Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Cara Menghitung Hari Ketujuh Untuk Menyembelih Aqiqah | rumahfiqih.com

Cara Menghitung Hari Ketujuh Untuk Menyembelih Aqiqah

Sat 9 August 2014 04:00 | Qurban Aqiqah | 23.641 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr wb.

Ustadz yang dirahmati Allah.

Ada beberapa pertanyaan terkait aqiqah :

1. Adakah perintah khusus untuk menyembelih aqiqah pada hari ketujuh?

2. Bolehkah dilakukan sebelum hari ketujuh atau sesudah hari ketujuh?

3. Pada jam berapa yang paling afdhal untuk menyembelih? Pagi, siang, sore atau malam hari?

4. Kapankah jatuhnya hari ketujuh itu? Di tengah keluarga mertua kami sedang terjadi perdebatan seru. Topiknya kapan jatuhnya hari ketujuh dari kelahiran bayi. Pada hari Selasa lalu, anak kami lahir dengan selamat dan rencananya mau kami sembelihkan hewan aqiqah. Tetapi muncul perbedaan, hari ketujuh itu hari apa?

Mertua laki-laki dan pendukungnya bilang bahwa hari kelahiran bayi yaitu hari Selasa sudah dihitung sebagai hari pertama, sehingga hari ketujuh jatuh hari Senin. Itulah yang diajarkan ustdz di masjid kami, kata mereka.

Tetapi mertua perempuan kami beda pandangan. Menurut beliau bahwa hari pertama itu sehari setelah kelahiran, jadi hari ketujuhnya adalah hari Selasa. Itulah yang diajarkan oleh ustadzah yang mengajar di majelis taklim kaum ibu.

Nah ini jadi 'perang' antara jamaah bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya sendiri tidak masalah, apakah hewan itu mau disembelih hari Senin atau hari Selasa. Yang penting kan menyembelihnya. Toh yang ribut-ribut itu juga tidak keluar uang. Yang keluar uang untuk membeli kambing tetap saja juga.

Tetapi bagaimana pandangan ustadz dalam masalah hitungan hari ketujuh ini? Masak sih harus berbeda macam mulai puasa Ramadha kemarin?

Terima kasih sebelumnya, ustadz.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A. Dalil Hari Ketujuh

Para ulama sepakat bahwa yang disunnahkan dalam menyembelih hewan aqiqah adalah para hari ketujuh, yaitu ketika seorang bayi telah berusia tujuh hari, terhitung sejak dia lahir pertama kali di dunia ini.

Dasarnya adalah beberapa hadits berikut ini :

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى فِيْهِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Anak laki-laki tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, maka disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, diberi nama lalu digunduli dan (HR. Abu Daud)

عَقَّ رَسُولُ اللهِ عَنِ الحَسَنِ وَالحُسَيْنِ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ يَوْمَ السَّابِعِ وَسَمَّاهُمَا

Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW menyembelihkan hewan aqiqah untuk Hasan dan Husain alaihimassalam pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya. (HR. Al-Baihaqi)

B. Bolehkah Dilakukan Sebelum dan Sesudahnya?

Namun para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidak bolehnya menyembelih aqiqah bila waktunya bukan pada hari ketujuh.

1. Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah menetapkan bahwa waktu untuk menyembelih hewan aqiqah hanya pada hari ketujuh saja. Di luar waktu itu, baik sebelumnya atau pun sesudahnya, menurut mazhab ini tidak lagi disyariatkan penyembelihan. Artinya hanya sah dilakukan pada hari ketujuh saja. [1]

2. Asy-Syafi’iyah

Pendapat mazhab Asy-Syafi’iyah lebih luas, karena mereka membolehkan aqiqah disembelih meski belum masuk hari ketujuh. Dan mereka pun membolehkan disembelihkan aqiqah meski waktunya sudah lewat dari hari ketujuh.

Dalam pandangan mazhab ini, menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh adalah waktu ikhtiyar. Maksudnya waktu yang sebaiknya dipilih. Namun seandainya tidak ada pilihan, maka boleh dilakukan kapan saja.[2]

3. Al-Hanabilah

Mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seorang ayah tidak mampu menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran bayinya, maka dia masih dibolehkan untuk menyembelihnya pada hari keempat-belas.

