Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu? | rumahfiqih.com

Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu?

Tue 26 February 2013 21:52 | Quran | 19.638 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr wb,

Pertanyaan ini amat klasik ustadz, yaitu bolehkah kita menyentuh mushaf Al-Quran tanpa berwudhu'. Adakah ini masalah khilafiyah dari para ulama? Mohon penjelasan yang adil dan lengkap.

Terima kasih banyak atas jawaban ustadz.

Jazakumullah khairan katsiro. Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang kita menemukan adanya perbedaan pendapat di tengah masyarakat tentang hukum menyentuh mushaf Al-Quran. Sebagian berpendapat bahwa menyentuh mushaf itu harus dalam keadaan suci dari hadats kecil dan juga hadats besar. Artinya harus berwudhu' dulu baru boleh sentuh mushaf Al-Quran.

Sementara sebagian lagi dari masyarakat kita punya kecenderungan untuk membolehkan orang yang tidak punya wudhu' untuk menyentuh mushaf.

A. Khilafiyah Kalangan Mujtahid

Sebenarnya masalah ini bukan sekedar perbedaan pendapat di tengah masyarakat awam kita, namun sudah sejak masa salaf dulu kita menemukan perbedaan pendapat ini, yang menjadi diskusi menarik para ahli ilmu, mujtahid dan fuqaha'.

Peta sederhananya adalah bahwa jumhur ulama mewajibkan wudhu, namun ada mazhab Dzhahiri yang membolehkan.

1. Jumhur Ulama : Harus Suci Dari Hadats Kecil

Kalau kita buka literatur kitab-kitab fiqih klasik, memang kita akan dapati bahwa ternyata jumhur (mayoritas) ulama umumnya menyatakan bahwa diharamkan menyentuh mushaf Al-Quran bila seseorang dalam keadaan hadats kecil. Dalam kata lain, haram menyentuh mushaf bila tidak punya wudhu'.

Di kalangan para shahabat Nabi SAW ada begitu banyak ulama yang mengharamkan kita menyentuh mushaf kecuali bila kita suci dari hadats. Di antara mereka yang mengharamkan adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqqash ridhwanullahi 'alaihim ajmain.

Sedangkan di kalangan tabi'in dan generasi berikutnya adalah Said bin Zaid, Atha', Az-Zuhri, Ibrahim An-Nakha'i, Hammad, dan yang lainnya.

Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa haram hukumnya bagi orang yang dalam keadaan hadats kecil, untuk menyentuh mushaf meski pun dengan alas atau batang lidi.

Sedangkan Al-Hanafiyah meski mengharamkan sentuhan langsung, namun bila dengan menggunakan alas atau batang lidi hukumnya boleh. Syaratnya alas atau batang lidi itu suci tidak mengandung najis.

Dasar yang umumnya digunakan adalah ayat berikut ini :

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ المـُطَهَّرُون

Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. (QS. Al-Waqi’ah : 79)

Selain itu juga ada dalil keharammnya dari hadits Rasulullah SAW berikut ini :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَحِمَهُ اَللَّهُ أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لاَ يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada ‘Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci”.(HR. Malik).

Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa keharaman menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats kecil ini sudah menjadi pendapat jumhur ulama yang didukung 4 mazhab utama. Artinya, tidak ada khilafiyah di antara keempat mazhab itu tentang haramnya seorang yang berhadats kecil untuk menyentuh mushaf.

2. Mazhab Ad-Dhzahiri : Membolehkan

Ibnu Qudamah menegaskan bahwa satu-satunya mazhab yang membolehkan orang yang berhadats menyentuh mushaf Al-Quran adalah mahzah Adz-Dhzahiri.

Dalam pandangan mazhab ini yang diharamkan menyentuh mushaf hanyalah orang yang berhadats besar sedangkan yang berhadats kecil tidak diharamkan.

Sedangkan di kalangan shahabat, di antara mereka yang membolehkan menyentuh mushaf tanpa wudhu adalah pendapat Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahuanhu.

