Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Kita Membuat Mazhab Sendiri Di Luar Mazhab Empat? | rumahfiqih.com

Bolehkah Kita Membuat Mazhab Sendiri Di Luar Mazhab Empat?

Sat 15 August 2015 06:06 | Ushul Fiqih | 7.964 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Apakah mazhab itu hanya sebatas empat saja, ataukah bisa lebih dari empat? Bolehkah kita membuat mazhab sendiri selain dari mazhab empat yang sudah ada?

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya setiap muslim tidak pernah bisa dilepaskan dari mazhab. Sebab mazhab pada dasarnya adalah hasil ijtihad atas apa yang dipahami dari sumber agama, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap orang yang menjalankan perintah-perintah Allah di dalam Al-Quran dan perintah-perintah yang lebih detail di dalam As-Sunnah, sudah pasti dia bermazhab. Setidaknya mazhab gurunya, dimana si guru itu mengajarkan hukum-hukum yang terdapat pada sumber agama itu.

Mazhab Betulan VS Mazhab Bikin Sendiri

Kalau saya perhatikan praktek pemahaman mazhab di tengah masyarakat awam, saya sering membagi jenis mazhab ini menjadi dua jenis, yaitu mazhab amatiran dan mazhab profesional.

1. Mazhab Amatiran

Mazhab amaritan ini sebenarnya bukan mazhab betulan tetapi hanya sekedar mazhab-mazhaban. Mazhab amatiran adalah mazhab hasil bikin-bikinan sendiri, bukan hasil kerja orang-orang profesional. Tentu saja mazhab semacam ini tidak resmi, sifatnya amatiran dan hasil bikin-bikinan sendiri.

Ibarat proyek mobil nasional yang mangkrak tidak jelas nasibnya. Mobil semacam ini sudah boleh disebut mobil, tetapi sesungguhnya masih merupakan purwarupa (prototipe), yang belum boleh diproduksi massal dan belum belum laik darat.

Mobil sejenisnya ini secara teori mungkin bisa dianggap mobil, tetapi masih perlu proses panjang untuk bisa disebut mobil yang sesungguhnya.

Dalam dunia fiqih modern saat ini, banyak sekali kalangan yang rada-rada anti terhadap mazhab-mahab baku dan  profesional, lalu berupaya membangung mazhab sendiri sebagai mazhab baru. Tentu saja kehendak ini tidak bisa dilarang, sebab bermazhab dan membangun mazhab itu hak siapa saja. Yang penting kualitasnya harus bisa dijamin.

Namun untuk membangun mazhab baru yang profesional tentu saja tidak semudah yang apa yang dicita-citakan di dalam angan. Ibarat industri mobil di atas, yang sering terjadi alih-alih bikin mobil betulan, ternyata hasilnya hanya sebatas mobil prototipe belaka.

Mengapa demikian?

Karena tidak didukung dengan pengalaman lapangan, kemampuan teknis, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan infrastruktur, keterbatasan marketing, keterbatasan dana dan sejuta keterbatasan yang lain.

Oleh karena itu mazhab-mazhab amatiran ini bisa lahir berjuta jumlahnya, tapi runtuh dan tumbang hanya dalam sekejap. Tidak pernah bisa menjadi mazhab profesional, karena hanya pandai berteori tetapi tidak laku di pasaran karena alasan kualitas.

2. Mazhab Profesional

Lain cerita dengan mazhab pro yang kita kenal hari ini ada empat jumlahnya, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Empat mazhab ini adalah mazhab resmi yang baku, sangat besar ukurannya dan hsil kreatifitas berjuta ahli yang profesional sepanjang lebih dari 13 abad perjalanan peradaban Islam.

Sebenarnya jumlahnya bukan hanya empat tetapi sampai belasan, kalau kita sebutkan dalam timeline sejarah fiqih. Namun yang masih eksis di hari ini menembus perjalanan waktu tersisa tinggal empat ini saja.

