Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Sentuhan Kulit Dengan Wanita, Batalkah Wudhu Saya? | rumahfiqih.com

Sentuhan Kulit Dengan Wanita, Batalkah Wudhu Saya?

Fri 22 November 2013 18:29 | Thaharah | 14.326 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu\'alaikum Wr Wb,

Semoga Ustadz senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam ilmu, rizki dan amal.
Ada hal yang ingin saya tanyakan terkait batal tidaknya wudhu' apabila kulit kita tersentuh secara langsung tanpa alas dengan wanita yang bukan mahram.

Ustadz dimana saya mengaji waktu masih kecil mengatakan hal itu membatalkan wudhu'. Tetapi di masa sekarang ini, di banyak pengajian saya mendapat fatwa yang berbeda sekali. Kebanyakan mengatakan tidak batalnya wudhu' meski tersentuh kulit dengan wanita.

Konon kata mereka bahwa haditsnya lemah, maksudnya hadits tentang batal wudhu bila tersentuh wanita. Jadi bagaimana seharusnya saya bersikap.

Terima kasih sebelem dan sesudahnya semoga Allah membalas segala kebaikan Ustadz

Wassalamu\'alaikum Wr Wb,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah yang anda tanyakan ini sebenarnya memang ada sedikit khilafiyah di antara para ulama mazhab. Hal itu disebabkan perbedaan dalil yang mereka gunakan, serta perbedaan interpretasi dan kesimpulan hukum yang mereka ambil.

Secara umum, memang ada dua pendapat. Pendapat pertama adalah pendapat yang mengatakan bahwa sentuhan kulit itu membatalkan wudhu'. Dan pendapat kedua tidak membatalkan.

A. Pendapat Yang Membatalkan : Jumhur Ulama

Umumnya para ulama baik mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah bersepakat bahwa menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram termasuk hal yang membatalkan wudhu.

Pendapat tentang batalnya wudhu oleh sebab sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita didasarkan pada ketetapan Al-Quran Al-Karim, yaitu :

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا

atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik. (QS. An-Nisa : 43)

Namun mereka berbeda pendapat tentang batasan dari menyentuh kulit itu.

1. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa sentuhan kulit laki-laki dan wanita itu membatalkan wudhu apabila disertai dengan ladzdzah (لذّة) yang mengiringinya, yaitu kenikmatan atau nafsu. Baik yang tersentuh itu bagain kulit, rambut, atau kuku dari wanita.

Bahkan juga meski pun ada kain tipis yang melapisinya, namun sempat ada rasa ladzdzah itu, maka hal itu dianggap membatalkan wudhu'.

Maka bila wanita yang tersentuh itu seorang anak kecil yang secara umum tidak akan melahirkan rasa ladzdzah itu, hukumnya tidak dianggap membatalkan wudhu'. Demikian juga bila yang disentuh itu wanita yang masih mahram, juga tidak membatalkan wudhu'.

Sedangkan ciuman di mulut menurut mazhab ini jelas membatalkan wudhu, lepas dari apakah ada nafsu atau tidak.

2. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah sentuhan kulit yang membatalkan wudhu itu hanya apabila terpenuhi beberapa syarat, antara lain :

  • Kedua pihak yaitu laki-laki dan wanita, dimana masing-masing bisa menjadi objek yang apabila tersentuh, menimbulkan syahwat, meski secara umur belum dibilang baligh.
  • Sentuhan terjadi tanpa memperhatikan pengaruhnya pada masing-masing, apakah ada ladzdzah (kenikmatan), syahwat atau tidak ada pengaruhnya. Asalkan sentuhan terjadi, sengaja atau tidak sengaja, maka wudhu' dianggap batal.
  • Yang tersentuh adalah kulit dengan kulit secara langsung tanpa alas atau pelapis. Sedangkan bila yang tersentuh itu terlapisi dengan kain, maka dianggap tidak membatalkan wudhu'.
  • Bagian tubuh yang apabila tersentuh membatalkan wudhu adalah kulit, yang maksudnya adalah yang ada dagingnya. Maka bila yang tersentuh kuku, gigi atau rambut, justru tidak dianggap membatalkan. Alasannya karena kuku, gigi dan rambut bukan bagian dari daging manusia.
  • Tidak dibedakan antara pihak yang menyentuh dan yang disentuh, apabila sentuhan terjadi maka keduanya sama-sama mengalami batalnya wudhu'.
  • Sentuhan kulit antara sejenis tidak membatalkan, meski pun menimbulkan syahwat bagi orang yang tidak normal. Maka pasangan lesbian atau homoseks bila bersentuhan kulit, tidak batal wudhu'nya. Lepas dari haramnya tindakan lesbian dan homoseksual.

