Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak? | rumahfiqih.com

Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?

Sat 22 February 2014 01:00 | Nikah | 13.319 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Bapak Ustadz ysh.

Saya membaca di media cetak, ada seorang wanita yang mendonorkan Air susunya (ASI) kepada lebih kurang 25 anak balita. Air susu ibu tsb diambil dgn cara diperah (bukan menyusu langsung).
Yang saya tau menjadi mahram sepersusuan, apabila menyusu langsung.

pertanyaanya : apakah ke 25 anak tsb menjadi mahram ?
 mohon pencerahannya.


wassalam
azahari - palembang

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya. Memang ulama berbeda pendapat dalam hal ini, apakah ke-mahrom-an itu terjadi hanya dengan meminum asi langsung dari si ibu atau bisa dengan asi yang sudah diperah? Ada yang mengatakan "Ya. Jadi mahrom". Ada juga yang mengatakan "Tidak! Mahrom hanya terjadi ketika si bayi menyusu langsung".

Dan 2 kelompok ini dipaparkan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam BidayatulMujtahis pada Bab Nikah (hal. 396) perihal rodho’ (susuan), dan juga dijelaskan oleh Imam Al-Shon’any dalam kitabnya Subulus-Salam pada bab Al-Rodho’ (3/213).

[1] Mahrom Hanya Terjadi Dengan Menyusui Langsung.

Ulama dalam kelompok ini berpendapat bahwa susu yang sudah diperah itu tidak disebut menyusui, jadi tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal itu, ini adalah pendapatnya madzhab Zohiri, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dengan dalil:

Rodho' [رضاع] (menyusui) secara bahasa Arab berarti:

التقام الثدي وامتصاص اللبن

"Iltiqom al-Tsady wa Imtishosh Al-Laban"

"menempelnya mulut bayi dengan dada dan menghisap susu dari situ"

Jadi jika seorang bayi menyusu dengan asi yang sudah diperah dan dibotolkan artinya dia tidak menyusu secara langsung dari dada si ibu, maka itu tidak dinamakan Rodho', karena bukan Rodho', maka tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal ini. Karena memang ke-mahrom-an terjadi hanya terjadi dengan Rodho', dan asi yang sudah dibotolkan tidak bisa dikatakan Rodho'.

Selain secara bahasa, bahwa menyusui itu ialah bukan hanya menyalurkan asi kepada si bayi. Tapi dengan menyusui langsung juga terjadi proses transfer rasa sayang dan cinta dari si ibu kepada si bayi, nah proses pertalian emosional ini jugalah yang menyebabkan terjadinya ka-mahrom-an. Dan itu tidak terjadi pada penyusuan dengan asi yang sudah dalam botol.

[2] Ke-Mahrom­-An Terjadi Dengan Menyusui Langsung Atau Tidak Langsung

Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari 4 madzhab Fiqih. Menyusui baik yang langsung atau pun dengan system perah dan botol itu sama saja hukumnya, sama-sama menjadi si bayi dan si ibu mnejadi mahrom. Dengna dalil:

Yang mnejadi patokan itu bukan bagaimana cara menyusui, tapi yang menjadi Patoka itu ialah susu ibu itu sendiri yang telah masuk kedalam tubuh si bayi dan menyatu dengan darah dan daging.

Dalam riwayat Abu Daud dari hadits Ibnu Mas'ud disebutkan Nabi saw bersabda:

لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا أَنْشَزَ اَلْعَظْمَ, وَأَنْبَتَ اَللَّحْمَ

"tidak dikatakan menyusui kecuali yang menjadikan tulang dan menumbuhkan daging" (HR. Abu Daud)

Di sini jelas bahwa yang disebut dengan Rodho' itu ialah penyusuan yang menjadikan daging dan tulang, dan itu terjadi pula pad bayi yang menyusu dengan botol dari asi yang sudah diperah. Jadi memang tidak mesti langsung.

Kemudian juga ada hadits yang mengatakan bahwa: "Sesungguhnya Rodhoah (penyusuan) itu ialah yang menghilangkan kelaparan (si bayi)" (Muttafaq 'Alayh). artinya memang dalam hal ini tidak dilihat apakah susu itu dihisap langsung atau tidak. Selama asi itu memang menjadi makanan pengeyang (makanan pokok) bagi bayi, dan itu kemudian menjadi daging dan tulang, maka ke-mahrm-an berlaku disitu.

Pendapat jumhur ini juga tergolong pada pendapat yang lebih hati-hati dan tidak menggampangkan. Dulu, pada zaman Nabi juga terjadi peristiwa Salim, seorang Budak Abu Khuzaifah, yang disusui oleh istirnya Abu Khuzaifah dengan susu yang sudah diperah dan kemudian Nabi menyatakan bahwa mereka telah menjadi mahram.

Mana pendapat yang kuat?

Kedua pendapat ini adalah pendapat kuat yang dihasilkan melauli ijtihad para ulama yang memamng mumpuni dibidangnya. Jadi kedua pendapat ini punya kedudukan sama kuat, dan hasil ijtihad itu tidak ada yang buruk. Tinggal kita mau mengikuti pendapat yang mana?