Empat mazhab inilah yang oleh sebagian kalangan yang jahil dan kurang ilmu seringkali dihina, dicaci maki, dan para pemeluknya selalu dianggap bodoh, tolol, terbelakang dan seringkali digoblok-goblokkan sebagai kalangan ahli taqlid.

Padahal empat mazhab itu justru menyimpan dengan warisan kekayaan intelektual ulama sepanjang sejarah Islam yang gemilang dengan sangat kokoh dan kuat. Kalau ingin tahu bagaimana kemajuan ilmu yang kita warisakan dari Rasulullah SAW, maka tempatnya ada di dalam mazhab yang empat.

Mazhab empat ini masih menyimpan dengan utuh kitab-kitab warisan (turats) yang sedemikian agung dan bersejarah, dalam jumlah yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya.

Sayangnya oleh kalangan orang-orang awam di hari ini, kitab-kitab warisan para ulama itu dicampakkan begitu saja dan diganti dengan hasil tebak-tebakan kalangan yang tidak paham agama. Hasil tebak-tebakan itu kemudian diberi sampul dan nama keren, yaitu fatwa resmi. Umat Islam dihalangi dari kitab-kitab turats warisan para ulama yang sesungguhnya, dan hanya diberi jatah untuk merujuk kepada fatwa-fatwa hasil tebak-tebakan yang disusun oleh mereka yang tidak paham agama.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Lima Perbedaan Mendasar Antara Haji dan Umrah
14 August 2015, 03:30 | Haji | 19.282 views
Tiga Versi Lafadz Tasyahhud Yang Berbeda
13 August 2015, 04:50 | Shalat | 9.610 views
Bagaimana Proses Munculnya Mazhab Fiqih, Apakah Merupakan Gerakan Sempalan?
12 August 2015, 03:00 | Ushul Fiqih | 9.093 views
Apakah Mazhab Itu Bentuk Perpecahan Umat?
11 August 2015, 06:00 | Ushul Fiqih | 5.738 views
Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'?
10 August 2015, 04:35 | Shalat | 17.485 views
Shalat Idul Fithr dan Idul Adha : Mana Yang Lebih Utama, di Masjid atau di Lapangan?
8 August 2015, 06:03 | Shalat | 5.844 views
Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid?
7 August 2015, 03:01 | Shalat | 8.417 views
Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali
5 August 2015, 09:13 | Nikah | 13.358 views
Apa Yang Dibaca Pada Saat Sujud Dan Ketentuannya
2 August 2015, 03:12 | Shalat | 170.167 views
Haramkah Gaji Satpam di Bank Konvensional?
1 August 2015, 08:10 | Muamalat | 38.599 views
Fasakh dan Talak : Perbedaan dan Persamaannya
31 July 2015, 06:45 | Nikah | 27.598 views
Teknis Rujuk Setelah Menjatuhkan Talaq, Haruskah Ada Saksi?
30 July 2015, 16:05 | Nikah | 24.489 views
Haruskah Jadi Ulama Dulu Baru Boleh Dakwah?
29 July 2015, 07:13 | Ushul Fiqih | 24.658 views
Terlanjur Menikahi Pacar Ternyata Dahulu Pernah Berzina
28 July 2015, 07:18 | Nikah | 109.869 views
Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut?
19 July 2015, 23:15 | Puasa | 14.924 views
Bolehkah Kami Yang Domisili di Jepang Shalat Id di Rumah Tanpa Khutbah?
16 July 2015, 17:20 | Shalat | 11.275 views
Benarkah Ada Kewajiban Zakat Atas Madu?
14 July 2015, 08:11 | Zakat | 8.152 views
Perluasan Makna Fi Sabilillah Sebagai Mustahiq Zakat
13 July 2015, 00:09 | Zakat | 49.502 views
Nishab Zakat Uang, Ikut Nishab Emas atau Nishab Perak?
11 July 2015, 02:00 | Zakat | 12.515 views
Teknis Menghitung Zakat Uang
10 July 2015, 11:00 | Zakat | 12.017 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,787,475 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

25-8-2019
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:56 | Ashar 15:16 | Maghrib 17:57 | Isya 19:05 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img