Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh | rumahfiqih.com

Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh

Thu 24 March 2016 17:00 | Wanita | 10.981 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

1. Saya ingin bertanya terkait shalat saat awal masa haid. Semisal dhuhur masuk jam 11.30 dan kita belum shalat sampai ketika pukul 13.00. Saat akan shalat ternyata diketahui datang bulan.

Informasi yang saya dapat, ada 2 pendapat, yaitu : Gugur kewajiban untuk solat dzuhur dan tidak perlu menggantinya (Hanafi). Harus menggantinya saat nanti sudah suci karna solat dzuhur yg ditinggalkan dianggap utang (Syafi\'i) Benarkah informasi ini dan jika benar, manakah yang paling kuat di antara keduanya?

2. Seorang teman bertanya mengenai akhir masa datang bulan. Menurutnya jika sudah selesai haidnya maka dianjurkan untuk segera mandi besar, walaupun itu tengah malam sekalipun.

Yang menjadi pertanyaannya , jika ada kasus seperti ini : Datang bulan diketahui berhenti saat waktu Ashar, tapi kita belum melakukan mandi besar karena masih di kantor/luar rumah dan baru bisa mandi besar nanti saat jam 9 malam di saat waktu solat isya di rumah.

Apa kita harus mengganti solat ashar & magrib yang ditinggalkan karena belum melakukan mandi besar? Lalu jika benar demikian, bagaimana urutan cara menggantinya? Isya, lalu magrib, lalu ashar atau bagaimana?

Terima kasih sebelumnya telah membaca pertanyaan saya. Kami menanti jawabannya. Wassalamu\'alykum warahmatullah wabarakatuh.

Lailatul Hidayah

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Jawaban Pertanyaan Pertama

Memang benar ada perbedaan pendapat antara mazhab Al-Hanafiyah dan mazhab Asy-Syafi'iyah dalam masalah ini.

Dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, seorang wanita yang ketika masuk waktu shalat fardhu dalam keadaan suci, lalu di tengah waktu shalat dia mendapatkan darah haidh, padahal belum sempat shalat, maka kewajiban shalatnya gugur. Dan untuk itu tidak perlu diqadha' bila nanti telah suci.

Sebaliknya dalam mazhab Asy-Syafi'iyah, kewajiban shalatnya tidak gugur. Sehingga bila nanti sudah selesai dari masa haidh, dia wajib mengganti shalatnya dengan qadha'.

Syaratnya sederhana, darah haidh itu keluar setelah beberapa saat masuk waktu, sekira durasi untuk dapat berwudhu dan mengerjakan shalat. Tetapi kalau begitu masuk waktu shalat, langsung dapat haidh, jaraknya tidak cukup untuk sekedar berwudhu dan mengerjakan shalat, maka kewajiban shalatnya pun gugur.

Kalau yang ditanyakan mana pendapat yang lebih kuat, tentu masing-masing mazhab akan saling mengklaim bahwa pendapat mereka lah yang paling kuat. Jadi buat kita, yang penting bukan memilih yang paling kuat, tetapi memilih yang paling 'aman'.

Maksudnya?

Urusan mengerjakan shalat fardhu bukan urusan main-main. Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, selain berdosa besar, juga dipastikan akan masuk neraka. Oleh karena itu, kalau ada dua pendapat yang berbeda, yang satu mengharuskan kita mengganti shalat, dan satunya lagi tidak mengharuskan, logika kita tentu akan langsung bisa mengambil kesimpulan, yaitu kita akan pilih yang mengharuskan kita mengganti.

Mengapa demikian?

Mari kita buat pengandaian. Seandainya nanti di akhirat ternyata yang benar tidak harus menganti sebagaimaan pendapat mazhab Al-Hanafiyah, sementara kita sudah terlanjur mengganti, tentu tidak ada resiko apa-apa. Malah kita akan dapat untung, karena kita dapat pahala shalat sunnah.

Sebaliknya, kalau yang benar ternyata kita harus mengganti shalat, padahal kita tidak menggantinya, maka celaka dua belas buat kita. Badan kita akan dibakar api neraka Saqar karena meninggalkan shalat fardhu. Betapa ruginya kita kalau sampai hal itu terjadi.

Maka pilihan yang paling logis adalah memilih yang resikonya paling kecil, atau yang sama sekali tidak ada resikonya.

