Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Pernikahan Beda Jamaah | rumahfiqih.com

Pernikahan Beda Jamaah

Wed 31 July 2013 04:36 | Nikah | 12.448 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum

Ustadz dan ustadzah yang dirahmati Allah.

Saya sedang berta'aruf dengan seorang akhwat yang berbeda jamaah. Dia berlatar-belakang dari ormas Muhammadiyah, sementara saya seorang NU.

Karena perbedaan tersebut, dia merasa kuatir dan merasa tidak akan berjalan dengan baik. Hanya karena alasan itulah akhirnya dia memutuskan kontak dan berharap saya langsung melamarnya ke guru ngajinya.

Dia bilang tdk bisa memutuskannya kecuali guru ngajinya.

Maaf ustadz, apakah kalo saya berpaling mengikuti kepercayaannya, maka gugurlah tugas saya sebagai pemimpin dalam keluarga? Apakah sebaiknya yang harus kami lakukan ustadz,

Terimakasih

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Percaya apa tidak, ternyata sampai sekarang ini saya belum menemukan perbedaan resmi yang memisahkan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul-Ulama, baik dalam masalah aqidah atau pun masalah syariah.

Dalam pengamatan saya, secara resmi kedua ormas Islam itu sendiri tidak pernah menetapkan jenis aqidah kecuali aqidah ahlussunnah wal jamaah. Dan aqidah ahlussunnah wal jamaah itu cuma satu di dunia ini.

Demikian juga dalam masalah syariah, kedua ormas ini sama-sama berpegang kepada syariah Islam. Dan syariah Islam juga cuma satu di dunia ini. Bedanya, di Nahdlatul Ulama ada disebutkan secara eksplisit bahwa mereka berpegang kepada empat mazhab, sedangkan di Muhammadiyah teks itu tidak disebutkan secara eksplisit.

Tetapi semua sepakat bahwa sumber syariah Islam adalah Al-Quan dan As-Sunnah. Sejak kedua ormas milik umat Islam itu berdiri sekian puluh tahun yang lalu, tidak pernah ada perbedaan dalam aqidah dan syariah.

Lalu Dimana Perbedaannya?

Kalau begitu, terus dimana titik perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama? Kenapa kesannya kedua ormas itu tidak pernah sejalan dan selalu berseberangan?

Jawabnya sederhana, yaitu bahwa sebenarnya yang berbeda pendapat itu hanya segelintir orang saja. Mereka sering berbeda pendapat, tetapi lucunya ketika berbeda pendapat, mereka gemar menggunakan nama ormasnya atau mengatas-namakannya.

Dan kebetulan saja orang-orang itu ada yang jadi pejabat atau pengurus tertentu di masing-masing ormas. Ketika mereka berpendapat atau bikin fatwa, dicantumkanlah pendapat mereka sebagai fatwa resmi masing-masing ormas. Dan akhirnya, jadilah seolah-olah kedua ormas itulah yang saling berbeda jalan.

Padahal sebenarnya dalam AD/ART masing-masing, kita tidak menemukan perbedaan prinsip yang memisahkan keduanya, khususnya dalam masalah aqidah dan syariah. Tetapi kalau dalam program kerja dan teknis pelaksanaannya, tentu saja pasti akan berbeda-beda.

Ijithad Pribadi Yang Dilegitimasi

Yang namanya masalah ijtihadi, pasti akan menimbulkan perbedaan pendapat. Jangankan antara satu ormas dan ormas lain, bahkan dalam satu mazhab fiqih yang canggih sekalipun, tetap saja ada banyak sekali perbedaan pandangan.

Hanya saja yang membedakan adalah masalah tata cara, sikap dan etika dalam berijtihad dan berbeda pendapat.

Dahulu, para ulama dan mujtahid itu sangat hemat dalam berfatwa. Kalau tidak yakin 100% dengan hujjahnya, mereka memilih diam dan tidak berpendapat. Itu ciri dasar, yaitu sikap tawadhdhu' dan sangat hati-hati dalam berijtihad.

