Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Tinta Pemilu dan Air Wudhu | rumahfiqih.com

Hukum Tinta Pemilu dan Air Wudhu

Tue 8 December 2015 06:00 | Thaharah | 12.407 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap kali kita habis mencoblos di Pemilihan Umum, ada ketentuan bahwa kita harus mencelupkan salah satu jari kita ke tinta. Maskudnya sebagai tanda bahwa kita sudah menggunakan hak pilih kita dan ditandai agar tidak menggunakan hak itu untuk kedua kalinya.

Yang jadi pertanyaan saya, tinta itu punya daya lekat yang amat kuat, bisa berhari-hari belum hilang juga. Kira-kira apakah tinta Pemilu bisa menghalangi wudhu ke jari kita? Bagaimana ketentuannya, apakah boleh sedikit dari jari itu tidak kena air wudhu? Dan apakah wudhu kita menjadi tidak sah?

Terima kasih sebelumnya ustadz, jazakallah

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum kita bicara tentang tinta Pemilu, mari kita bicarakan dulu tentang inti dari masalah, yaitu sah apa tidak apabila ujung jari kita tidak terkena air saat berwudhu?

Jawabannya tentu tidak sah, sebab ketika berwudhu, harus seluruh bagian anggota wudhu itu terkena air dan basah. Dan ujung jari atau kuku adalah bagian dari tangan kita yang merupakan anggota tubuh yang wajib dibasuh air wudhu'.

Ada beberapa dalil yang bisa dijadikan landasan tentang keharusan membasahi semua bagian dari anggota wudhu', dan wudhu' menjadi tidak sah bila tidak sampai basah.

1. Hadits Kuku Tidak Basah

Ada sebuah hadits Shahih riwayat Imam Muslim yang kita dapat dari jalur Umar bin Khatab radhiyallahuanhu. Diceritakan ada seorang shahabat berwudhu' tetapi begitu selesai, dia diminta kembali mengulangi wudhu'ntya oleh Rasulullah SAW. Hal itu karena ketika wudhu', ada satu kukunya yang tidak basah terkena air.

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

Ada seseorang yang berwudhu lalu dia membiarkan seluah satu kuku di jari kakinya tidak terkena air. Rasulullah SAW memperhatikannya dan menyuruhnya, ”Kembali, ulangi wudhumu dengan baik.” Orang inipun mengulangi wudhunya, lalu dia shalat. (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa walau pun hanya meninggalkan satu kuku di ujung jari, tetapi kalau sampai tidak basah saat berwudhu', maka Rasulullah SAW memintanya untuk mengulanginya.

Para ulama kemudian menarik kesimpulan bahwa alasan beliau SAW memerintahkan untuk mengulangi wudhu'nya karena wudhu'nya belum sah, ketika kukunya tidak ikut basah. Jadi kesimpulannya, ujung jari atau kuku wajib ikut dibasahi juga agar wudhu' menjadi sah hukumnya.

Ketika menjelaskan hadis Umar di atas, dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Al-Imam An-Nawawi menjelaskan :

فِي هَذَا الْحَدِيث : أَنَّ مَنْ تَرَكَ جُزْءًا يَسِيرًا مِمَّا يَجِب تَطْهِيره لَا تَصِحّ طَهَارَته وَهَذَا مُتَّفَق عَلَيْهِ،

Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa orang yang meninggalkan sebagian anggota yang wajib dibasuh maka wudhunya tidak sah. Ini perkara yang disepakati. [1]

2. Hadits Punggung Kaki

Dalam riwayat yang lain, Al-Imam Ahmad bin Hanbal menceritakan sebuah hadits tentang orang yang ketika shalat, ada bagian dari kakinya seukuran koin uang dirham yang tidak sempat basah kena air sewaktu berwudhu'. Dan hal itu diketahui oleh Rasulullah SAW, yang kemudian memerintahkannya untuk mengulangi wudhu'nya. 

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي، وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ، قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ ” فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ “

Rasulullah SAW melihat seseorang shalat, sementara di punggung kakinya ada selebar koin yang belum tersentuh air. Kemudian beliau menyuruh orang ini untuk mengulangi wudhunya. (HR. Ahmad).

Hadits ini menegaskan bahwa wudhu tidak sah, jika masih ada bagian anggota wudhu yang tidak terkena air, meski hanya seluas koin.

Hukum Tinta Pemilu

Sekarang yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan tinta Pemilu? Apakah tinta Pemilu itu bersifat menutup dan menghalangi sampainya air ke ujung jari yang terwarnai itu?