Jawaban Pertanyaan Kedua

Para ulama sepakat ketika seorang wantia tahu darah haidhnya berhenti, tidak diwajibkan untuk segera mandi janabah. Namun dianjurkan saja untuk segera mandi. Jadi tidak harus mandi jam 3 malam kalau memang tidak memungkinkan.

Tetapi seluruh ulama sepakat, bila ada kewajiban shalat yang harus dikerjakan dan waktunya hampir habis, maka wajib segera mandi janabah. Kewajiban ini bersifat mutlak dalam keadaan apapun, termasuk bila masih ada di kantor atau di jalan.

Sebab yang namanya shalat lima waktu itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja dengan sengaja tanpa udzur syar'i. Dan sengaja meninggalkan shalat hukumnya dosa besar, walaupun niatnya akan diganti (diqadha').

Sebagaimana kita tidak boleh meninggalkan shalat fardhu hingga lewat dari waktunya, dengan beralasan tidak mau  wudhu' kecuali di rumah, begitu pula seseorang tidak boleh meninggalkan shalat hingga lewat waktunya dengan alasan tidak mau mandi janabah kecuali di rumah.

Perlu dipahami bahwa mandi janabah itu tidak harus di rumah sendiri. Mandi janabah sebenarnya bisa dilakukan dimana saja, sebagaimana wudhu bisa dilakukan dimana saja. Yang penting paradigma kita harus diubah 180 derajat.

Kalau kita masih punya paradigma yang jumud, beku, kuno, ortodoks, konvensional dan ketinggalan zaman dalam urusan mandi janabah, maka selama-lamanya akan terus meninggalkan shalat. Hal itu dilakukan semata-mata cuma karena TIDAK MAU dan malas mandi janabah, kecuali kalau sudah di rumah. Padahal pulang sampai rumah sudah lewat jam 21.00 malam, sementara shalat Dzhuhur, Ashar, dan Maghrib ditinggalkan begitu saja.

Sayangnya, paradigma keliru seperti ini masih saja dipertahankan oleh sebagian wanita. 

Hemat Air

Salah satu alasan kenapa para wanita emoh mandi janabah, adalah karena sudah terpatri di dalam alam bawah sadarnya, bahwa mandi janabah itu butuh air yang amat banyak. Kalau belum keramas atau mandi jebar-jebur pakai gayung, rasanya masih belum sah.

Padahal semua itu cuma mithos yang tidak ada dasarnya, kecuali cuma perasaan yang sama sekali tidak didasarkan pada ilmu.

Yang dibutuhkan hanya kamar mandi dimana seorang wanita bisa meratakan air ke seluruh tubuhnya. Tidak harus keramas atau mandi jebar-jebur membuang-buang banyak air. Yang penting rata dan tidak ada bagian tubuh yang terlewat dari basah kena air.

Rasulullah SAW sendiri kalau mandi janabah sangat hemat dalam menggunakan air. Air yang dibutuhkan cuma satu sha'. Menurut para ulama kontemporer, ukuran air satu sha' kalau dikonversi ke zaman sekarang cuma 2,75 liter saja.

Sebagian ulama ada juga yang agak melebihkan menjadi 3,5 liter, sebagaimana zakat fitrah yang banyak dikerjakan di negeri kita.

Kreatif dan Harus Berupaya

Kadang alasan lain yang suka dipakai adalah tidak adanya kamar mandi yang layak untuk mandi. Maka para wanita cenderung ogah mandi janabah, walaupun darah haidhnya sudah selesai. Mereka merasa lebih nyaman untuk meninggalkan shalat fardhu beberapa kali, dari pada cari tempat untuk bisa mandi janabah.

Padahal seharusnya kalau tidak ada kamar mandi yang khusus buat mandi, bisa saja digunakan WC yang berlantai basah. Cukup tuangkan air ke sekujur tubuh dan ratakan, maka selesai sudah mandi janabah itu.

Memang kadang di gedung-gedung bertingkat yang mewah, agak sulit kita temukan WC yang berlantai basah. Umumnya konsep WC-nya berlantai kering, sehingga di dalam toilet nyaris kita tidak bisa mandi membasahi tubuh. Bahkan sekedar sprayer untuk istinja' pun tidak ada.

Jadi kalau kebetulan kantornya di gedung mewah, pergilah ke luar sambil makan siang. Lalu carilah kamar mandi atau WC di luar kantor, misalnya di rumah makan  atau pom bensin.

Dalam hal ini para wanita dituntut untuk kreatif dan berupaya terlebih dahulu dalam mengusahakan dirinya bisa mandi janabah.

