Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Puasanya Para Pekerja Berat | rumahfiqih.com

Bagaimana Puasanya Para Pekerja Berat

Wed 16 July 2014 01:00 | Puasa | 13.781 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Melihat pekerja-pekerja berat seperti pekerja bangunan yang membutuhkan sangat banyak energi untuk bekerja, bagaimana posisi mereka di bulan Ramadan ini? Apakah diberi keringanan untuk tidak berpuasa?

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya tidak ada dalil yang secara langsung menyebutkan tentang keringanan untuk tidak puasa bagi pekerja berat. Yang disebutkan dalam Al-Quran sebatas orang sakit, musafir, orang yang tidak mampu. Dan di dalam hadits disebutkan tentang larangan orang yang haidh atau nifas untuk berpuasa.

Bahkan wanita yang hamil dan menyusui yang para ulama sepakat mendapatkan keringanan, ternyata tidak ada dalil yang eksplisit menyebutkan kebolehannya. Sehingga ketika bicara tentang bagaimana membayar hutang puasanya, mereka pun berbeda pendapat.

Maka wajar bila tidak kita temukan dalil yang membolehkan orang yang bekerja berat itu tidak berpuasa. Dalil yang dimaksud disini adalah dalil yang bersifat langsung dan eksplisit menyebutkannya.

Namun di balik ketiadaan dalil itu, para ulama menyebutkan dalam kondisi tertentu dan syarat tertentu dan tidak ada pilihan lain, mereka bisa saja tidak berpuasa. Namun ada sejumlah syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Lalu apa dalil yang membolehkan keadaan darurat bisa dijadikan alasan atau udzur syar'i buat meninggalkan puasa Ramadhan yang hukumnya wajib?

Dalil Yang Membolehkan

Pada dasarnya agama melarang seseorang mencelakakan dirinya sendiri, walau hal itu karena memaksakan diri berpuasa. Allah SWT menegaskan hal itu di dalam firman-Nya :

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

Bila puasa yang dilakukannya akan membuatnya masuk ke dalam jurang kebinasaan, maka justru syariat Islam mengharamkan puasa. Orang itu justru diwajibkan untuk segera makan dan minum, untuk mengembalikan vitalitas tubuhnya.

Apalagi bila kondisi orang sudah sangat lemah hampir mati karena memaksakan diri untuk berpuasa, maka justru hukumnya diharamkan berpuasa. Sebab kalau sampai puasanya itu membuat dirinya mati, sama saja dengan bunuh diri. Padahal hukumnya diharamkan lewat Al-Quran dan As-Sunnah.

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah sangat mengasihi kamu. (QS. An-Nisa: 29)

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيْهَا خَالِدًا مُخْلِدًا فِيْهَا أَبَدًا

Orang yang melempar tubuhnya dari atas gunung, berarti dia melempar dirinya masuk ke dalam neraka jahanam, kekal untuk selama-lamanya. (HR. Bukhari)

Ketentuan

Para ulama menetapkan bahwa orang yang kerja berat tanpa ada sedikitpun kemungkinan untuk melakukan puasa, dia boleh tidak berpuasa. Tetapi ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi, antara lain :

1. Niat Puasa

Pertama yang harus dilakukannya adalah dia harus berniat untuk berpuasa terlebih dahulu di malam hari. Lalu makan sahur karena makan sahur itu sunnah dan demi mendapatkan barakah.

Seolah-olah dia ingin berpuasa penuh hari di hari itu, maka niatnya pun harus sempurna, yaitu ingin melaksanakan ibadah puasa yang hukumnya fardhu ain.

2. Tidak Berbuka Kecuali Saat Tidak Kuat

Pada siang hari ketika bekerja, apabila ternyata masih kuat untuk meneruskan puasa, wajib untuk meneruskan puasa. Sedangkan bila tidak kuat dalam arti yang sesungguhnya, maka barulah dia boleh berbuka.

Sehingga dalam hal ini, mungkin saja seorang pekerja berat ternyata mampu meneruskan puasanya, dan hal itu patut disyukuri.

Namun manakala dia sudah lemas hampir mati, kelaparan, kehausan, dan terlalu letih, pusing-pusing dan tidak kuat lagi, barulah dia membatalkan puasanya itu.

3. Menjaga Kehormatan Bulan Puasa

Untuk itu dia wajib menjaga kehormatan bulan Ramadhan, dengan tidak makan dan minum di depan orang banyak. Dia harus mencari ‘lubang persembunyian’, demi agar tidak nampak di tengah masyarakat bahwa dia tidak berpuasa.

Pemandangan yang sangat memilukan seringkali kita saksikan, bahwa mereka para pekerja kasar itu sejak pagi sudah makan dan minum di tempat publik. Sama sekali tidak merasa malu bila dirinya tidak berpuasa. Kadang alasannya karena orang yang kerja berat boleh tidak berpuasa. Padahal perbuatan makan dan minum di depan orang yang sedang menunaikan ibadah puasa adalah perbuatan yang berdosa juga.

4. Mengganti di Hari Lain

Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan bukan berarti bebas lepas tidak berpuasa seenaknya. Di leher mereka ada tali yang mengekang mereka, yaitu kewajiban untuk mengganti puasa di hari lain.

Selain itu yang bersangkutan harus mengupayakan untuk menyiapkan diri agar bisa berpuasa Ramadhan sejak setahun sebelumnya.

Misalnya dengan menabung sedikit demi sedikit agar terkumpul uang demi nafkahnya selama bulan Ramadhan dimana dia tidak bekerja. Sehingga dia bisa ikut berpuasa bersama-sama dengan umat Islam di bulan Ramadhan dengan libur bekerja dan hidup dari uang yang ditabungnya.

