Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Ternak Cacing | rumahfiqih.com

Hukum Ternak Cacing

Fri 2 May 2014 07:01 | Kontemporer | 21.245 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assamualaikum wb. Wr

Ternak cacing tanah menurut fatwa MUI No: Kep-139/MUI/IV/2000, bila diternakan untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, untuk dipergunakan sendiri dan tidak dijual dihukumi boleh (mubah).

Di beberapa situs konsultasi sebagian ada yang membolehkan dijual-belikan dan juga ada yang menghukumi cacing sebagai bangkai karena termasuk hewan darat yang matinya tidak melalui disembelih. Juga dijumpai produk obat kapsul cacing yang berlabel halal.

Bagaimana hukum ternak, pemanfaatannya bagi manusia serta jual beli cacing tanah ?

 Wasamualaikum wb. Wr.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tentu saja harus dipahami bahwa jawaban ini bukan ditujukan untuk menganulir fatwa-fatwa yang sudah ada terkait dengan hukum menternakkan cacing. Sebaliknya, justru tulisan ini merupakan rangkuman dari sekian banyak fatwa yang boleh jadi saling berbeda. Tugas kami bukan berfatwa, tetapi hanya membuat kajian yang memperbandingkan antara satu fatwa dengan fatwa yang lain, sesuai dengan disiplin ilmu yang kami pelajari selama ini, yaitu muqaranatul-madzahib.

Pertanyaan Anda ini walaupun berkisar tentang hukum menternakkan cacing, namun ketika membuat fatwanya tidak akan terlepas dari beberapa hukum asalnya sekaligus, yaitu hukum kenajisan cacing dan kaitannya dengan hukum halal haram memakannya. Kemudian juga terkait dengan hukum jual-beli benda najis. Dan terakhir barulah hukum menternakkannya.

A. Apakah Cacing Najis?


Kenajisan cacing adalah perkara yang khilafiyah. Tentunya kita tidak bisa memaksakan pendapat dan selera kita kepada semua orang. Mau jungkir balik seperti apapun, tetap saja urusan perbedaan pendapat najisnya cacing ini tetap akan terus ada.

1. Najis

Umumnya mereka yang bilang cacing itu najis mendasarkan pendapatnya pada kenyataan bahwa cacing itutermasuk khabaits. alias kotor dan jorok. Apalagi cacing itu umumnya hidup menempel pada area najis. Dan segala yang kotor itu otomatis najis hukumnya.

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. Al-A'raf : 157) 

Selin itu juga ada yang menyebutkan bahwa cacing termasuk jallalah, yaitu hewan yang memakan benda-benda najis. Dan Rasulullah SAW mengharamkan kita memakan jallalah sebagaimana hadits berikut :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنْ أَكْلِ الْجَلالَةِ وَأَلْبَانِهَا

“Rasulullah SAW melarang memakan daging hewan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Tirmidzi)

2. Tidak Najis

Sedangkan mereka yang memandang cacing itu tidak najis, berangkat dari pandangan bahwa kita tidak bisa menggeneralisir bahwa segala yang kotor itu otomatis najis.

Apalagi ternyata tidak semua jenis cacing itu hidupnya dari tempat yang najis. Kalau pun memang hidup di tempat yang najis, paling jauh cacing itu hanya mutanajjis, yaitu hewan yang terkena najis. Begitu dicuci dan dibersihkan, maka hukumnya kembali kepada wujud aslinya yaitu suci.

Perbedaan pendapat dalam kasus hukum cacing ini sangat menentukan hukum-hukum selanjutnya, apakah jual-beli cacing itu halal atau haram. Demikian juga dengan hukum menternakkannya.

B. Tidak Najis Tetapi Tetap Tidak Boleh Dimakan


Anggaplah kita menggunakan pendapat yang menyebutkan bahwa cacing itu bukan hewan najis. Secara logika, seharusnya kalau tidak najis maka tidak ada larangan untuk dimakan.

Namun sebagian ulama memandang bahwa faktor-faktor penyebab haramnya sesuatu untuk dimakan tidak hanya semata-mata lantaran najis. Tetapi ada banyak lagi faktor yang lain, dan salah satunya adalah faktor apakah hewan itu menjijikkan.

Dalam hal ini umumnya cacing itu hewan yang menjijikkan. Sehingga tidak sedikit yang berfatwa bahwa cacing itu meski tidak najis, tetapi hukumnya tetap haram dimakan.