Tidak Bawa Perlengkapan Mandi

Dan alasan yang diada-adakan lainnya untuk tidak mau mandi janabah adalah tidak bawa peralatan mandi, seperti lulur, sabun, handuk, shampoo, atau hiar drayer. Seolah-olah mandi janabah itu tidak sah kalau tidak ada semua perabotan itu.

Padahal yang dibutuhkan sebenarnya cuma selembar sapu tangan atau tissue, untuk sekedar bisa mengeringkan badan dari tetes air. Tidak harus ganti baju setelah mandi, juga tidak harus luluran, pakai bedak, gincu atau kosmetik lainnya.

Solusi Terakhir : Tayammum

Dalam kasus dimana kamar mandi sama sekali tidak ada, dan mandi sama sekali tidak bisa dikerjakan, tetap saja shalat tidak boleh ditinggalkan. Untuk itu para ulama membolehkan shalat dalam keadaan berjanabah dengan cara bertayammum.

Sebagian ulama berpendapat tayammum bisa menggantikan mandi janabah secara mutlak, ketika tidak ada air. Sehingga ketika sudah ada air, tidak perlu mandi lagi.

Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tayammum itu hanya berfungsi sebagai pengganti sementara, asalkan bisa mengerjakan shalat, selama tidak ada air. Begitu air didapat, maka harus mandi janabah lagi.

Terlanjur Keliru

Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur keliru. Ternyata selama ini banyak shalat yang ditinggalkan, padahal darah haidh sudah berhenti?

Jawabannya adalah apa yang sudah terlanjur biarkan saja. Tetapi ke depan harus hati-hati jangan sampai terulang lagi. Setiap wanita harus bisa mengantisipasi keadaannya, harus selalu siapa kapan mendapat darah haidh dan kapan berakhirnya. Agar jangan sampai dia tanpa sadar meninggalkan shalat fardhu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | Mawaris | 9.036 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | Aqidah | 9.540 views
Habis Wudhu, Mana Lebih Utama Dilap Atau Dibiarkan?
18 March 2016, 11:55 | Thaharah | 51.471 views
Mau Belanja Online Bolehkah Pinjam Kartu Kredit Milik Teman?
16 March 2016, 11:30 | Muamalat | 4.034 views
Catatan 8 Kali Gerhana di Masa Nabi SAW
10 March 2016, 00:01 | Umum | 3.688 views
Jakarta Mengalami Gerhana Cuma 88% Persen, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana?
7 March 2016, 11:30 | Shalat | 7.822 views
Istilah Quran Yang Beda Antara Makna Harfiyah dan Maksudnya
1 March 2016, 11:00 | Quran | 5.072 views
LGBT : Operasi Ganti Kelamin, Haramkah?
15 February 2016, 10:23 | Kontemporer | 12.174 views
Bolehkah Uang Zakat Untuk Membangun Masjid dan Membiayai Dakwah?
13 February 2016, 06:10 | Zakat | 5.701 views
Mazhab Cuma Pendapat Manusia, Buang Saja Cukup Quran dan Sunnah
10 February 2016, 09:20 | Ushul Fiqih | 20.557 views
Bingung, Ini Hibah atau Wasiat?
15 December 2015, 04:52 | Mawaris | 9.791 views
Lima Sisi Kekuatan Pribadi Ulama Yang Dinantikan
14 December 2015, 08:52 | Ushul Fiqih | 9.000 views
Air Bekas Diminum Kucing, Najiskah?
11 December 2015, 10:44 | Thaharah | 10.355 views
Kedudukan Hadits Perpecahan Umat Jadi 73 Golongan
9 December 2015, 23:43 | Hadits | 14.156 views
Hukum Tinta Pemilu dan Air Wudhu
8 December 2015, 06:00 | Thaharah | 12.380 views
Telapak Kaki Perempuan Bukan Aurat?
7 December 2015, 03:21 | Wanita | 14.975 views
Gemar Berdakwah Tapi Tidak Menguasai Bahasa Arab
4 December 2015, 08:00 | Kontemporer | 8.575 views
Hukum Voucher Belanja Undian Berhadiah
2 December 2015, 06:27 | Muamalat | 16.977 views
Berdakwah Tapi Meminta Upah
30 November 2015, 08:10 | Dakwah | 10.174 views
Benarkah Tidak Semua Perintah di dalam Al-Quran itu Wajib Dikerjakan?
29 November 2015, 07:12 | Ushul Fiqih | 5.247 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,162 views