Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Benarkah Hadits Shahih Belum Tentu Bisa Dipakai? | rumahfiqih.com

Benarkah Hadits Shahih Belum Tentu Bisa Dipakai?

Sun 10 August 2014 19:45 | Hadits | 13.432 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz yang dirahmati Allah SWT.

Perkenankan saya bertanya terkait masalah ilmu hadits. Selama ini yang saya tahu, bila suatu hadits sudah berstatus shahih, maka kita wajib menjalankan isinya. Lain halnya bila statusnya dhaif atau maudhu', tentu kita wajib meninggalkannya.

Tetapi kemarin saya diajak diskusi panjang oleh salah seorang ustadz. Intinya beliau mengatakan bahwa meskipun suatu hadits sudah shahih, belum tentu bisa langsung dipakai sebagai dalil hukum agama.

Saya agak ragu, kira-kira apa yang disampaikan beliau itu benar atau tidak ya? Mohon penjelasan ustadz dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Jawaban :

 

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Banyak orang mengira bahwa apabila suatu hadits sudah dipastikan keshahihannnya, maka langsung bisa ditarik kesimpulan hukumnya sesuai dengan zahir teks yang dipahami pertama kali.

 

Dan tidak sedikit orang yang keliru memahami para ulama mazhab yang berkata bahwa apabila suatu hadits itu shahih maka itu menjadi mazhabku.

Seolah-olah tidak dibutuhkan lagi ijtihad dan istimbath hukum, karena sudah ada dua kitab shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Seolah-olah kedua kitab shahih itu sudah menyelesaikan semua masalah dan tidak dibutuhkan lagi kajian yang mendalam tentang hukum-hukum syariah.

Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Masih ada banyak hal yang harus dipastikan terlebih dahulu, antara lain misalnya :

1. Tidak Ada Ta'arudh

 

Ta'arudh artinya bertentangan, maksudnya isi suatu hadits kadang bertentangan tegak lurus dengan isi hadits lainnya, padahal sama-sama shahihnya. Hal ini bukan tidak mungkin, bahkan justru seringkali terjadi.

Dan ternyata ta'arudh bainal adillah (pertentangan antara dalil) bukan hanya terjadi dengan sesama hadits, bahkan ayat Al-Quran yang satu dengan yang lain seringkali terasa bertentangan isinya.

Kalau kita perhatikan, ada beberapa ayat Al-Quran yang secara zahir saling bertentangan. Misalnya ayat berikut ini yang berbicara tentang hukum menjual khamar sebagai rezeki yang baik.

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. (QS. An-Nahl : 67)

Sementara di ayat lain Allah SWT tegas mengharamkan khamar dan dikatakan perbuatan setan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(QS. Al-Maidah : 90)

Oleh karena itu dibutuhkan proses panjang untuk menarik kesimpulan hukum, tidak cukup hanya baca satu hadits lantas kita bilang bahwa hukum suatu masalah adalah begitu dan begitu, semata-mata berdasarkan satu hadits saja.

2. Tidak Mansukh

Kalau pada ayat-ayat Al-Quran yang kebenaran riwayatnya sudah qath'i, kita masih mengenal istilah nasakh dan mansukh, sehingga ada ayat-ayat tertentu yang disepakati oleh para ulama sudah tidak lagi berlaku hukum-hukumnya, maka hal yang sama juga berlaku pada hadits-hadits nabawi.

Maka tidak mentang-mentang sebuah hadits itu shahih, lantas kita dengan seenaknya main pakai hadits itu untuk dijadikan dalil syariah.

Seorang ahli syariah dan mujtahid harus meneliti terlebih dahulu dengan seksama, adakah hadits yang shahih itu masih berlaku, ataukah sudah dihapus dengan datangnya hadits shahih yang lain.

Ada beberapa contoh kasus dimana hukum yang terdapat dalam hadits yang shahih kemudian dihapus dengan dalil yang lain yang datang kemudian. Di antara contohnya adalah dihapusnya hadits yang membolehkan nikah mut’ah, kewajiban mandi sehabis memandikan mayat dan perintah membunuh peminum khamar yang sudah tiga kali dicambuk.

a. Dihapuskannya Hadits Nikah Mut'ah

Di hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim ada hadits shahih membolehkan nikah mut’ah.