C. Hukum Jual Beli Benda Najis


Mazhab Asy-Syafi'iyah termasuk salah satu mazhab yang ketat ketika membuat syarat jual-beli yang halal. Salah satu syaratnya bahwa benda itu bukan benda najis. Prinsipnya, selama suatu benda itu merupakan benda najis, maka haram untuk diperjual-belikan.

Lalu bagaimana dengan cacing? Apakah halal untuk diperjual-belikan?

Hukumnya tergantung dari hukum yang awal, yaitu apakah cacing itu dianggap hewan najis atau bukan. Mereka yang menganggap cacing itu bukan benda najis, tetapi sekedar menjijikkan, akan berfatwa bahwa tidak ada larangan untuk memperjual-belikan cacing. Tidak ada faktor yang membuat cacing itu menjadi haram untuk diperjual-belikan.

Sebaliknya, mereka yang sejak awal sudah memandang bahwa cacing itu benda najis, maka otomatis mengharamkan jual-beli cacing.

D. Penetapan Hukum Dengan Berbagai Pendekatan

Dari beberapa hukum awal di atas, maka ketika kita bicara fatwa akhir, kita akan menemukan fatwa yang menghalalkan ternak cacing ini, meski lewat beragama jalan logika fiqih yang berbeda.

1. Pendekatan Pertama

Ada sementara kalangan yang menghalalkan ternak cacing dengan berangkat dari pandangan bahwa cacing itu tidak najis. Dan karena tidak najis, maka pada dasarnya boleh dimakan oleh manusia atau pun hewan. Dan karena halal dimakan, maka hukumnya halal pula untuk diperjua-belikan. Lalu karena halal diperjual-belikan, tentunya menjadi halal juga untuk diternakkkan.

Pendapat ini agaknya menggunakan pendekatan yang menjadi sebab dan akibat. Intinya, cacing itu halal dimakan, maka halal diperjual-belikan dan halal pula diternakkan.

2. Pendekatan Kedua

Ada juga pihak lain yang menghalalkan ternak cacing, namun tetap memandang bahwa cacing itu hewan yang najis. Sehingga konsekuensinya, cacing tidak boleh dimakan oleh manusia.

Seharusnya hukum memperjual-belikannya haram. Namun ternyata cacing ini tidak untuk dimakan manusia, melainkan untuk dijadikan pakan ternak. Sehingga tidak ada unsur larangan yang berlaku. Sebab hewan-hewan itu pada dasarnya tidak terikat dengan syariat dan ketentuan agama.

Ikan di tambak dan empang yang dipelihara manusia, tentu saja tidak diharamkan untuk memakan benda najis. Dan oleh karena itu maka dibolehkan bagi pemiliknya untuk memberi pakan ikan berupa cacing, walaupun cacing itu pada dasarnya najis menurut pandangan mereka.

Dalam hal ini, karena bernilai ekonomis dan bermanfaat, maka jual-beli cacing yang hukumnya najis tetap halal.
Dalam hal ini mereka tidak menggunakan pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah yang mengharamkan jual-beli benda najis.

Mereka pindah mazhab menggunakan pandangan mazhab lain, yaitu mazhab Al-Hanafiyah yang memandang bahwa  jual-beli benda najis halal hukumnya, asalkan masih bisa bermanfaat. Dan contohnya lainnya ketika mereka menghalalkan jual-beli kotoran sapi yang najis, kalau untuk digunakan sebagai pupuk.

Dalam pendekatan pendapat ini, kebolehan ternak cacing hanya sebatas manakala cacing itu untuk pakan ternak dan haram hukumnya bila untuk dikonsumsi manusia.

3. Pendekatan Ketiga

Ada juga yang berpendapat bahwa cacing itu najis, maka hukumnya haram diperjual-belikan.  Oleh karena itu, maka kalau tujuan ternak cacing itu untuk diperjual-belikan, hukumnya menjadi haram.

Perlu digaris-bawahi bahwa pendapat ini menjadikan titik keharaman hanya apabila cacing-cacing yang najis itu diperjual-belikan menggunakan akad jual-beli. Adapun bila akadnya bukan jual-beli, maka tentu hukumnya menjadi lain lagi dan cenderung tidak haram.

Kalau akadnya bukan jual-beli, lalu menggunakan akad apa?

