Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Tata Cara Wudhu di Dalam Pesawat | rumahfiqih.com

Tata Cara Wudhu di Dalam Pesawat

Sat 30 November 2013 00:15 | Thaharah | 14.322 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya ucapkan terima kasih atas penjelasan ustadz yang lumayan detail tentang melakukan shalat di dalam pesawat. Sangat berguna sekali penjelasannya.

Namun rasanya masih ada yang kurang, yaitu ustadz belum menjelaskan tentang bagaimana tata cara berwudhu' di dalam pesawat. Ustadz hanya menegaskan bahwa selama masih ada air, belum boleh tayammum.

Dosen fiqih saya pernah bilang, kalau di pesawat justru haram berwudhu'. Alasannya, karena airnya tidak akan cukup untuk digunakan oleh seluruh penumpang pesawat. Dan oleh karena itu kita malah jadi zhalim, lantaran memaksakan diri berwudhu' dengan cara mengambil 'jatah' air milik penumpang lain.

Mohon penjelasan yang lebih moderat dan realitastis ustadz. Sebelumnya jazakallah ahsanal jaza' saya ucapkan.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Prinsip dasarnya bahwa wudhu merupakan syarat sah shalat. Dan orang yang tidak berwudhu' atau berhadats kecil, tidak sah apabila melakukan shalat. Allah SWT di dalam Al-Quran telah menetapkan syarat wudhu' ini sebelum seseorang mengerjakan shalat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَين

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki... (QS. Al-Maidah : 6)

Rasulullah SAW juga telah menegaskan bahwa wudhu' merupakan syarat sah shalat :

لاَ تُقْبَل صَلاَةٌ بِغَيْرِ طَهُورٍ

Tidak lah shalat itu diterima apabila tanpa wudhu' (HR. Muslim)

Dan juga ada hadits lain yang senada :

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ : لاَ صَلاَةَ لِمـَن لاَ وُضُوْءَ لَهُ

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda"Tidak ada shalat bagi orang yang tidak punya wudhu' (HR. Ahmad Abu Daud dan Ibnu Majah).

Adapun kedudukan tayammum oleh para ulama tidak pernah bisa menggantikan wudhu', kecuali dengan sebab-sebab yang sudah dipastikan. Di antara sebab itu adalah tidak adanya air yang mencukupi untuk berwudhu'. Hal itu sebagaimaan firman Allah SWT :

فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ 

Kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu.(QS. An-Nisa : 43)

Nah, sekarang yang jadi masalah adalah : apakah benar anggapan bahwa air di dalam pesawat pasti tidak akan mencukupi untuk berwudhu'? Apakah di pesawat itu tidak ada air sama sekali sehingga kita sudah diperbolehkan tayammum?

Jawabannya amat tergantung dari berapa jumlah air yang sebenarnya dan seharusnya dibutuhkan untuk berwudhu'. Dan tentu saja ukurannya bukan berangkat dari sekedar kebiasaan kita, tetapi harus mengacu kepada petunjuk dari Rasulullah SAW sendiri.

Karena beliau SAW adalah sumber syariat. Tidaklah kita berwudhu', kecuali karena beliau yang perintahkan. Dan tidaklah kita berwudhu', kecuali hanya dengan jalan mengikuti tata cara wudhu' yang beliau lakukan. Dan sebaliknya, haram bagi kita berwudhu' dengan mengarang-ngarang tata cara seenak pandangan kita sendiri.

Bangsa Yang Boros Air

Bangsa Indonesia terkenal di mata orang-orang Arab sebagai bangsa 'ikan', lantaran kerjaannya tiap hari mandi pagi dan mandi sore. Buat kebanyakan orang Arab, mandi pagi dan mandi sore itu aneh. 

Dan sudah menjadi kebiasaan kita, kalau berwudhu' selalu boros air, sehingga tempat wudhu' kita banjir dan basah dimana-mana. Dengan kebiasaan seperti itu, bangsa kita tidak bisa berwudhu kalau bukan di kamar mandi atau di tempat khusus berwudhu.

Sudah jadi kebiasaan kita kalau berwudhu, airnya harus mancur dari keran air dengan deras. Dan biasanya yang basah bukan cuma anggota wudhu' saja, tetapi bagian-bagian tubuh yang lain yang sebenarnya tidak harus dibasuh pun ikut dibasuh juga. Bahkan sampai pakaiannya pun harus ikut basah.

Malah di beberapa masjid, lantai tempat berwudhu' pun selalu dialiri air yang menggenang. Sehingga semua yang keluar dari tempat wudhu' sudah bisa dipastikan akan merendam kakinya di air tersebut.

