Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menjamak Shalat Tanpa Sebab Safar, Takut atau Hujan | rumahfiqih.com

Bolehkah Menjamak Shalat Tanpa Sebab Safar, Takut atau Hujan

Sat 7 May 2016 08:45 | Shalat | 15.492 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya pernah membaca buku tentang sholat jama\' yang dilakukan Rasulullah SAW tidak dalam berpergian, takut atau hujan. Hadits yang disampaikan, Shohih muslim, Juz 1 No. 1146, 1147 dan 1151.

Bolehkah saya mengambil hadits tersebut pada saat-saat saya sibuk atau yang saya perkirakan bakalan sibuk nantinya sehingga saya lakukan sholat jama\' tersebut?

Bagaimana menurut ustadz?

Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan shalat jamak di Madinah, bukan karena safar, takut atau hujan.

Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim yang teksnya sebagai berikut :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah SAW menjama' Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya' di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan.” (HR. Muslim)

Dari segi sanad hadits itu memang shahih. Tetapi yang jadi masalah adalah dari segi istidlal atau cara menarik kesimpulannya dari segi hukum. Sebagaimana kita tahu, bahwa keshahihan hadits adalah satu hal dan cara menarik kesimpulan hukum adalah hal yang lain.

Kalau hadits di atas disimpulkan secara serampangan bahwa kapan saja kita boleh meninggalkan shalat, toh cuma  tinggal dijamak saja, maka kesimpulan ini tentu keliru, sesat dan menyesatkan.

Masak cuma gara-gara sibuk, rapat, meeting, atau alasan-alasan sederhana, lalu kita merasa boleh meninggalkan shalat atau menjamaknya, dengan alasan Rasulullah SAW menjamak shalat tanpa sebab?

Kenapa keliru dan sesat?

Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita menyebut pemahaman ini sesat dan menyesatkan. Alasan-alasan itu antara lain adalah :

Alasan Pertama

Ciri yang mudah dikenali terkait perbedaan orang beriman dan orang munafik adalah malas mengerjakan shalat. Orang munafik itu bukan orang kafir yang memang benar-benar tidak mengerjakan shalat. Orang munafik itu kalau mengerjakan shalat, maka dikerjakanlah shalat itu dengan malas, ogah-ogahan dan menundanya hingga lewat waktunya.

Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman :

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak  menafkahkan  mereka, melainkan dengan rasa enggan.(QS. At-TAubah : 54)

Alasan Kedua

Shalat lima waktu juga membedakan antara seorang muslim dengan orang yang kafir. Shalat lima waktu juga merupakan bagian dari rukun Islam.

Perbedaan shalat lima waktu dengan shalat-shalat lainnya adalah bahwa shalat lima waktu adalah ibadah yang sudah ditetapkan waktunya dan pelaksanaannya amat ketat.

Shalat lima waktu berbeda dengan shalat sunnah, yang boleh dikerjakan seenaknya. Kalau lagi sibuk, shalat sunnah boleh digeser-geser pelaksanannya. Bahkan tidak shalat sunnah pun tidak mengapa, karena hukumnya sunnah.

Kalau pun shalat lima waktu mau digeser-geser jadwal pelaksanaannya, memang dibenarkan tetapi dengan alasan yang ketat dan harus dengan dalil yang shahih.

Dan dan orang yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa udzur yang betul-betul syar'i dan didasarkan pada dalil-dalil yang qath'i, bukan hanya sekedar berdosa besar, bahkan sebagian ulama menghukumi kafir.

Alasan Ketiga

Safar, takut dan hujan adalah sebab-sebab dibolehkannya meninggalkan shalat pada waktunya dan melakukannya dengan menjamaknya.  Sebab-sebab ini secara syar'i memang disebutkan secara ekpisit dan didasari oleh hadits yang shahih.

Sedangkan rapat dan kesibukan lainnya seperti yang anda sebutkan di atas, sama sekali tidak pernah disebutkan secara eksplisit di dalam hadits yang shahih. Oleh karena itu tidak benar bahwa sekedar alasan rapat kita jadi dibolehkan menjamak shalat.

Kalau memang demikian, siapa saja nanti akan merasa berhak mencari-cari alasan pribadi untuk bisa meninggalkan shalat. pada waktunya dan menggantinya dengan jamak. Cuma karena main bola lalu shalat dijamak. Cuma karena kondangan dan pesta resepsi, lalu shalat dijamak. Cuma karena macet lalu shalat dijamak.

Kalau begitu, tiap hari kita bisa asal main jamak-jamak terus, karena berdalih bahwa Rasulullah SAW pernah menjamak bukan karena safar, hujan atau takut. Dan logika ini tentu keliru dan menyesatkan sekali.

Alasan Keempat

Tentu ini pemahaman ini keliru sehingga perlu diluruskan. Cara menarik kesimpulannya juga tidak benar, karena hadits di atas tidak menyebutkan alasan meeting, rapat, sibuk bisnis, resepsi, macet dan sejenisnya sebagai hal yang membolehkan kita menjamak shalat. Tidak ada satupun dari alasan-alasan di atas yang disebutkan secara eksplisit.

Maka kalau disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menjamak shalat bukan karena alasan safar, takut atau hujan, tidak berarti lantas kita boleh menambahi sendiri daftar udzur atau alasan sesuai dengan selera kita.

