Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Taraweh Dulu Baru Puasa? | rumahfiqih.com

Taraweh Dulu Baru Puasa?

Mon 8 July 2013 22:47 | Shalat | 13.284 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Saya pernah mengaji dan pendapat ustad tersebut ttg tarawih. Menurut beliau muslim Indonesia itu salah kaprah, seharusnya kita mengerjakan yang wajib dahulu, yaitu puasa Ramadhan, baru disusul malamnya yang sunat yaitu sholat tarawih.

Namun di Indonesia malam awal ramadhan sholat tarawih dahulu baru besoknya menunaikan puasa wajib ramadhan. Akhirnya saya tahu beliau dari syi'ah.

Menurut ustad gimana yang benarnya, takutnya pemahaman saya salah karena kebingunan ini... yang dalilnya saya belum nemu ttg hal ini.. mohon pencerahannya... syukron..

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam beberapa hal, mendahulukan yang wajib dari yang sunnah memang sudah menjadi keharusan. Tetapi tentu saja cara penerapannya tidak boleh salah kaprah.

Istilah 'mendahulukan yang wajib' tentu tidak selalu harus berarti pengerjaannya harus dilakukan terlebih dahulu. Yang dimaksud dengan 'mendahulukan yang wajib' disini adalah lebih mengutamakan yang wajib dari pada yang sunnah. Itu pun kalau pilihannya hanya satu dan tidak bisa dua-duanya.

Misalnya, kita cuma punya waktu 3 menit untuk shalat, pilihannya mau shalat wajib atau shalat sunnah. Maka dalam hal ini kita mendahulukan shalat yang hukumnya wajib dari pada yang hukumnya sunnah. Maksudnya kita memilih untuk mengerjakan shalat wajib dan meninggalkan shalat sunnah.

Tetapi kalau sifatnya bukan alternatif pilihan, dan kita punya waktu banyak untuk mengerjakan shalat wajib dan shalat sunnah, maka kita kerjakan kedua-duanya.

Dan dalam prakteknya sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW, shalat wajib itu kadang didahului dengan shalat sunnah, misalnya shalat sunnah qabliyah untuk shalat Dzhuhur dan Shubuh. Karena Rasulullah SAW mengajarkan demikian, yaitu mendahului shalat Shubuh dan Dhuhur dengan shalat sunnah qabliyah.

Demikian juga dengan shalat sunnah tahiyatul masjid. Sebelum kita mengerjakan shalat fardhu lima waktu, begitu kita masuk masjid, disunnahkan terlebih dahulu kita melakukan shalat sunnah, yaitu shalat penghormatan terhadap masjid. Setelah itu barulah kita mengerjakan shalat fardhu lima waktu.

Demikian pula dengan shalat tarawih. Beliau SAW mulai mengerjakan tarawih yang hukumnya sunnah itu sejak malam pertama Ramadhan. Puasanya baru keesokan harinya.

Buat kita, apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, maka itulah yang kita jadikan panutan. Kita tidak diminta oleh beliau SAW untuk shalat atau puasa dengan menggunakan logika semata, dengan meninggalkan apa yang telah dicontohkan. Padahal contoh dan petunjuk yang jelas sudah ada.

Kalau dia bilang bahwa muslim Indonesia ini keliru, sebenarnya yang 'keliru' bukan cuma muslim Indonesia saja. Muslim seluruh dunia sepanjang masa juga 'keliru' dalam pandangannya. Sebab yang melakukan shalat tarawih di malam pertama Ramadhan bukan cuma muslim Indonesia saja, tetapi seluruh umat Islam di seluruh dunia mengerjakannya.

Terlalu Pintar atau Terlalu Bodoh?

Kalau membaca apa yang Anda ceritakan di atas, saya jadi teringat sebuah anekdot suku terasing dan bantuan closet wc. Dikisahkan bahwa sebuah suku terasing didatangi rombongan pejabat dari pusat. Kepada mereka, pejabat itu menghadiahkan closet untuk membangun kamar mandi dan wc, agar terjadi peningkatan taraf hidup dan kesehatan.

