Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Bila Telah Jatuh Talak Masih Bisa Bersatu Kembali | rumahfiqih.com

Apakah Bila Telah Jatuh Talak Masih Bisa Bersatu Kembali

Thu 28 February 2013 00:33 | Nikah | 19.134 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr wb.

Ustadz yang dirahmati Allah,

Mohon pencerahan tentang masalah talak. Teman saya terlanjur menjatuhkan lafadz talak kepada istrinya. Namun sekarang beliau merasa menyesal dan ingin kembali lagi. Apakah dimungkinkan persatuan kembali, setelah pernah menjatuhkan talak.

Dan apakah cukup dengan rujuk saja atau harus dengan menikah ulang? Ada yang bilang katanya harus kawin dulu dengan orang lain agar boleh kembali lagi. Saya agak bingung membedakannya.

Demikian mohon jawabannya biar nanti saya sampaikan kepada teman saya. Syukran sebelumnya ustadz.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita ketahui bahwa meski talak itu memisahkan antara suami dan istri, namun bukan berarti talak akan memisahkan pasangan itu untuk selama-lamanya.

Adakalanya hanya talak itu hanya merupakan sebuah proses, yang meski talak menyebabkan terpisahnya ikatan suami istri, namun proses itu bisa diteruskan dengan proses selanjutnya, dimana keduanya bisa kembali lagi.

Semua akan kembali dan tergantung jenis talak yang pernah dijatuhkan. Ada jenis talak yang cukup rujuk saja tanpa nikah lagi, sudah bisa kembali. Ada yang harus dengan menikah ulang. Dan ada juga yang mengharuskan si istri yang dicerai itu untuk menikah dengan orang lain dulu, baru boleh menikah kembali dengan suami sebelumnya.

Oleh karena itu maka dalam hal ini kita akan membahas tiga macam talak, yaitu talak raj’i, talak bain (bainunah shughra) dan talak bainunah kubra. Masing-masing punya anatomi yang berbeda, dan juga berpengaruh apakah pasangan itu bisa kembali bersatu atau tidak.

1. Talak Raj‘i

Talak raj‘i (طلاق رجعي) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya, namun suami masih mempunyai hak untuk rujuk dan kembali kepada isterinya.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) tersebut menghendaki islah.“(Al-Baqarah: 228)

Talak raj‘i adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya, namun sebelum berakhir masa iddahnya, suaminya merujuknya. Sehingga keduanya kembali lagi menjadi suami istri seperti sedia kala.

Kesempatan melakukan talak raj’i bagi seorang suami hanya dua kali, sebagaimana firman Allah SWT :

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. Al-Baqarah : 229)

Bila sudah dua kali suami menjatuhkan talak kepada istrinya, lalu dirujuk lagi, maka bila suaminya itu menjatuhkan lagi talak untuk ketiga kalinya, talak itu berubah menjadi talak yang tidak bisa kembali lagi, atau disebut dengan talak bainunah kubra.

Selama masa iddah, seorang isteri yang ditalak raj‘i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang isteri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau yang lainnya seperti ketika belum ditalak, sehingga berakhir masa ‘iddahnya.

2. Talak Bainunah Shughra

Talak ba’in (طلاق بائن) atau lazim disebut dengan talak bainunah shughra (بينونة صغرى) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami, sebagaimana talak raj’i di atas, namun hingga habis masa iddah istri, suami tidak melakukan rujuk. Dengan demikian, tamatlah sudah ikatan perkawinan di antara keduanya, sehingga keduanya resmi sudah bukan suami istri lagi.

Namun demikian, selama mantan istri itu belum kawin lagi, maka keduanya masih boleh bersatu lagi. Bukan dengan jalan rujuk, melainkan dengan cara menikah ulang, dengan lamaran, mahar, dan ijab kabul serta akad nikah yang baru.

