Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Musnad Imam Syafi'i Lebih Rendah Tingkatannya Dari Sahih Bukhari? | rumahfiqih.com

Mengapa Musnad Imam Syafi'i Lebih Rendah Tingkatannya Dari Sahih Bukhari?

Tue 21 October 2014 10:30 | Hadits | 13.848 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum

Ustadz, kemarin ana membaca artikel antum yang menyebutkan bahwa Imam yang empat lebih pakar dari Imam Bukhari dalam bidang hadits, tetapi mengapa kitab Musnad Imam Syafi'i dan Musnad Imam Ahmad lebih rendah tingkatannya dari Sohih Bukhari. Bahkan keduanya tidak masuk kedalam kutubussittah..

Syukron atas jawabannya

Wassalamualaikum.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam menilai suatu karya kita harus objektif dan adil. Kualitas suatu karya tidak bisa dibandingkan begitu saja apple to apple. Kita harus melihat sejarah dan latar belakang, serta konteks yang ada. Jadi rendah atau tingginya suatu kitab harus dilihat dari sudut pandang yang tertentu.

Bisa saja kitab tertentu lebih bagus dari kitab lain dari sisi format dan kelengkapannya. Tetapi dibandingkan dengan origninalitasnya, justru lebih rendah. Dan semua itu bisa berlaku sebaliknya juga.

Bisa saja suatu kitab disusun untuk mengantisipasi suatu masalah tertentu, dan kitab lainnya disusun untuk mengatasi masalah yang lain lagi. Maka kita tidak bisa membandingkan secara tidak adil karena beda maksud dan tujuan dari penyusunan kitab.

Mari kita buat sedikit perbandingan biar masalahnya lebih jelas dan terang, agar kita mudah memahami duduk perkaranya.

Mushaf Utsmani vs Software Al-Quran

Kita tidak bisa membandingkan mushaf yang ditulis zaman khalifah Utsman bin Al-Affan dengan mushaf modern di zaman berikutnya.

Mushaf Utsmani generasi awal itu ditulis tanpa harakat, tidak ada fathah, kasrah, dhammah, sukun, tasydid. Juga tidak ada titik pada huruf ba', ta', tsa', ya', jim, kha, qaf, fa'. Tidak ada nomor ayat, tidak ada nama surat, apalagi tanda waqaf. Yakin sekali kita tidak bisa membaca mushaf itu di zaman sekarang ini.

Kemudian seiring dengan waktu, mulailah ada penyempurnaan dan perbaikan disana-sini. Jenis khatnya diperbaiki, dibuatkan harakat dan tanda baca yang lengkap. Bahkan ditambahi dengan nomor ayat, lambang-lambang yang berguna dan seterusnya, seperti yang kita kenal sekarang ini. Sehingga kita di zaman sekarang bisa membacanya dengan mudah.

Bahkan di zaman kemajuan gadget dan komputer dewasa ini, mushaf itu bisa diformat dalam bentuk digital, dengan mudah kita bisa mencari kata tertentu lewat mesin pencari. Bahkan sudah dibundel sekalian dengan lusinan kitab tafsir, sehingga begitu kita baca suatu ayat, tinggal klik langsung keluar tafsirnya dengan puluhan pilihan kitab tafsir.

Tetapi tidak mentang-mentang software itu canggih, kita tidak bisa bilang bahwa penemu software Al-Quran ini lebih tinggi derajatnya dari Khalifah Ustman bin Al-Affan radhiyallahuanhu. Jangan sampai kita keliru dalam membuat perbandingannya.

Karena kebutuhan zamannya berbeda, maka apa yang ditulis pun pasti berbeda. Dan kita tidak bisa membandingkan kedua mushaf itu secara subjektif begitu saja.

Kartu Undangan Pernikahan vs Naskah Proklamasi

Kalau dibandingkan secara penampilan seni dan estetika, kartu undangan pernikahan jauh lebih indah dan menarik ketimbang naskah proklamasi 1945. Secara tampilan seni dan keindahan, tentu lebih bagus desain kartu undangan pernikahan. Hurufnya indah, kertasnya wangi, kata-katanya menyentuh, dilengkapi dengan kaligrafi dan ilustrasi yang menarik.

