Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Rumah Sudah Dihibahkan Apa Masih Dibagi Waris? | rumahfiqih.com

Rumah Sudah Dihibahkan Apa Masih Dibagi Waris?

Fri 28 March 2014 10:11 | Mawaris | 14.731 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya mau tanya sedikit terkait dengan pembagian warisan.

Masalahnya tentang rumah yang sebelumnya oleh orang tua sudah dihibahkan kepada salah satu anak. Kira-kira bagaimana statusnya ya ustadz

Rumah yang sudah dihibahkan oleh orang tua kepada salah satu anaknya sejak masih hidup, apakah nanti setelah orang tua wafat rumah bisa dianggap sebagai warisan untuk anak itu dan dia tidak lagi menerima warisan?

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang Anda tanyakan memang termasuk konflik internal keluarga ahli waris yang paling sering terjadi. Ketika masih hidup, orang tua menghibahkan harta tertentu kepada salah satu ahli waris. Lalu ketika wafat, dalam pembagian waris ditetapkan bahwa harta yang telah dihibahkan sebelumnya kepada salah satu ahli waris itu dianggap sebagai harta waris. Maka ahli waris itu tidak lagi menerima pembagian waris.

Padahal kalau kita telusuri kitab-kitab fiqih, khususnya dalam bab hibah, hukumnya justru tidak demikian. Harta yang dihibahkan itu tidak boleh dianggap sebagai harta waris. Sebab harta yang dihibahkan itu sejak awal bukan harta waris dan tidak bisa diubah akadnya begitu saja menjadi harta warisan.

Maka bila dalam masa hidupnya orang tua pernah menghibahkan hartanya kepada seseorang, otomatis harta itu sudah jadi milik orang yang menerimanya. Dan penerima bisa saja masih termasuk calon ahli warisnya, tetapi bisa juga orang lain yang bukan termasuk calon ahli waris.

Pendeknya, hibah itu adalah pelepasan hak milik dari pemberi hibah kepada penerimanya. Dan bila pemilik suatu ketika wafat, apa-apa yang pernah dihibahkan sudah tidak bisa lagi dibagi waris. Karena harta itu sudah bukan lagi miliknya, tetapi sudah jadi milik orang lain.

Begitulah ketentuan dalam syariat Islam terkait dengan masalah hibah dan waris.

Sayangnya di negeri kita umat Islam tidak hanya merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah dalam masalah ini. Tetapi juga merujuk kepada hukum-hukum buatan manusia, baik hukum yang datang dari tradisi nenek moyang atau pun hukum yang datang dari hukum kolonial penjajah Belanda. Sehingga apa yang sudah Allah tetapkan dalam urusan hibah dan waris ini kemudian diselewengkan jauh melenceng.

Maka ketika orang tua pernah menghibahkan harta kepada salah seorang anaknya, bila dia wafat dan terjadi pembagian waris, harta yang dulunya berstatus hibah itu kemudian dianggap sebagai harta waris. Maka anaknya itu pun kehilangan haknya dalam pembagian waris.

Sayangnya, tradisi jahilyah ini yang bertentangan dengan syariat Islam ini dianggap sebagai kelaziman yang boleh dimaklumi. Bahkan tidak sedikit tokoh agama yang tahu hukum syariah, entah bagaimana kemudian pura-pura tidak tahu kekeliruan serius ini. Sehingga malah membolehkan praktek penentangan syariat Islam ini terjadi di depan matanya.

Lebhi parah lagi, apa-apa yang sudah melenceng ini kemudian dijadikan hukum tertulis di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sehingga banyak orang jadi tersesat dan menganggap memang begitulah syariat Islam mengatur urusan hibah dan wasiat.

Padahal ketentuan ini murni hasil copy paste dari hukum-hukum di luar syariat Islam. Coba perhatikan Pasal 211 KHI yang berbunyi :

Hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.

Letak Kekeliruan

Cara pembagian hibah waris di atas itu menyalahi beberapa ketentuan dalam syariat Islam. Kalau kita ringkas, di antara titik kekelirusannya adalah  :

1. Tidak Boleh Mengubah Akad

Apa-apa yang telah diakadkan oleh orang tua atas hibah hartanya, tidak boleh tiba-tiba diubah begitu saja oleh anak-anak dan ahli warisnya. Kalau niat orang tua memang ingin menghibahkan harta, lalu akadnya pun hibah, maka haram bagi siapa pun untuk mengubah akad hibah itu menjadi akad yang lain.

Akad hibah tidak boleh diubah menjadi akad pinjam sementara, dan juga tidak bisa diubah menjadi akad waris. Maka kalau sampai hibah dari orang tua 'dapat diperhitungkan' sebagai warisan, sama saja kita menganggap uang untuk membayar wanita pelacur sebagai sedekah kepada fakir miskin, sehingga dosa zina jadi agak ringan.

Tentu cara berpikir seperti ini keliru besar.

2. Perbedaan Nilai Hak Waris dengan Hibah

Kalau apa yang pernah dihibahkan orang tua dapat diperhitungkan sebagai warisan, maka juga akan menimbulkan kerancuan dalam nilainya. Bisa saja apa yang dihibahkan itu lebih besar dari haknya dalam warisan, atau sebaliknya malah lebih kecil.

