Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Dasar Perintah Memberi Fatwa dan Keutamaannya | rumahfiqih.com

Dasar Perintah Memberi Fatwa dan Keutamaannya

Fri 2 January 2015 02:00 | Ushul Fiqih | 4.758 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya sudah membaca penjelasan ustadz sebelumnya terkait dengan pengertian fatwa, qanun, qadha' dan ijtihad. Saya tertarik untuk mendalami masalah fatwa ini, mohon izin bertanya terkait fatwa :

1. Adakah dalil dalam Al-Quran atau As-sunnah yang intinya mewajibkan kita memberi fatwa kepada umat?

2. Apa keutamaan orang yang kerjanya memberi fatwa?

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dasar masyru’iyah berfatwa ditetapkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Di antara firman Allah yang menjadi dasar sebuah fatwa antara lain :

1. Al-Quran

وإِذْ أخذ اللّهُ مِيثاق الّذِين أُوتُوا الْكِتاب لتُبيِّنُنّهُ لِلنّاسِ ولا تكْتُمُونهُ

Dan ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab,”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," (QS. Ali Imran : 187)

Ayat ini menegaskan kewajiban memberi fatwa dan menerangkan isi Al-Quran kepada manusia, serta mengandung larangan dari menyembunyikan.

Meski konteks ayat ini kewajibannya dibebankan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab, yaitu orang Yahudi atau Nasrani, namun kita umat Islam pun sebenarnya termasuk di dalamnya, karena kita pun menerima Kitab Al-Quran dari Allah SWT

2. As-Sunnah

Kewajiban memberi fatwa atau menjawab pertanyaan tentang agama ini juga didasari atas hadits-hadits nabawi. Di antaranya adalah sabda beliau SAW berikut ini :

منْ سُئِل عنْ عِلْمٍ ثُمّ كتمهُ أُلْجِم يوْم الْقِيامةِ بِلِجامٍ مِنْ نارٍ

Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu namun dia menyembunyikannya, maka di hari kiamat dia akan diikat dengan tali kekang yang terbuat dari api neraka. (HR. Tirmizy)

C. Kemuliaan Orang Yang Memberi Fatwa

Memberi fatwa adalah pekerjaan yang sangat mulia dan mendapatkan banyak pahala dari Allah SWT Di antara kemuliaan orang yang memberi fatwa antara lain :

1. Ikut Dapat Pahala

Seorang mufti ketika menjelaskan ilmunya kepada orang yang bertanya, lalu orang itu mengamalkan ilmu yang diajarkan dan mendapat pahala, maka mufti yang mengajarkannya itu pun ikut juga mendapat pahala yang sama. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah ketika beliau bersabda :

منْ دلّ على خيْرٍ فلهُ مِثْل أجْرِ فاعِلِهِ

Barangsiapa menujukkan atas kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. (HR. Muslim)

Seorang yang berilmu walau pun belum mampu mengerjakannya, dia bisa mendapat pahala seolah-olah ikut mengerjakan, bila dia mengajarkan ilmu itu kepada orang lain yang kemudian mengamalkannya.

Sekedar ilustrasi, ada orang yang ingin berangkat pergi haji. Karena dia tidak tahu ilmunya, bertanyalah dia kepada seorang alim yang punya ilmu tentang manasik haji.

Meski orang alim ini belum pernah pergi haji, namun dia sudah ahli dalam masalah manasik haji lewat belajar yang serius. Sehingga semua ilmu yang diajarkannya memang bermanfaat buat orang yang pergi haji. Maka di sisi Allah, orang alim ini meski tidak ikut berangkat haji, dia akan ikut mendapatkan pahala dari haji yang dilakukan oleh muridnya.

Ilustrasi lain, ada orang kaya raya bingung hartanya mau diapakan. Lalu dia bertanya kepada orang alim, yang kemudian disarankan agar harta itu diwakafkan agar selalu mengalirkan pahala, meski pemiliknya sudah wafat nanti.

Maka orang kaya itu menuruti nasihat orang alim ini. Hartanya yang amat banyak itu diwakafkan. Dan benar, karena wakaf ini ada banyak fakir miskin yang bisa kenyang, ada banyak mahasiswa yang bisa melanjutkan pendidikan, dan ada banyak orang bodoh jadi berilmu karena adanya wakaf ini.

Tentu semua pahala itu akan mengali kepada orang kaya yang memberi wakaf itu, meski telah meninggal dunia. Dan orang alim yang menasehatinya pun akan ikut mendapatkan bagian pahala dari wakaf orang itu, karena dengan sebab ilmu wakaf yang diajarkannya inilah, maka wakaf itu jadi bermanfaat buat orang banyak.

