Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Banyak Pilihan Pendapat, Mana Yang Paling Benar? | rumahfiqih.com

Banyak Pilihan Pendapat, Mana Yang Paling Benar?

Thu 26 June 2014 07:07 | Ushul Fiqih | 9.164 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, sebenarnya saya senang sekali kalau membaca tulisan dan jawaban-jawaban ustadz di rubrik ini. Logikanya jalan, bahasa mudah, dan yang paling penting adalah tidak fanatik dengan satu pendapat saja. Saya kira ini hal yang membuat banyak orang tercerahkan.

Tetapi maafkan kekkurangan saya, ustadz. Seringkali saya memang masih dibuat bingung dengan jawaban-jawaban yang terkesan mengambang. Maksudnya, kita ini tidak diberikan satu jawaban yang harus kita pegang, tetapi malah dikembalikan kepada kita untuk memilih beberapa alternatif jawaban.

Untuk itu sebelum kami minta maaf kalau meminta beberapa petunjuk berikut :

1. Bisakah ustadz memilihkan atau memberikan satu pilihan buat kita dari sekian banyak jawaban itu? Setidaknya setelah ustadz membeberkan banyak pandangan para ulama.

2. Memang ada banyak pendapat dari kalangan ulama, tetapi bukankah kita harus ikut pendapat yang benar atau paling benar. Mohon dijelaskan masalah ini ustadz.

Sebelumnya perkenankan kami meminta maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati. Terima kasih sebelumnya, Jazakallah

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali yang lebih tepat dalam menyebutkan masalah ini bukan benar atau salah. Tetapi mana pendapat yang lebih kuat (rajih) dan mana yang kurang kuat (marjuh). Rajih dan marjuh inipun sebenarnya masih relatif alias nisbi, bahkan seringkali disalah-posisikan oleh banyak orang.

Bagi mereka yang cenderung kepada pendapat tertentu, maka pendapat itulah yang lebih rajih untuknya. Sebaliknya, bagi mereka yang cenderung kepada pendapat lainnya, maka pendapat lainya itulah yang lebih rajih baginya. Jadi mana yang rajih dan mana yang marjuh sebenarnya masih relatif dan nisbi. Tergantung kita mau pakai metode yang mana.

Dan urusan mentarjih ini seringkali disikapi dengan keliru oleh banyak orang, khususnya mereka yang belum pernah belajar ilmu fiqih perbandingan (muqaran), apalagi mereka yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu fiqih. Sayangnya,  belum apa-apa sudah dicekoki paham sesat untuk membenci ulama dan manhaj-manhaj dalam ijtihad fiqih. Akhirnya memang jadi semakin parah kesesatannya.

Padahal melakukan tarjih itu bagian dari sebuah proses ijtihad. Malah dikatakan bahwa tarjih itu di atasnya ijtihad. Dan orang-orang awam seperti kita ini tentu jauh dari layak untuk melakukan ijtihad, karena nyaris tak satupun syarat mujtahid kita miliki. Kalau berijtihad saja tidak mampu, apalagi melakukan tarjih, tentu lebih tidak mampu lagi.

Sayangnya banyak orang miskin pemahaman atas ilmu fiqih, tetapi merasa dirinya pintar dan bahkan menganggap semua orang pasti bodoh. Akibatnya, logikanya sering error dan failure. Urusan istimbath hukum dipaksakan pakai sistem gugur. Khilafiyah sama sekali dianggap perbuatan nista, yang ada cuma benar dan salah.

Sebenarnya buat orang-orang awam seperti kita ini, paling tinggi yang bisa kita lakukan hanya sekedar memilih 'secara buta' dari pilihan-pilihan yang sudah ada. Kita sama sekali tidak pernah melakukan ijtihad, karena memang tidak punya potongan untuk menjadi mujtahid. Apalagi melakukan tarjih, tentu sangat jauh sekali.

Kalau pun ada yang mengaku-ngaku telah melakukan tarjih, sebenarnya dia cuma sedang bermimpi saja. Pada hakikatnya yang dilakukan bukan mentarjih, melainkan hanya sekedar memilih secara buta alias bertaqlid buta kepada gurunya yang juga buta. Bayangkan, orang buta menuntun orang buta sambil memaki-maki orang yang melek dan menuduh mereka yang melek itu buta.

