Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Tentang Urf dan Tradisi | rumahfiqih.com

Tentang Urf dan Tradisi

Thu 27 February 2014 05:30 | Ushul Fiqih | 18.721 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ada beberapa hal penting yang ingin saya tanyakan terkait dengan masalah 'urf. Banyak disebutkan bahwa salah satu sumber syariah kita adalah 'urf. Berikut ini saya sampaikan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah ini :

1. Apa yang dimaksud dengan 'urf? Apakah 'urf itu itu sama dengan adat istiadat yang kita kenal ataukah berbeda?
2. Bagaimana kedudukan 'urf dalam syariah Islam?
3. Apakah dasar dari digunakannya 'urf dalam syariah Islam?
4. Bagaimana pembagian urf dan adakah contohnya?
5. Kapan sebuah urf yang sudah terlanjur berlaku di tengah masyarakat bisa dijadikan sebagai dalil syariah?

Demikian pertanyaan saya, semoga dapat dijawab segera. syukran jazakalllah

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A. Pengertian

1. Bahasa

Secara bahasa, kata al-'urf (العُرْف) bermakna al-khairu (الخيْر), al-ihsanu (الإحسان), dan ar-rifqu (الرِّفْق), yang semuanya bermakna kebaikan.

2. Istilah

Sedangkan secara istilah, al-'urf bermakna :

ما اعْتاد النّاسُ وسارُاوا عليْهِ فِي أُمُورِ حياتِهِمْ ومُعاملاتِهِمْ مِنْ قوْلٍ أوْ فِعْلٍ أوْ ترْكٍ

Apa yang menjadi kebiasaan manusia dan mereka melawati kehidupan dan muamalat mereka dengan hal itu, baik berupa perkataan, perbuatan atau hal yang ditinggalkan.

Dan terkadang al-‘urf ini juga disebut al-‘adah (العادة), atau kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat tertentu.

Ada juga definisi al-urf yang lain, misalnya :

ما اسْتقرّ فيِ النُّفُوسِ مِنْ جِهّةِ العُقُولِ و تلقّتْهُ الطِّباعُ السّلِيْمةُ بِالقبُولِ

Apa-apa yang menempati jiwa dari segi logika dan diterima oleh tabiat yang sehat.

3. Antara Urf dengan Adat

Antara Urf dengan adat istiadat ada persamaan namun juga ada perbedaan.

  • Adat memiliki cakupan makna yang lebih luas. Adat dilakukan secara berulang-ulang tanpa melihat apakah adat itu baik atau buruk.
  • Adat mencakup kebiasaan pribadi, seperti kebiasaan seorang dalam tidur jam sekian, makan danmengkonsumsi jenis makanan tertentu.
  • Adat juga muncul dari sebab alami, seperti cepatnya anak menjadi baligh di daerah tropis, cepatnya tanaman berbuah di daerah tropis. Adat juga bisa muncul dari hawa nafsu dan kerusakan akhlak, seperti suap, pungli dan korupsi. “Korupsi telah membudaya, terjadi berulang-ulang dan dimana-mana”.Sedangkan ‘urf tidak terjadi pada individu. ‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak.
  • Kebiasaan mayoritas suatu kaum dalam perkataan atau perbuatan. Urf bagian dari ‘adat, karena adat lebih umum dari ‘urf. Suatu ‘urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu bukan pada pribadi atau golongan.
  • ‘Urf bukan kebiasaan alami, tetapi muncul dari praktik mayoritas umat yang telah mentradisi. Misalnya harta bersama, konsinyasi, urbun dan lainnya.

B. Kedudukan Urf

Para ulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar dalam menetapkan hukum yang berkaitan dengan mu’amalah dan selama tidak bertentangan dengan syara'.

Demikian pula ketika syariat menetapkan suatu ketentuan secara mutlak tanpa pembatasan dari nash itu sendiri maupun dari segi penggunaan bahasa.

Seperti ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah,

Demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid).

Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf shahih khash.