قَالَ عَبْدُ اللهِ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ  وَلَيْسَ لَناَ شَيْءٌ فَقُلْنَا:أَلاَ نَسْتَخْصِي ؟ فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ المـَرْأَةَ بِالثَّوْبِ

Abdullah berkata,"Kami perang bersama Rasulullah SAW dan kami tidak mengajak istri, kami berkata,"Apakah sebaiknya kita mengebiri?". Rasulullah SAW melarang kami melakukannya namun beliau mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian. (HR. Bukhari Muslim)

Namun hadits di atas dihapus dan dinyatakan tidak lagi berlaku dengan hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَر

Bahwa Rasulullah SAW mengharamkan menikahi wanita secara mut'ah pada saat Perang Khaibar

Hadis yang terakhir disebut adalah hadis yang disebut sebagai nasikh atau penghapus, sementara hadis yang pertama disebut mansukh atau yang dihapus. Hadis yang terakhir secara historis datang lebih akhir dibanding hadis yang sebelumnya.

b. Kewajiban Mandi Sehabis Memandikan Jenazah

Contoh lainnya adalah hadis tentang kewajiban mandi bagi seseorang yang mengantarkan dan membawa jenazah.

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ

Siapa yang memandikan jenazah maka dia wajib mandi (janabah). (HR. Ibnu Majah)

Sementara hadis yang menaskhnya adalah hadis:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فيِ غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَلْتُمُوهُ فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجِسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوا أَيْدِيْكُمْ

Tidak ada keharusan atas kalian untuk mandi karena memandikan jenazah. Apabila kalian memandikan jenazah, jenazah itu tidak najis, maka cukuplah kalian mencuci tangan kalian saja.

c. Membunuh Peminum Khamar

Contoh lain adalah perintah membunuh peminum khamar yang meminum khamar untuk keempat kalinya. Hadis itu berbunyi:

مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ فاَجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ فيِ الرَّابِعَةِ فاَقْتُلُوهُ

Orang yang minum khamar maka cambuklah, kalau masih minum juga untuk yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.

Kemudian ada hadis lain yang menurut sejumlah ulama dinilai sebagai penghapus (nasikh), yakni hadits:

ثُمَّ أُتِيَ النَّبِيُّ  بَعْدَ ذَلِكَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الرَّابِعَةِ فَضَرَبَهُ وَلَمْ يَقْتُلْهُ

Kemudian didatangkan kepada Nabi SAW orang yang minum khamar untuk yang keempatkalinya, maka beliau mencambuknya dan tidak membunuhnya.

d. Haramnya Ziarah Kubur

Berziarah ke kubur pada masa awal termasuk perbuatan yang haram dan terlarang, namun kemudian dihalalkan dan malah dianjurkan.

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ أَلاَ فَزُورُوهَا فَإِنَّهاَ تَرِقُّ القَلْبَ وَتَدْمَعُ العَيْنَ وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ وَلاَ تَقُولُوا هَجْرًا

Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak ketika berziarah” (HR. Al-Hakim)

e. Makanan Langsung Dibakar Api Membatalkan Wudhu'

Memakan makanan yang langsung dibakar dengan api di masa lalu termasuk perkara yang membatalkan wudhu'. Namun kemudian hukumnya dicabut dan tidak lagi berlaku, sehingga meski memakannya, tidak perlu memperbaharui wudhu'.

عَنْ جاَبِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ : كَانَ أَخِرَ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللهِ  تَرْكُ الوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Jabir bin Abdullah bahwa di antara dua perkara terakhir dari Rasululllah SAW adalah meninggalkan wudhu oleh sebab memakan makanan yang langsung dibakar api.

 

3. Tidak Ada Khilafiyah atas Keshahihannya

Banyak orang salah mengerti bahwa bila ada satu pihak mengatakan bahwa suatu hadits itu shahih, lantas seolah-olah keshahihan hadits itu mutlak. Dan demikian juga sebaliknya, tidak mentang-mentang ada satu klaim bahwa sebuah hadits itu dhaif, maka sudah pasti mutlak kedhaifannya.