Yang dia lakukan tidak lain sekedar memilih secara fanatik, tanpa paham bagaimana proses ijtihad yang sesungguhnya.

Ikut Hasil Ijtihad Pakar Ahlinya

Untungnya kita belajar ilmu fiqih dan mengenal siapa saja para pakar dalam urusan istimbath hukum. Tentu kita yang awam ini wajib ikut apa yang telah mereka jamin kebenarannya. Sebab yang tahu hukum itu hanya para pakar yang ahli di bidangnya. Maka kita cukup ikuti apa yang sudah mereka hasilkan. Cara ini jauh lebih mudah dan lebih save ketimbang kita sok berijtihad sendiri yang sudah pasti keliru.

Tetapi untungnya semua pilihan itu sudah melewati proses verifikasi yang termat detail, teliti dan panjang. Bahkan melewati berabad-abad masa pengujian.

Kalau hasilnya berupa dua opsi, maka dijamin keduanya dipastikan sama-sama benar 100%. Tidak ada yang salah apalagi keliru. Karena kaidah yang berlaku adalah apabila suatu pendapat telah melewati proses ijtihad yang dilakukan dengan proses yang benar dan oleh para pakar mujtahid yang ahli, maka apapun hasilnya tidak akan membawa kepada dosa dan siksa. Kalau benar akan dapat dua pahala dan kalau pun salah akan dapat pahala juga meski hanya satu saja.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan, Tidak Bolehkah?
22 June 2014, 07:11 | Puasa | 31.246 views
Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
21 June 2014, 06:00 | Puasa | 62.667 views
Lafadz Ulama Dalam Al-Quran dan Hadits
20 June 2014, 06:00 | Quran | 18.566 views
Apakah Jilbab Itu Harus Berupa Gamis Lebar dan Cadar?
19 June 2014, 05:30 | Wanita | 23.471 views
Wajibkah Rejeki Dari Hadiah, Bonus dan THR Dizakatkan?
18 June 2014, 06:00 | Zakat | 25.162 views
Ramadhan Belum Sempat Mandi Janabah Terlajur Shubuh
17 June 2014, 05:40 | Puasa | 12.179 views
Hafal Quran Tapi Tidak Tahu Hukum Agama
16 June 2014, 06:34 | Quran | 17.267 views
Bolehkah Aqiqah Kambing Diganti Sapi?
15 June 2014, 07:07 | Qurban Aqiqah | 109.698 views
Hukum Menshalati Jenazah Yang Sudah Dikubur
14 June 2014, 05:00 | Shalat | 11.436 views
Bagian Mana Dari Tubuh Calon Istri Yang Boleh Dipandang?
13 June 2014, 05:00 | Nikah | 48.620 views
Benarkah Keledai Itu Hewan Yang Haram Dimakan?
12 June 2014, 07:00 | Kuliner | 43.179 views
Perbedaan Antara Khitbah Dan Pertunangan
11 June 2014, 06:00 | Nikah | 19.042 views
Mati Bunuh Diri, Apakah Jenazahnya Dishalatkan?
10 June 2014, 06:01 | Shalat | 20.531 views
Rumah Cicilan Ini Milik Ayah Atau Milik Ibu?
9 June 2014, 05:05 | Mawaris | 8.212 views
Zakat Profesi dan Zakat Maal
6 June 2014, 05:48 | Zakat | 54.098 views
Bagi Waris Buat Satu Istri dan Dua Anak Laki Dua Anak Perempuan
5 June 2014, 05:12 | Mawaris | 113.783 views
Perbedaan Hukum Ta'zir Dengan Hukum Hudud
4 June 2014, 05:00 | Jinayat | 32.546 views
Warisan Ayah Dikuasai Ibu Tiri
3 June 2014, 06:12 | Mawaris | 17.254 views
Menyesal Mentalak Tiga Istri, Bolehkah Istri Pura-pura Menikah Dulu Dengan Orang Lain?
2 June 2014, 04:25 | Nikah | 21.731 views
Apakah Bayi Yang Lahir Tidak Bernyawa Harus Dishalatkan?
1 June 2014, 11:45 | Shalat | 9.692 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,145,820 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img