Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Korupsi Halal Karena Termasuk Rampasan Perang? | rumahfiqih.com

Korupsi Halal Karena Termasuk Rampasan Perang?

Fri 22 March 2013 00:56 | Kontemporer | 8.577 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

 

Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ustadz, kalau saya perhatikan para teroris atau paham yang suka mengkafirkan orang di luar kelomponya ternyata bukan orang yang awam dengan agama. Tetapi kok bisa sih mereka sampai sejauh itu dalam memahami agama?

Apa yang salah dari mereka itu?

Lalu saya juga diceritakan bahwa ada koruptor yang bilang bahwa harta yang diambilnya itu halal. Alasannya karena itu termasuk rampasan perang (ghanimah). Karena permainan politik kotor itu diqiyaskan dengan jihad fi sabilillah.

Mohon penjelasan dari ustadz tentang fenomena ini. Syukran dan jazakallau ahsanal jaza'

Wassalam

 

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Fenomena menggembirakan yang banyak kita temukan saat ini adalah munculnya para pemuda dan aktifis yang punya semangat tinggi berdakwah.

Di tengah merosotnya moral masyarakat, terperosoknya posisi umat Islam dalam percaturan dunia, serta merebaknya pola hidup hedonis yang melanda para pemuda ISlam, kita merasa bersyukur mendapati lahirnya para aktifis yang masih belia.

Namun di balik rasa syukur itu, kita juga melihat sisi-sisi yang masih perlu untuk disempurnakan. Misalnya, semangat para pemuda dan aktifis masih kurang dibekali dengan ilmu-ilmu agama (syariah) yang cukup.

Tidak salah 100% memang,  tetapi sejarah mencatat bahwa kurangnya ilmu itu pada gilirannya bisa menjadi sangat fatal akibatnya.Setidaknya bila orang yang itu kurang sadar bahwa dirinya masih perlu banyak belajar mendalami ilmu secara lebih luas dan dalam.

Teroris Juga Punya Ilmu Tapi Kurang Lengkap

Kasus para teroris yang suka membunuh nyawa manusia dan merampok harta orang lain dengan mengatas-namakan dakwah dan jihad, bisa kita jadikan contoh sederhana.

Para teroris itu bukannya tidak punya ilmu agama, banyak di antara mereka yang hafal Al-Quran dan fasih berbahasa Arab. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rajin ibadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Dahi-dahi mereka pun banyak hitam, pertanda banyak sujud.

Jangan ditanya tentang bagaimana kesetiaan mereka terhadap sunnah Nabi SAW. Jenggot panjang, baju gamis, sorban melilit kepala, kayu siwak tidak pernah terlupa dan celana panjang cingkrang menjadi identitas yang mudah dikenali dari penampilan pisik mereka.

Tentu kita tidak boleh menggeneralisir bahwa hal-hal di atas adalah ciri teroris. Ciri-ciri itu tentu merupakan ciri yang banyak dipakai oleh kalangan islamis walaupun bukan teroris.

Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa banyak teroris di negeri kita yang berpenampilan seperti itu. Semua penampilan luar itu bercerita kepada kita bahwa setidaknya mereka bukan orang-orang yang awam dengan agama. Mereka punya ilmu juga sebenarnya.

Tetapi yang jadi masalah adalah ilmu yang mereka miliki kurang lengkap. Akibatnya, mereka mudah sekali menukil ayat Quran sepotong-sepotong seenak selera mereka, dipilih-pilih mana yang bisa diplintir agar bisa jadi dalil -atau dalih- paham mereka

Akibatnya, banyak sekali apa-apa yang sudah jadi ijma' para ulama yang dilanggar begitu saja. Dengan dalih kita harus kembali kepada Quran dan Sunnah, maka ilmu para ulama yang sebenarnya justru representasi paling original dari Quran dan Sunnah, malah dilupakan.

Akhirnya, mulailah lahir kesimpulan-kesimpulan yang tidak rasional dan malah bertentangan dengan nash-nash syariah itu sendiri. Sayangnya, mereka tidak mau menguji kesimpulan bermasalah itu kepada publik, atau setidaknya kepada para ulama yang ahli di bidangnya.

