Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kenapa Bahasa Arab Mutlak Diperlukan? | rumahfiqih.com

Kenapa Bahasa Arab Mutlak Diperlukan?

Thu 25 December 2014 04:30 | Ushul Fiqih | 7.373 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon perkenan ustadz menasehati saya dan memberikan motivasi. Kebetulan baru-baru ini kami baru menyusun agenda kajian di masjid kami. Salah satunya adalah kelas bahasa Arab. Asumsinya bahwa penguasaan bahasa Arab itu penting untuk memahami Al-quran dan Sunnah.

Yang kami mohonkan dari ustadz adalah arahan dan motivasi tentang urgentis penguasaan bahasa Arab itu menjadi syarat mutlak untuk bisa memahami syariah Islam.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Al-Quran tidak pernah diturunkan ke permukaan bumi ini kecuali dalam bahasa Arab. Sebab Rasulullah SAW sebagai penerima wahyu hanya bisa berbahasa Arab.

Demikian juga sunnah nabawiyah, yang merupakan perbuatan, perkataan dan iqrar Rasulullah SAW, tidak lah sampai kepada kita lewat rangkaian panjang periwayatan, kecuali redaksinya selalu berbahasa Arab.

Maka bila seorang mujtahid ingin menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah, mustahil bisa dilaksanakan bila dirinya tidak mengerti bahasa Arab.

Maka syarat mutlak ilmu yang harus minimal dikuasai oleh seorang mujtahid adalah ilmu tentang bahasa Arab dengan segala cabang dan rantingnya.

Bahasa Arab memang tidak mudah diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Tidak semua kata atau frasa ada padanannya, sehingga bahasa terjemahan yang harfiyah tentu tidak mampu menyampaikan isi pesan yang seutuhnya.

Para penerjemah bahasa asing, khususnya dari bahasa Arab memang harus pandai dan cerdas. Selain harus mengerti betul gaya bahasa aslinya, juga harus pandai mencarikan padanan kata atau ungkapan yang punya makna setara atau minimal agak mendekati aslinya. Kalau tidak demikian, maka pada gilirannya malah bisa jadi malapetaka.

Ittaqillah

Dalam bahasa Arab, kalau ada orang berkata kepada kita ittaqillah (اتق الله), maknanya bukan sekedar bertaqwalah atau takutlah kepada Allah. Tetapi kalimat itu sudah mengandung ancaman, atau setidaknya sebuah tuduhan bahwa kita ini bersalah dalam pandangannya.

Sehingga kalau sampai orang Arab bilang ittaqillah kepada kita, harus dipahami bahwa orang itu menyalahkan kita dan ungkapan dalam bahasa kita kurang lebih menjadi 'jangan begitu', 'awas', 'hati-hati' dan sejenisnya.

Aku Mencintaimu di Jalan Allah

Menarik juga ungkapan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada kita untuk disampaikan kepada sesama muslim, yaitu inni uhibbuka fillah (أني أحبك في الله). Kalau kita menghormati seorang dosen atau tokoh ulama di kalangan orang-orang Arab, maka ungkapan ini termasuk salah satu sopan santun yang tinggi.

Tetapi jangan sekali-kali ungkapan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiyah. Apalagi kalau sampai digunakan di tengah pergaulan sesama anak bangsa. Sebab terjemahannya akan jadi lain dan jauh sekali.

Kalau sampai ada seorang laki-laki berkata kepada teman sesama laki-laki,"Aku mencintaimu karena Allah", maka dahi temannya itu pasti akan berkerut sepuluh lipatan tanda bingung. Dan boleh jadi dalam hatinya dia curiga. Jangan-jangan orang ini hombreng, masak sesama lelaki bilang cinta-cintaan segala?

Yakhrabbetak

Orang Mesir punya makian khas kalau lagi berseteru dengan sesama mereka. Bahasa itu tentu saja ammiyah dan bukan bahasa fushah : yakhrab betak!!

Terjemahan apa adanya adalah rumahmu musnah, rusak atau terbakar. Sebagaimana bisa kita baca di dalam Al-Quran tentang rumah yang musnah :

وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ

Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mu'min. (QS. Al-Hasyr : 2)

Tentu saja makian atau umpatan itu tidak ada kaitannya dengan rumah yang musnah. Itu hanya bahasa ungkapan, ketika kita terjemahkan menjadi rumahmu musnah tentu akan lucu dan tidak enak didengar.

Barangkali mirip dengan makian khas Betawi. Tidak mungkin makian pale lo ijo diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan ra'suka ahdhar. Begitu juga tidak mungkin menerjemahkan ungkapan muke lu jauh dengan wajhuka ba'id.

Dan ungkapan khas orang Jawa mbok yo ngene juga tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ibu ya begini, atau ke dalam bahasa Inggris menjadi mother yes like this, atau ke dalam bahasa Arab menjadi ummu na'am ha kadza.

Terjemah Istilah Dalam Nash-nash Syariah

Terjemahan ungkapan ringan macam di atas, bila hasilnya salah kaprah kita masih boleh senyum-senyum. Tetapi bayangkan kalau kesalahan fatal itu terjadi ketika memahami nash-nash syariah. Kalau sampai salah kaprah, bisa-bisa yang haram jadi halal dan sebaliknya yang halal jadi haram.

Menerjemahkan bahasa Arab modern kadang kita masih kesulitan, apalagi menerjemahkan ungkapan-ungkapan yang hanya digunakan pada 14 abad lampau, tentu lebih sulit lagi untuk dipahami. Parahnya, tidak semua orang Arab hari ini bisa paham ungkapan-ungkapan khas di masa Nabi SAW.

Taribat Yadaka

Seperti ungkapan Nabi SAW ketika menyebutkan empat alasan memilih istri, dimana salah satunya karena agamanya, lalu beliau mengatakan taribat yadaaka (تربت يداك).