Maka, kalau mengikuti pendapatnya Imam Abu Sulaiman Daud Al-Zohiri, susu yang sudah dibotolkan itu tidak disebut sebagai susuan, maka tidak terjadi kemahraman. Sedangkan menurut jumhur, apapun bentuk susunya, itu tetap saja menjadi factor yang menjadikannya mahram.

Syarat Terjadinya Ke-mahraman

Yang perlu diperhatikan juga ialah bahwa kemahraman tidak asal terjadi hanya karena menyusui, akan tetapi ulama menetapkan beberapa syarat yang harus terpenuhi agar nantinya kemahraman itu benar-benar terjadi. Yaitu (selain yang di atas):

- Haruslah si penyusu berumur kurang dari 2 tahun

- Menyusui lebih dari 5 kali susuan

Pendapat Jumhur bahwa penyusuan yang menyebabkan mahrom itu jika susuannya mencapai 5 kali susuan, berdasarkan hadits 'Aisyah ra. Bahwa diawal masa-masa kenabian, penyusuan yang menyebabkan ka-mahrom-an ialah 10 kali dan kemudian diNaskh (dihapus) mnejadi 5 kali susuan. Dan ini yang berlaku sampai Rasulullah saw wafat. (HR Muslim)

"Lalu Bagaimana menentukan itu satu kali susuan? Apakah dengan satu botol atau berapa takarannya?"

Imam Shon'any dalam kitab Subulus-Salam, menjelaskan ini. Beliau mengatakan bahwa yang disebut satu kali susuan itu ialah:

"ketika si bayi menyusu (langsung atau tidak langsung) kemudian ia meninggalkan susuannya tersebut tanpa paksaan (bukan dilepaskan oleh si ibu) tapi dia melepaskan isapannya tersebut dengan sendirinya. Tapi jika ia melapaskan isapan karean ingin bernapas atau sekedar istirahat atau hal lain (seperti nguap dan ngulet), kemudian kembali lagi menghisap dalam jarak waktu yang dekat. Maka berhentinya itu tadi tidak terhitung sebagai satu kali susuan, tapi susuan yang belum beres." (Subulus-Salam. 3/213)

Maka terkait pertanyaan di atas, dilihat apakah 25 anak itu memenuhi syarat untuk menjadi mahram si ibu yang menyusui itu atau tidak? yaitu Menyusui langsung/tidak (menurut jumhur), umurnya kurang dari 2 tahun, dan lebih dari 5 kali susuan.

Wallahu a'lam bishowab, Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Zarkasih, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Masih Ada Yang Menghalalkan Rokok?
21 February 2014, 05:55 | Kuliner | 19.654 views
Keringanan Buat Orang Sakit Dalam Thaharah dan Shalat
20 February 2014, 04:30 | Shalat | 21.430 views
Cara Bedakan Hadits Hasil Ijtihad Nabi dan Wahyu
19 February 2014, 07:42 | Hadits | 10.615 views
Makmum Masbuk : Takbiratul Ihram Dulu Atau Langsung Ikut Imam?
18 February 2014, 06:10 | Shalat | 26.225 views
Apakah Anak Susuan Mendapatkan Waris?
17 February 2014, 12:00 | Mawaris | 16.157 views
Kiat-kiat Agar Terselamat Dari Bahaya Riba
17 February 2014, 01:07 | Muamalat | 14.723 views
Apakah Wanita Disyariatkan Adzan dan Iqamah?
15 February 2014, 05:01 | Wanita | 15.347 views
Hukum Menghias Masjid Dengan Megah
14 February 2014, 06:12 | Shalat | 13.912 views
Dosa Riba Setara Berzina Dengan Ibu Kandung Sendiri?
13 February 2014, 00:32 | Muamalat | 124.589 views
Beda Pajak dengan Zakat
12 February 2014, 04:06 | Zakat | 16.002 views
Adakah Ahli Waris Pengganti?
11 February 2014, 06:01 | Mawaris | 15.947 views
Orang Tua Non-Muslim, Apakah Wajib Menafkahi Mereka?
10 February 2014, 06:12 | Umum | 10.645 views
Imam Terlalu Lama, Bolehkah Mufaraqah?
9 February 2014, 05:02 | Shalat | 18.979 views
Wajibkah Seorang Anak Memberi Nafkah Kepada Orang Tuanya?
8 February 2014, 13:00 | Nikah | 21.725 views
Apa Yang Disebut Satu Kali Susuan?
7 February 2014, 10:17 | Nikah | 8.659 views
Tayammum : Sampai Siku Atau Pergelangan Tangan?
6 February 2014, 06:30 | Thaharah | 14.527 views
Bolehkah Kita Sepakat Tidak Pakai Hukum Waris?
4 February 2014, 06:03 | Mawaris | 10.371 views
Haruskah Tayammum Lagi Tiap Mau Shalat?
3 February 2014, 06:01 | Thaharah | 24.697 views
Hukum-hukum Terkait Najis
2 February 2014, 13:50 | Thaharah | 24.669 views
Wasiat Orang Tua Bertentangan Dengan Hukum Waris
1 February 2014, 05:20 | Mawaris | 84.794 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,359,152 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img