Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Orang Bertakwa Pasti Kaya? | rumahfiqih.com

Apakah Orang Bertakwa Pasti Kaya?

Tue 5 March 2013 23:08 | Umum | 7.663 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Asslamualaikum wr wb

Pak Ustadz yang dirahmati Allah, saya mau menanyakan apakah tingkat ketakwaan kepada Allah berbanding lurus dengan kekayaan yang kita dapat ? maksudnya ,apakah dengan kita semakin bertakwa maka harta yang kita peroleh juga bertambah banyak ?

Terima kasih

Wassamualaikum wr wb

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban singkat dari pertanyaan antum adalah tidak. Kekayaan bukanlah bukti bahwa seseorang itu bertakwa atau tidak.

Karena kekayaan seseorang adalah pemberian Allah SWT, dan kekurangan atau kemiskinan yang dialami seseorang juga atas kehendak Allah juga. Namun semua itu tidak ada kaitannya dengan tingkat ketakwaan atau tingkat kemaksiatan seseorang.

Kadang kemiskinan atau kekurangan yang Allah kehendaki terjadi pada diri seseorang, justru merupakan bukti ketakwaannya. Sebab kadang Allah menguji orang yang beriman dengan ujian kemiskinan.

Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 155)

Dan sebaliknya, kekayaan yang Allah SWT berikan kepada seseorang justru boleh jadi merupakan bukti bahwa Allah SWT atasnya bahwa orang itu bukan yang beriman.

Rasulullah SAW Paling Bertaqwa, Apakah Beliau Kaya?

Mari kita tengok sosok orang yang paling tinggi imannya dan paling kuat ketakwaannya. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah SAW.

Apakah nabi kita itu sosok orang kaya?

Jawabnya tidak selalu jadi orang kaya. Dari 63 tahun masa hidup beliau SAW, hanya beberapa kali saja beliau dicukupkan rejekinya oleh Allah SWT. Namun yang lebih banyak adalah drama kehidupan beliau yang miskin dan sederhana.

Kadang sampai 3 bulan dapurnya tidak mengepulkan asap. Kadang beliau pernah juga saking laparnya sehingga sampai harus mengganjal perutnya dengan batu.

Rumah beliau pun sederhana sekali. Tidak ada kasus empuk bagi beliau untuk sekedar bisa tidur enak. Beliau hanya tidur di atas tikar yang dianyam, sehingga tidak jarang ketika bangun tidur, masih ada tanda bekas anyaman tikarnya.

Bahkan Rasulullah SAW ketika wafat, tidak meninggalkan harta benda yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Tetapi adakalanya di salah satu momen kehidupan, beliau SAW mendapatkan rejeki yang luas dan besar dari Allah SWT. Setidaknya, beliau mendapatkan hak 1/5 dari setiap ghanimah atau harta rampasan perang yang berhasil beliau menangkan.

Dan cukup banyak perang yang berhasil beliau dapatkan, sehingga kalau kita mau menghitung-hitung dan memperkirakan, seharusnya beliau SAW adalah orang kaya di Madinah. Beliau seharusnya masuk dalam jajaran orang terkaya, bahkan nomor urut pertama.

Tetapi karena beliau rajin bersedekah, bahkan teramat ekstrim ketika bersedekah, maka beliau tidak sempat lagi merasakan nikmat kekayaannya. Dan alhamdulillah, semua istri beliau taat dan menerima saja. Mereka tidak menuntut ini dan itu yang berlebihan.

Doa Nabi SAW Selalu Terkabul

Sebenarnya kalau beliau mau, bisa saja Allah memberikan kekayaan yang berlimpah, macam Nabi Sulaiman alahissalam. Sebab doa beliau mustajabah, lebih sering terkabul dari pada yang tidak terkabul.