Apa maksud kalimat taribat yadaaka ini?

Kalau secara harfiyah kata taribat itu bentukan dari kata turab yang artinya debu. Sedangkan yadaaka artinya kedua tanganmu. Tetapi apa benar taribat yadaaka itu berarti kedua tanganmu berdebu? Apa hubungannya dengan memilih istri karena faktor agama?

Bahasa Tubuh

Yang lebih sulit lagi untuk dipahami adalah bahasa tubuh Nabi SAW. Kadang dalam memberi fatwa, beliau tidak menggunakan kata secara verbal, melainkan dengan menggunakan bahasa tubuh. Salah satunya adalah tertawa hingga terlihat putih giginya.

Kasusnya terjadi ketika Amar bin Ash berijtihad meninggalkan mandi janabah dan menggantinya dengan tayammum, karena alasan takut mencelakakan dirinya saat di musim dingin. Mendengar itjihad shahabatnya itu, beliau SAW pun tertawa, hingga terlihat putih giginya.

Nah, yang ini jelas membingungkan sekali. Apa makna tertawanya seorang Nabi SAW yang berkebangsaan Arab dan hidup di abad keenam Masehi. Masalahnya bahasa tubuh tiap bangsa itu beda-beda.

Bisa saja beliau tertawa karena memang mentertawakan tindakan shahabatnya itu yang mungkin keliru. Seperti kita suka mentertawakan orang-orang yang keliru dan bersalah. Itu budaya kita, kalau lihat ada orang salah atau keliru, kita terbiasa untuk mentertawakan.

Tetapi ternyata tertawanya Nabi SAW itu bukan meledek atau mentertawai kekeliruan orang lain. Tidak, justru tertawanya itu bermakna pembenaran atas ijtihad meninggalkan mandi janabah menjadi tayammum. Dan itulah yang secara umum dipahami oleh para ulama sepanjang zaman.

Disinilah terbukti bahwa urusan memahami syariat bukan sekedar menguasai bahasa saja. Seorang asli Arab di zaman kita pun belum tentu paham maksudnya. Kita harus belajar lebih dalam ilmu bahasa Arab yang lebih klasik lagi, yang boleh jadi di kamus-kamus modern tidak tercantum.

Dan lebih dari itu, kita perlu merujuk ke kitab-kitab syarah hadits untuk mengetahui apa yang dipahami para ulama di masa lalu tentang ungkapan asing itu. Dan kalau ungkapan itu ada di dalam ayat Al-Quran, tentu kita perlu membuka kitab tafsir.

Dan salah satu manfaat ilmu fiqih adalah memahami makna tiap istilah yang digunakan dalam nash-nash syariah secara lebih mendalam. Sebab kekeliruan dalam memahaminya akan melahirkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan hukum.

Dan kekeliruan seperti itu sangat mungkin terjadi, bila yang melakukannnya hanya orang yang awam seperti kita yang bukan termasuk orang yang berada dalam derajat para mujtahid.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Masa Lalu Calon Isteri Pernah Berzina
24 December 2014, 07:03 | Nikah | 11.300 views
Apakah Agama Kristen Sama Dengan Nasrani?
21 December 2014, 21:01 | Aqidah | 61.828 views
Pakaian Santa Claus Apakah Termasuk Tasyabbuh Yang Diharamkan?
20 December 2014, 06:00 | Aqidah | 13.944 views
Mengucapkan Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain
18 December 2014, 08:07 | Aqidah | 61.006 views
Halalkah Berhaji Dengan Sistem Arisan?
16 December 2014, 06:01 | Haji | 5.869 views
Haramkah Kita Memiliki Pembantu Rumah Tangga?
15 December 2014, 04:49 | Wanita | 12.491 views
Syarat Menjadi Saksi Pernikahan
13 December 2014, 11:07 | Nikah | 61.920 views
Yang Harus Dibunuh Itu Cecak Apa Tokek?
12 December 2014, 05:40 | Kuliner | 84.033 views
Istri Yang Nusyudz Kepada Suaminya
11 December 2014, 06:22 | Nikah | 14.091 views
Setelah Akad Langsung Cerai, Apakah Maharnya Harus Dikembalikan?
10 December 2014, 10:06 | Nikah | 10.284 views
Ijab Kabul Tidak Menyebutkan Mahar, Apakah Sah Hukumnya?
9 December 2014, 19:10 | Nikah | 51.873 views
Bolehkah Shalat Memakai Sepatu Atau Sandal?
8 December 2014, 01:00 | Shalat | 14.078 views
Hukum Shalat Tahajjud Berjamaah, Makruhkah?
8 December 2014, 01:00 | Shalat | 12.880 views
Jenazah Sudah Dikuburkan, Apakah Masih Bisa Dishalatkan?
7 December 2014, 01:00 | Shalat | 6.863 views
Mati Bunuh Diri, Haruskah Jenazahnya Dishalatkan?
6 December 2014, 01:00 | Shalat | 9.997 views
Kafirkah Indonesia Karena Tidak Menjalankan Hukum Islam?
4 December 2014, 05:00 | Aqidah | 12.197 views
Benarkah Al-Quran Perintahkan Bunuh Semua Orang Kafir?
3 December 2014, 10:30 | Quran | 101.963 views
Mencari Sosok Ustadz Ideal
2 December 2014, 11:03 | Dakwah | 10.515 views
Bolehkah Kita Memakai Kartu Kredit?
1 December 2014, 08:30 | Muamalat | 109.510 views
Belajar Agama Lewat Internet Sesat Karena Tanpa Guru?
28 November 2014, 06:22 | Ushul Fiqih | 70.020 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,354,729 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img