Sementara naskah proklamasi 1945 itu hanya ditulis di atas kertas putih dengan tulisan tangan yang penuh dengan coretan, sama sekali tidak menarik dari sisi keindahan.

Namun kita tidak bisa katakan bahwa tukang desain kartu undangan pernikahan itu lebih tinggi derajatnya dari Bung Karno dan Bung Hatta. Memang naskah proklamasinya kurang indah, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya tentu jauh berharga , lebih tinggi dan lebih penting ketimbang kartu undangan pernikahan. Semua orang juga tahu itu, karena sisi kandungan sejarah yang ada dalam naskah proklamasi.

Gutenberg vs Heidelberg

Johannes Gutenberg (w. 1468 M) disepakati para ahli sejarah sebagai penemu mesin cetak. Sejak era Gutenberg itulah wajah dunia perbukuan berubah 180 derajat. Buku bisa diproduksi secara masal dalam waktu yang amat singkat, setelah sebelumnya buku ditulis dengan tangan. Sejak itu pula muncul undang-undang hak cipta untuk melindungi karya para penulis agar tidak dibajak sembarangan gara-gara kemunculan mesin cetak.

Tetapi kalau kita perhatikan mesin cetak itu kini sudah tidak lagi dipakai dan tersimpan di salah satu musium di Munich German. Dan jangan sekali-kali mesin itu kita bandingkan dengan mesin cetak modern Heidelberg yang sudah terkomputerisasi dan bekerja secara modern. Tentu jauh berbeda kualitasnya, mesin cetak modern bila mencetak ribuan jilid buku dalam sehari, sementara mesin cetak generasi pertama Gutenberg itu masih manual.

Namun yang perlu digaris-bawahi, tidak ada orang yang bilang bahwa Heidelberg itu lebih tinggi derajatnya dari Gutenberg, mentang-mentang mesin cetak buatannya lebih modern. Sebab tanpa keberadaan mesin cetak Gutenberg tidak akan ada mesin cetak Heidelberg, bukan? Mesin cetak Gutenberg itulah inspirator lahirnya mesin-mesin cetak modern sekarang ini.

Bell vs Gadget

Umumnya Alexander Graham Bell dikenal sebagai penemu pesawat telepon di tahun 1876. Tetapi seperti pesawat teleponnya? Tentu sangat jadul sekali sebagai pesawat telepon generasi pertama. Bentuknya besar, harus pakai engkol buat memutar, tersambung dengan kabel, jelas tidak bisa redial, dan tidak ada nomor kontak apalagi sms.

Jangan sekali-kali kita membandingkan telepon buatan Bell generasi pertama itu dengan produk gadget kita hari ini. Tentu jauh sekali dan tidak bisa dibedakan apple to apple. Gadget kita hari ini bentuknya semakin kecil, tipis, tanpa kabel, bisa dibawa kemana-mana. Kemampuannya bukan cuma bertelepon antar benua tetapi juga bisa sms, internet browsing, Twit, WA, Bb dan seterusnya. Bahkan benda itu bisa merekam suara, menjepret foto dan merecord video, menampilkan peta dan menjadi mesin pencari arah (GPS) dan yang pasti bisa buat main game.

Tetapi kalau kita melihat ke belakang, kita hari ini harus berterima kasih kepada pesawat telepon generasi pertama. Tanpa keberadaanya belum tentu teknologi kita semaju sekarang ini.

Al-Imam Asy-Syafi'i dan An-Nawawi

Demikian juga dengan kitab fiqih. Dalam mazhab Asy-syafi'iyah, kitab fiqih yang paling awal adalah kitab Al-Umm, yang ditulis langsung oleh Al-Imam Asy-Syafi'i. Lalu para murid beliau pun menulis kitab, yang tentu saja masing-masing menambahi dengan informasi yang berguna. Bahkan disana-sini diubah tata letak dan susunannya, serta diatur bab demi bab agar lebih enak dibaca.