Masalahnya beliau SAW sendiri yang kurang berminat untuk mengumpulkan kekayaan. Ini masalah selera dan gaya hidup. Jadi beliau SAW berhak untuk menentukan gaya hidupnya sendiri.

Orang Kafir Banyak Yang Kaya Raya

Sementara itu, di dalam sejarah kita menemukan banyak orang kafir yang punya kekayaan berlimpah ruah. Sejak lahir sampai akhirnya hayatnya tidak pernah mengalami jadi orang miskin. Padahal belum pernah sekali pun dahinya diletakkan di atas tanah untuk sekedar bersujud kepada tuhannya.

Kok bisa, ya?

Tentu saja bisa. Sebab selama seseorang masih hidup di dunia, Allah SWT masih akan terus memberikan segala kenikmatannya kepada siapa saja, lepas dari apakah orang itu kafir atau beriman.

Sebab setelah kehidupan di dunia ini, masih ada kehidupan lagi jilid dua, yaitu kehidupan akhirat. Disanalah nanti orang-orang kafir akan merasakan hidup yang susah, sakit, disiksa dan seterusnya. Dan disana juga nanti orang beriman akan mendapatkan segala kenikmatan yang tidak akan pernah berhenti.

Karena kehidupan di dunia ini  cuma sementara, yang abadi adalah kehidupan di akhirat nanti. Maka boleh-boleh saja Allah SWT mengulur waktu buat orang kafir, untuk tetap masih bisa merasakan kenikmatan dunia.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Mengedit Photo Menggunakan Software
5 March 2013, 00:22 | Kontemporer | 18.074 views
Apakah NII Masih Ada dan Apakah Termasuk Kelompok Sesat?
5 March 2013, 00:20 | Dakwah | 29.509 views
Jadi Calo Tiket vs Agen Tiket Resmi
3 March 2013, 21:29 | Muamalat | 9.179 views
Apakah Umat Terdahulu Islam Juga?
3 March 2013, 03:43 | Aqidah | 9.163 views
Memberi Salam Lebih Dahulu kepada Non Muslim
2 March 2013, 21:01 | Aqidah | 12.018 views
Menanam Modal dengan Keuntungan Tetap, Ribakah?
2 March 2013, 11:13 | Muamalat | 7.478 views
Dilemma Jadi PNS Yang Jujur
2 March 2013, 00:41 | Muamalat | 9.710 views
Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non Muslim
1 March 2013, 03:11 | Aqidah | 11.682 views
Berapa Warisan Untuk Istri Kedua?
1 March 2013, 02:55 | Mawaris | 17.110 views
Pengertian Mushaf dan Wujud Fisiknya
1 March 2013, 02:35 | Quran | 82.579 views
Panduan Menyelenggarakan Walimah
28 February 2013, 03:58 | Nikah | 14.750 views
Apakah Bila Telah Jatuh Talak Masih Bisa Bersatu Kembali
28 February 2013, 00:33 | Nikah | 25.635 views
Hak Waris Istri Anak Dari Suami Yang Lebih Dulu Wafat
27 February 2013, 00:01 | Mawaris | 19.983 views
Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu?
26 February 2013, 21:52 | Quran | 26.969 views
Keringanan Apa Saja Yang Diterima Musafir?
25 February 2013, 23:31 | Puasa | 9.869 views
Nikah Sirri tapi Wali tidak Dapat Hadir
25 February 2013, 12:49 | Nikah | 7.415 views
Apakah Tahlilan Termasuk Syirik?
23 February 2013, 02:03 | Aqidah | 34.249 views
Dapat Kerja Tapi Tidak Boleh Mengenakan Jilbab
22 February 2013, 14:57 | Wanita | 7.582 views
Dana Amal Shalat Jum'at Boleh Digunakan Untuk Apa?
22 February 2013, 00:26 | Muamalat | 8.986 views
Nikah Jarak Jauh
21 February 2013, 00:29 | Nikah | 7.018 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,333,255 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

12-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:18 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img