Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Fasakh Versus Talak | rumahfiqih.com

Fasakh Versus Talak

Sat 14 December 2013 06:15 | Nikah | 16.888 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terkait dengan hukum fasakh dalam pernikahan :
  1. Apa yang dimaksud dengan fasakh nikah ?
  2. Apakah fasakh itu sama dengan talak atau berbeda? Kalau berbeda, lantas apa perbedaan antara fasakh dengan talak?
  3. Apa konsekuensi hukum yang diakibatkan adanya fasakh?
  4. Hal-hal apa saja yang dapat dijadikan dasar terjadinya fasakh
Demikian pertanyaan saya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A. Pengertian

1. Bahasa

Secara bahasa, kata al-faskhu (الفسخ) bermakna menghapus, membatalkan dan memisahkan.

2. Istilah

Sedangkan dalam istilah ilmu fiqih, makna al-faskhu oleh para ulama didefinsikan antara lain oleh Ibnu Najim dan As-Suyuthi sebagai :

حَل ارْتِبَاطِ الْعَقْدِ

Melepas ikatan akad

Sedangkan Al-Qarafi mendefinisikannya sebagai

ارْتِفَاعُ حُكْمِ الْعَقْدِ مِنَ الأْصْل كَأَنْ لَمْ يَكُنْ

Mencabut hukum akad dari asalnya seperti tidak pernah terjadi

Dan Az-Zayla’i juga mendefinisikan al-faskhu sebagai :

قَلْبُ كُل وَاحِدٍ مِنَ الْعِوَضَيْنِ لِصَاحِبِهِ

Mengembalikan pembayaran (pengganti) dari masing-masing pihak

Fasakh adalah pembatalan pernikahan yang sudah terlanjur terjadi, seolah-olah tidak pernah terjadi pernikahan sebelumnya.

Sedangkan talak bukanlah pembatalan pernikahan, melainkan menyudahi huubungan pernikahan yang sudah berjalan sampai disitu.

B. Persamaan dan Perbedaan Antara Fasakh dengan Talak

1. Persamaan

Fasakh dan talak sama-sama memutuskan hubungan pernikahan antara suami dan istri, sehingga setelah fasakh atau talak, keduanya secara hukum sudah bukan lagi menjadi pasangan suami dan istri.

2. Perbedaan

Meski fasakh dan talak sama-sama memisahkan hubungan pernikahan antara suami dan istri, namun status dan konsekuensi hukum yang mengikuti di belakangnya berbeda.

Kalau diibaratkan dengan sewa menyewa rumah, maka fasakh itu adalah membatalkan sewa rumah sehingga uang dikembalikan dan pihak penyewa meski sempat menempati rumah itu, setelah fasakh tentu sudah tidak lagi menempati rumah sewaan.

Dalam hal ini yang terjadi dalam fasakh adalah batalnya perjanjian sewa menyewa.

Sedangkan talak kalau diibaratkan dengan sewa rumah adalah tidak meneruskan sewa atau tidak memperpanjang kontrak rumah, setelah sebelumnya sudah terjadi sewa menyewa sekian lama.

Dalam hal ini yang terjadi dalam talak adalah tidak diteruskannya perjanjian sewa menyewa.

Maka apabila terjadi kasus dimana sepasang suami istri berpisah dengan cara fasakh dalam perkawinan mereka, secara hukum seolah-olah mereka belum pernah menikah sebelumnya.

a. Fasakh Tidak Hanya Datang Dari Pihak Suami

Berbeda dengan talak yang hanya bisa dilakukan oleh pihak suami kepada istri, fasakh bisa dilakukan oleh pihak suami dan juga oleh pihak istri. Dan bisa juga datang dari pihak qadhi atau hakim yang memutuskan perkara di antara mereka.

Misalnya pada kasus dimana istri merasa suaminya telah menyembunyikan aib tertentu yang menurut istri sangat tidak bisa dibenarkan. Masa istri dalam hal ini berhak untuk mengajukan fasakh.

