Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Dilemma Jadi PNS Yang Jujur | rumahfiqih.com

Dilemma Jadi PNS Yang Jujur

Sat 2 March 2013 00:41 | Muamalat | 9.438 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum ustadz,

Saya PNS yang dalam pelaksanaan tugas kani sering mendapat biaya perjalanan dinas keluar kota, sistem yang dipakai sebagai pertanggungjawaban adalah at cost artinya jumlah yang dikeluarkan maka itu yang di ganti oleh negara. Kami melakukan perjalanan dinas keluar kota biasanya dalam tim. Ketika dalam tim, biasanya masalah keuangan ditangani oleh satu orang (bisanya bukan saya).

Dalam melakukan perjalanan dinas kantor saya sering tidak jujur dalam hal jumlah hari (misal surat tugas 3 hari tetapi pelaksanaan hanya 2 hari), uang hotel (misal hotel hanya Rp300.000,00/hari tetapi dilaporkan Rp450.000,00/hari) sehingga ada sisa lebih.

Saya selalu menolak jika ada sisa lebih tetapi tidak pernah berhasil dengan berbagai alasan, bahkan saya pernah dipanggil atasan saya terkait masalah tersebut namun tetep hasilnya tidak ada, tugas berikutnya selalu seperti itu. Mereka berdalih jika tidak mau maka uangnya disumbangka saja, akhirnya uang sisa lebih tersebut digunakan untuk membeli peralatan kantor yang belum dipenuhi negara.

Terkadang juga digunakan untuk orang-oang dhuafa yang membutuhkan. Karena jika akan dikembalikan ke negara pun sulit dan orang-orang dikantor saya melarang. Ustad mohon solusi dari masalah yang saya hadapi

Terimaksih

Wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban :
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kisah PNS jujur seperti anda memang dilematis sekali. Niatnya dalam hati mau jujur tapi sistemnya sengaja dibuat agar memungkinkan bahkan tidak membolehkan ada orang jujur.

Sialnya lagi, dengan sistem yang didesain demikian, PNS seperti anda itu tidak jarang malah dimusuhi atasan, dicaci-maki bawahan, dijauhi teman bahkan orang-orang dengan mudah melecehkan diri anda.

PNS seperti anda harus siap setiap saat untuk diejek sok alim, sok ustadz, sok suci, suka pamer, cari sensasi dan sejenisnya. Atau juga harus siap dibilang bodoh, tolol, kurang waras bahkan dibilang gila. PNS seperti anda adalah orang asing di dalam alam bejat ini.

PNS seperti anda ibarat musafir yang melintasi tandusnya gurun pasir, tanpa teman, tanpa bekal, sendirian, lapar, haus, lelah dan payah.

Maka benarlah Rasulullah SAW ketika bersabda :

Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surganya orang kafir.
(HR. Muslim)

Kasus anda itu adalah cobaan bagi kejujuran dan kebersihan harta. Sulit memang buat anda menerima kenyataan bobrok sistem di kantor anda, yang buat orang lain malah menjadi surga.

Pengelapan uang negara di luar ketentuan semestinya memang sudah menjadi ciri khas dunia PNS, mulai dari yang paling rendah sampai ke tingkat para eselon 1 dan 2, juga para menteri sampai Presiden dan juga para wakil rakyat.

Semuanya secara berjamaah sepakat untuk mengambil dan memakan yang haram, mencurangi rakyat, mengkhianati amanat, menelan harta haram bulat-bulat.

Dari Anas ra bekata, Rasulullah SAW bersabda, "Akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api
. (Riwayat Tirmizi)

Oleh karena fenomena seperti itulah banyak teman saya yang tidak pernah mau menjadi PNS. Padahal hari ini menjadi PNS cukup menggiurkan, gajinya tinggi, banyak 'samberan', dapat jaminan pensiun, kesehatan, kerjanya santai, dan yang penting dari semua itu, sering ada lahan-lahan `basah` yang bisa dijadikan objekan atau proyek.

Mereka bisa saja tidak tergiur dengan godaan-godaan seperti itu. Boleh jadi rejekinya tetap halal, karena dia telah bekerja dengan jujur dan tidak makan yang bukan haknya.

Tetapi yang mereka takutkan adalah bekerja di lingkungan yang serba haram, dimana semua orang berbangga dengan harta haramnya. Buat diri mereka sendiri, mereka mungkin sudah jujur. Tapi bagaimana urusannya bila mereka tetap berada di dalam sistem bejat yang korup, tanpa pernah merasa berdaya untuk menghentikannya.

Yang mereka takutkan bukan mereka akan makan harta yang haram, tapi mereka takut terkena imbas dimana semua orang makan harta haram.

Dan jagalah diri kamu dari dosa (yang membawa bala bencana) yang bukan saja akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Berat azab siksa-Nya. (QS. Al-Anfal :25)

Dua Pilihan

Tapi sikap menjauhi kezhaliman tidak selamanya bisa dilakukan oleh semua orang. Ada begitu banyak kasus dan orang yang dalam kehidupan nyata, sulit untuk menghindari masuk ke dalam sistem jahiliyah itu. Maka juga tidak bijak kalau kepada mereka diminta untuk berhenti saja dari PNS, demi menghindari terkena imbas dari ketidak-berkahan sistem itu.

Dan tentu ini bukan solusi yang bisa diharapkan. Maka tetap ada dua pilihan dengan masing-masing resikonya. Masuk ke dalam sistem jahat dengan resiko terkena imbas. Itu pilihan pertama. Pilihan kedua, berada di luar sistem, yang bukan berarti selalu aman.

