Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Anak Yang Banyak Jasa Pada Orang Tua Dapat Warisan Lebih Besar? | rumahfiqih.com

Bolehkah Anak Yang Banyak Jasa Pada Orang Tua Dapat Warisan Lebih Besar?

Fri 2 October 2015 07:24 | Mawaris | 11.360 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Salah seorang saudara kami menuntu untuk mendapat bagian yang lebih besar dari yang lain. Alasannya karena dia merasa punya jasa yang besar dalam merawat orangtua kami semenjak masih hidup.

Pada dasarnya kami tidak keberatan dan setuju-setuju saja. Tetapi yang masih mengganjal dalam benak kami, lalu bagaimana sebenarnya dalam hukum Islam, apakah anak yang punya jasa tertentu kepada orang tuanya berhak mendapatkan harta warisan lebih besar dari saudara-saudarinya, ataukah jatah warisan tetap sama baik punya jasa atau tidak punya jasa?

Mohon penjelasan dari ustadz dan kami ucapkan terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
 
Jasa seseorang kepada almarhum tentu saja tidak sia-sia. Di akhirat tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sedangkan di dunia juga akan mendapatkan keberkahan serta kemuliaan.

Namun kalau jasa kepada almarhum semenjak hidup mau dikait-kaitkan dengan nilai harta yang diterima lewat warisan, tentu saja sudah tidak benar. Sebab ketentuan berapa harta yang diterima oleh seorang ahli waris itu sudah baku dari Allah sebagaimana yang tercantum di dalam kitab suci Al-Quran dan sunnah nabawiyah.

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian waris untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. (QS. An-Nisa : 11)

Nilainya tidak ditentukan atas besar kecilnya jasa si ahli waris kepada almarhum, melainkan berdasarkan rumus-rumus yang sudah ditetapkan, seperti jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Kasarnya, meski seorang ahli waris sama sekali tidak pernah berjasa kepada almarhum, tidak pernah menyenangkan hati almarhum, bahkan boleh jadi selama ini 'marahan' dan tidak bertegur sapa dengan almarhum, tetapi jatah warisnya sudah pasti dan tidak berubah.

Jatah harta waris tidak akan bertambah dengan semakin dekatnya si penerima waris kepada almarhum, juga tidak akan berkurang karena semakin jauhnya hubungan keduanya. Sebab jatah waris ini tidak didasarkan pada urusan 'like and dislike'.

Maka sebagai anak, jangan sekali-kali berharap mendapat harta waris yang lebih besar dari sesamanya cuma karena merasa lebih banyak jasanya kepada orang tua. Sebab jasa itu tidak akan ada pengaruhnya pada besar kecilnya harta yang diterima lewat warisan.

Hibah atau Hadiah Sejak  Almarhum Masih Hidup

Lain halnya bila almarhum sejak masih hidup sudah memberi hadiah alias hibah kepada anak. Maka hadiah itu bersifat pemberian yang sah, dimana nilainya terserah kepada almarhum, apakah akan diberi besar atau kecil. Dan terserah almarhum juga, apakah hadiah itu diberikan karena adanya jasa-jasa si anak atau sekedar hadiah saja tanpa imbalan apapun.

Semua itu ada hak preogratif orang tua yang masih hidup. Apakah semua anaknya mau diberi hadiah ataukah hanya anak tertentu saja yang diberi hadiah. Apakah ada anak yang diberi hadiah lebih besar atau semua disamaratakan.

Yang perlu dicatat baik-baik, apabila seorang yang masih hidup ingin memberikan hibah atau hadiah kepada salah satu anaknya, maka pastikan bahwa anak yang lain juga diberitahukan. Hal ini untuk mengantisipasi kalau-kalau nanti setelah almarhum tiada, apa yang sudah dihadiahkan diminta kembali oleh para ahli waris yang lain.

Selain itu yang juga harus dicatat baik-baik bahwa hadiah itu pemberian yang tidak ada kaitannya dengan pembagian harta waris. Maksudnya, anak yang sudah pernah diberi hadiah sejak almarhum masih hidup, tetap akan menerima harta waris tanpa dikurangi apapun. Sedangkan harta yang sudah dihadiahkan tentu tidak perlu diikutkan dalam pembagian waris.

Semoga penjelasan singkat ini bisa menjawab masalah yang Anda sampaikan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Keunggulan Waqaf Dari Zakat
30 September 2015, 18:08 | Zakat | 6.823 views
Status Ikatan Suami Istri Jika terjadi Khulu'
25 September 2015, 04:38 | Nikah | 22.910 views
Biar Tidak Terlalu Padat, Bolehkah Haji Di Bulan Lain?
24 September 2015, 19:12 | Haji | 12.499 views
Menjawab Tuduhan Islam Tidak Menyayangi Hewan Kala Idul Adha
23 September 2015, 07:00 | Qurban Aqiqah | 8.519 views
Fatwa Syeikh Al-Ustaimin : Tiap Negara Puasa Arafah Sesuai Dengan Ketentuan Pemerintah Masing-masing
22 September 2015, 01:00 | Puasa | 24.048 views
Menyakini Lebaran Haji Hari Kamis, Bolehkah Hari Rabu Sudah Qurban?
21 September 2015, 07:00 | Qurban Aqiqah | 6.182 views
Bolehkah Menyembelih Aqiqah Bukan Kambing Tapi Sapi?
20 September 2015, 19:50 | Qurban Aqiqah | 7.387 views
Sejak Lahir Belum Diaqiqahkan Orang Tua, Haruskah Mengaqiqahkan Diri Sendiri?
15 September 2015, 04:40 | Qurban Aqiqah | 14.523 views
Orang Tidak Shalat Ikut Patungan Qurban Sapi, Apakah Menggugurkan Qurban Yang Lain?
11 September 2015, 06:13 | Qurban Aqiqah | 6.136 views
Menentang Pembagian Waris Islam Kekal di Neraka
10 September 2015, 06:00 | Mawaris | 9.308 views
Kalau Pembagian Harta Waris Harus Disegerakan Lalu Ibu Harus Tinggal Dimana?
9 September 2015, 18:57 | Mawaris | 13.532 views
Dalam Keadaan Yang Bagaimana Menunda Shalat Jadi Lebih Utama?
3 September 2015, 10:25 | Shalat | 15.804 views
Bolehkah Membeli Hewan Qurban Dengan Uang Hutang?
31 August 2015, 23:37 | Qurban Aqiqah | 10.306 views
Syarat Orang Yang Hajinya Dibadalkan dan Syarat Orang Yang Membadalkan
30 August 2015, 05:03 | Haji | 15.404 views
Mengapa Panitia Diharamkan Menjual Kulit Hewan Qurban?
28 August 2015, 06:21 | Qurban Aqiqah | 9.783 views
Bolehkah Kita Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Wafat?
26 August 2015, 05:45 | Qurban Aqiqah | 11.259 views
Tidak Mau Bi'at dengan Jamaah Apakah Mati Jahiliyah?
24 August 2015, 11:10 | Aqidah | 13.970 views
Mana Lebih Utama Haji Qiran, Ifrad atau Tamattu'?
21 August 2015, 11:15 | Haji | 6.077 views
Bolehkah Kita Membuat Mazhab Sendiri Di Luar Mazhab Empat?
15 August 2015, 06:06 | Ushul Fiqih | 8.050 views
Lima Perbedaan Mendasar Antara Haji dan Umrah
14 August 2015, 03:30 | Haji | 19.388 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,229,744 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

15-9-2019
Subuh 04:30 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:03 | Maghrib 17:54 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img