Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hutang Dalam Pandangan Syariah | rumahfiqih.com

Hutang Dalam Pandangan Syariah

Sat 1 March 2014 06:00 | Muamalat | 11.798 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
ustadz yang hormati! saya ingin bertanya mengenai hutang dalam syariah, bagaimanakah hukumnya? apakah ia boleh, atau sunnah atau malah haram. karena saya pernah dengar bahwa hutang itu adalah sesuatu yang disukai syariah karena ia menolong orang lain. tapi ada juga yang mengatakan kalau hutang itu adalah sebuah kesulitan yang harus dihindari.
Lalu bagaimana mestinya sikap seseorang jika ia sudah terlanjur berhutang? dan bagaimana pula mestinya sikap orang yang mampu yang banyak memberi pinjaman kepada orang lain.
jazakallahu khaoiron katsiron. wassalamualaikum

Jawaban :

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Hukum Taklif Hutang

Semua ulama sepakat bahwa yang namanya qardh, kalau dilihat dari sisi si piutang atau yang memberikan hutang itu hukumnya sunnah. Dengan kata lain bahwa piutang itu merupakan sebuah qurbah (ibadah) yang pengerjaannya diganjar pahala.

Kenapa dinilai ibadah? Karena memang memberikan hutang itu adalah bagian dari membebaskan orang lain dari kesulitan. Karena bagaimanapun, orang yang datang meminta hutang itu –biasanya- memang orang yang sedang ditimpa kesulitan finansial yang tidak punya jalan keluar lagi kecuali dengan berhutang.

Dalam syariah, orang muslim yang mampu membuat kesulitan orang lain hilang atau minimal meringankan beban orang lain, pastilah orang seperti ini mendapat pahala. Nabi saw menengaskan dalam haditsnya yang artinya:

“Siapa yang membebaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan membebaskannya dari kesussahan di akhirat. Dan siapa yang memudahkan orang lain yang sedang dalam kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menutupi (aib) muslim lainnya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya selagi hamban-Nya menolong hambaNya yang lain” (HR Muslim)

Dari hadits ini, dan juga hadits-hadits lain yang mengandung makna serupa, para ulama menyimpulkan bahwa piutang, atau memberikan hutang dengan maksud menolong orang lain yang sedang kesulitan tergolong dalam ibadah yang mustahabb (dicintai).

Lebih Baik Dari Sedekah

Bahkan sebagian besar ulama mengkategorikan piutang sebagai qurbah yang statusnya lebih baik daripada sedekah. Dikatakan lebih baik, Karena memang konteks dan dampak yang muncul dari keduanya berbeda.

Piutang itu selalu muncul dalam konteks menolong orang yang kesulitan. Simpelnya bahwa hutang itu memang diperuntukkan bagi mereka yang sedang dalam kesulitan. Jadi memberikan hutang seperti memberikan air kepada orang yang dalam kehausan. Itu tentu jauh lebih berkesan dan berdampak bagi si penghutang.

Berbeda dengan sedekah atau hadish yang pemberiannya tidak melihat apakah yang diberi itu dalam kesulitan atau tidak. karena memang sedang tidak butuh dan tidak dalam situasi sulit, ketika diberikan, orang yang mendapatkannya itu biasa saja. Karena memang tidak dalam keadaan yang sulit.

Ibaratnya, seperti orang yang sudah kenyang dan orang yang sedang kelaparan. Orang lapar akan sangat senang sekali jika tiba-tiba ada yang membantu memberikannya makan. Akan tetapi orang yang sudah kenyang, sudah tidak punya nafsu lagi untuk makan, jadi kalau diberi makanan, cenderung menolak. Kalaupun menerima, itu disimpan untuk waktu kemudian. Senangnya pun antara kedua orang ini berbeda.

Bisa Berubah Jadi Wajib dan Haram

Dalam Al-mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (13/113), ulama menerangkan bahwa hukum qardh itu bisa beribah tergantung situasi dan kondisi. Ia bisa menjadi wajib dari sisi piutang jika memang penghutang itu dalam keadaan yang sangat mendesak dan butuh pertolongan, yang sekiranya jika tidak diberi akan menyebabkan kebahayaan yang besar. Dan ketika itu si piutang dalam keadaan yang lapang dan berlebih uang, maka yang seperti ini menjadi wajib.

Akan tetapi jika memang penghutang tidak dalam keadaan yang sangat sulit, seperti orang yang berhutang bukan karena sulit, tapi kerana memang ingin memajukan usaha atau sejenisnya, tentu golongan ini tidak sama seperti orang yang kesulitan.

Kalau dilihat dari sisi si penghutang, memang berhutang itu hukumnya mubah, boleh-boleh saja. Tapi hukum mubahnya bisa berubah haram. Itu jika dalam diri si penghutang, tidak ada niatan yang kuat untuk mengembalikan apa yang telah ia pinjam.