Mari kita perhatikan baik-baik ketentuannya dan periksa langsung keadaannya. Memang dalam Peraturan No 16 tahun 2013 telah ditetapkan tentang Norma, Standar Kebutuhan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014. “Tinta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan sertifikat halal dan tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu dari Majelis Ulama Indonesia,”

Kalau memang dalam kenyataannya, tinta tersebut tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu, maka masalahnya sudah selesai. Sebab keberadaan tinta itu sama sekali tidak menghalangi air, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Kondisinya mirip dengan orang yang memakai hinna' (حناء) atau pacar kuku, meski warna bertahan seterusnya pada kuku, tetapi sifatnya tidak membuat lapisan penghalang air. Dalam hal ini Al-Imam An-Nawawi rahimauhllah, dalam kitab fiqih mazhab Asy-Syafi'i, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, menjelaskan :

ولو بقي على اليد وغيرها أثر الحناء ولونه  دون عينه  أو أثر دهن مائع بحيث يمس الماء بشرة العضو ويجري عليها لكن لا يثبت : صحت طهارته

Jika di tangan masih ada bekas pacar kuku, dan warnanya, namun zatnya sudah hilang, atau bekas minyak kental, dimana air masih bisa menyentuh kulit anggota wudhu dan bisa mengalir di kulit anggota wudhu, meskipun tidak tertahan, wudhunya sah. [2]

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, tinta Pemilu bersifat seperti pacar kuku ini. Ada warnanya dan tidak mudah hilang, namun sifatnya tidak membuat lapisan yang menghalangi air wudhu'. Maka pertanyaan Anda terjawab sudah bahwa tinta itu aman dan tidak menghalangi wudhu'.

Kondisi Tertentu

Tetapi bisa saja terjadi pelanggaran dalam proyek pengadaannya. Kita tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Anggaplah misalnya ada yang menemukan bahwa tinta itu terbuat dari bahan yang setelah kering justru terbentuk semacam lapisan, sebagaimana cat minyak atau lem karet dan sejenisnya.

Kalau hal ini memang benar terbukti, maka tinta ini jadi penghalang wudhu'. Tentu saja harus bersihkan dulu sebelum wudhu. Tujuannya biar lapisan yang menghalangi itu terkelupas. Biasanya kita menggunakan tinner atau sejenisnya untuk melelehkan lapisan itu.

Al-Imam An-Nawawi membedakan apabila warna itu terbuat dari zat yang sifatnya melapisi dan menghalangi.  

إذا كان على بعض أعضائه شمع أو عجين أو حناء وأشباه ذلك فمنع وصول الماء إلى شيء من العضو لم تصح طهارته سواء أكثر ذلك أم قل

Apabila sebagian anggota wudhu tertutup cat atau lem, atau kutek atau semacamnya, sebhingga bisa menghalangi air sampai ke permukaan kulit anggota wudhu, maka wudhunya batal, baik sedikit maupun banyak. (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, jilid 1 hal. 467).

Semoga tidak terjadi pelanggaran dalam pengadaan tinta Pemilu. Dan kalau pun terjadi, insya Allah kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan sebelum berwudhu'. Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat. Amin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

------------------------------------------------------------------------

[1] Syarah Muslim karya an-Nawawi, jilid 3 hal. 132

[2] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 468

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Telapak Kaki Perempuan Bukan Aurat?
7 December 2015, 03:21 | Wanita | 14.990 views
Gemar Berdakwah Tapi Tidak Menguasai Bahasa Arab
4 December 2015, 08:00 | Kontemporer | 8.588 views
Hukum Voucher Belanja Undian Berhadiah
2 December 2015, 06:27 | Muamalat | 16.995 views
Berdakwah Tapi Meminta Upah
30 November 2015, 08:10 | Dakwah | 10.188 views
Benarkah Tidak Semua Perintah di dalam Al-Quran itu Wajib Dikerjakan?
29 November 2015, 07:12 | Ushul Fiqih | 5.264 views
Hukum Menerima Transfusi Darah dari Non Muslim
28 November 2015, 06:24 | Aqidah | 13.950 views
Dalam Keadaan Apa Saja Kita Boleh Bertayammum?
25 November 2015, 04:23 | Thaharah | 3.582 views
Ternyata dalam Al-Quran Kata 'Shalat' Punya Banyak Makna
24 November 2015, 05:20 | Quran | 5.045 views
Ketika Tayammum Menepuk Tanah Dua Kali Atau Cukup Sekali?
23 November 2015, 05:00 | Thaharah | 3.817 views
Apakah di Masa Para Tabi`in Sudah Ada Mazhab Fiqih?
17 November 2015, 06:23 | Ushul Fiqih | 6.328 views
Wajib Merendahkan Pandangan, Haramkah Melihat Wajah Wanita?
16 November 2015, 10:05 | Wanita | 5.911 views
Persamaan dan Perbedaan Antara Qishash, Jinayat dan Hudud
15 November 2015, 04:55 | Jinayat | 3.891 views
Apakah Kita Harus Bermazhab?
13 November 2015, 04:23 | Ushul Fiqih | 9.110 views
Adakah Dalil Wajibnya Mencuci Najis Babi Tujuh Kali?
12 November 2015, 06:30 | Thaharah | 4.903 views
Mazhab-Mazhab Fiqih Itu, Apakah Masih Relevan Hari Ini?
10 November 2015, 08:18 | Ushul Fiqih | 15.370 views
Apakah Pintu Ijtihad Sudah Tertutup?
6 November 2015, 09:30 | Ushul Fiqih | 12.937 views
Pedoman Shalat Istisqa Minta Hujan
2 November 2015, 09:50 | Shalat | 4.685 views
Hak Warisan Pria dan Wanita Dua Banding Satu, Adilkah?
30 October 2015, 14:27 | Mawaris | 8.273 views
Denda Tebusan Karena Jima Saat Ihram
29 October 2015, 10:04 | Haji | 2.923 views
Hukum Bertaqlid : Haram, Boleh atau Wajib?
26 October 2015, 08:50 | Ushul Fiqih | 18.217 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,908,865 views