B. Studi Kritis Atas Tafsir Ayat Al-Quran

Salah satu titik krusial perbedaan pendapat ini adalah masalah ayat Al-Quran yang dijadikan dalil, yaitu ayat ke-79 dari surat Al-Waqi'ah di atas :

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ المـُطَهَّرُون

Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. (QS. Al-Waqi’ah : 79)

Kalau kita buka kitab tasifr klasik, memang kita menemukan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dibicarakan dalam ayat ini.

Dalam kitab Al-Jami' li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurthubi disebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat pada dua hal. Pertama, apakah kata 'menyentuh' disini maksudnya menyentuh secara fisik atau secara kiasan. Kedua, siapa yang dimaksud dengan 'al-muthahhrun' dalam ayat ini, orang yang tidak berhadats kah atau para malaikat?

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan 'al-muthahhrun' disini bukan orang yang suci dari hadats, tetapi para malaikat. Dan objek yang tidak disentuh itu bukan mushaf Al-Quran yang kita kenal, melainkan Al-Quran yang ada di Lauhil Mahfudz di atas langit sana.

Di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Anas, Said bin Jubair, Qatadah, Abu Al-'Aliyah dan Ibnu Zaid.

Namun sebagian ulama menyebutkan bahwa dalam menafsirkan ayat Al-Quran memang bisa saja dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan zahir dan pendekatan kiasan. Hanya saja, kalau ayat Al-Quran masih bisa ditafsirkan apa adanya lewat pendekatan zahir, tidak boleh langsung ditafsirkan lewat pendekatan kiasan. Oleh karena itu menurut pendapat ini, yang lebih tepat menafsirkan ayat ini dengan pendekatan zahir apa adanya, tidak dikiaskan kepada hal yang lain.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Keringanan Apa Saja Yang Diterima Musafir?
25 February 2013, 23:31 | Puasa | 6.896 views
Nikah Sirri tapi Wali tidak Dapat Hadir
25 February 2013, 12:49 | Nikah | 5.684 views
Apakah Tahlilan Termasuk Syirik?
23 February 2013, 02:03 | Aqidah | 25.507 views
Dapat Kerja Tapi Tidak Boleh Mengenakan Jilbab
22 February 2013, 14:57 | Wanita | 6.173 views
Dana Amal Shalat Jum'at Boleh Digunakan Untuk Apa?
22 February 2013, 00:26 | Muamalat | 6.399 views
Nikah Jarak Jauh
21 February 2013, 00:29 | Nikah | 5.546 views
Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya
21 February 2013, 00:28 | Muamalat | 5.724 views
Sudah Ngaji 15 Tahun Belum Jadi Ahli Syariah
19 February 2013, 02:28 | Ushul Fiqih | 7.047 views
Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jamaah
18 February 2013, 23:59 | Dakwah | 8.633 views
Ribut Dengan Ibu Tiri Gara-gara Harta Waris
18 February 2013, 23:37 | Mawaris | 8.272 views
Apakah Saudara Non Muslim Berhak sebagai Ahli Waris?
18 February 2013, 10:31 | Mawaris | 6.085 views
Cara Ziarah Qubur Biar Tidak Syirik
18 February 2013, 10:26 | Aqidah | 12.909 views
Tidak Menyebutkan Istri Kedua, Apakah Termasuk Talaq?
18 February 2013, 01:56 | Nikah | 4.959 views
Hukum Menjual Alat Musik
14 February 2013, 23:14 | Muamalat | 8.260 views
Perlukah Para Ulama Disertifikasi?
14 February 2013, 01:43 | Ushul Fiqih | 6.152 views
Pembagian Waris Setelah Istri Meninggal
14 February 2013, 00:09 | Mawaris | 27.461 views
Mahar Dihutang Tapi Akadnya Tunai
12 February 2013, 08:58 | Nikah | 5.477 views
Bolehkah Membuat Merek Makanan Dengan Nama Orang?
11 February 2013, 20:07 | Muamalat | 5.121 views
Saya Sedang di Iran, Halalkah Sembelihan Mereka?
11 February 2013, 02:43 | Aqidah | 9.217 views
Hukum Perayaan Empat dan Tujuh Bulanan Kehamilan
10 February 2013, 21:36 | Kontemporer | 12.825 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,657 views