Dan dalam kasus dimana pasangan suami istri yang sudah resmi menikah ternyata terbukti bahwa keduanya punya hubungan saudara sepersusuan. Maka dalam hal ini fasakh bisa dilakukan oleh qadhi.

b. Fasakh Tidak Mengenal Fasakh Satu Dua dan Tiga

Dalam perkara talak, syariat Islam membatasi talak itu hanya dua kali yang masih boleh rujuk atau menikah ulang. Sedangkan talak yang ketiga kalinya membuat pasangan suami istri tidak bisa lagi melakukan rujuk atau nikah ulang.

Sedangkan dalam perkara fasakh, syariat Islam tidak mengenal hitungan fasakh satu, dua atau tiga.

c. Fasakh Membutuhkan Sebab Tertentu

Di dalam kasus talak, secara hukum suami berhak menjatuhkan talak kepada istrinya meski tidak punya alasan tertentu, atau tanpa harus menyebutkan alasannya.

Sedangkan dalam kasus fasakh, pihak-pihak yang mengajukan fasakh yaitu suami, atau istri atau qadhi, semua harus menyebutkan sebab dan alasan dijatuhkannya agar fasakh itu sah dan diterima dalam syariat Islam.

Dengan kata lain, fasakh tidak bisa dijatuhkan tanpa ada sebab dan alasan yang memungkinkan fasakh dijatuhkan.

d. Fasakh Tidak Memberikan Hak-hak Tertentu Kepada Istri

Dalam kasus talak, istri yang ditalak itu punya beberapa hak yang menjadi kewajiban suami. Namun dalam kasus faksah, hak-hak itu tidak ada. Di antara hak-hak istri yang dicerai adalah mahar, mut'ah, nafkah, iddah dan lainnya.

  • Mahar : Dalam kasus talak, mahar dari pihak suami kepada istri yang belum lunas, apabila sudah terjadi dukhul, maka suami wajib melunasinya. Sedangkan dalam kasus fasakh, hak untuk mendapatkan mahar gugur dengan sendirinya. Bahkan mahar yang sudah diberikan pun harus dikembalikan. 
  • Mut'ah: Selain itu istri yang ditalak juga punya hak mut'ah, yaitu semacam uang pesangon dari suami. Walaupun sifatnya bukan kewajiban, namun mut'ah ini termasuk hal yang disunnahkan.
  • Nafkah : Dalam kasus talak, meski seorang istri sudah ditalak oleh suaminya, selama masa iddah yang lamanya tiga kali haidh atau suci dari haidh, istri tetap berhak menerima nafkah dari suaminya.

Namun dalam kasus fasakh, hak untuk menerima nafkah dari suami seusai fasakh itu tidak ada.

C. Konsekuensi Hukum Fasakh

Dan oleh karena itu ada beberapa konsekuensi hukum yang berlaku di belakang fasakh.

1. Suami Bukan Duda dan Istri Bukan Janda

Pasangan suami dan istri yang berpisah dengan cara fasakh, status keduanya sama-sama bukan duda dan janda. Keduanya terhitung masih tetap berstatus perjaka dan perawan di mata hukum.

Dalam kitab hudud, laki-laki perjaka atau wanita perawan yang statusnya belum pernah menikah, apabila mereka berzina, hukumannya bukan hukum rajam, melainkan hukum cambuk 100 kali.

2. Istri Tidak Perlu Menjalani Masa Iddah

Istri yang pisah dengan suaminya lewat cara fasakh tidak perlu menjalani masa iddah. Sebab masa iddah yang wajib dijalani itu hanya berlaku bila terjadi talak.

Maka dia tidak perlu menetap di dalam rumah selama tiga kali suci dari haidh, seperti umumnya wanita yang ditalak oleh suaminya.

Juga tidak dilarang untuk berhias, menerima pinangan dari laki-laki lain, bahkan juga dibolehkan untuk langsung menikah.

3. Mantan Suami Istri Tidak Saling Mewarisi

Pasangan yang berpisah dengan cara fasakh tidak saling mewarisi. Berbeda dengan pasangan yang berpisah dengan cara talak atau wafat, selama masa iddah masih berlaku, maka apabila salah satu dari mereka wafat, sebagian dari hartanya masih menjadi hak waris dari mantan pasangannya.