Imam Ibnu hajar Al-Haitami dalam kitabnya Tuhfatul-Muhtaj, mengatakan:

“seorang penghutang, kalau ia mengetahu bahwa ia berhutang itu tujuannya untuk kebaikannya (menutupi kesulitan) namun dalam hati niatnya berbeda, maka dalam hal ini diharamkan berhutang”[1]

Dan bagi si piutang juga, jika memang ia mengetahui kalau si penghutang ini tidak akan mampu mengembalikan, maka ulama juga melarangnya untuk memberikan hutang kepada orang ini. Bahkan beberapa ulama mengatakan, kalau pun itu hanya gudaan dan kira-kira (menduga bahwa si penghutang tidak mampu untuk mengembalikan), maka itu juga menajdi haram untuk memberikannya hutang.[2]

Jadi, di satu sisi ulama sangat memuji prilaku baik orang untuk memberikan hutang dalam rangka menolong sesama. Tapi itu tidak secara mutlak, harus dilihat dulu siapa yang diberikan. Karena memang hutang itu juga aslinya kesulitan, maksudnya jangan sampai kita memberikan kesulitan kepada orang lain yang akhirnya ia terus kesulitan karena tidak mampu mengembalikan.

Nabi saw Memohon Perlindungan Dari Hutang

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa di satu sisi, memberikan hutang adalah sesuatu yang mulia karena memang menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan. Tapi di sisi lain, ulama sangat mewanti-wanti sekali agar kita tidak terjerumus dalam hutang ini.

Ulama sangat menjaga sekali agar berhutang itu tidak menjadi kebiasaan yang selalu ditempuh. Akan tetapi agama ini menggiring umatnya untuk selalu menjauhi berhutang. Karena bagaimanapun hutang adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Dikatakan oleh salah seorang penyair bahwa hutang itu adalah: “Mimpi buruk di malam hari, dan kegundahan di siang hari yang terus menghantui.”

Karena itu sejak jauh-jauh hari, Nabi saw mengajarkan kita untuk selalu menghindari hutang, sebagaimana doa yang beliau saw ajarkan:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesedihan dan kegundahan, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari pelit dan sifat pecundang, dan aku berlindung kepadaMu dari hutang dan kedzaliman orang lain” (HR Al-Bukhori)

Selain doa di atas, banyak sekali dalil-dalil syariah yang memang menunjukkan bahwa agama ini sangat mewanti-wanti sekali agar umatnya tidak gampang untuk berhutang. Saking besarnya perkara hutang ini, Rasul saw ketika ada sahabat yang bertanya tentang jihadnya, apakah itu menjadi media untuk pengampunan segala dosanya. Nabi dengan tegas menjawab iya, tapi jika kau bukanlah seorang yang punya hutang.

Dalam haditsnya yang lain, beliau saw mengatakan:

“Seorang Syahid, apapun dosanya akan diampuni, kecuali hutang” (HR Muslim)

Segera Lunasi dan Berprilaku Sederhana

Jika memang sudah berhutang, yang harus dilakuka ialah segera melunasinya. Kalau memang belum punya uang untuk menggantinya, minimal berazam yang kuat sekali untuk tidak menunda-nunda pelunasan hutang tersebut.

Khawatir nantinya kita meninggal dan masing punya sangkutan hutang kepada orang lain. Kita lihat hadits di atas, kalau syahid saja tidak diampuni dosa hutangnya, apalagi kita yang bukan syahid?

Khawatir juga akhirnya malah makan harta haram dan terbawa sampai mati jika si piutang tidak meridhoinya:

“dan janganlah kalian memakan harta dengan bathil” (Al-Baqarah 188)

Maka, ketika memang sudah berhutang, tanamkan dalam diri untuk mengembalikannya segera, tidak menunda-nunda. Dan jangan sekali terbesit dalam diri untuk tidak melunasinya apalagi berdoa agar si pemberi hutang lupa kalau ia telah memberi pinjaman sehingga tidak lagi ditagih.

“tidaklah seseorang berhutang dan Allah mengetahui bahwa ia ingin melunasinya, Allah akan melunasinya untuknya (menolongnya dalam pelunasan) di dunia” (HR An-Nasa’i)

“siapa yang mengambil (meminjam) harta orang lain untuk dikembalikannya (melunasinya), Allah akan mengembalikannya untuknya (menolongnya dalam melunasi). Dan siapa yang mengambil harta orang lain untuk dirusaknya, niscaya Allah akan merusak orang tersebut” (HR Al-BUkhori)

Maka, solusi yang paling tepat ialah hidup sesederhana mungkin tidak terlalu berlebihan dalam segala hal, karena sesuatu yang berlebihan dan dipaksakan pasti buruk dampaknya. Kalau memang masih bisa berusaha tanpa harus berhutang tentu itu jauh lebih baik.