C. Kaidah Fiqhiyah Terkait Dengan Urf

Atas dasar itulah para ahli ushul fiqih membuat Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan 'urf, antara lain

1. Kaidah Pertama

العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

"Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai landasan hukum."

2. Kaidah Kedua

لاَيُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْحُكْمِ بِتَغَيُّرِ الأَمْكِنَةِ وَالأَزْمَانِ

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan tempat dan masa."

3. Kaidah Ketiga

كُلُّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ مُطْلَقًا وَلاَظَابِطَ لَهُ فِيْهِ وَلاَ اللُّغَةَ يُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى الْعُرْفِ

“Setiap ketentuan yang diterangkan oleh syara’ secara mutlak dan tidak ada pembatasnya dalam syara da tidak ada juga dalam ketentuan bahasa, maka ketentuan itu dikembalikan kepada ‘urf”

D. Pembagian Jenis Urf dan Beberapa Contohnya

Para ulama membagi urf menjadi dua macam, yaitu urf yang bersifat perkataan (qauli) dan yang bersifat perbuatan (amali).

1. Urf Qauli

Urf Qauli adalah ungkapan atau perkataan tertentu yang sudah dianggap lazim memiliki makna tertentu oleh suatu masyarakat. Dimana boleh jadi untuk masyarakat yang lain yang urfnya berbeda, maknanya bisa saja berbeda.

a. Dirham untuk Uang

Sebagai contoh, pada masyarakat tertentu sudah menjadi urf kalau menyebut dirham berarti maksudnya adalah uang.

b. Dabbah untuk Hewan Berkaki Empat

Di masyarakat tertentu makna daabbah (دابة) hanya terbatas pada hewan yang berkaki empat. Padahal secara makna bahasa, daabbah adalah segala hewan yang melata di atas bumi, termasuk ayam, ular dan lainnya.

c. Tha'am dan Burr

Ibnu Abidin menyebutkan bahwa di antara contoh urf qauli adalah ketika orang Arab kata tha'am (طعام), maka yang dimaksud bukan sekedar makanan, tetapi burr (بر), yaitu gandum.

Sedangkan ketika mereka menyebut lahm (تحم) maka yang dimaksud bukan sedekar daging melainkan daging kambing.

d. Dalam Perceraian

Sebagaimana kita tahu bahwa lafadz talak itu ada dua macam, sharih dan kina’i. Lafadz sharih adalah lafadz yang secara tegas menyebutkan kata talak atau yang searti dan tidak bisa diterjemahkan selain talak.

Selangkan lafadz kina’i adalah lafadz yang sifatnya sindiran, atau bahasa yang diperhalus sedemikian rupa, sehingga masih bisa ditafsirkan menjadi lain.

Misalnya ketika suami berkata kepada istrinya,”Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu”. Kalimat ini masih bersayap, bisa bermakna cerai dan bisa bermakna bukan cerai.

Dalam hal ini, apakah kalimat ini bermakna cerai atau tidak, tergantung dari ‘urf yang lazim dikenal di suatu masyarakat. Bila masyarakat di suatu tempat sudah menganggapnya kalimat itu adalah cerai, maka jatuhlah talak kepada istri. Dan bila urf di masyarakat itu tidak bermakna cerai, maka belum jatuh talak.

2. Urf Amali

Sedangkan urf amali adalah perbuatan-perbuatan tertentu yang telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat dan dianggap lazim dan sah secara hukum.

a. Jual Beli Tanpa Lafadz Akad

Di antara contoh urf amali yang berkembang di tengah masyarakat adalah akad transaksi yang tidak lewat lafadz perkataan, namun kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli, telah bersepakat dan saling rela untuk bertransaksi.

Padahal kalau kembali kepada rukun jual-beli, seharusnya penjual berkata,"Saya jual barang ini kepada Anda dengan harga sekian", lalu pembeli harus menjawab dengan lafadz,"Saya beli barang ini dengan harga sekian, tunai".

Namun akad dengan lafadz ini nyaris tidak digunakan oleh kebanyakan orang di masa sekarang ini, khususnya untuk jual-beli yang ringan nilainya.