Sebenarnya tidak demikian duduk masalahnya. Penting untuk kita ketahui bahwa membuat hukum keshahihan atau kedhaifan suatu hadits itu sifatnya sangat ijtihadi, dan kembali kepada hasil ra'yu penilaian orang per-orang secara subjektif.

Kita sangat sering mendapatkan sebuah hadits dishahihkan oleh seorang ahli hadits, tetapi menurut ahli hadits yang lain, justru hadits itu dianggap dhaif. Dan kebalikannya juga berlaku sama.

Malah Al-Albani yang sering diklaim orang sebagai ahli hadits abad ini, justru sangat parah. Dia seringkali menyebutkan sebuah hadits itu dhaif sambil menuduh orang yang berhujjah dengan hadits tersebut sebagai pelaku bid'ah dan sesat, namun justru di kitabnya sendiri dia menulis bahwa hadits itu shahih.

Kalau perbedaan penilaian atas keshahihan suatu hadits itu datang dari dua orang atau dua kubu yang berbeda, rasanya masih masuk akal, tetapi aneh dengan Al-Albani ini, dia yang bilang dhaif tetapi dia sendiri juga bilang shahih. Dan sayangnya, kasus seperti ini bukan kasus keliru satu dua, melainkan melibat beratur bahkan beribu hadits.

Walhasil, setidaknya dari situ kita tahu bahwa tidak mentang-mentang ada fatwa bahwa suatu hadits itu shahih, lantas kita langsung menelan bulat-bulat, bahkan dijadikan dalil. Kita perlu melakukan penelitian secara lebih jauh, apakah vonis shahih itu masih merupakan pendapat orang per-orang atau sudah seluruh ulama menyepakatinya?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Cara Menghitung Hari Ketujuh Untuk Menyembelih Aqiqah
9 August 2014, 04:00 | Qurban Aqiqah | 30.428 views
Bolehkah Talfiq Antara Mazhab?
8 August 2014, 00:27 | Ushul Fiqih | 19.467 views
Noda Kehitaman Bekas Sujud di Dahi
7 August 2014, 07:08 | Shalat | 19.546 views
Benarkah Indonesia Negara Kafir Yang Harus Diperangi?
6 August 2014, 02:51 | Negara | 27.815 views
Menemukan Uang, Bolehkah Buat Biaya Persalinan?
3 August 2014, 22:26 | Umum | 7.526 views
Bank Susu Dalam Perspektif Islam
2 August 2014, 08:00 | Kontemporer | 9.881 views
Bolehkah Shaf Wanita Sejajar Dengan Shaf Laki-laki?
1 August 2014, 07:00 | Shalat | 28.457 views
Benarkah Bersalam-salaman Seusai Shalat Itu Bid'ah?
31 July 2014, 08:00 | Shalat | 27.778 views
Benarkah Makna Minal Aidin Wal Faizin Bukan Maaf Lahir dan Batin?
30 July 2014, 09:00 | Puasa | 14.628 views
Ketentuan Khutbah Idul Fithri
28 July 2014, 03:00 | Shalat | 20.013 views
Masalah Haul pada Zakat Emas Perak dan Tabungan
27 July 2014, 18:00 | Zakat | 18.125 views
Makan Dulu Sebelum Shalat Iedul Fithri
27 July 2014, 04:01 | Shalat | 10.295 views
Shalat Pakai Sepatu dan Sandal, Bolehkah?
26 July 2014, 02:00 | Shalat | 23.702 views
Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah?
25 July 2014, 03:00 | Puasa | 8.374 views
Qunut Pada Shalat Witir, Bid'ahkah?
24 July 2014, 05:13 | Shalat | 13.578 views
Benarkah Zionis Yahudi Keturunan Kera dan Babi?
23 July 2014, 06:14 | Kontemporer | 10.941 views
Bagaimana Cara Melakukan Qunut Nazilah
22 July 2014, 18:46 | Shalat | 44.582 views
Bolehkah Wanita Berhias Dengan Mewarnai Kuku Jarinya?
18 July 2014, 10:20 | Wanita | 11.118 views
Mengapa Witir Dua Rakaat Plus Satu?
17 July 2014, 05:00 | Shalat | 17.288 views
Bagaimana Puasanya Para Pekerja Berat
16 July 2014, 01:00 | Puasa | 28.024 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,801,862 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img