Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA 400 Penumpang Pesawat Mau Shalat Semua, Bagaimana Caranya? | rumahfiqih.com

400 Penumpang Pesawat Mau Shalat Semua, Bagaimana Caranya?

Tue 29 April 2014 05:12 | Shalat | 8.165 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum

Ustadz, untuk sholat di pesawat sudah jelas sekali. Yang menjadi pertanyaan kemudian bila semua penumpang dalam pesawat adalah muslim. Misalnya ada pesawat yang membawa jamaah haji atau umroh. Kira-kira penumpangnya 400-an orang. Sementara tempat shalat untuk berdiri hanya 2 orang, maka akan terdapat 200 antrian untuk shalat.

Apakah shalat dengan duduk di kursi belum bisa dijadikan alternatif? Apakah lebih baik bersabar dengan antri tadi? Mohon penjelasannya

Wassalamu'alaikum

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa shalat fardhu lima waktu itu pada dasarnya tidak sah kalau dikerjakan tanpa berdiri, ruku' dan sujud yang sempura. Sebab Rasulullah SAW meski terbiasa shalat sunnah di atas unta, namun untuk shalat fardhu beliau SAW selalu turun dari untanya. Tujuannya tentu karena shalat fardhu itu tidak sah dikerjakan sambil duduk, selama masih dimungkinkan untuk berdiri.

Demikian pula di dalam pesawat, selama masih mungkin dikerjakan dengan berdiri walau pun menurut Anda harus antri, tetap harus dikerjakan. Dan pada dasarnya kalau diatur sedemikian rupa, lalu dijalankan dengan benar sesuai ketentuan, shalat di atas pesawat tetap masuk akal dan logis untuk dikerjakan. Dengan jumlah penumpang muslim semua yang mencapai jumlah 400 orang sekalipun, shalat masih sangat mungkin untuk dikerjakan.

Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

1. Tidak Semua Shalat Harus Dikerjakan di Pesawat

Pada dasarnya selama masih memungkinkan untuk melakukan shalat di darat, seperti di bandara, maka harus dilakukan. Sebab akan jauh lebih utama hukum shalat di darat ketimbang shalat di atas pesawat.

Alasannya, karena shalat di darat sudah pasti sah, lantaran benar-benar memenuhi semua syarat dan rukun shalat. Tidak akan ada syak atau keraguan kalau dibandingkan dengan shalat di atas pesawat.

Maka tidak perlu ke-400 penumpang itu mengerjakan semua shalat lima waktu di atas pesawat, cukup kerjakan shalat tertentu yang memang terpaksa saja untuk dilakukan. Sedangkan shalat yang masih mungkin dikerjakan di darat, ataupun yang bisa dijama' taqdim / ta'khir, lakukan di darat.

Contoh shalat yang tidak bisa dijama' di darat adalah shalat shubuh. Maka lakukan shalat shubuh saja. Kalau shalat Dzhuhur dan Ashar masih mungkin dikerjakan di salah satu dari kedua waktunya di darat, maka upayakan untuk dikerjakan di darat.

2. Optimalisasi Menjamak Shalat

Kalau pun shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya' terpaksa harus dilakukan di atas pesawat, optimalkan saja fasilitas keringanan untuk menjama' shalat.  Sehingga tidak perlu mengerjakan shalat tiap waktu.

Shalat Dzhuhur dan Ashar bisa dikerjakan dalam satu waktu secara berurutan. Demikian juga shalat Maghrib dan Isya' juga bisa dilakukan dengan cara yang sama. Maka jumlah waktu shalat sudah berkurang dari lima waktu hanya menjadi tiga waktu.

Maka kekhawatiran akan terjadinya antrian panjang menjadi kurang realistis. Sebab jumlah shalat yang harus dikerjakan sudah jauh berkurang.

3. Rentang Waktu Shalat Dua Kali Lipat

Dengan dioptimalkannya shalat yang dijamak, maka rentang kebolehan untuk mengerjakan shalat bisa lebih panjang dan lama. Dua shalat yang dijama' itu secara bebas boleh dikerjakan secara taqdim atau ta'khir. Keduanya boleh dikerjakan di waktu Dzhuhur atau di waktu Ashar, yang mana saja suka-suka.

Maka dengan semakin panjangnya durasi waktu shalat, tidak akan ada ketakutan yang tidak berdasar, bahwa akan terjadi antrean panjang.