Kalau cara demikian, maka yang kita lakukan sama saja dengan mengisi sendiri cek kosong dengan sekehendak hati kita.

Hadits di atas hanya menyebutkan bahwa bukan hanya safar, takut dan hujan saja yang bisa dijadikan alasan, ada peluang alasan lainnya. Tetapi alasan itu apa dan bagaimana? Tentu tidak seenak kita bikin-bikin sendiri alasan itu.

Daftar Penyebab Dibolehkannya Jamak

Para ulama dalam banyak kita mereka telah merumuskan beberapa penyebab dibolehkannya shalat jama', antara lain :

1. Safar
2. Haji
3. Sakit
4. Hujan
5. Kejadian Luar Biasa

Namun shalat jama' karena terjadi di luar hal-hal yang tidak mampu diantisipasi tidak boleh dilakukan kecuali dengan syarat

a. Terjadi Secara Insidental

Seseorang tidak boleh merencanakan untuk menjama' shalat dengan alasan terjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari kecuali dengan menjama', namun dilakukannya secara terencana.

Kejadiannya harus bersifat di luar perhitungan dan terjadi tiba-tiba begitu saja. Seperti yang terjadi pada diri Rasulullah SAW tatkala terlewat dari shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya sekaligus, gara-gara ada serangan atau kepungan musuh dalam perang Azhab (perang Khandaq).

Beliau saat itu menjama' shalat yang tertinggal setelah lewat tengah malam, bukan ketika perjalanan, sebab beliau SAW dan para shahabat bertahan di dalam kota Madinah Al-Manuwwarah.

Namun kejadian itu boleh dibilang hanya sesekali saja, bukan sesuatu yang bersifat rutin. Dan tentu saja tidak pernah direncanakan terlebih dahulu.

b. Kejadiannya Bersifat Memaksa

Syarat kedua adalah bersifat memaksa, yang tidak ada alternatif lain kecuali harus menjama'. Sifat memaksa disini bukan disebabkan karena kepentingan biasa, misalnya sekedar karena ada rapat, atau pesta pernikahan, atau kemacetan rutin yang melanda kota-kota besar.

Sebab rapat itu hanya buatan manusia, demikian juga pesta pernikahan atau kemacetan rutin. Semua tidak termasuk hal yang bersifat memaksa yang membolehkan orang menjama' shalat.

Yang bisa dikategorikan memaksa misalnya kejadian force majeure, yang dalam Bahasa Indonesia sebagian orang mengartikannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). termasuk di dalamnya adalah kejadian–kejadian seperti perang, demo anarkis, huru-hara, bencana alam, kecelakaan, banjir bandang, topan badai dan sejenisnya.

Demonstrasi atau unjuk raja yang tertib dan dilakukan beberapa gelintir orang secara yang damai, bukan termasuk force majeure. Demikian juga banjir dan air menggenang yang sudah jadi langganan penduduk ibukota, tidak termasuk di dalamnya.

Tsunami di Aceh dan Mentawai, banjir bandang di Wasior Papua, gampa di Padang dan Yogya, erupsi Gunung Merapi di Jogja Jawa Tengah, serta terjebak di tengah kerusuhan massal tahun 1998 adalah contoh-contoh yang bisa dijadikan bahan perbandingan dari force majeur.

 

 

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

SMS Berhadiah PILDACIL, Haramkah?
29 April 2016, 16:36 | Muamalat | 5.695 views
Mengapa Zakat Hadiah Tidak Bisa Diqiyas Dengan Zakat Rikaz
28 April 2016, 18:00 | Zakat | 5.717 views
Mereka Yang Diharamkan Berfatwa
24 April 2016, 20:22 | Ushul Fiqih | 8.509 views
Memanggil 'Mama' untuk Isteri Termasuk Zhihar?
23 April 2016, 08:01 | Nikah | 11.393 views
Benarkah Zakat Profesi Itu Cuma Hasil Ijtihad?
22 April 2016, 06:41 | Zakat | 18.196 views
Perawat Wanita Pegang Pasien Pria, Bolehkah?
21 April 2016, 07:55 | Wanita | 8.732 views
Mengapa Anak Usia di Bawah Tujuh Tahun Belum Dianjurkan Diajak ke Masjid?
20 April 2016, 04:30 | Shalat | 35.949 views
Bolehkah Belajar Ilmu Fiqih Hanya Lewat Buku?
19 April 2016, 01:00 | Ushul Fiqih | 6.669 views
Pengertian Air Mustakmal Menurut Empat Mazhab Apakah Berbeda-beda?
18 April 2016, 03:40 | Thaharah | 4.232 views
Uang Muka Hangus, Haramkah Hukumnya?
16 April 2016, 12:11 | Muamalat | 14.933 views
Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran?
15 April 2016, 18:40 | Quran | 3.513 views
Khamar dan Alkohol Apakah Najis?
14 April 2016, 14:30 | Kuliner | 3.745 views
Makanan Halal
13 April 2016, 01:31 | Kuliner | 6.365 views
Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?
12 April 2016, 11:01 | Nikah | 13.223 views
Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | Muamalat | 3.286 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | Nikah | 8.018 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | Muamalat | 9.534 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | Muamalat | 125.151 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | Aqidah | 9.008 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | Wanita | 10.986 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,698 views