tanaman yang wajib dizakatkan. Jadi apa pun jenis dan hasil tanaman yang dipanen oleh petani, semua terkena kewajiban zakat.

Mazhab ini rupanya lebih cenderung untuk berpegang kepada keumuman dalil Al-Quran, yang memang tidak memberikan syarat-syarat tertentu. Dan mereka mengabaikan syarat-syarat yang ada pada dalil-dalil hadits yang lebih detail.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْض

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. At-Taubah : 34)

Yang setuju dengan mazhab ini antara lain Umar bin Abdul Aziz, An-Nakha'ie, Mujahid, Daud Adz-Dzahiri, Hammad dan lainnya.

Di zaman modern ini, Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Fiqhuz-Zakah yang menjadi disertasi doktoralnya, juga merajihkan pendapat Al-Hanafiyah ini.

b. Pengecualian

Namun demikian ternyata ada juga yang dikecualikan dari mazhab ini tentang hasil bumi yang tidak perlu dikeluarkan zakatnya, yaitu apa yang bermanfaat buat manusia tetapi tidak dengan sengaja ditanam.

Dan termasuk jenis itu disebutkan dalam kitab-kitab mazhab Al-Hanafiyah antara lain ranting atau kayu bakar, rumput dan al-qashbul-farisi (sejenis bambu atau buluh). Bahkan mazhab ini mewajibkan zakat atas hasil panen kapas, kunyit, linen, dan lainnya.

Semua itu tidak termasuk wajib dikeluarkan zakatnya dengan alasan karena tanaman seperti itu umumnya tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam orang dengan sengaja untuk mendapatkan pemasukan rizqi.

Oleh karena itu dalam kasus lain, bila tanaman sejenis itu secara sengaja ditanam atau dibudidayakan sehingga memberikan pemasukan secara ekonomis, mazhab ini mewajibkan zakat atas hasilnya.

Kesimpulan :

1. Kalau menggunakan kriteria tanaman dalam versi mazhab Al-Hanafiyah, memang hasil panen tembakau wajib dikeluarkan zakatnya. Namun bila menggunakan pendekatan jumhur ulama, tembakau bukan jenis tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Seandainya kita memakai pendapat yang mewajibkan zakat tembakau, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, maka ketentuannya adalah sebagai berikut :

  • Tidak ada batas minimal hasil panen (nishab). Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa tidak ada nishab dalam masalah hasil panen. Artinya, berapa pun seorang petani mendapatkan hasil panen, maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Berapa pun yang dipanen, asal di atas dari setengah sha', maka ada kewajiban untuk mengeluarkan sebagian dari hasil panen itu. 
  • Nisbah yang dikeluarkan adalah sebesar 5% atau 10% dari hasil panen, sesuai dengan apakah tanaman itu diairi atau tidak.  

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pemerintah Bukan Ulil Amri Yang Berwenang Menetapkan Ramadhan?
9 July 2013, 01:13 | Puasa | 24.182 views
Taraweh Dulu Baru Puasa?
8 July 2013, 22:47 | Shalat | 12.738 views
Ramadhan Bakar Petasan, Adakah Syariatnya?
8 July 2013, 01:42 | Puasa | 7.980 views
I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah?
5 July 2013, 00:00 | Puasa | 13.549 views
Haramkah Jadi Golput?
2 July 2013, 21:50 | Negara | 9.967 views
Wajibkah Wanita Memakai Cadar?
1 July 2013, 04:19 | Wanita | 12.988 views
Tata Cara Talaq Sesuai Syariah
28 June 2013, 03:15 | Nikah | 11.189 views
Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
25 June 2013, 20:37 | Puasa | 13.285 views
Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
24 June 2013, 22:53 | Puasa | 18.269 views
Nenek Ingin Puasa
21 June 2013, 18:37 | Puasa | 6.015 views
Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui
21 June 2013, 01:22 | Puasa | 10.064 views
Pulang Pergi Jakarta Bogor, Bolehkah Menjama' Shalat?
20 June 2013, 00:28 | Shalat | 21.389 views
Shalat Sendirian Lalu Ditepuk Bahunya
19 June 2013, 02:45 | Shalat | 133.137 views
Sikat Gigi Memakai Pasta Gigi Apa Membatalkan Puasa?
17 June 2013, 02:21 | Puasa | 24.176 views
Zakat Mobil Sewa
15 June 2013, 03:06 | Zakat | 7.845 views
Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadits?
14 June 2013, 00:34 | Hadits | 23.683 views
Bolehkah Anak Laki-laki Jadi Wali Nikah Ibunya Sendiri?
11 June 2013, 01:34 | Nikah | 30.293 views
Mensucikan Najis Dengan Kain Pel dan Pengharum
10 June 2013, 00:34 | Thaharah | 18.750 views
Bagaimana Menentukan Keshahihan Hadits?
8 June 2013, 00:05 | Hadits | 9.565 views
Mewarnai Rambut dan Batasan Pendeknya Rambut bagi Akhwat
4 June 2013, 00:31 | Wanita | 12.987 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,805,348 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img