Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Pintu Ijtihad Sudah Tertutup? | rumahfiqih.com

Apakah Pintu Ijtihad Sudah Tertutup?

Fri 6 November 2015 09:30 | Ushul Fiqih | 12.887 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada orang yang mengatakan bahwa pintu ijtihad hari ini sudah tertutup. Sehingga sudah tidak perlu lagi ad ijtihad di masa modern ini. Peninggalan masa lalu sudah cukup untuk dijadikan solusi hukum di masa sekarang ini.

Namun saya juga dengar anjuran agar kita berijtihad dan menggalakkannya. Pendapat ini menolak ungkapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

Ustadz, maka saya malah jad bingung sendiri tentang hukum berijtihad, mana yang benar? Apakah hukumnya wajib, sunnah atau haram.

Mohon pencerahan dari ustadz.

Wassalamu 'alaikum

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya ungkapan 'pintu ijtihad telah tertutup' bukanlah suatu ungkapan yang baku. Walau pun sedikit banyak ada benarnya, namun pada hakikatnya pintu ijtihad ini tidak pernah tertutup. Artinya, kapan pun dan dimana pun, ijtihad tetap bisa dilakukan, bahkan kita akan selalu butuh ijtihad.

Namun bukan berarti itjihad boleh dilakukan oleh siapa saja. Orang-orang yang tidak punya kapasitas untuk melakukannya, tentu dilarang melakukannya.

Maka kalau boleh ditarik garis tengahnya, sebenarnya pintu ijtihad tidak pernah tertutup, pintu itu selalu terbuka, hanya saja tidak sembarangan orang boleh masuk dan melaksanakan ijtihad. Seseorang harus punya keahlian khusus dan kapasitas tertentu sebagai mujtahid, barulah dia boleh melakukan ijtihad. 

Pintu Kokpit Pesawat

Saya seringkali mengibaratkan pintu ijtihad itu seperti pintu kokpit di dalam tubuh pesawat terbang komersial. Kita sebagai penumpang memang tidak boleh masuk ke dalamnya, karena kita bukan kapten atau pilot dari pesawat itu.

Pintu kokpit pesawat itu tidak selamanya tertutup. Buktinya di dalamnya ada kapten atau pilot yang mengemudikan arah terbang pesawat. Memang tidak sembarang orang boleh keluar masuk pintu kokpit pesawat itu.

Sebagai penumpang dan bukan penerbang, jangan coba-coba nekat masuk dan mengotak-atik tombol dan panel instrumen di dalamnya. Karena boleh jadi pesawat ini nabrak atau nyungsep, gara-gara dikemudikan oleh orang yang bukan ahlinya.

Barangkali ungkapan yang lebih tepat adalah pintu ijtihad tertutup, khususnya buat mereka yang bukan berspesifikasi sebagai mujtahid.

Pembagian Hukum Ijtihad

Para ulama membagi hukum ijtihad menjadi beberapa macam, ada yang wajib, sunnah, makruh dan haram. Tiga hukum yang pertama terjadi pada seorang yang memang telah memiliki kelengkapan untuk berijtihad dengan memenuhi semua persyaratannya. Dengan yang terakhir adalah ijtihad yang dilakukan oleh orang yang tidak punya kapasitas untuk melakukannya.

1. Ijtihad Wajib

Ada kalanya ijihad itu hukumnya wajib, misalnya pada saat dibutuhkan fatwa hukum tentang suatu masalah. Namun wajibnya ijithad ini harus memenuhi beberapa faktor utama, antara lain :

a. Mujahid

Yang diwajibkan untuk berijtihad terbatas pada mereka yang memang punya kemampuan untuk melakukannya. Orang yang tidak punya kapasitas mujtahid, tentu tidak boleh berijtihad.

Dan standar minimal seorang mujtahid itu cukup berat, setidak-tidaknya untuk ukuran kita di masa sekarang ini. Sehingga seolah-olah 'pintu ijtihad' memang sudah tertutup. Walau pun pada hakikatnya tidak demikian.

Sekedar informasi saja, bahwa meski pun seseorang termasuk ke dalam jajaran para shahabat Nabi SAW, bukan berarti dia otomatis seorang mujtahid. Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya, I'lam Al-Muwaqqi'in, bahwa para shahabat Nabi SAW yang ahli ijtihad itu terbatas sekali jumlahnya, hanya kurang lebih sekitar 130-an orang saja.

Padahal para ahli sejarah menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya jumlah shahabat Nabi SAW itu berjumlah 124 ribuan orang.

b. Dipenuhi Semua Prosedur

Ijtihad hanya boleh dilakukan apabila semua syarat, ilmu, prosedur serta standar dalam berijtihad sudah terpenuhi. Ijtihad yang dilakukan tanpa melewati prosedur dan kaidah-kaidah yang baku, tentu bukan ijtihad yang benar.

Sayangnya di masa sekarang ini, kita seringkali menemukan bermunculannya ijtihad-ijtihad yang salah bikin. Ibaranya produk industri, banyak beredar barang cacat. Karena dikerjakan oleh industri dan pabrikan liar yang tidak memenuhi standar ISO.  Maka yang jadi korban adalah konsumen, dimana mereka tertipu mentah-mentah oleh barang palsu yang tidak memenuhi standar.

c. Pada Masalah Yang Tidak Ada Dalil Qath'i

Bila sudah ada nash baik Al-Quran atau As-Sunnah yang qath'i baik dari segi tsubut atau pun dilalah, maka itjhad tidak lagi diperlukan.