Pengecualian

Meski demikian, sebenarnya bisa saja apa-apa yang dulu sudah dihibahkan kepada anak, memang bisa dianggap dan diperhitungkan sebagai warisan, dengan beberapa persyaratan.

1. Dipastikan Akadnya Bukan Hibah Tetapi Pinjaman

Harus ada kepastian bahwa ketika orang tua menghibahkan rumah kepada anaknya sejak masih hidup, akadnya ditetapkan bukan hibah atas 'ain dari rumah itu, melainkan hibah atas manfaat rumah selama masa waktu tertentu.

Jadi rumah itu tidak langsung pindah kepemilikan kepada anak, melainkan sekedar rumah yang dipinjamkan orang tua kepada anaknya, hingga orang tua itu wafat. Begitu orang tua wafat, maka rumah itu tetap masih milik almarhum yang kemudian akan dibagi waris.

Mungkin boleh jadi maksud orang tua memang bukan memberi rumah itu secara putus. Bisa saja niatnya sekedar memberikan tempat tumpangan hidup kepada anaknya, dari pada ngontrak rumah malah, mendingan menempati rumah orang tuanya sendiri. Lalu hal itu dianggap sebagai hibah padahal bukan.

Maka yang perlu ditegaskan dalam hal ini adalah kepastian status pemberian rumah, apakah maksudnya hibah 100% sebagaimana pengertiannya dalam syariat Islam, ataukah maksudnya bukan hibah tetapi cuma sekedar pinjaman sementara.

2. Nilai Rumah Harus Setara Dengan Hak Waris

Ketika terjadi pembagian waris, rumah yang manfaatnya pernah dihibahkan itu perlu dinilai atau ditaksir nilainya dan dibandingkan dengan hak-hak waris penghuni rumah selama ini. Apabila nilainya setara, bisa saja rumah itu kemudian dijadikan harta waris.

Tetapi kalau nilainya tidak setara, maka harus ditambahi atau dikurangi. Misalnya, nilai rumah itu 100 juta. Sementara hak warisnya cuma 50 juta, maka dia harus membayar 50 juta atas kelebihan nilai rumah itu kepada para ahli waris yang lain, kalau masih mau menempati rumah itu.

Dan sebaliknya, bila nilai rumah itu 100 juta sementara haknya dalam warisan 150 juta, maka saudara-saudaranya harus memberikan kekurangan nilai hak warisnya. Di luar rumah itu, dia tetap berhak menerima sisa kekurangannya.

Demikan semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Main Game Monopoli dan Ular Tangga, Haramkah?
27 March 2014, 06:17 | Muamalat | 25.095 views
Bingung Halal Haram Asuransi Syariah
24 March 2014, 08:32 | Muamalat | 17.621 views
Bisakah Kita Masuk Surga Tanpa ke Neraka?
22 March 2014, 07:18 | Aqidah | 24.121 views
Terkait Kehamilan dan Pasca Kelahiran
21 March 2014, 09:04 | Wanita | 23.834 views
Zakat Dagangan Modal Patungan, Bagaimana Menghitungnya?
20 March 2014, 07:30 | Zakat | 6.611 views
Hukum Makan Daging Kuda, Halal Atau Haram?
19 March 2014, 05:30 | Kuliner | 79.155 views
Apakah Setiap Hadits Mutawatir Sudah Pasti Shahih?
18 March 2014, 05:00 | Hadits | 23.728 views
Sudah Melepaskan Hak Waris Ternyata Masih Minta Lagi
17 March 2014, 10:20 | Mawaris | 6.721 views
Berwudhu dengan Air Banjir
16 March 2014, 18:44 | Thaharah | 7.935 views
Kenapa Harus Ada Khilafiyah?
15 March 2014, 12:01 | Ushul Fiqih | 10.193 views
Uang Belanja Jika Isteri Lebih dari Satu
14 March 2014, 08:30 | Nikah | 6.732 views
Bagaimana Shalatnya Nelayan Seminggu di Atas Perahu
12 March 2014, 06:00 | Shalat | 7.518 views
Adegan Sujud Syukur Dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa
11 March 2014, 06:10 | Shalat | 11.144 views
Istri Hamil Dengan Laki-laki Lain, Dicerai Lalu Menikah Dengan Yang Menghamilinya
10 March 2014, 08:30 | Nikah | 15.590 views
Istri Dicerai Mau Menikah Lagi, Haruskah Menunggu Talak Tiga?
9 March 2014, 11:00 | Nikah | 14.925 views
Benarkah Quran Mendiskriminasikan Perempuan karena Hanya Ada Bidadari di Surga?
8 March 2014, 07:40 | Quran | 11.918 views
Shalat Jama' Shuri, Apakah itu?
7 March 2014, 06:00 | Shalat | 9.282 views
Bolehkah Melakukan Operasi Ganti Kelamin
6 March 2014, 06:54 | Kontemporer | 11.071 views
Khutbah Jumat Wajib Berbahasa Arab?
5 March 2014, 06:05 | Shalat | 16.787 views
Hukum Memelihara Anjing
3 March 2014, 06:01 | Umum | 16.539 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,732 views