3. Mazhab Al-Hanabilah

Di dalam mazhab Al-Hanabilah, ketentuan sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang membatalkan wudhu adalah bila sentuhan yang mengakibatkan syahwat dan terjadi antara kulit laki-laki dan kulit perempuan tanpa hail (حائل) atau pelapis.

Maka sentuhan kulit dengan wanita yang menjadi mahram, atau wanita yang masih kecil, tidak akan menimbulkan syahwat. Begitu juga dengan wanita yang sudah tua renta, atau dengan mayat wanita, tidak akan menimbulkan syahwat secara normalnya.

B. Pendapat Yang Tidak Membatalkan : Al-Hanafiyah

Sedangkan pendapat yang paling berbeda dalam masalah sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan adalah mazhab Al-Hanafiyah. Mazhab ini secara tegas menolak bahwa sentuhan kulit membatalkan wudhu'.

Sedangkan ayat Al-Quran yang secara zahir tegas sekali menyebutkan batalnya wudhu karena sentuhan antara laki-laki dan perempuan, oleh mazhab ini ditafsirkan menjadi hubungan suami istri atau jima'.

Kata au lamastumunnisa' (أو لمستم النساء) yang seharusnya menentuh wanita, oleh mazhab ini ditafsirkan maknanya menjadi makna kiasan atau hubungan seksual.

Selain itu mazhab ini berdalil dengan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyentuh tubuh istrinya dalam keadaan shalat, namun beliau tidak batal dan meneruskan shalatnya.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُول اللَّهِ  وَرِجْلاَيَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلِي فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata,"Aku sedang tidur di depan Rasulullah SAW dan kakiku berada pada arah kiblatnya. Bila Rasulullah SAW sujud, beliau beliau sentuh kakiku sehingga kutarik kedua kakiku. Jika beliau bangkit berdiri kembali kuluruskan kakiku. Aisyah bercerita bahwa pada waktu itu tidak ada lampu di rumah (HR Bukhari Muslim).

وَعَنْهَا أَنَّهُ  قَبَّل بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu' lagi. (HR. Tirmizy)


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Bisa Harmonis Pernikahan Beda Aliran Pemahaman?
22 November 2013, 02:14 | Nikah | 21.930 views
Selesai Shalat Imam Menghadap Makmum
16 November 2013, 21:28 | Shalat | 12.932 views
Hukumnya Iqob (Denda) dengan Uang
16 November 2013, 06:38 | Muamalat | 8.809 views
Dakwah, Tabligh, Khutbah dan Ceramah, Apa Bedanya?
15 November 2013, 03:06 | Umum | 27.305 views
Mana Duluan: Formalitas Hukum Islam Ataukah Implementasi?
14 November 2013, 04:09 | Negara | 7.932 views
Bolehkah Orang Hamil Ziarah Kubur?
13 November 2013, 01:30 | Wanita | 11.588 views
Apakah Kalender Islam Sudah Ada di Masa Nabi SAW?
11 November 2013, 21:25 | Negara | 14.703 views
Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun
10 November 2013, 23:58 | Kontemporer | 13.464 views
Pakaian Renang Muslimah
8 November 2013, 23:05 | Wanita | 11.357 views
Harta Milik Bersama antara Suami dan Istri
8 November 2013, 10:44 | Mawaris | 7.933 views
Pelaksanaan Hudud: Apakah Harus Mendirikan Negara Islam Dulu?
7 November 2013, 03:55 | Jinayat | 9.826 views
Minuman Mengandung Sedikit Alkohol
6 November 2013, 01:25 | Kuliner | 11.236 views
Preman Wajibkan Angkot Lewat Beli Air Minum, Jual-belinya Sah?
4 November 2013, 23:53 | Kontemporer | 7.414 views
Bank Syariah Sama Saja Dengan Bank Konvensional, Benarkah?
4 November 2013, 01:40 | Muamalat | 178.400 views
Wali Bukan Saudara dari Kedua Mempelai
2 November 2013, 09:09 | Nikah | 6.859 views
Hukum Memakai Cutek
30 October 2013, 09:04 | Wanita | 8.303 views
Ritual Pindah Rumah
27 October 2013, 23:56 | Umum | 10.086 views
Sistem Penanggalan dan Penamaan Hari
27 October 2013, 08:44 | Umum | 8.865 views
Apakah Shalat Isya Boleh Diakhirkan?
20 October 2013, 23:32 | Shalat | 15.858 views
Dokter Kandungan Laki Laki
20 October 2013, 15:15 | Wanita | 14.032 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,080,254 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img