Sikap seperti itu sudah jadi ciri awal bahwa ada yang tidak beres dalam kesimpulan mereka terhadap dalil-dalil syariah, yaitu sikap berdalil hanya dengan sepotong-sepotong ayat dan hadits, lalu membuang atau menutupi ayat dan hadits yang lain yang tidak sejalan. Dan itulah titik penyakit orang yang ilmunya cuma sepotong-sepotong.

Para Penyeru Paham Takfir Punya Ilmu Tapi Tidak Lengkap

Paham takfir yang mengifeksi banyak kelompok harakah di dunia Islam, juga contoh mudah untuk menegaskan betapa ilmu yang kurang lengkap itu justru berbahaya.

Padahal di dalam kelompok takfiri itu banyak orang yang paham agama. Sayangnya, dasar ilmu agama yang mereka miliki itu bukan untuk didalami menyeluruh, tetapi sekedar dijadikan akal-akalan untuk melegalkan paham keliru mereka.

Maka munculnya aktifis muda yang punya ghirah puncak berdakwah, perlu dibekali ilmu yang matang dulu. Jangan belum apa-apa sudah merasa cukup dan tidak butuh ilmu lebih luas.

Tentu sikap ini merupakan penyakit parah yang butuh pengobatan serius. Apalagi bila para aktifis itu merasa sudah punya ilmu yang sempurna, lantas sudah merasa tidak perlu lagi belajar dan mendalami syariah Islam.

Sementara mereka terlanjur dibikin sangat mencintai kelompok dan jamaah mereka, bangga dengan tokoh-tokoh dari kalangan mereka, lalu lupa bahwa ada banyak ilmu syariah yang belum lagi mereka pelajari.

Sebenarnya bukan karena lupa, tetapi karena ulama yang punya ilmu syariah itu ternyata tidak berada di dalam kelompok mereka. Sehingga ada semacam perasaan alam bawah sadar, bahwa kalau ilmu itu datangnya bukan dari kalangan internal, maka seolah-olah boleh diabaikan saja.

Menghalalkan Korupsi Dengan Dalih Perang

Dan contoh lain bagaimana bahayanya orang kurang ilmu misalnya para pemain politik yang berperilaku kurang terpuji, tetapi bersembunyi di balik ephoria dakwah dan membela agama.

Padahal yang dilakukan memang curang, karena menyalah-gunakan jabatan dan pengaruhnya demi memperkaya diri atau kelompoknya. Tetapi dengan alasan bahwa apa yang dilakukannya adalah jihad atau berperang di jalan Allah, maka harta yang haram itu tiba-tiba disulap fatwanya sehingga berubah jadi sah dan halal.

Lalu ditambah-tambahi dengan alasan lain, dari pada uang haram itu diambil oleh orang lain, lebih baik kita yang ambil, karena akan kita gunakan untuk kebaikan atau setidaknya untuk kepentingan dakwah.

Tentu logika ini tidak lahir dari orang awam. Justru logika ini dibangun oleh mereka yang rada melek ilmu agama. Cuma dengan catatan bahwa logika qiyas yang dilakukannya itu mengandung cacat teramat parah. Sayangnya, logika ini tidak pernah diuji-publik, tetapi cuma konsumsi internal saja.

Padahal kalau dilakukan uji publik, dimana dihadirkan di dalamnya para ahli syariah yang ekspert, independen dan adil, tentu saja logika ini lemah dari segala sisinya.

Sayangnya, karena para anggota dan aktifisnya juga rada kurang lengkap ilmunya, ditambah bahwa kebijakan para petinggi seolah-olah menjadi 'wahyu yang turun dari langit', maka lengkap lah sudah masalahnya. Yang bikin fatwa bermental curang, yang menerima fatwa terlalu awam.

Padahal orang awam seperti kita pasti tahu, bahwa menyalah-gunakan jabatan demi mendapatkan sejumlah uang yang bukan haknya, jelas-jelas tindakan yang tidak terpuji. Walau pun diatas-namakan lambang-lambang suci.

Dan kalau diqiyaskan dengan jihad, malah lebih parah kelemahannya. Dalam fiqih jihad kita memang mengenal ghanimah, fai' atau harta rampasan perang. Tetapi mereka lupa, bahwa syarat jihad itu harus berhadapan secara fisik dengan orang kafir harbi di medan tempur sesungguhnya.