Karena di luar sistem yang bobrok itu, juga ada sistem-sistem lain yang malah boleh jadi tidak kalah bobroknya. Bila anda termasuk orang yang terlanjur berada di dalam sistem yang bobrok itu, tugas anda ada beberapa point penting :

1. Upayakan anda tidak ikut melakukan kecurangan-kecurangan yang dianggap sudah lazim. Hindari semua harta haram dengan apa pun alasannya, meski anda harus memegang bara api sekali pun. Ingat, anda dihargai karena prinsip yang anda bela.

2. Anda harus siap diasingkan, diejek, dicaci, dimaki, dikucilkan, diolok-olok dan ditindas kalau perlu. Tapi ingatlah bahwa semua itu pernah dialami oleh Rasulullah SAW ketika berdakwah dulu di masanya. Maka anggaplah cacian dan makian itu sebagai penghapus dosa-dosa yang akan memastikan nanti ketika anda meninggalkan dunia ini dengan tanpa beban dosa.

3. Cari teman-teman yang satu `spicies`'' dengan anda. Yakinlah di dalam sistem bobrok itu, pasti ada banyak PNS-PNS yang istiqomah seperti anda. Bentuklah koalisi, ikatan, persatuan, gerakan, reformasi hingga revolusi dari dalam tubuh sistem bobrok itu.

4. Jangan sekali-kali berpikir bahwa sistem bobrok itu bisa anda hancurkan dalam hitungan hari. Di tangah jalan ketika ingin memperbaiki sistem bobrok itu mungkin anda akan lelah, capek, jenuh, putus asa, bosan dan perasaan lain. Itu wajar dan manusiawi, tapi bukan berarti anda harus menyerah.

Rasulullah SAW saja harus dakwah sampai 23 tahun, padahal beliau itu nabi yang dilengkapi dengan fasilitas mukjizat, sampai para malaikat pun ikut turun gunung membantu perjuangan beliau SAW.

5. Berjibaku berhadapan langsung dengan kezaliman bukan sesuatu yang naif. Kita malah seringkali menemukan perintah untuk melawan dan menghalau kezaliman itu.

Bukankah dahulu Rasulullah SAW hidup 13 tahun satu kota dan satu sistem dengan Abu Jahal cs? Beliau tidak tiba-tiba berangkat hijrah ke Madinah, tetapi ada masa 13 tahun untuk bercampur dengan sistem jahiliyah.

6. Kalau anda punya anak keturunan nanti, ajarkan mereka untuk hidup mandiri saja. Jangan mengandalkan rejeki dengan jadi pegawai negeri. Cukup anda saja yang terjebak dalam situasi seperti ini, jangan sampai anak anda meneruskan makan yang syubhat-syubhat.

Semoga Allah SWT menguatkan iman dan taqwa di dada anda sehingga anda bisa tegar di atas jalan-Nya, Amein

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non Muslim
1 March 2013, 03:11 | Aqidah | 10.986 views
Berapa Warisan Untuk Istri Kedua?
1 March 2013, 02:55 | Mawaris | 15.695 views
Pengertian Mushaf dan Wujud Fisiknya
1 March 2013, 02:35 | Quran | 78.402 views
Panduan Menyelenggarakan Walimah
28 February 2013, 03:58 | Nikah | 13.688 views
Apakah Bila Telah Jatuh Talak Masih Bisa Bersatu Kembali
28 February 2013, 00:33 | Nikah | 24.044 views
Hak Waris Istri Anak Dari Suami Yang Lebih Dulu Wafat
27 February 2013, 00:01 | Mawaris | 18.646 views
Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu?
26 February 2013, 21:52 | Quran | 26.168 views
Keringanan Apa Saja Yang Diterima Musafir?
25 February 2013, 23:31 | Puasa | 9.323 views
Nikah Sirri tapi Wali tidak Dapat Hadir
25 February 2013, 12:49 | Nikah | 7.196 views
Apakah Tahlilan Termasuk Syirik?
23 February 2013, 02:03 | Aqidah | 33.497 views
Dapat Kerja Tapi Tidak Boleh Mengenakan Jilbab
22 February 2013, 14:57 | Wanita | 7.379 views
Dana Amal Shalat Jum'at Boleh Digunakan Untuk Apa?
22 February 2013, 00:26 | Muamalat | 8.687 views
Nikah Jarak Jauh
21 February 2013, 00:29 | Nikah | 6.859 views
Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya
21 February 2013, 00:28 | Muamalat | 7.397 views
Sudah Ngaji 15 Tahun Belum Jadi Ahli Syariah
19 February 2013, 02:28 | Ushul Fiqih | 8.618 views
Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jamaah
18 February 2013, 23:59 | Dakwah | 10.707 views
Ribut Dengan Ibu Tiri Gara-gara Harta Waris
18 February 2013, 23:37 | Mawaris | 11.540 views
Apakah Saudara Non Muslim Berhak sebagai Ahli Waris?
18 February 2013, 10:31 | Mawaris | 8.142 views
Cara Ziarah Qubur Biar Tidak Syirik
18 February 2013, 10:26 | Aqidah | 16.834 views
Tidak Menyebutkan Istri Kedua, Apakah Termasuk Talaq?
18 February 2013, 01:56 | Nikah | 6.705 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,255,769 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

16-9-2019
Subuh 04:30 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:03 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img