Perbedaan rujuk dengan menikah ulang adalah bahwa rujuk itu hanya dilakukan sebelum habis masa iddah istri yang ditalak. Dan rujuk itu bukan akad nikah, melainkan hanya diniatkan saja di dalam hati oleh suami, atau diucapkan, atau dilakukan hubungan suami istri, maka otomatis terjadilah rujuk.

Sedangkan yang disebut dengan menikah ulang adalah sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Menikah ulang itu berarti harus melewati tahapan-tahapan seperti melamar, memberi mahar, juga melakukan ijab qabul antara wali dan suami, dengan dihadiri oleh minimal dua orang saksi.

3. Talak Bainunah Kubra

Talak ketiga adalah talak bainunah kubra (طلاق بينونة كبرى). Talak ini adalah talak yang ketiga kali dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya.

Dalam bentuk halalnya (talak sunnah), talak ini harus dilakukan dengan tiga kali secara terpisah, dimana di antara talak yang pertama, kedua dan ketiga harus ada proses rujuk terlebih dahulu. Hukumnya talak tiga ini tidak dibolehkan untuk dijatuhkan sekaligus secara bersamaan.

Apabila hal itu dilakasanakan juga, tentu suami berdosa karena melanggar ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya. Dan termasuk ke dalam jenis talak bid’ah.

Namun lepas dari hukumya yang haram, bila seseorang tetap melakukannya juga, apakah talaknya jatuh dan berlaku talak tiga?

Dalam hal ini kita menemukan dalam beberapa kitab fiqih beberapa pandangan yang berbeda.

a. Jumhur : Jatuh Talak Tiga

Keempat mujtahid mutlak dalam masing-masing mazhabnya sepakat bahwa talak tiga yang dijatuhkan secara langsung bersamaan, hukumnya talaknya jatuh tiga, termasuk bainunah kubra.

b. Syiah Imamiyah : Tidak Jatuh Talak Sama Sekali

Pendapat syiah imamiyah tegas menyatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus justru sama sekali tidak menyebabkan talak apapun, alias sama sekali tidak jatuh talak.

c. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim : Jatuh Talak Satu

Pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan juga pendapat yang mewakili kalangan mazhab Zahiriyah menyatakan bahwa talak yang berlaku hanya talak satu saja dan bukan talak tiga.

Sudah Jatuh Talak Tiga, Masih Mungkinkah Kembali?

Bila talak itu sudah sampai ketiga kalinya, maka talak itu sudah bukan lagi talak raj’i, sehingga tidak bisa terjadi lagi rujuk. Talak untuk yang ketiga kalinya sering diistilahkan dengan bainunah kubra.

Kalau pun mantan pasangan suami istri ingin tetap kembali, walau sudah tiga kalil diceraikan, syariat Islam mengharuskan wanita itu menikah dengan laki-laki lain dengan nikah yang sah dan hubungan seksual harus terjadi. Hal itu ditegaskan di dalam Al-Quran :

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِل لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَه فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kemudian jika si suami menlalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

Kemungkinan bisa kembali memang masih ada, walaupun sangat kecil. Sebab ketika istri menikah dulu dengan laki-laki lain, syaratnya tidak boleh cuma sekedar penghalal (muhallil), tetapi harus sepenuh niat menikah dan berketurunan sebagaimana umumnya pernikahan. Bahkan harus sampai terjadi hubungan seksual yang sesungguhnya.\

Dasar pengharaman mereka adalah sabda Rasulullah SAW, dimana Allah SWT dan Rasulullah SAW, keduanya sama-sama melaknat orang yang menikah dengan cara demikian.

لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّل لَهُ

Allah melaknat orang yang menikah muhallil. (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

لَعَنَ رَسُول اللَّهِ الْمُحَلِّل وَالْمُحَلَّل لَهُ

Rasulullah SAW melaknat orang yang menikahi dan dinikahi secara muhallil. (HR. Tirmizy)

Selain itu juga ada hadits nabawi yang menegaskan apa yang telah ditetapkan kitabullah.

إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ ثَلاَثاً لاَ تَحِلُّ لَهُ حَتىَّ تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ وَيَذُوْقَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عُسَيْلَةَ صَاحِبِهِ

Bila seorang laki-laki mentalak istrinya untuk yang ketiga kalinya, maka istrinya itu lagi tidak halal baginya hingga istrinya itu menikah dengan suami yang baru, sehingga masing-masing merasakan usailah pasangannya. (HR).

Merasakan usailah adalah sebuah perumpamaan yang dikenal di masa Nabi SAW, yang maknanya adalah melakukan persetubuhan dan merasakan kelezatannya.

Bila seorang suami yang telah mentalak istrinya tiga kali berkeinginan menikah lagi dengan istrinya, maka hukumnya sudah tidak mungkin lagi untuk selama-lamanya.

Hal itu karena sebelumnya dia sudah pernah mentalak istrinya dua kali. Maka untuk yang ketiga kalinya, dia dihukum untuk tidak bisa kembali lagi mengulanginya.

Ketentuan ini ditetapkan dalam syariat Islam, setelah sebelumnya di masa lalu seorang suami bisa mentalak dan merujuk istrinya hingga berpuluh-puluh kali, sehigga pihak istri selalu dirugikan.

Maka untuk adanya kepastian hukum, syariat Islam memberi batasan tentang talak yang masih bisa dirujuk yaitu hanya dua kali saja. Bila setelah itu ditalak lagi, maka setelah itu suaminya tidak boleh lagi menikahinya, untuk selama-lamanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hak Waris Istri Anak Dari Suami Yang Lebih Dulu Wafat
27 February 2013, 00:01 | Mawaris | 10.393 views
Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu?
26 February 2013, 21:52 | Quran | 19.620 views
Keringanan Apa Saja Yang Diterima Musafir?
25 February 2013, 23:31 | Puasa | 6.885 views
Nikah Sirri tapi Wali tidak Dapat Hadir
25 February 2013, 12:49 | Nikah | 5.679 views
Apakah Tahlilan Termasuk Syirik?
23 February 2013, 02:03 | Aqidah | 25.464 views
Dapat Kerja Tapi Tidak Boleh Mengenakan Jilbab
22 February 2013, 14:57 | Wanita | 6.169 views
Dana Amal Shalat Jum'at Boleh Digunakan Untuk Apa?
22 February 2013, 00:26 | Muamalat | 6.393 views
Nikah Jarak Jauh
21 February 2013, 00:29 | Nikah | 5.543 views
Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya
21 February 2013, 00:28 | Muamalat | 5.719 views
Sudah Ngaji 15 Tahun Belum Jadi Ahli Syariah
19 February 2013, 02:28 | Ushul Fiqih | 7.042 views
Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jamaah
18 February 2013, 23:59 | Dakwah | 8.621 views
Ribut Dengan Ibu Tiri Gara-gara Harta Waris
18 February 2013, 23:37 | Mawaris | 8.260 views
Apakah Saudara Non Muslim Berhak sebagai Ahli Waris?
18 February 2013, 10:31 | Mawaris | 6.080 views
Cara Ziarah Qubur Biar Tidak Syirik
18 February 2013, 10:26 | Aqidah | 12.894 views
Tidak Menyebutkan Istri Kedua, Apakah Termasuk Talaq?
18 February 2013, 01:56 | Nikah | 4.959 views
Hukum Menjual Alat Musik
14 February 2013, 23:14 | Muamalat | 8.258 views
Perlukah Para Ulama Disertifikasi?
14 February 2013, 01:43 | Ushul Fiqih | 6.145 views
Pembagian Waris Setelah Istri Meninggal
14 February 2013, 00:09 | Mawaris | 27.368 views
Mahar Dihutang Tapi Akadnya Tunai
12 February 2013, 08:58 | Nikah | 5.471 views
Bolehkah Membuat Merek Makanan Dengan Nama Orang?
11 February 2013, 20:07 | Muamalat | 5.117 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,840,981 views