Dan lebih fatal, kebiasaan boros air seperti itu tidak disertai dengan sistem pengeringan yang baik. Akibatnya, lantai masjid dari tempat wudhu ke tempat shalat, selalu basah dan licin. Sebab pengurus tidak biasa meletakkan keset yang kering. Bukan tidak ada keset, tetapi kesetnya tidak sering-sering diganti. Sehingga siapa pun yang mengkesetkan kakiknya disitu, sudah bisa dipastikan kakinya akan tetap basah.

Dengan semua kebiasaan seperti itu, memang mustahil bisa berwudhu di dalam pesawat. Bukannya berwudhu', di dalam kabin pesawat bisa-bisa malah akan terjadi banjir bandang. Pantas saja ustadz fiqih Anda memandang tidak boleh wudhu di pesawat. Wajar saja, airnya akan habis kalau dikuras sedemikian rupa.

Namun apa benar tata cara wudhu model bangsa Indonesia itu? Maksudnya, kalau tidak sampai banjir-banjir, belum sah wudhu'nya? Jawabnya mari kita tengok bagaimana tata cara Rasulullah SAW dalam berwudhu'.

Jumlah Air Yang Digunakan Rasulullah SAW Untuk Berwudhu

Kita mulai dari berapa banyak air yang dibutuhkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika berwudhu'. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari disebutkan :

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Anas r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim) 

Tahukah Anda, satu mud berapa liter? 

Mari kita buka kitab fiqih modern yang ditulis oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, jilid 1 halaman 75 pada Bab Maqayis. Disana disebutkan bahwa ternyata satu mud itu hanya 0,688 ml. Ternyata jumlahnya tidak sampai satu liter, cuma 0,68 liter.








Jumlah 0,68 ml itu kurang lebih hanya sebotol air minum kemasan ukuran menengah, bukan ukuran 1 liter. Mungkin Anda bertanya, apa cukup berwudhu dengan air sebotol begitu?

Jawabnya tentu saja cukup. Dan tidak ada orang di dunia ini yang wudhu'nya lebih lengkap dan lebih sempurna dari Rasulullah SAW. Dengan satu mud itu, wudhu' sudah dengan berkumur dan lain-lainnya, yang umumnya dilakukan tiga kali tiga kali. Beliau SAW memang hemat sekali memakai air untuk berwudhu', tanpa mengurangi kesempurnaan wudhu.

Dalam hal ini yang bermasalah bukan Rasulullah SAW, tetapi justru kebiasaan wudhu' kita ini yang sebenarnya dipertanyakan. Selama ini kita membayangkan bahwa wudhu yang benar dan sempurna itu adalah wudhu; yang sampai bikin lantai basah semua dan banjir dimana-mana. Ternyata kita cuma membayangkan apa yang selama ini menjadi 'budaya' bangsa dalam berwudhu, dan ternyata bukan demikian tata cara wudhu' Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW Menegur Shahabat Yang Boros Air Ketika Berwudhu'

Rasulullah SAW bukan saja sekedar hemat air ketika berwudhu'. Namun beliau bahkan juga menegur shahabat yang boros air ketika berwudhu'. Perhatikan hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُول اللَّهِ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَال : " مَا هَذَا السَّرَفُ ؟ " فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ ؟ فَقَال : " نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

Rasulullah SAW berjalan melewati Sa'd yang sedang berwudhu' dan menegurnya,"Kenapa kamu boros memakai air?". Sa'ad balik bertanya,"Apakah untuk wudhu' pun tidak boleh boros?". Beliau SAW menjawab,"Ya, tidak boleh boros meski pun kamu berwudhu di sungai yang mengalir. (HR. Ibnu Majah)

Wudhu' di Pesawat

Ada dua cara yang bisa kita lakukan kalau kita terpaksa harus shalat di pesawat, dimana sebelumnya kita harus berwudhu'.

1. Wudhu Normal di Toilet

Cara ini yang paling sering saya lakukan kalau harus berwudhu di pesawat. Sebab menurut saya, cara ini amat praktis dan sangat mungkin dikerjakan.

Logikanya sederhana sekali. Di dalam toilet itu ada westafel, yang memang disediakan buat para penumpang untuk mencuci tangan dan wajah. Maka sama sekali tidak ada masalah bila kita berwudhu di westafel toilet pesawat. Sebab yang namanya wudhu itu intinya memang cuci tangan dan wajah, ditambah mengusap kepala dan mencuci kaki hingga mata kaki. 