Misalnya dalam kasus suami menceraikan istri, lalu sebulan kemudian suami meninggal dunia. Istrinya saat itu secara otomatis masih menjadi ahli waris dari mendiang suaminya. Sebab masa iddahnya masih berlaku.

Sedangkan dalam kasus suami istri yang berpisah dengan cara fasakh, begitu keputusan fasakh berlaku, maka keduanya sama-sama tidak saling mewarisi.

Misalnya suaminya wafat, maka mantan istrinya tidak berhak atas harta mantan suaminya itu. Begitu juga kalau istrinya meninggal, maka suaminya itu tidak berhak menerima waris dari mendiang istrinya.

D. Penyebab Fasakh

Fasakh hanya boleh dan sah dilakukan apabila ada penyebab yang bisa diterima secara syariah.

Dalam prakteknya, ada penyebab yang sifatnya hanya membolehkan faskah tetapi tidak sampai mewajibkan, dan ada punya penyebab yang sifatnya sampai harus mewajibkan fasakh.

Di antara hal-hal yang bisa menjadi penyebab faskah :

1. Tidak Sekufu

Tidak sekufu dalam istilah dalam bahasa Arabnya sering disebut adamul kafaah (عدم الكفاءة). Kafaah dalam hal ini bermakna mumatsalah (مماثلة) yaitu kesetaraan, dan musawah (مساواة) yaitu kesamaan.

Maksudnya keadaan dimana suami dan istri tidak setara atau tidak saling sekufu, menurut para ulama bisa menjadi salah satu penyebab dijatuhkannya fasakh dari masing-masing pihak.

Diantara hal-hal yang bisa dijadikan ukuran dalam kesetaraan antara suami dan istri adalah masalah kualitas pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama, nasab, status kemerdekaan, penghasilan, kekayaan, tidak adanya aib, dan lainnya.

2. Terdapatnya Aib

Aib yang terdapat pada masing-masing pihak, baik pihak suami atau pihak istri, menurut para ulama termasuk di antara sebab-sebab yang memungkinkan terjadinya fasakh.

Namun para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan bentuk dan jenis aib yang dimaksud.

3. Kurangnya Mahar atau Nafkah dari Suami

Dalam kasus dimana seorang suami tidak mau melunasi mahar sesuai dengan yang telah disetujuinya, atau berbeda dengan tarif pasarannya, maka pihak istri berhak mengajukan fasakh nikah.

Demikian pula apabila suami menahan kewajibannya dengan tidak memberikan nafkah kepada istrinya, maka istri berhak untuk mengajukan fasakh.

4. Salah Satu Pasangan Masuk Islam Yang Lain Tidak

Bila pasangan suami istri yang non muslim, lalu salah satunya masuk Islam dan yang lainnya tetap bertahan dalam agama sebelumnya, maka hal itu bisa menjadi salah satu sebab fasakh atas pernikahan mereka.

5. Khiyar Bulugh

Istilah khiyar bulugh maksudnya adalah pilihan yang diberikan kepada seorang wanita yang sejak sebelum baligh telah dinikahkan oleh wali yang bukan ayah atau kakeknya.

Ketika wanita yang terlanjur jadi istri orang itu memasuki usia baligh, dirinya berhak mengajukan fasakh atas pernikahannya itu, kalau memang dia menginginkan.

6. Khiyar Ifaqah Minal Junun

Khiyar ifaqah minal junun artinya adalah pilihan sembuh dari kegilaan. Maksudnya adalah pilihan bagi suami atau istri untuk mengajukan fasakh atas pasangannya yang tidak kunjung sembuh dari penyakit gilanya.

Namun hak fasakh yang satu ini hanya dikemukakan oleh mazhab Al-Hanafiyah saja.

