Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Istri Ditinggal Mati Suami = Mantan Istri? | rumahfiqih.com

Istri Ditinggal Mati Suami = Mantan Istri?

Wed 25 September 2013 19:27 | Nikah | 44.572 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wrwb.

Baru-baru ini di TV saya melihat seorang ustad berpendapat yang menurutnya berdasarkan fiqih, bahwa istri yang ditinggal mati oleh suaminya tidak memiliki hak lagi mengenai apa-apa yang menyangkut sang suami.

Bahkan statusnya dikatakan telah bercerai dan menjadi seorang 'mantan istri'. Dan apa-apa yang menyangkut sang suami, dikatakan menjadi hak keluarga suami.

Apakah benar apa yang dikatakan ustad tersebut?

Sepanjang sepengetahuan saya, Islam sangat memuliakan dan melindungi wanita dan bahkan istri yang ditinggal mati suami pun, masih memiliki hak untuk mendapat hak waris.

Bagaimanakah hal ini menurut ustad Sarwat, dipandang dari fiqih atau berdasarkan pendapat para ulama.

Jazakallah. wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang polemik ini cukup banyak menyedot perdebatan dan polemik di tengah gencarnya serbuan pemberitaan media. Sebenarnya saya secara pribadi agak menyayangkan hal-hal seperti ini dijadikan bahan pergunjingan secara negatif di media. Kasihan almarhum yang sudah di alam baka, kalau pihak-pihak di dalam keluarga sendiri kurang dapat menahan diri untuk tidak berpolemik di media.

Sebab menurut saya, hal-hal seperti ini hanya merupakan bentuk kurangnya komunikasi di dalam keluarga. Semoga keluarga bisa menyelesaikan masalah kecil ini dengan jalan yang sebaik-baiknya.

Namun lepas dari urusan kurangnya komunkasi internal keluarga, memang duduk masalah yang terlanjur diperdebatkan dimana-mana ini perlu ditengahi dengan kepala dingin dan dengan mengacu kepada pemahaman syariah yang dalam dan luas. Maksudnya tentu agar masalah ini jangan sampai menyisakan salah paham dan salah tafsir di tengah khalayak.

A. Penyebutan Istilah 'Mantan' Istri

Penyebutan istilah 'mantan istri' bagi wanita yang suaminya berpulang ke rahmatullah inilah nampaknya yang menimbulkan polemik dan salah paham. Penyebutan 'mantan istri' itu pada dasarnya tidak bisa disalahkan di satu sisi, tetapi juga tidak bisa dibenarkan di sisi yang lain.

1. Tidak Salah 100%

Kok tidak bisa disalahkan?

Tidak bisa disalahkan karena secara hukum syariah, kematian salah satu pasangan hidup itu memang memisahkan hubungan suami istri di antara keduanya. Buktinya, seorang istri yang suaminya meninggal dunia, bila telah melewati masa iddah yang lamanya 4 bulan 10 hari, maka dia boleh menikah lagi dengan laki-laki lain.

Bolehnya menikah lagi itu menunjukkan bahwa si istri memang sudah bukan lagi berstatus istri almarhum. Seandainya statusnya masih istri almarhum, tentu tidak boleh menikah dengan laki-laki lain. Sebab Islam mengharamkan poliandri, yaitu satu istri bersuamikan dua orang atau lebih.

Orang dulu sering menyebutkan istri 'cerai mati' bagi wanita yang suaminya meninggal dunia dan status si istri menjadi janda. Istilah 'cerai mati' ini secara eksplisit tegas sekali menyebutkan status 'cerai', namun bukan cerai seperti yang kita kenal selama ini.

2. Tidak Bisa Dibenarkan

Namun meski ada sisi benarnya, penyebutan status 'mantan istri' bagi wanita yang suaminya meninggal juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Sebab penggunaan istilah ini agak kurang lazim dipakai di telinga.

Kalau sebutan 'mantan istri' ini dikatakan juga, maka dengan mudah kita bisa menebak ada maksud-maksud tertentu dari yang mengucapkannya. Meski kita tidak bisa membedah hati orang atas niatnya, namun sulit untuk menafikan hal itu.

Priinsipnya, tidak mentang-mentang suatu ungkapan itu benar secara hakikat, namun belum tentu tepat untuk disampaikan. Biar bagaimana pun tetap ada etika dan atitude yang perlu dipegang sebagai prinsip. 

Ambil contoh sederhana, misalnya kita menyapa pak Lurah dengan panggilan 'aneh,"Wahai Bapak Lurah yang kami hormati dan yang insya Allah akhirnya akan meninggal dunia . . . "

Dor! Sudah bisa dipastikan ungkapan seperti ini pasti akan membuat pak Lurah mencak-mencak dan para ajudannya kebakaran jenggot. Bahkan masyarakat pun tidak terima sebutan itu.