Urusan mengusap kepala sama sekali tidak ada masalah. Yang mungkin agak bikin bingung, bagaimana cuci kakinya? Bukankah lantai toilet pesawat itu harus kering dan tidak boleh disiram air? Lagian, kan tidak ada gayung untuk menciduk air, juga tidak ada kran khusus buat cuci kaki? Apakah kakinya boleh naik ke wetafel? 

Jawabannya sederhana saja, kalau bisa menaikkan kaki ke westafel, sebenarnya juga tidak ada larangan. Yang penting jangan sampai airnya muncrat kemana-mana. Tetapi yang lebih baik, cuci kakinya di atas closet tempat buang air. Logikanya, kalau closet itu bisa buat buang kotoran termasuk air kencing, maka kalau cuma digunakan sekedar membasahi kaki, sangat memungkinkan.

Jangan lupa, seusai berwudhu, ambil tissue dan keringkan semua yang basah bekas kita berwudhu. Kebiasaan hidup jorok di rumah jangan dibawa-bawa di pesawat. Keluar toilet, tidak ada basah sedikit pun dan selesai. Jangan sampai orang menghina agama Islam, cuma gara-gara keteledoran penganutnya.

2. Wudhu di Kursi Dengan Botol Air Sprayer

Cara Lain dengan menggunakan botol air sprayer. Cukup diisi air lalu semprotkan butir-butir air itu ke wajah, tangan hingga siku, kepala dan juga kaki. Semua itu bisa kita lakukan tanpa harus meninggalkan kursi tempat duduk kita.

Dan ini juga menjadi jawaban buat dosen fiqih Anda, yang meributkan air di toilet tidak akan cukup. Justru kita sama sekali tidak perlu beranjak ke toilet. Cukup semprotkan air ke anggota wudhu' hingga basah dan mengalirkan air. Lalu kita ratakan pelan-pelan ke sekujur bagian yang memang harus basah.

Kalau kita pakai jaket atau kemeja lengan panjang, ada baiknya kita gululung dahulu lengan baju sebelum berwudhu'. Demikian juga, kalau kita mengenakan sepatu dan kaus kaki, ada baiknya sebelumnya kita copot terlebih dahulu. Lalu pasang niat wudhu dan semprot-semprot, lalu selesai sudah. Mudah sekali, bukan?

Dalam contoh pesawat jamaah haji yang mengangkut 450 jamaah lebih, botol kecil ini sangat bermanfaat untuk membuat mereka berwudhu seluruhnya, tanpa harus antri wudhu di toilet dan tanpa mengambil jatah air toilet.

Mungkin ada yang bertanya, apakah boleh wudhu dengan air yang kurang dari dua qullah?

Jawabannya, syarat air yang digunakan untuk wudhu adalah air mutlak yang suci dan mensucikan. Tetapi dari segi jumlah tidak harus berjumlah dua qullah. Air dua qullah itu adalah batas air sedikit, yang apabila ke dalam air yang kurang dari dua qullah itu kemasukan air musta'mal, maka air itu semua jadi musta'mal dan tidak bisa digunakan untuk mengangkat hadats. Jadi kalau kemasukan air musta'mal saja, dia baru jadi musta'mal.

Adapun air di botol yang tertutup rapat, mana mungkin bisa kemasukan air musta'mal? Botolnya tertutup rapat, sehingga meski airnya kurang dari dua qullah, akan tetap menjadi air mutlak yang suci dan mensucikan.

Dengan dua cara wudhu yang amat mungkin dilakukan seperti yang sudha dijelaskan di atas, bagaimana mungkin kita masih saja beralasan bahwa di dalam pesawat tidak ada air, lantas tiba-tiba kita harus bertayammum?

Bukankah untuk boleh tayammum, kita masih wajib mengusahakan air terlebih dahulu. Bahkan lebih afdhal menunda shalat karena masih mengusahakan air dari pada shalat di awal waktu dengan tayammum.

Kelebihan Wudhu' Dari Tayammum

Anggaplah misalnya ada yang berpendapat netral, yang mau tayammum silahkan dan yang mau wudhu' silahkan. Tetapi tetap saja berwudhu lebih utama. Ada beberapa alasan, antara lain :

1. Wudhu Cukup Sekali Tayammum Harus Berkali-kali

Shalat di dalam pesawat kalau memang harus dikerjakan, sebaiknya dilakukan dengan cara dijamak saja. Dengan demikian, kita tidak perlu bolak-balik berwudhu untuk tiap shalat. Cukup sekali berwudhu', dan dua shalat bisa kita kerjakan sekaligus.

Sedangkan kalau pakai tayammum, maka tiap kali shalat harus tayammum lagi. Walau pun shalatnya dijamak, tetapi tetap untuk satu shalat dibutuhkan satu tayammum.