Mereka lebih suka mengutamakan pendapat ulama lain yang berbeda dengan pendapat dirinya, ketimbang menonjolkan pendapat diri sendiri. Padahal level mereka sudah 100% mujtahid profesional, yang sangat berhak untuk berijtihad dan berfatwa.

Sementara para tokoh di masa sekarang ini, gayanya agak jauh berseberangan dengan para ulama di masa lalu. Mereka nampaknya lebih suka berijtihad walaupun sebenarnya kapasitas mereka belum sampai ke level mujtahid.

Dan yang lebih disayangkan lagi, kadang kalau sudah punya pendapat, mereka lebih sering ngotot dengan pendapatnya, walau pun sebenarnya pendapat itu bukan hasil ijtihadnya sendiri. Mereka sendiri sebenarnya cuma taqlid saja dengan pendapat orang lain.

Hanya karena pendapat orang lain itu berasal dari kelompoknya, atau sama-sama dari ormas yang satu, maka dibelanya mati-matian pendapat itu. Lucunya, kadang sampai harus mengeluarkan makian dan cacian yang tidak pantas, termasuk merendahkan pendapat para ulama dan mujtahid yang sesungguhnya.

Dan yang amat disayangkan, seringkali dalam mempertahankan pendapat yang sebenarnya cuma hasil taqlid itu, sampai harus mengerahkan massa pendukung. Karena kebetulan mereka punya jabatan tinggi di ormasnya, dikeluarkanlah aturan bahwa semua anggota ormas itu DIWAJIBKAN untuk mengikuti pendapatnya.

Astaghfirullah . . .

Inilah yang namanya politisasi pendapat dalam hasil ijtihad. Sesuatu yang mustahil dilakukan oleh para mujtahid di masa lalu.

Etika Para Fuqaha Dalam Berbeda Pendapat

Mari kita meneladani etika para fuqaha di masa lalu. Lihat bagaimana sikap mulia yang mereka ajarkan menjadi teladan buat generasi kita.

Sebutlah misalnya Abu Yusuf dan Muhammad sebagai pembela mazhab Al-Hanafiyah. Pendapat mereka tidak selalu seiring sejalan dengan pendapat guru mereka sekaligus pendiri mazhab, Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah. Tetapi mana pernah keduanya mengolok-olok Abu Hanifah? Berbeda pendapat adalah satu hal, tetapi saling memuji dan saling memuliakan adalah hal lain.

Kira-kira ada dimana kita ini dibandingkan dengan mereka?

Coba tengok apa yang dilakukan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i. Sebagai mujtahid mutlak, ternyata beliau banyak meralat hasil ijtihad dan sekian banyak pendapat. Yang diralat bukan hasil ijtihad atau pendapat orang lain, tetapi malah pendapatnya sendiri.

Betapa hebatnya beliau. Pernahkah kita mendengar ada ormas meralat kembali fatwa yang sudah terlanjur dikeluarkannya? Rasanya sih belum pernah. Tetapi kalaupun ada, sedikit sekali yang diralat, nyaris bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Sementara Al-Imam Asy-Syafi'i, ketika tinggal di Mesir, beliau mendirikan mazhab baru yang dikenal dengan qaul jadid, setelah sebelumnya punya qaul qadim. Dan beliau tentu tidak pernah mencemooh para ulama yang lebih mempertahankan pendapat dirinya dari qaul qadim, seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Sebenarnya perbedaan pendapat di kalangan ulama di masa lalu adalah sesuatu yang lazim dan pasti terjadi. Dan tidak ada yang harus jadi heboh atau berpecah belah ketika ada perbedaan pendapat itu. Toh, perbedaan itu lebih merupakan keunggulan ilmiyah yang menjadi ciri khas para ulama, dimana sesama mereka malah saling mengagumi satu sama lain.