Semua orang awam tahu bahwa kita tidak boleh mencuri harta milik orang lain. Apalagi kita tidak berada di wilayah konflik perang fisik. Walau pun harta itu ada rumah  orang kafir sekalipun, tetap saja yang namanya mencuri itu hukumnya haram.

Mari kita bayangkan ada pencuri yang berdalih bahwa dirinya tidak mencuri, tetapi sedang berjihad dan mengambil harta rampasan perang. Tentu saja alasan si pencuri licik itu akan membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Pasti kita akan bilang, memang dasar maling, ada-ada saja alasan yang dicari-cari.

Mentang-mentang waktu kecil si pencuri pernah mondok di pesantren dan sempat belajar fiqih secuil-secuil, lalu dicari-carilah seribu satu alasan untuk melegalkan tindakan curangnya itu. Tetapi kalau kita sadar dan adil, tentu alasannya bahwa dirinya sedang berjihad itu tidak bisa diterima.

Kalau mau jihad dan menikmati harta rampasan perang, minimal tempatnya harus di wilayah konflik sana, seperti di Palestina atau negeri lainnya. Harta yang diambil itu memang milik yahudi yang statusnya kafir harbi.

Tetapi kalau harta milik rakyat yang ditilep oleh pejabat, jelas-jelas bukan harta rampasan perang. Itu namanya ngawur alias bikin alasan seenak dengkul.

Maka kita hanya bisa berharap kepada Allah SWT, agar fenomena kurangnya ilmu ini cepat dilenyapkan dari para hamba-Nya. Tentu sambil berupaya memberikan pencerahan terus tanpa kenal lelah, agar kita lebih banyak belajar ilmu lebih lengkap lagi. Amin Allahumma amin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Haramkah Menghias Masjid
20 March 2013, 02:59 | Shalat | 7.251 views
Mengapa Umat Islam Sulit untuk Bersatu?
19 March 2013, 00:01 | Kontemporer | 10.392 views
Benarkah Ada Ayat-ayat Yang Saling Kontradiktif
18 March 2013, 02:00 | Quran | 8.863 views
Bolehkah Wanita Jadi Saksi Dalam Pernikahan
17 March 2013, 23:33 | Nikah | 9.017 views
Apakah Kita Baca Al-Fatihah Ketika Shalat di Belakang Imam?
16 March 2013, 23:38 | Shalat | 19.353 views
Yahudi, Kristen dan Islam : Apakah Tuhannya Sama?
16 March 2013, 00:30 | Aqidah | 25.888 views
Tidak Berhukum dengan Hukum Allah: Kafir?
16 March 2013, 00:23 | Negara | 9.075 views
Bolehkah Nikah Tapi Sudah Niat Segera Mentalak?
15 March 2013, 01:18 | Nikah | 7.388 views
Bolehkah Membatalkan Niat Haji Kedua?
13 March 2013, 01:35 | Haji | 6.769 views
Hukum Sunat bagi Perempuan
13 March 2013, 00:56 | Wanita | 11.468 views
Bolehkah Menyembelih Hewan Tanpa Baca Bismillah?
12 March 2013, 00:16 | Qurban Aqiqah | 9.386 views
Hukum Barang Temuan Jam Tangan Di Mall
11 March 2013, 00:34 | Muamalat | 7.325 views
Perempuan Nikah Lagi Sebelum Resmi Cerai
10 March 2013, 11:51 | Nikah | 19.531 views
Satu Dari Empat Penduduk Dunia Adalah Muslim?
8 March 2013, 02:14 | Kontemporer | 7.083 views
Ayah Saya Non Muslim, Lalu Siapa Yang Jadi Wali Saya?
8 March 2013, 00:32 | Nikah | 13.416 views
Hukum Menerima Uang PILKADES
6 March 2013, 22:34 | Muamalat | 27.196 views
Apa Batasan Haramnya Tasyabbuh Dengan Non Muslim?
6 March 2013, 10:05 | Ushul Fiqih | 17.524 views
Panduan Agar Pengobatan Alternatif Tidak Melanggar Syariah
5 March 2013, 23:46 | Umum | 11.216 views
Apakah Orang Bertakwa Pasti Kaya?
5 March 2013, 23:08 | Umum | 7.191 views
Hukum Mengedit Photo Menggunakan Software
5 March 2013, 00:22 | Kontemporer | 15.977 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,112,646 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img