Jadi bedakan antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Jangan sampai gaya hidup melebihi kebutuhan hidup dalam pembiayaannya. –na’udzu billah-

Menunggu Bersabar Jika Jadi Piutang

Bagi pihak piutang yang sudah memberikan pinjaman, syariah ini mengajarkan untuk ia bersabar jika memang si penghutang belum punya sesuatu untuk melunasi hutangnya. Tapi tetap ia punya kewajiban untuk mengingat penghutang tersebut agar segera melunasi, bukan hanya diam saja.

Tapi jika memang di penghutang itu benar-benar telah berusaha namun masih juga belum mendapatkan hasil untuk melunasi, baiknya pihak piutang bersabar. Toh sejak awal juga, ia memeberi pinjaman karena memang ingin membantu, sangat layak niat yang baik itu juga dibarengi dengan perangai yang baik dalam implementasinya.

“dan jika mereka (penghutang) dalam keadaan sulit, maka tunggulah sampai mereka keluar dari keadaan sulit itu. Dan jika kalian menyedekahkannya tentu ia lebih baik untuk kalian” (Al-Baqarah 280)

Dan perlu diketahui juga bahwa orang yang memberi hutangm, lalu bersabar menunggu orang yang diberi hutang itu untuk melunasinya walaupun lama, asalnya dengan ikhlas dan niatan membantu, pastinya itu tidak akan sia-sia di mata Allah swt. Sabarnya ia dalammenunggu itu punya ganjaran khusus dari Allah swt:

“Siapa yang menangguhkan (hutang) orang yang sedang kesusahan, maka baginya setiap satu hari penangguhan itu terhitung sedekah” (HR Imam Ahmad)

“Siapa yang menangguhkan (hutang) orang yang kesulitan, atau bahkan menggugurkannya, Allah saw akan menaunginya nanti di bawah naungannNya” (HR Muslim)

siapa yang meringankan kesulitan penghutangnya (dengan tangguhan) atau menghapusnya, ia akan berada di bawah naungan ‘arsy di hari kiamat nanti” (HR Imam Ahmad)

Ulama mengatakan terkait hadist ini, bahwa Allah swt akan menjaga orang yang memberikan kemudahan kepada penghutang, dari panasnya dan sulitnya keadaan hari kiamat sebagai imbalan karena mereka telah menjaga para penghutang dari panas dan susahnya keadaan yang menimpanya dalam melunasi hutang tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab, wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Ahmad Zarkasih, Lc


[1] Tuhfatul-Muhtaj 5/37

[2] Fathul-Mu’in 340

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Larangan Memajang Gambar Makhluk Bernyawa
28 February 2014, 08:00 | Kontemporer | 98.956 views
Tentang Urf dan Tradisi
27 February 2014, 05:30 | Ushul Fiqih | 45.849 views
Siapa Yang Mewarisi Hutang?
26 February 2014, 07:25 | Mawaris | 11.250 views
Tidak Semua Talak Halal, Ada Juga Yang Haram
25 February 2014, 06:02 | Wanita | 22.238 views
Wanita Dicerai Tidak Boleh Langsung Kawin Lagi?
24 February 2014, 06:02 | Wanita | 30.778 views
Posisi Imam Wanita Pada Jamaah Wanita
23 February 2014, 02:44 | Wanita | 93.386 views
Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?
22 February 2014, 01:00 | Nikah | 13.291 views
Mengapa Masih Ada Yang Menghalalkan Rokok?
21 February 2014, 05:55 | Kuliner | 19.644 views
Keringanan Buat Orang Sakit Dalam Thaharah dan Shalat
20 February 2014, 04:30 | Shalat | 21.410 views
Cara Bedakan Hadits Hasil Ijtihad Nabi dan Wahyu
19 February 2014, 07:42 | Hadits | 10.613 views
Makmum Masbuk : Takbiratul Ihram Dulu Atau Langsung Ikut Imam?
18 February 2014, 06:10 | Shalat | 26.205 views
Apakah Anak Susuan Mendapatkan Waris?
17 February 2014, 12:00 | Mawaris | 16.132 views
Kiat-kiat Agar Terselamat Dari Bahaya Riba
17 February 2014, 01:07 | Muamalat | 14.712 views
Apakah Wanita Disyariatkan Adzan dan Iqamah?
15 February 2014, 05:01 | Wanita | 15.331 views
Hukum Menghias Masjid Dengan Megah
14 February 2014, 06:12 | Shalat | 13.896 views
Dosa Riba Setara Berzina Dengan Ibu Kandung Sendiri?
13 February 2014, 00:32 | Muamalat | 124.441 views
Beda Pajak dengan Zakat
12 February 2014, 04:06 | Zakat | 15.999 views
Adakah Ahli Waris Pengganti?
11 February 2014, 06:01 | Mawaris | 15.929 views
Orang Tua Non-Muslim, Apakah Wajib Menafkahi Mereka?
10 February 2014, 06:12 | Umum | 10.639 views
Imam Terlalu Lama, Bolehkah Mufaraqah?
9 February 2014, 05:02 | Shalat | 18.968 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,312,366 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

19-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img