2. Lebih Utama Dari Mendapat Unta Merah

Rasulullah SAW bersabda :

فواللهِ ! لأن يهْدِي اللهُ بِك رجُلاً واحِدًا خيْرٌ لك مِنْ أنْ يكُون لك حُمُرُ النِّعمِ

Demi Allah! Seandainya Allah menunjuki seseorang karenamu lebih baik bagimu daripada kamu mendapat unta merah. (HR. Bukhari)

Imam Al Bukhari rahimahullah membuat judul Bab dari hadits di atas, “Bab: Keutamaan seseorang memberi petunjuk pada orang lain untuk masuk Islam”. Abu Daud membawakan hadits di atas pada “Bab: Keutamaan menyebarkan ilmu”.

Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan, “Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).”

Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan, “Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu.” Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan,

”Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah unta merah.Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu. Di sini Nabi SAW menjadikan unta merah sebagai permisalah untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu.

3. Tingginya Derajat Orang Berilmu

Memberi fatwa adalah hak orang-orang yang berilmu. Orang yang berilmu, bahkan sebelum berfatwa, sudah mendapatkan kebaikan di sisi Allah SWT, berupa derajat yang ditinggikan.

يرْفعِ اللّهُ الّذِين آمنُوا مِنكُمْ والّذِين أُوتُوا الْعِلْم درجاتٍ واللّهُ بِما تعْملُون خبِيرٌ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadilah : 11)

4. Dimintakan Ampun Atas Dosa-dosanya

Orang yang berilmu akan lebih banyak diberikan ampunan oleh Allah SWT dari orang lain. Hal itu terjadi lantaran begitu banyak makhluk Allah yang memintakan ampunan untuknya. Bahkan ikan-ikan di lautan yang jumlahnya nyaris tak terhingga pun juga ikut memintakan ampunan.

وإِنّ العالِم ليسْتغْفِرُ لهُ منْ فيِ السّمواتِ ومنْ فيِ الأرْضِ والحِيْتانِ فيِ جوْفِ الماءِ

Dan orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua makhluk Allah yang ada di sekian banyak langit dan bumi, termasuk ikan-ikan yang ada di kedalaman lautan ikut memintakan ampun. (HR. Muslim) 

Itu adalah sebagian dari kemuliaan dan keutamaan orang yang berdakwah dengan memberi fatwa. Semoga kita bisa termasuk ke dalam kelompok orang yang mendapatkan keutamaannya. Amin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Perbedaan Antara Fatwa, Qanun, Qadha dan Ijtihad
1 January 2015, 00:01 | Ushul Fiqih | 30.778 views
Cerai Tanpa Pernah Jima' : Apakah Mahar Harus Dikembalikan?
29 December 2014, 08:14 | Nikah | 21.073 views
Benarkah Orang Yang Punya Hutang Berhak Mendapatkan Zakat?
28 December 2014, 04:17 | Zakat | 17.488 views
Adakah Nabi Perempuan?
27 December 2014, 19:16 | Aqidah | 13.290 views
Kenapa Bahasa Arab Mutlak Diperlukan?
25 December 2014, 04:30 | Ushul Fiqih | 7.080 views
Masa Lalu Calon Isteri Pernah Berzina
24 December 2014, 07:03 | Nikah | 10.988 views
Apakah Agama Kristen Sama Dengan Nasrani?
21 December 2014, 21:01 | Aqidah | 59.608 views
Pakaian Santa Claus Apakah Termasuk Tasyabbuh Yang Diharamkan?
20 December 2014, 06:00 | Aqidah | 13.593 views
Mengucapkan Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain
18 December 2014, 08:07 | Aqidah | 59.975 views
Halalkah Berhaji Dengan Sistem Arisan?
16 December 2014, 06:01 | Haji | 5.674 views
Haramkah Kita Memiliki Pembantu Rumah Tangga?
15 December 2014, 04:49 | Wanita | 11.791 views
Syarat Menjadi Saksi Pernikahan
13 December 2014, 11:07 | Nikah | 58.185 views
Yang Harus Dibunuh Itu Cecak Apa Tokek?
12 December 2014, 05:40 | Kuliner | 79.757 views
Istri Yang Nusyudz Kepada Suaminya
11 December 2014, 06:22 | Nikah | 13.386 views
Setelah Akad Langsung Cerai, Apakah Maharnya Harus Dikembalikan?
10 December 2014, 10:06 | Nikah | 9.734 views
Ijab Kabul Tidak Menyebutkan Mahar, Apakah Sah Hukumnya?
9 December 2014, 19:10 | Nikah | 48.737 views
Bolehkah Shalat Memakai Sepatu Atau Sandal?
8 December 2014, 01:00 | Shalat | 13.718 views
Hukum Shalat Tahajjud Berjamaah, Makruhkah?
8 December 2014, 01:00 | Shalat | 12.641 views
Jenazah Sudah Dikuburkan, Apakah Masih Bisa Dishalatkan?
7 December 2014, 01:00 | Shalat | 6.611 views
Mati Bunuh Diri, Haruskah Jenazahnya Dishalatkan?
6 December 2014, 01:00 | Shalat | 9.694 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,497,104 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-6-2018 :
Subuh 04:40 | Zhuhur 11:56 | Ashar 15:18 | Maghrib 17:51 | Isya 19:04 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img