4. Shalat Tidak Harus Dilakukan Serentak

Pesawat yang berpenumpang 400 orang lebih itu sebenarnya juga punya toilet yang jumlahnya terbatas. Namun karena bisa dipakai bergantian, tidak perlu ada antrian panjang.

Demikian juga dengan shalat, tidak perlu dilakukan secara serentak berjamaah bersama-sama. Shalat itu bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berdua-berdua. Dan silakan dilakukan secara bergantian, sebagaimana kita bergantian menggunakan toilet.

Kalau pun ada antrean, tidak harus berdiri macam antri sembako, apalagi rebutan. Cukup ada koordinator yang mengatur jadlwa shalat masing-masing penumpang. Yang sudah shalat kembali ke kursi masing-masing dan memanggil temannya yang duduk pada kursi berikutnya.

Jadi kalau pun antri, tidak berdiri tetapi tetap duduk di kursi masing-masing. Begitu sudah tidak gilirannya, akan ada panggilan. Asalkan pandai mengaturnya, apa sih yang tidak bisa dilakukan?

5. Tidak Perlu Memperpanjang Durasi Shalat

Ketika shalat dilakukan di atas pesawat, tentu tidak perlu kita berlama-lama melakukannya. Asalkan syarat dan rukunnya sudah terpenuhi dan shalatnya sudah sah, maka cukuplah sudah.

Namanya shalat sekedar menggugurkan kewajiban, tidak perlu kita berlama-lama melakukannya. Tidak usah baca surat Al-Baqarah atau Yasin, cukup baca Qulya atau Qulhu.

Apalagi dengan adanya faslitas qashar, dimana shalat yang aslinya empat rakaat boleh dipotong hanya tinggal dua saja, tentu durasi shalat bisa lebih diringkas.

Jadi kalau pun ada antrean, tidak perlu terlalu lama antrinya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Menthalaq Isteri Saat Haidh
28 April 2014, 06:37 | Nikah | 6.922 views
Meninggal di Hari Jum'at Bebas Siksa Kubur?
26 April 2014, 06:36 | Umum | 30.794 views
Ijab Qabul, Harus Wudhu?
25 April 2014, 06:59 | Nikah | 20.192 views
Bolehkah Suami Melihat Kemaluan Isterinya?
24 April 2014, 05:13 | Nikah | 35.744 views
Non Muslim Menanyakan Kenapa Babi Haram?
23 April 2014, 06:50 | Aqidah | 15.016 views
Nikah Jarak Jauh
22 April 2014, 06:53 | Nikah | 13.553 views
Apa yang Harus Saya Lakukan Ketika Lupa Tidak Sholat Isya'?
21 April 2014, 05:49 | Shalat | 26.586 views
Shalat dengan Mahdzab yang Mana yang Paling Sesuai dengan Nabi?
20 April 2014, 15:42 | Shalat | 50.896 views
Apakah Ibadah Tidak Diterima Apabila di Tubuh Kita Ada Tato?
19 April 2014, 07:21 | Umum | 13.821 views
Apakah Boleh Memelihara Anjing?
18 April 2014, 04:31 | Umum | 14.725 views
Apakah Janin Dalam Kandungan Dapat Warisan?
17 April 2014, 06:24 | Mawaris | 13.189 views
Hukum Rajam Tidak Ada Dalam Al-Quran?
16 April 2014, 01:00 | Jinayat | 15.239 views
Sahkah Shalat Jamaah Diimami Anak Kecil?
15 April 2014, 04:01 | Shalat | 11.521 views
Bayar Hutang Dulu atau Bayar Zakat Dulu?
14 April 2014, 09:30 | Zakat | 12.096 views
Takbiratul Ihram di Pesawat Harus Menghadap Kiblat?
13 April 2014, 07:10 | Shalat | 7.403 views
Bolehkah Menjama Dua Shalat dan Mengqasharnya Sekaligus?
10 April 2014, 08:42 | Shalat | 14.259 views
Apakah Setiap Pembunuh Wajib Dibunuh Juga?
9 April 2014, 05:59 | Jinayat | 12.593 views
Bisakah Dosa Ditransfer ke Orang Lain Sebagaimana Pahala?
7 April 2014, 15:20 | Quran | 14.642 views
Mengapa Tatacara Shalat Begitu Memusingkan?
6 April 2014, 11:26 | Shalat | 19.078 views
Warisan Dibagi Sama Rata, Bolehkah?
4 April 2014, 11:10 | Mawaris | 14.860 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,143,692 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img