Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Jilbab Itu Harus Berupa Gamis Lebar dan Cadar? | rumahfiqih.com

Apakah Jilbab Itu Harus Berupa Gamis Lebar dan Cadar?

Thu 19 June 2014 05:30 | Wanita | 18.517 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, saya ingin bertanya. Sebetulnya saya pernah bertanya tentang hal ini ke ustadz-ustadz lain. Namun, saya masih belum yakin karena khawatir jawaban kurang obyektif dan cenderung subyektif. Saya ingin paham seperti apakah itu jilbab?

 Yang saya yakini sekarang adalah bahwa jilbab adalah pakaian lapis kedua yg digunakan untuk keluar rumah sebagai pembeda antara budak dan wanita merdeka.

Yang namanya jilbab, pasti longgar. Maka saya yakin mengenakan rok itu suatu keniscayaan (rok sebagai bagian dari jilbab krn menurut Al Ahzab 59 bahwa yang disebut jilbab itu menutup seluruh tubuh bukan sebagian saja).

Nah, untuk penutup kepala ini yang membingungkan saya, ustadz.. Penutup kepala harus sepanjang apa sehingga ia bisa dikatakan sebagai bagian dari jilbab sisanya?

Saya pernah baca artikel di sebuah situs bahwa jilbab itu harus menutupi tangan jika dilihat dari gambarnya. Nah, menurut penulis artikel, jilbab itu penutup kepala lapis kedua yang panjangnya hingga menutupi tangan. Berarti rok yg digunakan bukan termasuk jilbab?

Di dalam jilbab tersebut pun tetap harus mengenakan khimar yang menutupi dada. Jadi dirangkap.

Ustadz, mohon maaf pertanyaannya panjang. Ini karena saya pernah berdiskusi dengan orang yang mendefinisikan jilbab sebagai gamis. Jadi baginya, penutup kepala itu bukan jilbab melainkan khimar. Baginya jilbab itu ya terusan (pakaian yg bukan potongan).

Mohon penjelasan dari ustadz semoga pertanyaan saya jelas.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang menjadi kesepakatan seluruh ulama adalah kewajiban menutup aurat bagi wanita. Dan yang nyaris sudah jadi kesepakatan juga bahwa batasan aurat wanita itu seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Pengecualiannya ada dalam mazhab Al-Hanafiyah, bahwa yang termasuk bukan aurat wanita ditambah lagi yaitu kedua kaki hingga batas mata kaki.

Adapun nama model pakaiannya, apakah jilbab, hijab, khimar, kerudung, dan lainnya, semua itu merupakan wilayah yang para ulama tidak pernah sepakat bulat. Tidak sepakat mereka mulai dari definisinya hingga hukum kewajibannya.

Contohnya adalah ayat yang sering dipakai untuk mewajibkan wanita merdeka menggunakan jilbab. Ayat ini kalau ditelaah lebih dalam, memang cukup unik juga. Sebab para ulama banyak sekali berbeda pendapat dalam menarik kesimpulan dari ayat ini.

ياأيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33 : 59)

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jilbab di dalam ayat ini adalah pakaian khas yang unik, dimana manfaatnya adalah untuk membedakan kelas dan kedudukan wanita di masa itu.

Sebagaimana kita tahu di masa Nabi SAW hidup masih ada perbudakan. Ada kelas wanita mulia dan ada kelas wanita budak. Tetapi perlu dicatat disini, walaupun seorang wanita termasuk dari kalangan budak, bukan berarti mereka wanita kafir. Mereka bisa saja tetap sebagai wanita muslimah, meski statusnya budak.

Umumnya wanita merdeka dan mulia lebih dihormati dan tidak diganggu oleh orang fasik. Tidak seperti wanita dari kelas budak, yang walau pun beragama Islam, tetapi memang hak-hak mereka jauh di bawah para wanita merdeka. Maka agar tidak diganggu orang fasik di jalan pada malam hari, diperintahkan para wanita merdeka, khususnya para istri nabi dan puteri-puteri beliau, termasuk istri-istri shahabat yang memang termasuk wanita mulia, untuk mengenakan pakaian khas ini, yaitu jilbab.