Setahun kemudian sang pejabat balik lagi ke dusun suku terasing itu, untuk mengecek apakah sudah ada kemajuan taraf hidup mereka. Betapa terkejutnya si pejabat, ketika ada jamuan makan, di atas meja disediakan sup yang amat lezat, tetapi bukan disajikan di piring atau mangkuk, melainkan disajikan di dalam closet yang seharusnya buat buang air.

Rupanya si kepala suku terasing itu tidak tahu apa kegunaan closet itu. Tetapi dia sok tahu dan merasa pintar sendiri. Dia menyangka closet itu adalah mangkuk untuk menyajikan sup buat tamu-tamu kehormatan. Spontan si pejabat muntah-muntah melihat sop di dalam closet di atas meja.

Apa pelajarannya?

Pelajarannya, seharusnya suku terasing itu bertanya lebih detail tentang apa fungsi closet, bagaimana cara memasangnya, serta bagaimana cara menggunakannnya. Sayangnya, si kepala suku terlalu sok tahu dengan sesuatu yang belum dikenalnya. Akhirnya malah membuat dirinya ditertawakan semua orang.

Begitulah agama Islam ini, kalau dijalankan oleh mereka yang sok tahu tapi tidak ada ilmunya, yang terjadi justru panggung lawak dan kekonyolan. Dia hanya mengandalkan perasaan dan logika pikirannya sendiri. Dan apesnya lagi, dengan segala kebodohannya itu, dia malah merasa dirinya sendiri yang pintar dalam ilmu agama, sementara orang lain dalam pandangannya bodoh semua.

Maka semakin kelihatan saja kebodohannya dan semakin banyak saja orang yang mentertawakannya. Naudzubillah min dzalik.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Ramadhan Bakar Petasan, Adakah Syariatnya?
8 July 2013, 01:42 | Puasa | 8.285 views
I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah?
5 July 2013, 00:00 | Puasa | 14.442 views
Haramkah Jadi Golput?
2 July 2013, 21:50 | Negara | 10.437 views
Wajibkah Wanita Memakai Cadar?
1 July 2013, 04:19 | Wanita | 13.969 views
Tata Cara Talaq Sesuai Syariah
28 June 2013, 03:15 | Nikah | 14.548 views
Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
25 June 2013, 20:37 | Puasa | 14.019 views
Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
24 June 2013, 22:53 | Puasa | 18.953 views
Nenek Ingin Puasa
21 June 2013, 18:37 | Puasa | 6.276 views
Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui
21 June 2013, 01:22 | Puasa | 10.533 views
Pulang Pergi Jakarta Bogor, Bolehkah Menjama' Shalat?
20 June 2013, 00:28 | Shalat | 24.452 views
Shalat Sendirian Lalu Ditepuk Bahunya
19 June 2013, 02:45 | Shalat | 155.141 views
Sikat Gigi Memakai Pasta Gigi Apa Membatalkan Puasa?
17 June 2013, 02:21 | Puasa | 25.021 views
Zakat Mobil Sewa
15 June 2013, 03:06 | Zakat | 8.371 views
Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadits?
14 June 2013, 00:34 | Hadits | 26.379 views
Bolehkah Anak Laki-laki Jadi Wali Nikah Ibunya Sendiri?
11 June 2013, 01:34 | Nikah | 34.107 views
Mensucikan Najis Dengan Kain Pel dan Pengharum
10 June 2013, 00:34 | Thaharah | 24.554 views
Bagaimana Menentukan Keshahihan Hadits?
8 June 2013, 00:05 | Hadits | 10.345 views
Mewarnai Rambut dan Batasan Pendeknya Rambut bagi Akhwat
4 June 2013, 00:31 | Wanita | 13.857 views
Bolehkah Laki-Laki Memanjangkan Rambut?
3 June 2013, 23:55 | Hadits | 12.332 views
Pernikahan Anak Perempuan Adopsi
2 June 2013, 21:39 | Nikah | 7.630 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,548,333 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:41 | Ashar 15:05 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img