Para ulama generasi berikutnya menambahkan dalil-dalilnya, sebagian kemudian memberikan informasi perbandingan mazhab di antara mazha-mazhab fiqih. Bahkan sebagian ulama menambahi dengan fatwa-fatwa yang belum dikupas di dalam Al-Umm sendiri.

Semakin lama semakin banyak muncul kitab-kitab mazhab Asy-syafi'iyah yang lebih sistimetis, lebih lengkap, lebih informatif dan tentunya juga lebih enak untuk dibaca. Pada abad keenam hijriyah, muncul Imam An-Nawawi dengan karyanya, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab yang fenomenal itu. Kita sebagai orang awam akan merasakan bahwa Al-Majmu' itu sudah jauh mengalami penyempurnaan ketimbang Al-Umm yang ditulis oleh Asy-Syafi'i langsung pada abad ketiga hijriyah.

Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa An-Nawawi lebih tinggi derajatnya dari Asy-Syafi'i. Selain keduanya hidup di tiga abad yang berbeda, keduanya dibedakan berdasarkan level kemampuannya dalam berijtihad. Asy-Syafi'i adalah mujtahid mutlak mustaqil, yang dalam berijtihad sama sekali tidak butuh hasil ijtihad orang lain. Justru beliau sendiri peletak dasar ilmu ijtihad. Beliau adalah orang yang menyusun dan menetapkan kaidah-kaidah dalam berijtihad, dimana semua mujtahid akan berjalan sebagaimana yang beliau tetapkan.

Sedangkan An-Nawawi dalam strata para mujtahid menempati level mujtahid tarjih, tiga level di bawah level mujtahid mutlak mustaqil. Namun karyanya memang secara subjetik lebih tepat bagi kita, karena lebih mudah dan lebih lengkap, seusai dengan zamannya.

Musnad Asy-Syafi'i dan Shahih Al-Bukhari

Musnad Al-Imam As-Syafi'i disusun memang bukan dengan tujuan sebagaimana Al-Bukhari menyusun kitab Shahihnya. Keduanya punya tujuan dan latar belakang yang berbeda dalam penyusunannya. Al-Bukhari memang punya tujuan satu saja, yaitu semata-mata hanya fokus kepada kritik para perawi dan sanad saja. Dan untuk itu beliau membuat kriteria sendiri yang berbeda dengan kriteria ahli hadits lainnya.

Sementara Musnad Al-Imam Asy-Syafi'i sendiri tidak disusun untuk semata-mata mengumpulkan hadits yang dikritisi secara ketat sisi perawinya. Tentu dalam hal ini tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan kitab Shahih Bukhari.

Kita tidak bisa membandingkan antara sepeda motor Honda matic yang tujuan diproduksinya untuk kendaraan rakyat, bahkan untuk dikendarai oleh ibu-ibu, dengan sepeda motor Ducati yang diciptakan khusus untuk bapalan di sirkuit. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Ducati lebih tinggi derajatnya dari Honda. Dan kita tidak bisa klaim bahwa Honda tidak mengerti tentang motor. Sebab Honda juga punya produk yang didesain khusus untuk balapan profesional di sirkuit.

Shahih Bukhari Bukan Satu-satunya Kitab Shahih

Memang benar pernyataan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab tershahih kedua setelah Al-Quran. Tetapi banyak yang tidak tahu, bahwa selama tiga abad lamanya umat Islam tidak pernah merujuk kepada kitab Shahih Bukhari ini.

Kenapa?

Karena penulisnya yaitu Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah belum lahir saat itu. Lantas apakah umat Islam tidak ada yang menggunakan hadits shahih selama 3 abad pertama?

Jawabannya tentu saja mereka pakai hadits shahih. Namun bukan pakai Shahih Bukhari, karena memang belum ada. Dan jangan sekali-kali kita beranggapan bahwa agama Islam sebelum kelahiran Al-Buhkari masih samar-samar dan belum benar. Seolah-olah kebenaran agama Islam itu baru lahir semenjak Al-Bukhari lahir. Tentu ini adalah pandangan yang salah dan keliru.