Mari kita bolak-balik halaman kitab-kitab tafsir, kita akan dapat keterangan yang menarik. Salah satunya apa yang disebutkan oleh mufassri besar, As-Suddi, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang masyhur. Beliau  menjelaskan sebagai berikut :
كان ناس من فساق أهل المدينة يخرجون بالليل حين يختلط الظلام إلى طرق المدينة يتعرضون للنساء وكانت مساكن أهل المدينة ضيقة ، فإذا كان الليل خرج النساء إلى الطرق يقضين حاجتهن ، فكان أولئك الفساق يبتغون ذلك منهن ، فإذا رأوا امرأة عليها جلباب قالوا : هذه حرة ، كفوا عنها . وإذا رأوا المرأة ليس عليها جلباب ، قالوا : هذه أمة . فوثبوا إليها .
Penduduk Madinah yang fasik keluar di malam hari di kegelapan jalanan kota Madinah. Mereka menggoda para wanita. Rumah-rumah di Madinah itu sempit. Bila malam menjelang, para wanita keluar untuk memenuhi kebutuhan mereka, lalu orang-orang fasik itu menggoda mereka. Tetapi kalau ada wanita yang pakai jilbab mereka akan bilang,"Ini wanita merdeka, jangan diganggu". Sebaliknya, bila melihat wanita tidak pakai jilbab, mereka bilang ini budak dan mereka pun mengerjainya.

Tentu saja tafsir ini hanya salah satu versi dari beragama versi lainnya yang akan kita dapat di dalam kitab tafsir.

Sebut saja misalnya pendapat Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Pendapat beliau malah sangat berbeda dengan apa yang banyak kita yakini selama ini tentang jilbab. Buat beliau, jilbab itu bukan cuma sekedar kerudung panjang yang menutup sampai dada, tetapi juga harus menutup wajah juga. Coba perhatikan perkataan Ibnu Abbas berikut ini :
عن ابن عباس : أمر الله نساء المؤمنين إذا خرجن من بيوتهن في حاجة أن يغطين وجوههن من فوق رؤوسهن بالجلابيب ، ويبدين عينا واحدة
Dari Ibnu Abbas : Allah memerintahkan kepada wanita mukminin apabila keluar dari rumah untuk suatu keperluan untuk menutup wajah mereka dari atas kepala dengan jalabib, dan menyisakan satu mata saja yang kelihatan.

Hal senada juga disebutkan oleh Muhammad bin Sirin : 

وقال محمد بن سيرين : سألت عبيدة السلماني عن قول الله تعالى : ( يدنين عليهن من جلابيبهن ) ، فغطى وجهه ورأسه وأبرز عينه اليسرى

Aku bertanya kepada Ubaidah As-Salmani tentang firman Allah (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya), maka beliau menutup wajah dan kepalanya dan memperlihatkan mata kirinya. 

Berarti jilbab itu bukan sekedar besar dan longgar, tetapi juga harus menutup kepala dan wajah juga. Setidaknya ini menurut Ibnu Abbas dan Muhammad bin Sirin serta banyak ulama lainnya.

Nah, apakah kita akan bilang bahwa seluruh wanita muslimah wajib mengenakan cadar yang menutup wajah?

Tentu saja kita serahkan saja tafsir dan pengertiannya kepada masing-masing ulama. Kita harus terima bahwa masalah ini, baik kewajiban pakai cadar, atau pun makna jilbab itu sendiri, termasuk masalah-masalah khilafiyah yang mana para ulama tidak pernah sampai ke satu titik pendapat. Dan itu hak mereka yang wajib kita hormati.

Jadi apakah bahan kerudung atau khimar itu harus nyambung dari penutupi kepala dan wajah hingga sampai ke dada dan seluruh tubuh atau tidak harus begitu, tentu semua itu silahkan diperdebatkan.

Apakah istilah jilbab itu mau diartikan sebagai kerudung yang hanya menutup bagian kepala, ataukah mau ditafsirkan sebagai pakaian terusan mulai dari kepala hingga kaki, lebar, longgar, berwarna hitam, atau tidak harus begitu, juga silahkan saja diperdebatkan. 

Apakah jilbab itu mau diartikan sebagai gamis panjang dan yang diatas kepala itu namanya khimar, monggo silahkan diperdebatkan secara ilmiyah.