Akad jual-beli seperti ini dalam ilmu fiqih muamalat disebut dengan akad mu'athah (معاطاه).

b. Mahar Muqaddam dan Muakhkhar

Di negeri Arab umumnya dikenal urf yang boleh jadi di negeri kita tidak dikenal, yaitu mahar atau mas kawin dibagi menjadi dua macam, yaitu muqaddam dan muakkhar.

Mahar muqaddam adalah mahar yang diberikan di awal perkawinan dan mahar muakhkhar diberikan kemudian.

E. Urf Aam dan Urf Khash

a. 'Urf Aam

Urf 'Aam 'urf yang berlaku pada suatu tempat, masa dan keadaan, seperti memberi hadiah (tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada kita, mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita dan sebagainya.

Pengertian memberi hadiah di sini dikecualikan bagi orang-orang yang memang menjadi tugas kewajibannya memberikan jasa itu dan untuk pemberian jasa itu, ia telah memperoleh imbalan jasa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada, seperti hubungan penguasa atau pejabat dan karyawan pemerintah dalam urusan yang menjadi tugas kewajibannya dengan rakyat/masyarakat yang dilayani, sebagai mana ditegaskan oleh Hadits Nabi Muhammad SAW:

مَنْ شَفَعَ لأَخِيْهِ شَفَاعَةً فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَبَى بَابًا عَظِيْمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا

"Barangsiapa telah memberi syafa'at (misalnya jasa) kepada saudaranya berupa satu syafa'at (jasa), maka orang itu memberinya satu hadiah lantas hadiah itu dia terima, maka perbuatannya itu berarti ia telah mendatangi/memasuki satu pintu yang besar dari pintu-pintu riba. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Hadits ini menjelaskan hubungan penguasa/sultan dengan rakyatnya.

b. 'Urf Khash

Ialah 'urf yang hanya berlaku pada tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti mengadakan halal bi halal yang biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang beragama Islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, sedang pada negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.

F. Urf Shahih dan Urf Fasid

Para ulama sepakat membagi ‘urf ini menjadi dua macam, yaitu ‘urf yang shahih dan yang fasid.

1. ‘Urf Yang Shahih

‘Urf yang shahih adalah yang tidak menyalahi ketentuan akidah dan syariah serta akhlaq yang islami.

Contoh ‘urf yang sesuai dengan syariah Islam adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah sebelum masa kenabian untuk menghormati tamu, dengan memberi mereka pelayanan makan, minum dan tempat tinggal. Semua itu ternyata juga dibenarkan dan dihargai di dalam syariat Islam.

Maka para ulama sepakat mengatakan bahwa ‘urf yang seperti itu dilestarikan dan tidak dihapus, karena sesuai dengan ajaran Islam.

2. ‘Urf Yang Fasid

Al-‘Urf yang fasid adalah lawan dari yang shahih, yaitu al-‘urf yang jelas-jelas menyalahi teks syariah dan kaidah-kaidahnya.

Di masa Rasulullah SAW, ‘urf seperti ini misalnya kebiasaan buruk seperti berzina, berjudi, minum khamar, makan riba dan sejenisnya.

Para ulama sepakat untuk mengharamkan ‘urf seperti ini, dan mengenyahkannya dari kehidupan kita.

G. Syarat- ‘Urf Diterima Sebagai Dalil

Agar sebuah urf bisa diterima sebagai dalil dalam pengambilan hukum, para ulama menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antara syarat-syarat itu antara lain :

1. Tidak Bertentangan Dengan Nash

Syarat pertama bahwa urf itu tidak boleh secara langsung bertentangan dengan nash syariah.

Misalnya kebiasaan buruk di tengah masyarakat untuk melakukan riba dan renten, tentu tidak bisa diterima sebagai ‘urf yang menjadi dalil.

2. Mengandung Maslahat

Syarat ketiga adalah bahwa urf tersebut mengandung banyak maslahat bagi masyarakat.