Akadnya adalah bisa bermacam-macam jenisnya dan yang penting bukan jual-beli. Akadnya bisa dalam bentuk hibah alias pemberian secara gratis. Dan bisa juga akadnya berupa kerjasama bagi hasil.

a. Akad Hibah

Apabila seorang peternak cacing menghibahkan cacing hasil peliharaannya kepada peternak ikan, tentut hibah ini tidak terlarang. Kenapa? Karena bukan merupakan jual-beli. Yang terlarang itu kalau diperjual-belikan, tetapi kalau diberikan suka rela, tentu tidak menjadi haram.

Lalu dari mana peternak cacing mendapatkan rejekinya?

Peternak ikan yang sudah dapat hibah cacing itu memberi upah atas jasa mengumpulkan cacing, mengemasnya serta mengangkutnya. Persis upah yang diterima petugas kebersihan (tukang sampah), dimana pemasukan yang diterimanya jelas bukan dari hasil menjual sampah yang najis, melainkan atas jasanya membersihkan najis.

Prinsipnya, jual benda najis itu haram, tetapi membersihkan suatu tempat dari benda najis itu boleh dan halal bila menerima upahnya.

b. Akad Bagi Hasil


Akad yang kedua adalah akad bagi hasil. Dalam hal ini peternak cacing tidak menjual cacingnya kepada peternak ikan. Tetapi keduanya bekerja sama bagi hasil. Peternak cacing memodali usaha ternak ikan lewat cacing-cacingnya. Dan peternak ikan akan membagi keuntungan jual ikannya kepada peternak cacing.

Maka keduanya tidak melakukan jual-beli cacing, tetapi kerja sama usaha ternak ikan dengan sistem bagi hasil. Dan akan ini adalah akad yang halal.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wudhu Tanpa Membuka Jilbab
1 May 2014, 04:12 | Wanita | 10.696 views
Bagaimana Hukumnya Dokter Kandungan/Bersalin Laki-Laki?
30 April 2014, 12:57 | Wanita | 23.260 views
400 Penumpang Pesawat Mau Shalat Semua, Bagaimana Caranya?
29 April 2014, 05:12 | Shalat | 6.127 views
Menthalaq Isteri Saat Haidh
28 April 2014, 06:37 | Nikah | 5.652 views
Meninggal di Hari Jum'at Bebas Siksa Kubur?
26 April 2014, 06:36 | Umum | 25.294 views
Ijab Qabul, Harus Wudhu?
25 April 2014, 06:59 | Nikah | 12.634 views
Bolehkah Suami Melihat Kemaluan Isterinya?
24 April 2014, 05:13 | Nikah | 22.326 views
Non Muslim Menanyakan Kenapa Babi Haram?
23 April 2014, 06:50 | Aqidah | 12.363 views
Nikah Jarak Jauh
22 April 2014, 06:53 | Nikah | 11.540 views
Apa yang Harus Saya Lakukan Ketika Lupa Tidak Sholat Isya'?
21 April 2014, 05:49 | Shalat | 13.863 views
Shalat dengan Mahdzab yang Mana yang Paling Sesuai dengan Nabi?
20 April 2014, 15:42 | Shalat | 25.555 views
Apakah Ibadah Tidak Diterima Apabila di Tubuh Kita Ada Tato?
19 April 2014, 07:21 | Umum | 10.483 views
Apakah Boleh Memelihara Anjing?
18 April 2014, 04:31 | Umum | 11.807 views
Apakah Janin Dalam Kandungan Dapat Warisan?
17 April 2014, 06:24 | Mawaris | 8.875 views
Hukum Rajam Tidak Ada Dalam Al-Quran?
16 April 2014, 01:00 | Jinayat | 12.381 views
Sahkah Shalat Jamaah Diimami Anak Kecil?
15 April 2014, 04:01 | Shalat | 9.013 views
Bayar Hutang Dulu atau Bayar Zakat Dulu?
14 April 2014, 09:30 | Zakat | 9.225 views
Takbiratul Ihram di Pesawat Harus Menghadap Kiblat?
13 April 2014, 07:10 | Shalat | 5.279 views
Bolehkah Menjama Dua Shalat dan Mengqasharnya Sekaligus?
10 April 2014, 08:42 | Shalat | 9.134 views
Apakah Setiap Pembunuh Wajib Dibunuh Juga?
9 April 2014, 05:59 | Jinayat | 7.630 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,841,129 views