Masalah yang diijtihadkan terbatas hanya pada masalah yang memang tidak ada nash syar'i yang qath'i secara dilalah. Sedangkan masalah yang sudah jelas hukumnya di dalam nash, dimana para ulama sudah sepakat atas hukumnya, maka tidak perlu lagi diijtihadkan.

Dan apabila para ulama sudah berijma' atas suatu hal, umumnya sudah tidak ada lagi pintu ijtihad. Misalnya, seluruh ulama sepakat (ijma') bahwa shalat lima waktu itu hukumnya wajib. Maka sudah tidak lagi ruang untuk mengoreksi ulang lewat media ijtihad. Apa yang sudah jadi ijma' tidak bisa diijtihadkan lagi.

2. Ijtihad Haram

Ijtihad yang haram adalah ijtihad yang dilakukan bukan oleh orang yang telah memiliki semua ketentuan dan persyaratan dalam berijtihad.

Ibarat seorang dokter gadungan yang menyamar menjadi dokter, dengan nekat melakukan berbagai operasi pembedahan pada tubuh pasien yang lugu. Maka yang dilakukannya adalah tindakan makar dan jahat yang diharamkan dalam syariah.

Seorang yang tidak punya ilmu tentang ijtihad, haram baginya melakukan ijtihad sendiri, baik untuk kebutuhan sendiri apalagi untuk orang lain. Yang harus dilakukannya adalah belajar terlebih dahulu seluruh ilmu-ilmu tentang ijtihad, sebelum memberi fatwa.

Dan dalam keadaan tidak punya syarat atau kapasitas dalam berijtihad, yang boleh dia lakukan adalah mengikuti hasil ijtihad para ulama yang ahli di bidangnya.

Termasuk ijtihad yang haram dilakukan adalah melakukan tasykik, yaitu memasukkan keraguan ke dalam hati orang lain atas hal-hal yang terkait prinsip akidah yang mendasar. Misalnya pemikiran para zindiq yang mengaku berijtihad tentang kemungkinan kebenaran agama selain Islam.

Sesungguhnya yang mereka lakukan bukan ijtihad melainkan tadhlil atau penyesatan dan tahrif atau penyelewengan aqidah Islam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pedoman Shalat Istisqa Minta Hujan
2 November 2015, 09:50 | Shalat | 4.675 views
Hak Warisan Pria dan Wanita Dua Banding Satu, Adilkah?
30 October 2015, 14:27 | Mawaris | 8.256 views
Denda Tebusan Karena Jima Saat Ihram
29 October 2015, 10:04 | Haji | 2.914 views
Hukum Bertaqlid : Haram, Boleh atau Wajib?
26 October 2015, 08:50 | Ushul Fiqih | 18.102 views
Mazhab: Apa Masih Diperlukan Hari Ini?
24 October 2015, 16:02 | Ushul Fiqih | 11.270 views
Pensyariatan Puasa Tanggal 9 dan 10 Muharram
22 October 2015, 16:55 | Puasa | 4.223 views
Perbuatan Itu Memang Sunnah Nabi Tapi Hukumnya Haram, Kok Bisa?
21 October 2015, 10:34 | Hadits | 17.409 views
Ingin Berdakwah Tapi Dituduh Wahabi
20 October 2015, 08:28 | Umum | 9.788 views
Hukum Mengadakan Walimah dan Wajibkah Menghadiri Undangan Walimah?
19 October 2015, 07:53 | Nikah | 4.598 views
Amalan Apa Saja yang Dilakukan Terkait 10 Muharram?
16 October 2015, 08:19 | Umum | 10.925 views
Darah Apa Saja Yang Hukumnya Tidak Najis?
15 October 2015, 04:20 | Thaharah | 4.239 views
Apakah Klaim Asuransi Kematian Harus Dibagi Menurut Hukum Waris?
14 October 2015, 17:21 | Mawaris | 4.114 views
Teknis Mengerjakan Penggantian Shalat Beda Waktu Dan Berjamaah
13 October 2015, 09:00 | Shalat | 5.130 views
Teknis Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan Selama Bertahun-tahun
12 October 2015, 06:23 | Shalat | 32.165 views
Haruskah Menyegerakan Pembagian Waris?
10 October 2015, 08:00 | Mawaris | 4.916 views
Apakah Cucu Yang Ayahnya Wafat Duluan Terhijab Oleh Saudara Ayah?
7 October 2015, 16:59 | Mawaris | 4.163 views
Ojek Khusus Perempuan, Mungkinkah?
6 October 2015, 10:41 | Wanita | 8.908 views
Mengapa Kita Wajib Belajar Ilmu Mawaris?
5 October 2015, 11:21 | Mawaris | 14.230 views
Bolehkah Anak Yang Banyak Jasa Pada Orang Tua Dapat Warisan Lebih Besar?
2 October 2015, 07:24 | Mawaris | 5.274 views
Keunggulan Waqaf Dari Zakat
30 September 2015, 18:08 | Zakat | 3.700 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,181 views