Yang Termasuk Darurat

1. Lapar dan Haus Yang Sangat

Islam memberikan keringanan bagi mereka yang ditimpa kondisi yang mengharuskan makan atau minum untuk tidak berpuasa, yaitu kondisi yang memang secara nyata membahayakan keselamatan jiwa sehingga makan dan minum menjadi wajib. Seperti dalam kemarau yang sangat terik dan paceklik berkepanjangan, kekeringan dan hal lainnya yang mewajibkan seseorang untuk makan atau minum.

Namun kondisi ini sangat situasional dan tidak bisa digeneralisir secara umum. Karena keringanan itu diberikan sesuai dengan tingkat kesulitan. Semakin besar kesulitan maka semakin besar pula keringanan yang diberikan. Sebaliknya, semakin ringan tingkat kesulitan, maka semakin kecil pula keringanan yang diberikan.

Allah SWT telah berfirman :

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 173).

Ini mengacu pada kaidah fiqih yang berbunyi :

إِذَا ضَاقَ الأَمْرُ اِتَّسَعَ وَإِذاَ اتَّسَعَ ضَاقَ

Bila tingkat kesulitan suatu masalah itu luas (ringan), maka hukumnya menjadi sempit (lebih berat). Dan bila tingkat kesulitan suatu masalah itu sempit (sulit), maka hukumnya menjadi luas (ringan).

الضَّرُورَةُ تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا

Kedaruratan itu harus diukur sesuai dengan kadarnya (ukuran berat ringannya)

2. Dipaksa atau Terpaksa

Orang yang mengerjakan perbuatan karena dipaksa dimana dia tidak mampu untuk menolaknya, maka tidak akan dikenakan sanksi oleh Allah. Karena semua itu diluar niat dan keinginannya sendiri.

Termasuk di dalamnya adalah orang puasa yang dipaksa makan atau minum atau hal lain yang membuat puasanya batal. Sedangkan pemaksaan itu beresiko pada hal-hal yang mencelakakannya seperti akan dibunuh atau disiksa dan sejenisnya. Ada juga kondisi dimana seseorang terpaksa berbuka puasa, misalnya dalam kondisi darurat seperti menolong ketika ada kebakaran, wabah, kebanjiran, atau menolong orang yang tenggelam.

Dalam upaya seperti itu, jika dia terpaksa harus membatalkan puasa, maka hal itu dibolehkan selama tingkat kesulitan puasa itu sampai pada batas yang membolehkan berbuka. Namun tetap ada kewajiban untuk mengganti puasa di hari lain.

3. Pekerja Berat

Orang yang karena keadaan harus menjalani profesi sebagai pekerja berat yang membutuhkan tenaga ekstra terkadang tidak sanggup bila harus menahan lapar dalam waktu yang lama. Seperti para kuli angkut di pelabuhan, pandai besi, pembuat roti dan pekerja kasar lainnya.

Bila memang dalam kondisi yang membahayakan jiwanya, maka kepada mereka diberi keringanan untuk berbuka puasa dengan kewajiban menggantinya di hari lain. 

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Menggunakan Uang Elektronik
15 July 2014, 01:23 | Muamalat | 10.024 views
Zakat Mal untuk Pembangunan Masjid
13 July 2014, 05:52 | Zakat | 15.749 views
Adakah Hak Israel atas Palestina?
13 July 2014, 03:04 | Negara | 11.003 views
Lailatul Qadar : Tanggal Berapa Yang Benar?
12 July 2014, 05:00 | Puasa | 16.566 views
Apa yang Dimaksud dengan Imsak?
11 July 2014, 13:54 | Puasa | 32.016 views
Sudah Terlanjur Shalat Witir Masih Bolehkah Tahajjud?
9 July 2014, 06:40 | Shalat | 12.990 views
Baru Tahu Ternyata Uang Tabungan Harus Dizakati
7 July 2014, 05:43 | Zakat | 13.413 views
Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah
5 July 2014, 21:43 | Puasa | 12.681 views
Merokok Membatalkan Puasa, Kalau Terhisap Asap Rokok?
4 July 2014, 08:00 | Puasa | 23.988 views
Ramadhan dan 'Setan' Televisi
3 July 2014, 06:00 | Puasa | 8.047 views
Kewajiban Zakat Hadiah Qiyas Dari Zakat Rikaz, Benarkah?
2 July 2014, 07:00 | Zakat | 8.637 views
Tujuh Perbedaan Antara Zakat dan Pajak
1 July 2014, 05:00 | Zakat | 8.904 views
Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan
29 June 2014, 13:11 | Puasa | 10.500 views
Posisi Tangan Ketika Beri'tidal Bersedekap atau Tidak?
28 June 2014, 06:35 | Shalat | 15.322 views
Disebut Tarawih Berarti Istirahat, Apa Hubungannya?
27 June 2014, 07:00 | Shalat | 12.641 views
Banyak Pilihan Pendapat, Mana Yang Paling Benar?
26 June 2014, 07:07 | Ushul Fiqih | 7.056 views
Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan, Tidak Bolehkah?
22 June 2014, 07:11 | Puasa | 27.654 views
Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
21 June 2014, 06:00 | Puasa | 48.292 views
Lafadz Ulama Dalam Al-Quran dan Hadits
20 June 2014, 06:00 | Quran | 11.455 views
Apakah Jilbab Itu Harus Berupa Gamis Lebar dan Cadar?
19 June 2014, 05:30 | Wanita | 18.526 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,734 views