Betapa tidak, walau pun semua orang pasti akan mati, tak terkecuali pak Lurah, namun sapaan semacam itu tentu kurang etis dan terasa kasar sekali didengar telinga. Dan tentu lebih menyakitkan lagi kalau diucapkan di depan publik dan media.

Memang kalau ditilik dari satu sisi tidak salah-salah amat, karena memang benar bahwa pak Lurah tidak akan hidup abadi. Pak Lurah adalah manusia, dan pasti akan mati pada suatu hari. Namun di satu sisi tata cara etika berkomunikasi, jelas bahasa ini hanya digunakan oleh orang yang bersopan santun, atau orang yang sedang meledak-ledak emosinya.

Dan bahasa ini terasa kurang santun di telinga, apalagi keluar dari mulut orang yang seharusnya jadi panutan umat.

2. Al-Quran Tidak Menyebut Mantan Istri atau Mantan Suami

Kurang lazimnya penyebutan 'mantan istri' juga bisa kita bandingkan dengan lafadz-lafadz di dalam Al-Quran. Mari kita perhatikan secara seksama bagaimana Allah SWT menyebut kasus suami yang istrinya wafat atau sebaliknya di dalam Al-Quran.

Ketika seorang istri meninggal dunia dan suaminya menjadi ahli waris dari si istri, Allah SWT tidak menyebut si istri dengan sebutan 'mantan istri'. Walapun secara hukum memang sudah bukan lagi jadi istri, namun Al-Quran tetap menyebutnya sebagai istri. Silahkan baca baik-baik ayat berikut ini :

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ

Dan bagimu  seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu (QS. An-nisa' : 12)

Padahal istri itu sudah meninggal dunia, dan seharusnya statusnya sudah bukan istri lagi. Tetapi di dalam ayat di atas ternyata Allah SWT tetap menyebutnya sebagai istri dan bukan 'mantan istri'.

Di ayat lain ada ketetapan Allah SWT buat wanita yang suaminya meninggal dunia untuk menjalani masa iddah selama 4 bulan 10 hari. Dan ternyata Allah SWT tidak menyebut mereka dengan istilah 'mantan istri', tetapi cukup dengan sebutan biasa, yaitu istri. Perhatikan ayat berikut ini :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri, maka wajiblah atas para istri itu untuk  menangguhkan dirinya (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari. 
(QS. Al-Baqarah : 234)

Padahal suami sudah meninggal dunia, dan seharusnya status istrinya bukan istri lagi. Tetapi sekali lagi, di dalam ayat ini Allah SWT tetap menyebut mereka sebagai istri-istri dan bukan mantan-mantan istri.

Oleh karena itu baik suami atau istri yang pasangannya telah meninggal dunia, kita tidak perlu harus menyebut mereka sebagai mantan suami atau mantan istri.  Sebab Al-Quran yang merupakan kalamullah pun tidak menyebut mereka mantan.

B. Istri Adalah Ahli Waris Suami

Kalau ada orang yang mengartikan sebutan 'mantan istri'  bagi wanita yang suaminya wafat bahwa berarti istri tidak mendapatkan hak harta waris dai almarhum, tentu pemahaman ini keliru.

Sebab Al-Quran jelas memastikan bahwa ketika seorang suami meninggal dunia, maka istri yang saat itu mendampingi termasuk ahli waris yang sudah dijamin hak-haknya dalam harta warisan.

Dan Saya yakin sekali bahwa tidak ada satu pun ulama yang berpendapat bahwa istri tidak berhak atas harta peninggalan suaminya.

Namun lain halnya dengan kasus mantan istri yang sesungguhnya, yaitu suami menceraikan istri semasa hidupnya sampai terlewat masa iddahnya, tanpa dirujuk atau dinikahi kembali. Bila suatu ketika suami wafat, maka wanita yang sudah jadi mantan istri sejak masih hidup memang bukan ahli waris lagi, karena memang statusnya bukan istri.

Sedangkan bila istri tidak pernah diceraikan selama hidupnya, lalu suami wafat dengan status pernikahan yang masih melekat, tentu sang janda berstatus istri yang sah dan berhak mendapatkan harta waris.

Besaran haknya antara 1/8 bagian atau 1/4 bagian dari total harta yang dibagi waris, tergantung apakah suami saat wafat memiliki far'u waris, seperti anak atau cucu. Bila ada anak atau cucu yang mendapat waris, maka hak istri cuma 1/8 bagian. Sedangkan bila tidak ada anak atau cucu yang mendapat waris, maka hak istri menjadi 1/4 bagian.

Silahkan perhatikan ayat Al-Quran berikut ini :

وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم

Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. (QS. An-Nisa' : 12)

C. Hak Waris Keluarga Suami

Masih dalam urusan waris, sebagian dari keluarga suami pun juga menjadi ahli waris. Setidaknya-tidaknya yang menjadi ahli waris adalah ibu kandung, ayah kandung, serta saudara dan saudari almarhum. Syaratnya, mereka masih hidup saat almarhum wafat.