Sebab umumnya para ulama menganggap bahwa kedudukan tayammum tidak sederajat dengan wudhu'. Tayammum hanya sekedar membolehkan orang shalat, tetapi sebenarnya tidak mengangkat hadats. Maka begitu shalat selesai, statusnya langsung berhadats lagi. Kalau mau shalat lagi, ya harus tayammum lagi. Dan ini jelas merepotkan, karena harus tayammum berulang-ulang.

2. Wudhu' Mengangkat Hadats, Tayammum Sekedar Membolehkan Shalat

Dengan pandangan jumhur ulama yang menyatakan bahwa tayammum sesungguhnya tidak mengangkat hadats, maka status orang yang bertayammum tetap berhadats, walaupun sudah tayammum.

Jadi misalkan jamaah haji dianjurkan tayammum di pesawat, dalam pendapat jumhur ulama mereka tetap tidak diperbolehkan menyentuh mushaf Al-Quran, sebab status mereka tetap masih berhadats.

Tetapi kalau jamaah haji berwudhu, maka selama belum batal, bisa melakukan shalat berulang kali, boleh pegang mushaf, dan lainnya.

3. Wudhu' Adalah Perkara Yang Muttafaq, Tayammum Masih Ikhtilaf

Wudhu' dengan air adalah perkara yang tidak ada khilafiyahnya sama sekali. Sedangkan bertayammum, penuh dengan khilafiyah.

a. Khilafiyah pertama sudah dijelaskan di atas, yaitu umumnya ulama masih belum membolehkan kita bertayammum kecuali setelah mengusahakan air terlebih dahulu. Dan ternyata airnya ada, cuma hanya karena 'ogah' dan malas saja, sehingga kita memperkosa ayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghendaki yang mudah dan tidak menghendaki yang susah.

b. Khilafiyah kedua, tayammum dengan menggunakan jok kursi dan dinding pesawat tentu akan jadi sangat kontroversial. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah bertayammum dengan tanah dan bukan dengan debu mikroskopik tak terlihat mata.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Cara Melakukan Shalat di Pesawat Terbang
28 November 2013, 09:04 | Shalat | 34.496 views
Daging Kodok dan Kepiting : Halal Atau Haram
27 November 2013, 03:48 | Kuliner | 19.172 views
Hukuman Pakai Uang
26 November 2013, 07:29 | Muamalat | 6.581 views
Isteri Kedua dan Warisannya
25 November 2013, 04:15 | Mawaris | 5.947 views
Kopi Luwak, Halalkah?
24 November 2013, 06:50 | Kuliner | 10.506 views
Sentuhan Kulit Dengan Wanita, Batalkah Wudhu Saya?
22 November 2013, 18:29 | Thaharah | 9.948 views
Apakah Bisa Harmonis Pernikahan Beda Aliran Pemahaman?
22 November 2013, 02:14 | Nikah | 12.798 views
Selesai Shalat Imam Menghadap Makmum
16 November 2013, 21:28 | Shalat | 10.677 views
Hukumnya Iqob (Denda) dengan Uang
16 November 2013, 06:38 | Muamalat | 6.488 views
Dakwah, Tabligh, Khutbah dan Ceramah, Apa Bedanya?
15 November 2013, 03:06 | Umum | 11.641 views
Mana Duluan: Formalitas Hukum Islam Ataukah Implementasi?
14 November 2013, 04:09 | Negara | 6.373 views
Bolehkah Orang Hamil Ziarah Kubur?
13 November 2013, 01:30 | Wanita | 7.198 views
Apakah Kalender Islam Sudah Ada di Masa Nabi SAW?
11 November 2013, 21:25 | Negara | 9.685 views
Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun
10 November 2013, 23:58 | Kontemporer | 11.383 views
Pakaian Renang Muslimah
8 November 2013, 23:05 | Wanita | 9.452 views
Harta Milik Bersama antara Suami dan Istri
8 November 2013, 10:44 | Mawaris | 6.612 views
Pelaksanaan Hudud: Apakah Harus Mendirikan Negara Islam Dulu?
7 November 2013, 03:55 | Jinayat | 7.447 views
Minuman Mengandung Sedikit Alkohol
6 November 2013, 01:25 | Kuliner | 8.993 views
Preman Wajibkan Angkot Lewat Beli Air Minum, Jual-belinya Sah?
4 November 2013, 23:53 | Kontemporer | 5.691 views
Bank Syariah Sama Saja Dengan Bank Konvensional, Benarkah?
4 November 2013, 01:40 | Muamalat | 131.335 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,908,847 views