Di masa itu, ketika para murid pengikut mazhab Al-Hanafiyah berbeda pendapat dengan para murid pengikut mazhab Asy-Syafi'iyah dalam urusan qunut shubuh, mereka tetap saling memuji dan saling terpesona sesama mereka.

Dan sikap teladan itu memang jadi kurikulum wajib (baca:MKDU) yang diajarkan langsung oleh sang imam. Adalah Al-Imam Asy-syafi'i ketika mengimami murid-murid Abu Hanifah dalam shalat shubuh, beliau justru meninggalkan qunut.

Padahal dalam mazhab Asy-Syafi'iyah, qunut shubuh itu dihukumi sebagai sunnah muakkadah, yang bila ditinggalkan ada syariat untuk sujud sahwi. Tindakan itu tidak lain adalah sebuah etika dasar dalam berikhitlaf. Dan di atas etika dasar itulah mentalitas para ulama ditempa.

Sayangnya, justru etika dasar itulah yang hari ini sudah tidak ada lagi. Sikap saling mengormati perbedaan pendapat tinggal jadi ungkapan yang manis di bibir, tetapi nyaris tidak pernah sampai ke level implementasi. Berganti dengan sikap saling mencari-cari kesalaahan dan kelemahan orang lain, untuk dijadikan bahan bakar menyemangati pengikut masing-masing. Naudzubilla min dzalik . . .

Apalagi kemudian lahir para tokoh generasi baru yang terdidik dalam iklim kurang baik, yaitu budaya saling mengejek satu sama lain, lupa dengan etika dasar yang seharusnya dimiliki, atau malah boleh jadi memang tidak pernah berkesempatan untuk mempelajarinya.

Semua ini tidak lain adalah pe-er besar bagi kita semua, dalam rangka meluruskan kembali kurikulum pendidikan agama kita, khususnya dalam ilmu fiqih dan syariah, demi kesatuan dan kebangkitan Islam pada hari-hari mendatang.

Himbauan

Sebenarnya kalau kita mau berbeda pendapat dalam ijtihad, silahkan saja dilakukan. Toh tidak ada yang bisa melarang hal itu.

Namun alangkah baiknya perbedaan pendapat itu tidak membawa-bawa nama ormas, jamaah, tandzim ataupun aliansi. Mengapa?

Sebab di belakang sebuah ormas Islam atau jamaah muslimin yang besar, ada berjuta umat yang jadi pengikut fanatik. Dan mereka juga punya keluarga yang tentunya secara langsung atau tidak langsung, akan jadi pengikut juga. 

Mereka inilah yang akan jadi 'korban'  atraksi dari akrobat opini yang diindoktrinasikan kalangan elitnya. Sementara mereka tidak pernah tahu kenapa harus berbeda pendapat dengan sesama muslim lainnya.

Amat disayangkan bila dakwah yang dijalankan pada akhirnya melenceng jauh dari alurnya. Dari yang seharusnya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman yang original dan asli, berubah menjadi dakwah indoktrinasi sistematis, hanya demi membela pendapat pilihan ormas saja. Semua anggota dan simpatisan lantas digiring untuk menjadi pembela sejati pendapat pilihan para elit ormas, dengan melupakan kaidah-kaidah ilmiyah dan kemampuan untuk bersikap kritis.

Secara tidak langsung, sebenarnya seruan atau perintah ini tidak lain adalah bentuk lain dari sikap taqlid dan kejumudan era modern, cuma dikemas dalam format yang lebih aktual.

Kalau hasilnya banyak keluarga yang berubah jadi amat fanatis dengan pendapat ormas dan jamaah tertentu, tentu jadi sangat masuk akal. Karena doktrin-doktrin itu telah berjalan puluhan tahun, tanpa pernah ada yang berusaha untuk memberikan pencerahan.