1. Ibu Kandung

Apabila ibu kandung almarhum masih hidup saat puteranya wafat, maka ibu kandung termasuk keluarga pihak suami yang dipastikan menjadi salah satu ahli waris. Sebagai ibu, beliau mendapat jatah 1/6 bagian dari harta yang dibagi waris, sebagaimana firman Allah SWT :

وَلأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ
Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. (QS. An-Nisa' : 12)

Namun seandainya saat wafat, almarhum tidak punya anak, maka sang ibunda berhak 1/3 bagian dari harta warisan.

2. Saudara dan Saudari Almarhum

Sebenarnya saudara dan saudari almarhum termasuk dalam daftar ahli waris juga. Namun posisi mereka terancam dengan keberadaan anak laki-laki dari almarhum. Sehingga bila almarhum punya anak laki-laki, hak saudara dan saudari almarhum terhijab alias tertutup. Konsekuensinya adalah bahwa saudara dan saudari almarhum tidak berhak mendapatkan harta warisan.

D. Hak di Luar Harta Warisan

Adapun terkait hak-hak keluarga pihak almarhum di luar hukum waris, ada beberapa ketentuan dalam syariah Islam, di antaranya masalah hadhanah.

Hadhanah bisa secara mudah diterjemahkan sebagai pengasuhan anak. Hak hadhanah ini biasa muncul ketika terjadi perpisahan antara suami istri, baik karena talak ataupun kematian.

Bila anak-anak almarhum masih kecil-kecil, maka hak pengasuhan tentu ada di tangan ibunya, sebagaimana hadits Rasulullah SAW  berikut ini :

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُول اللَّهِ : إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً  وَزَعَمَ أَبُوهُ أَنَّهُ يَنْزِعُهُ مِنِّي  فَقَال : أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan mengadukan halnya,"Ya Rasulullah, puteraku ini dulu aku yang mengandungnya, kamarku menjadi tempat tinggal baginya, payudaraku menjadi sumber makan minumnya, lantas ayahnya ingin mengambilnya dariku". Rasulullah SAW menjawab,"Kamu lebih berhak atas puteramu, sebelum kamu menikah lagi".  (HR. Ahmad)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Dua Qullah itu Berapa Liter?
25 September 2013, 12:39 | Thaharah | 8.622 views
Benarkah Kita Sendirian di Jagad Raya?
23 September 2013, 03:47 | Kontemporer | 7.940 views
Diminta Jadi Wakil Rakyat Demi Memperjuangkan Agama
19 September 2013, 22:08 | Dakwah | 5.464 views
Perbedaan Haji Qiran, Ifrad dan Tamattu : Mana Yang Lebih Afdhal
19 September 2013, 02:02 | Haji | 68.262 views
Cara Menentukan Arah Kiblat di Pesawat
17 September 2013, 22:36 | Shalat | 6.163 views
Halalkah Dana Talangan Haji Dari Bank Syariah?
16 September 2013, 21:54 | Haji | 11.733 views
Apakah Sah Khutbah Pakai Bahasa Selain Arab?
13 September 2013, 00:17 | Shalat | 7.576 views
Perlukah Lisensi Buat Para Khatib untuk Khutbah?
12 September 2013, 01:12 | Dakwah | 5.210 views
Nabrak Orang Sampai Mati, Pembunuhan atau Musibah?
9 September 2013, 22:05 | Jinayat | 13.587 views
Hijrah, Syarat Diterimanya Amal Seseorang?
9 September 2013, 03:03 | Aqidah | 6.896 views
Cara Menyikapi Hadits yang Berbeda-Beda
8 September 2013, 06:22 | Hadits | 7.249 views
Shalat Jum'at dalam Perjalanan
6 September 2013, 10:32 | Shalat | 7.540 views
Kirim Fatihah Buat Abdul Qadir Jaelani Atau Imam Asy-Syafi'i?
3 September 2013, 20:28 | Aqidah | 55.381 views
Salah Paham Sertifikat Halal
3 September 2013, 02:28 | Kuliner | 9.828 views
Haramkah Gaji PNS Karena Lulus Dengan Menyogok?
30 August 2013, 21:25 | Muamalat | 15.601 views
Meminjamkan Uang dengan Imbalan, Haramkah?
29 August 2013, 03:31 | Muamalat | 13.085 views
Menikah di Depan Jenazah
29 August 2013, 02:42 | Nikah | 7.266 views
Doa Agar Suami Tidak Dipoligami, Bolehkah?
27 August 2013, 07:54 | Nikah | 8.934 views
Tidak Tahan Menggauli Isteri Masih Nifas
27 August 2013, 04:39 | Nikah | 8.568 views
Kondangan Diniatkan Infaq?
26 August 2013, 04:39 | Umum | 7.800 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,551 views