Toh semua itu ada dan merupakan pendapat-pendapat mulia dari para ulama yang juga mulia. Keberagaman pendapat mereka tidak bisa kita nafikan begitu saja. Dan kita bebas sebebas-bebasnya untuk mengikuti salah satu pendapat dari mereka. Dan juga bebas untuk pindah dari satu pendapat ke pendapat lainnya.

Namun yang tidak ada perbedaan pendapat lagi adalah masalah menutup auratnya. Sedangkan model pakaiannya, dan silang pendapat dalam masalah nama model pakaiannya, termasuk juga ukuran, warna, corak dan motifnya, silahkan saja para ulama berbeda pendapat.

Intinya, semua pendapat itu wajib kita hormati, meskipun tidak selalu wajib diikuti. Namanya saja pendapat manusia, kadang bisa benar dan kadang juga bisa keliru. Posisi kita tentu bebas mau pakai pendapat yang mana saja dari lusinan pendapat yang ada.

Asalkan dengan catatan, bahwa kita tidak perlu ikut terjerumus ke dalam akhlaq rendahan gaya orang-orang jahiliyah yang kosong kepalanya dari ilmu, yang mudah menjelekkan, menghina dan melecehkan pendapat yang tidak sejalan dengan kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wajibkah Rejeki Dari Hadiah, Bonus dan THR Dizakatkan?
18 June 2014, 06:00 | Zakat | 15.271 views
Ramadhan Belum Sempat Mandi Janabah Terlajur Shubuh
17 June 2014, 05:40 | Puasa | 9.841 views
Hafal Quran Tapi Tidak Tahu Hukum Agama
16 June 2014, 06:34 | Quran | 12.293 views
Bolehkah Aqiqah Kambing Diganti Sapi?
15 June 2014, 07:07 | Qurban Aqiqah | 76.235 views
Hukum Menshalati Jenazah Yang Sudah Dikubur
14 June 2014, 05:00 | Shalat | 7.513 views
Bagian Mana Dari Tubuh Calon Istri Yang Boleh Dipandang?
13 June 2014, 05:00 | Nikah | 27.091 views
Benarkah Keledai Itu Hewan Yang Haram Dimakan?
12 June 2014, 07:00 | Kuliner | 26.977 views
Perbedaan Antara Khitbah Dan Pertunangan
11 June 2014, 06:00 | Nikah | 12.448 views
Mati Bunuh Diri, Apakah Jenazahnya Dishalatkan?
10 June 2014, 06:01 | Shalat | 15.592 views
Rumah Cicilan Ini Milik Ayah Atau Milik Ibu?
9 June 2014, 05:05 | Mawaris | 6.414 views
Zakat Profesi dan Zakat Maal
6 June 2014, 05:48 | Zakat | 41.322 views
Bagi Waris Buat Satu Istri dan Dua Anak Laki Dua Anak Perempuan
5 June 2014, 05:12 | Mawaris | 30.979 views
Perbedaan Hukum Ta'zir Dengan Hukum Hudud
4 June 2014, 05:00 | Jinayat | 17.687 views
Warisan Ayah Dikuasai Ibu Tiri
3 June 2014, 06:12 | Mawaris | 10.582 views
Menyesal Mentalak Tiga Istri, Bolehkah Istri Pura-pura Menikah Dulu Dengan Orang Lain?
2 June 2014, 04:25 | Nikah | 15.327 views
Apakah Bayi Yang Lahir Tidak Bernyawa Harus Dishalatkan?
1 June 2014, 11:45 | Shalat | 6.760 views
Benarkah Zakat Jual Beli Tidak Dikenal Dalam Syariat?
30 May 2014, 10:00 | Zakat | 6.254 views
Apakah Dalam Shalat Tarawih Makmum Tidak Wajib Baca Fatihah?
29 May 2014, 05:02 | Shalat | 30.062 views
Ghibah dalam Memilih Capres, Bolehkah?
28 May 2014, 08:23 | Negara | 8.185 views
Bolehkah Memilih Pendapat Yang Mana Saja?
27 May 2014, 05:00 | Ushul Fiqih | 8.226 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,240 views