Bahkan ketika ditulis pertama kali pun, kedudukan Shahih Bukhari ini belum langsung jadi kitab tershahih. Kitab itu tidak ujug-ujug mendapat status sebagai kitan tershahih. Sebab yang menyatakan pertama kali bahwa kitab Shahih Bukhari ini merupakan kitab tershahih setelah Al-Quran tidak lain adalah Ibnu Shalah yang hidup di abad ketujuh. Beliau itulah yang membuat pernyataan bahwa kitab ini adalah kitab tershahih di dunia setelah Al-Quran. Dan setelah itu pendapat Ibnu Shalah itu diamini oleh banyak ulama berikutnya.

Artinya, ada masa waktu sekitar tujuh abad lamanya, dimana umat Islam belum bersepakat bahwa Shahih Bukhari ini menjadi kitab tershahih setelah Al-Quran. Tiga abad lamanya kitab Shahih Bukhari ini belum disusun, empat abad lamanya baru mendapatkan pengakuan lewat proses yang alami.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hp Berbunyi Saat Sholat
20 October 2014, 21:02 | Shalat | 9.144 views
Benarkah Haram Mengenakan Pakaian Berbahan Sutra?
18 October 2014, 16:13 | Umum | 7.273 views
Hadits Nabi Mempertahankan Qunut Shubuh Hingga Wafatnya, Shahihkah?
16 October 2014, 00:01 | Shalat | 44.342 views
Tikus dan Tokek Haram Dimakan?
14 October 2014, 18:17 | Kuliner | 15.395 views
Adakah Ayat yang Mengalami Penghapusan?
13 October 2014, 09:45 | Quran | 10.083 views
Keturunan Rasulullah dan Habaib
12 October 2014, 15:19 | Umum | 14.870 views
Wasiat Almarhum Berbeda Dengan Ketentuan Hukum Waris, Mana Yang Harus Dimenangkan?
11 October 2014, 16:18 | Mawaris | 12.729 views
Bolehkah Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jumat?
9 October 2014, 04:30 | Shalat | 48.369 views
Mengapa Ada Perbedaan Mazhab dan Pendapat Ulama?
8 October 2014, 06:40 | Ushul Fiqih | 15.971 views
Sudah Ada Quran dan Sunnah, Kenapa Masih Harus Ijtihad?
7 October 2014, 17:05 | Ushul Fiqih | 63.851 views
Hakikat Qurban Lebih Berdimensi Ritual Atau Dimensi Sosial?
3 October 2014, 18:00 | Qurban Aqiqah | 5.765 views
Memasak Qurban Buat Yang Mengurusinya, Bolehkah?
1 October 2014, 23:35 | Qurban Aqiqah | 8.308 views
Bolehkah Mengupah Jagal Dengan Kepala Kaki dan Kulit Hewan Qurban?
29 September 2014, 05:35 | Qurban Aqiqah | 23.704 views
Miqat Haji dari Indonesia Gelombang Kedua di Jeddah, Bolehkah?
28 September 2014, 08:21 | Haji | 13.663 views
Punya Uang dan Mampu, Tapi Tidak Mau Qurban, Dosakah?
27 September 2014, 21:23 | Qurban Aqiqah | 46.662 views
Bolehkah Menjamak Shalat Karena Harus Dirias Jadi Pengantin?
25 September 2014, 06:55 | Wanita | 27.843 views
Jamaah Menimbulkan Perpecahan?
24 September 2014, 10:55 | Dakwah | 6.959 views
Bolehkah Memakai Aksesori Yang Terbuat Dari Kulit Ular atau Buaya?
23 September 2014, 10:55 | Thaharah | 12.575 views
Hakekat dari Hak Cipta
20 September 2014, 04:22 | Muamalat | 8.494 views
Mana yang Lebih Utama, Naik Haji atau Menyantuni Anak Miskin?
19 September 2014, 15:12 | Haji | 9.130 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,841,004 views