Para Korban

Kalau sudah demikian, maka orang-orang seperti kita inilah yang jadi korbannya. Ketika mau menikah dan merasa sudah saling cocok dengan calon pasangan, ternyata terhalangi oleh perbedaan latar belakang keluarga. Keluarga suami adalah pembela militan ormas tertentu, dan keluarga istri adalah pejuang garda terdepan dari ormas lainnya. 

Kalau dipaksakan juga, memang kemungkinan bisa pecah 'perang dunia'. Seolah-olah kedua ormas itu jadi 'agama' yang saling berbeda. Dan seolah-olah pernikahan itu jadi seperti 'pernikahan terlarang antar agama'.

Amat disayangkan sekali memang, tetapi itulah kenyataannya. Mungkin kita masih butuh dua sampai tiga kali pergantian generasi untuk benar-benar terlepas dari pemikiran yang rada mundur ke belakang ini.

Maka kita bersyukur kalau masih menemukan keluarga yang rajin mengaji dan belajar agama, tanpa harus terjebak untuk berpaham fanatik dengan ormas atau jamaah tertentu.

Keluarga seperti ini dalam pandangan saya adalah keluarga yang merdeka. Ketika mereka menjalankan agama Islam, tidak bawa-bawa ormas, jamaah atau kelompok. Karena mereka belajar agama Islam tidak lewat 'agen-agen' yang terlalu banyak mengambil keuntungan, tetapi lewat jalur formal dan bersih.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Fiqih I'tikaf Lengkap
29 July 2013, 21:43 | Puasa | 22.895 views
Jumlah Takbir Shalat Iedul Fitri
29 July 2013, 09:44 | Shalat | 9.691 views
Saya dan Suami Berhubungan Badan di Ramadhan, Harus Bagaimana?
27 July 2013, 06:51 | Puasa | 26.482 views
Bersentuhan Suami-Isteri Setelah Berwudlu, Batalkah?
26 July 2013, 00:45 | Thaharah | 30.891 views
Zakat Perniagaan, Bagaimana Menghitungnya?
25 July 2013, 03:55 | Zakat | 9.617 views
Cara Perhitungan Zakat Hasil Pertanian
24 July 2013, 01:30 | Zakat | 106.781 views
Dana Zakat untuk Kegiatan Dakwah, Bolehkah?
22 July 2013, 23:00 | Zakat | 9.439 views
Haruskah Pembantu Bayar Zakat Fitrah?
22 July 2013, 08:29 | Zakat | 8.920 views
Bolehkah Uang Zakat Dipinjamkan pada Mustahik?
20 July 2013, 01:41 | Zakat | 8.189 views
Berhubungan Seksual Masa Haidh dan Tidak Tahu Keharamannya
19 July 2013, 02:38 | Nikah | 10.672 views
Perbedaan Antar Mazhab
17 July 2013, 23:47 | Ushul Fiqih | 14.866 views
Lupa Niat Puasa dan Menjilat Shampoo
17 July 2013, 02:12 | Puasa | 9.345 views
Zakat Fitrah : Pakai Beras Atau Uang?
12 July 2013, 21:02 | Zakat | 23.817 views
Apakah Tiap Transaksi Penjualan Ada Zakatnya?
11 July 2013, 23:22 | Zakat | 24.622 views
Hasil Panen Tembakau Wajibkah Dizakati?
11 July 2013, 14:33 | Zakat | 8.545 views
Pemerintah Bukan Ulil Amri Yang Berwenang Menetapkan Ramadhan?
9 July 2013, 01:13 | Puasa | 24.181 views
Taraweh Dulu Baru Puasa?
8 July 2013, 22:47 | Shalat | 12.738 views
Ramadhan Bakar Petasan, Adakah Syariatnya?
8 July 2013, 01:42 | Puasa | 7.980 views
I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah?
5 July 2013, 00:00 | Puasa | 13.545 views
Haramkah Jadi Golput?
2 July 2013, 21:50 | Negara | 9.967 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,801,905 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img