7. Fasadnya Akad Nikah

Akad nikah yang mengandung cacat atau fasad adalah nikah yang menjadi penyebab dibolehkannya terjadi fasakh. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa hukum fasakh dalam hal ini bukan sekedar kebolehan, melainkan menjadi sebuah kewajiban atau keharusan.

Diantara contoh akad nikah yang cacat atau fasad misalnya nikah tanpa wali yang sah menurut syariah. Selain itu juga akad nikah yang dilakukan tanpa adanya saksi yang memenuhi syarat sebagai saksi.

8. Terbuktinya Persaudaraan Sesusuan

Pasangan suami dan istri apabila terbukti kemudian bahwa ternyata mereka punya hubungan mahram muabbad, maka pernikahan mereka wajib difasakh.

Dan kemungkinan terbesarnya kasus ini terjadi para kasus saudara sesusuan. Apabila bisa terbukti dan ada saksi bahwa suami dan istri pernah menyusu kepada wanita yang sama, maka keduanya menjadi mahram muabbda.

Sedangkan pernikahan dengan mahram yang senasab atau karena mushaharah amat jarang terjadi.

9. Murtadnya Salah Satu Pasangan

Apabila satu seorang dari suami atau istri murtad dan keluar dari agama Islam, sedangkan pasangannya masih tetap memeluk agama Islam, maka pernikahan mereka difasakh.

Demikian sekilas tentang pengertian fasakh, perbedaannya dengan talak, konsekuensi hukumnya serta hal-hal yang menjadi dasar terjadinya fasakh. Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Menyembelih Tanpa Bismillah, Halalkah?
13 December 2013, 09:17 | Qurban Aqiqah | 53.623 views
Haramnya Laki-laki Memakai Emas Tidak Ada di Quran
12 December 2013, 00:49 | Umum | 13.694 views
Mendukung Partai Islam Demi Tegaknya Hukum Islam di Indonesia
10 December 2013, 03:09 | Negara | 10.975 views
Bagaimana Kiat Mempelajari Kitab
9 December 2013, 03:40 | Umum | 7.779 views
Terpaksa Harus Memanipulasi Bon Nota, Bagaimana Menyikapinya?
8 December 2013, 03:49 | Muamalat | 10.842 views
Suara Wanita, Auratkah?
6 December 2013, 22:13 | Wanita | 10.585 views
Adzan Dua Kali di Hari Jumat
6 December 2013, 01:29 | Shalat | 10.724 views
Membangun Masjid di Atas Kuburan
5 December 2013, 03:25 | Aqidah | 10.802 views
Kereta Komuter Penuh Sesak, Bagaimana Cara Shalat Maghribnya?
3 December 2013, 21:21 | Shalat | 16.211 views
Bolehkah Memotong Kuku dan Mengkeramasi Rambut Sewaktu Haid?
1 December 2013, 06:20 | Thaharah | 12.201 views
Tata Cara Wudhu di Dalam Pesawat
30 November 2013, 00:15 | Thaharah | 26.931 views
Cara Melakukan Shalat di Pesawat Terbang
28 November 2013, 09:04 | Shalat | 51.029 views
Daging Kodok dan Kepiting : Halal Atau Haram
27 November 2013, 03:48 | Kuliner | 42.005 views
Hukuman Pakai Uang
26 November 2013, 07:29 | Muamalat | 9.028 views
Isteri Kedua dan Warisannya
25 November 2013, 04:15 | Mawaris | 7.528 views
Kopi Luwak, Halalkah?
24 November 2013, 06:50 | Kuliner | 14.725 views
Sentuhan Kulit Dengan Wanita, Batalkah Wudhu Saya?
22 November 2013, 18:29 | Thaharah | 15.459 views
Apakah Bisa Harmonis Pernikahan Beda Aliran Pemahaman?
22 November 2013, 02:14 | Nikah | 24.620 views
Selesai Shalat Imam Menghadap Makmum
16 November 2013, 21:28 | Shalat | 13.429 views
Hukumnya Iqob (Denda) dengan Uang
16 November 2013, 06:38 | Muamalat | 9.202 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,519,828 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:04 | Maghrib 17:55 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img