Misalnya, urf atau kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat bahwa penjual dan pembeli tidak harus saling bercakap-cakap secara langsung dalam akad jual-beli. Namun cukup dengan kode atau isyarat saja, asalkan keduanya sama-sama paham dan mengerti serta saling bersepakat, maka hakikat akad jual-beli sudah dianggap sah.

Sebab kalau setiap akad jual-beli harus dilakukan dengan mengucapkan lafadz ijab dan kabul, tentu akan merepotkan. Bayang seorang kasir di mini market yang melayani ratusan pembeli dalam sehari. Kalau tiap pembeli membeli rata-rata 10 item, kita tidak membayangkan bagaimana mulut kasir akan berbusa.

3. Berlaku Pada Orang Banyak

Syarat ketiga adalah bahwa urf itu berlaku pada banyak orang, dalam arti semua orang memang mengakui dan menggunakan urf tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kalau urf itu hanya berlaku pada sebagian kecil dari masyarakat, maka urf itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

4. Sudah Berlaku Lama

Syarat yang keempat bahwa urf itu harus sudah menjadi kebiasaan yang berlaku secara kurun waktu yang lama. Dalam kata lain urf itu eksis pada masa-masa sebelumnya dan bukan yang muncul kemudian.

5. Tidak Bertentangan Dengan Syarat Dalam Transaksi

Syarat terakhir bahwa urf itu tidak bertentangan dengan syarat transaksi yang sudah baku dalam hukum fiqih muamalat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Siapa Yang Mewarisi Hutang?
26 February 2014, 07:25 | Mawaris | 7.940 views
Tidak Semua Talak Halal, Ada Juga Yang Haram
25 February 2014, 06:02 | Wanita | 10.680 views
Wanita Dicerai Tidak Boleh Langsung Kawin Lagi?
24 February 2014, 06:02 | Wanita | 10.347 views
Posisi Imam Wanita Pada Jamaah Wanita
23 February 2014, 02:44 | Wanita | 50.639 views
Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?
22 February 2014, 01:00 | Nikah | 8.597 views
Mengapa Masih Ada Yang Menghalalkan Rokok?
21 February 2014, 05:55 | Kuliner | 13.852 views
Keringanan Buat Orang Sakit Dalam Thaharah dan Shalat
20 February 2014, 04:30 | Shalat | 12.341 views
Cara Bedakan Hadits Hasil Ijtihad Nabi dan Wahyu
19 February 2014, 07:42 | Hadits | 8.117 views
Makmum Masbuk : Takbiratul Ihram Dulu Atau Langsung Ikut Imam?
18 February 2014, 06:10 | Shalat | 16.661 views
Apakah Anak Susuan Mendapatkan Waris?
17 February 2014, 12:00 | Mawaris | 9.139 views
Kiat-kiat Agar Terselamat Dari Bahaya Riba
17 February 2014, 01:07 | Muamalat | 10.946 views
Apakah Wanita Disyariatkan Adzan dan Iqamah?
15 February 2014, 05:01 | Wanita | 10.461 views
Hukum Menghias Masjid Dengan Megah
14 February 2014, 06:12 | Shalat | 8.947 views
Dosa Riba Setara Berzina Dengan Ibu Kandung Sendiri?
13 February 2014, 00:32 | Muamalat | 68.953 views
Beda Pajak dengan Zakat
12 February 2014, 04:06 | Zakat | 13.477 views
Adakah Ahli Waris Pengganti?
11 February 2014, 06:01 | Mawaris | 11.830 views
Orang Tua Non-Muslim, Apakah Wajib Menafkahi Mereka?
10 February 2014, 06:12 | Muamalat | 6.874 views
Imam Terlalu Lama, Bolehkah Mufaraqah?
9 February 2014, 05:02 | Shalat | 12.477 views
Wajibkah Seorang Anak Memberi Nafkah Kepada Orang Tuanya?
8 February 2014, 13:00 | Nikah | 13.053 views
Apa Yang Disebut Satu Kali Susuan?
7 February 2014, 10:17 | Nikah | 6.007 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,909,083 views