Dan bila pada hari keempat-belasnya juga tidak mampu melakukannya, maka boleh dikerjakan pada hari kedua-puluh satu. [3]

Ibnu Hazm menyebutkan bahwa tidak disyariatkan bila menyembelih hewan aqiqah sebelum hari ketujuh, namun bila lewat dari hari ketujuh tanpa bisa menyembelihnya, menurutnya perintah dan kewajibannya tetap berlaku sampai kapan saja.

Sekedar catatan, Ibnu Hazm termasuk kalangan yang mewajibkan penyembelihan hewan aqiqah. Sehingga karena dalam anggapannya wajib, maka bila tidak dikerjakan, wajib untuk diganti atau diqadha’. Dan qadha’ itu tetap berlaku sampai kapan pun.

C. Jam Penyembelihan

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan yang utama dilakukan penyembelihan hewan aqiqah.

Sebagian ada yang menqiyaskan dengan jam penyembelihan hewan udhiyah, yaitu pada waktu Dhuha. Sebagian lainnya ada yang mengatakan bahwa lebih utama dikerjakan pada saat matahari terbit.

Dan sebagian yang lain tidak terlalu mempermasalahkan tentang jam penyembelihan. Dalam pandangan mereka, hewan aqiqah silahkan dibolehkan dilakukan pagi hari di waktu Dhuha, siang, sore bahkan malam hari sekali pun juga boleh.

Pendapat yang terakhir ini barangkali yang lebih tepat, karena lebih meringankan, serta tidak dasarnya harus disamakan atau diqiyaskan dengan ketentuan yang berlaku pada penyembelihan hewan udhiyah.

D. Bagaimana Menghitungnya

Para ulama sepakat bahwa waktu yang paling utama dan tidak ada perbedaan pendapat untuk menyembelih hewan aqiqah adalah hari ketujuh sejak kelahiran bayi. Namun mereka berbeda pendapat ketika menetapkan cara menghitungnya. Apakah hari kelahiran bayi ikut dihitung sebagai hari pertama, ataukah hitungan hari pertama jatuh pada hari berikutnya.

1. Cara Al-Malikiyah

Al-Imam Malik menghitung hari pertama kelahiran bayi adalah keesokan harinya atau sehari setelah hari kelahiran. Misalnya, seorang bayi dilahirkan pada hari Selasa, maka hitungan hari pertama adalah Rabu, hari kedua Kamis, hari ketiga Jumat, hari keempat Sabtu, hari kelima Ahad, hari keenam Senin dan hari ketujuh adalah hari Selasa. 

Maka waktu untuk menyembelih hewan aqiqah adalah hari Selasa, yaitu hari yang sama dengan hari kelahiran bayi, seminggu kemudian.

Tetapi ada sedikit catatan, yaitu bila bayi lahir lewat tengah malam sebelum terbit fajar, maka hari kelahirannya itu sudah mulai dihitung sebagai hari pertama. Misalnya bayi lahir hari Selasa dini hari jam 02.00. Maka hari Selasa itu sudah dianggap hari pertama, sehingga hitungan hari ketujuh akan jatuh di hari Senin dan bukan hari Selasa.

Pendapat Al-Imam Malik ini sejalan dengan pandanga para ulama lain seperti Al-Imam An-Nawawi dan Al-Buwaithi dari mazhab Asy-Syafi’iyah.

2. Cara Ibnu Hazm

Sedangkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa cara menghitungnya adalah dengan menjadikan hari kelahiran sebagai hari pertama. Sehingga bila ada bayi lahir di hari Selasa, maka hari pertama adalah Selasa, hari kedua Rabu, hari ketiga Kamis, hari keempat Jumat, hari kelima Sabtu, hari keenam Ahad, dan hari ketujuh adalah Senin.

Maka hewan aqiqah disembelih pada hari Senin dan bukan hari Selasa.

Yang sejalan dengan pendapat Ibnu Hazm ini antara lain Ar-Rafi’i dari mazhab Asy-Syafi’iyah.

Tabel

Untuk memudahkan kita memahami perbedaan cara perhitungan dari keduanya, silahkan lihat tabel di bawah ini :

HARI

Malikiyah

Ibnu Hazm

  Selasa

Hari 0 : LAHIR

Hari 1 : LAHIR

  Rabu

Hari 1

Hari 2

  Kamis

Hari 2

Hari 3

  Jumat

Hari 3

Hari 4

  Sabtu

Hari 4

Hari 5

  Ahad

Hari 5

Hari 6

  Senin

Hari 6

Hari 7 : AQIQAH

  Selasa

Hari 7 : AQIQAH

-

Kedua pendapat itu muncul karena metode penghitungannya berbeda. Dan sayangnya tidak ada dalil yang qath'i dari Al-Quran dan As-Sunnah tentang contoh penghitungannya. Sehingga terjadi peluang perbedaan pendapat dalam cara penghitungannya.

Satu lagi yang penting dicatat bahwa inti ritual aqiqah bukan pada resepsi acaranya, melainkan pada penyembelihannya. Resepsi dan pesta terserah mau dilakukan kapan saja, yang penting penyembelihannya itu sendiri. Karena inti dari ritual aqiqah sebenarnya adalah menyembelih hewan dan bukan pesta.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Hasyiyatu Al-Kharsyi, jilid 3 hal. 410

[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 9 hal. 489

[3] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8 hal. 661

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Talfiq Antara Mazhab?
8 August 2014, 00:27 | Ushul Fiqih | 12.399 views
Noda Kehitaman Bekas Sujud di Dahi
7 August 2014, 07:08 | Shalat | 15.679 views
Benarkah Indonesia Negara Kafir Yang Harus Diperangi?
6 August 2014, 02:51 | Negara | 24.236 views
Menemukan Uang, Bolehkah Buat Biaya Persalinan?
3 August 2014, 22:26 | Umum | 6.126 views
Bank Susu Dalam Perspektif Islam
2 August 2014, 08:00 | Kontemporer | 7.925 views
Bolehkah Shaf Wanita Sejajar Dengan Shaf Laki-laki?
1 August 2014, 07:00 | Shalat | 12.270 views
Benarkah Bersalam-salaman Seusai Shalat Itu Bid'ah?
31 July 2014, 08:00 | Shalat | 21.674 views
Benarkah Makna Minal Aidin Wal Faizin Bukan Maaf Lahir dan Batin?
30 July 2014, 09:00 | Puasa | 12.020 views
Ketentuan Khutbah Idul Fithri
28 July 2014, 03:00 | Shalat | 13.540 views
Masalah Haul pada Zakat Emas Perak dan Tabungan
27 July 2014, 18:00 | Zakat | 12.763 views
Makan Dulu Sebelum Shalat Iedul Fithri
27 July 2014, 04:01 | Shalat | 8.159 views
Shalat Pakai Sepatu dan Sandal, Bolehkah?
26 July 2014, 02:00 | Shalat | 17.101 views
Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah?
25 July 2014, 03:00 | Puasa | 6.265 views
Qunut Pada Shalat Witir, Bid'ahkah?
24 July 2014, 05:13 | Shalat | 10.551 views
Benarkah Zionis Yahudi Keturunan Kera dan Babi?
23 July 2014, 06:14 | Kontemporer | 9.219 views
Bagaimana Cara Melakukan Qunut Nazilah
22 July 2014, 18:46 | Shalat | 34.500 views
Bolehkah Wanita Berhias Dengan Mewarnai Kuku Jarinya?
18 July 2014, 10:20 | Wanita | 8.904 views
Mengapa Witir Dua Rakaat Plus Satu?
17 July 2014, 05:00 | Shalat | 11.873 views
Bagaimana Puasanya Para Pekerja Berat
16 July 2014, 01:00 | Puasa | 13.769 views
Hukum Menggunakan Uang Elektronik
15 July 2014, 01:23 | Muamalat | 9.981 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,840,966 views