Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Proses Pensyariatan Jihad Dalam Islam | rumahfiqih.com

Proses Pensyariatan Jihad Dalam Islam

Fri 9 January 2015 04:07 | Negara | 9.093 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya ingin bertanya terkait dengan hukum jihad dalam syariat Islam. Apakah kita ini semua wajib berjihad secara fisik di medan tempur? Apakah bila tidak berjihad kita jadi berdosa? Benarkah masa kehidupan Rasulullah SAW hanya terdiri dari jihad dan jihad saja?

Mohon penjelasan dari ustadz dan syukran atas penjelasannya.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita maklum bahwa umat Islam saat ini terbelah pemahamannya terhadap syariat jihad. Sebagian umat Islam ada yang selalu mengaitkan agama ini dengan jihad secara fisik. Seolah-olah Islam itu hanya melulu terdiri dari jihad.

Sebaliknya, sebagian lainnya justru punya pandangan yang sangat anti jihad, seolah-olah ingin menghapus syariat jihad. Lalu bagaimana bentuk proses pensyariatan jihad di dalam masa kenabian?

Pensyariatan jihad di jalan Allah adalah merupakan rangkaian panjang, sejak dari belum diperbolehkan hingga sampai periode diwajibkan. Di masa Rasulullah SAW, ada fase dimana jihad itu diharamkan, ada dibolehkan dan ada juga fase diwajibkan.

1. Fase Jihad Diharamkan

Jihad awalnya tidak disyariatkan dan tidak diberi izin oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, khususnya ketika dakwah beliau SAW masih di Mekkah. Saat itu, upaya yang boleh dilakukan hanyalah mengajak orang dengan baik-baik, hikmah, atau sebatas adu argumentasi saja.

أُدعُ إِلَى سَبِيل رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl : 125)

Bahkan Rasulullah SAW diperintahkan untuk menghindari konfrontasi atau berhadap-hadapan muka langsung dengan orang kafir dalam bentuk permusuhan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al-Hijr : 94)

Secara skala waktu, masa dimana Rasulullah SAW diperintahkan untuk tidak boleh melakukan perlawanan tidak kurang dari 14 tahun lamanya. Artinya, separuh dari masa perjalanan kenabian beliau yang 23 tahun itu, tidak diperkenankan terjadi peperangan atau kontak fisik secara langsung.

Beliau dan para shahabat hanya diperintahkan berdakwah, tapi menghindari bentrok fisik. Sabar dan sabar adalah bekal yang selalu didengungkan beliau untuk menenangkan para shahabatnya.

Selain itu juga disyariatkan untuk pergi menjauhi kekerasan dengan cara pergi berhijrah, baik ke Habasyah, Thaif maupun ke Madinah. Semua itu harus dijadikan catatan penting, bahwa Islam tidak pernah mengepankan bentrok fisik dalam menghadapi orang-orang kafir.

2. Fase Jihad Dibolehkan

Setelah Rasulullah SAW dan para shahabat membangun negara di Madinah, dan sendi-sendi dasar dari masyarakat Madinah dinilai telah mulai tertancap, maka barulah Allah SWT mensyariatkan jihad.

Namun jihad saat itu baru sekedar berupa izin untuk berperang, bukan perintah yang harus dikerjakan. Saat itu pertimbangannya adalah untuk melakukan pencegatan kepada kafilah dagang milik kafir Quraisy Mekkah, yang selama ini telah merampas harta benda para shahabat, bahkan mengusir hingga harus hijrah ke Madinah.

Kebetulan Abu Sufyan bin Al-Harb sendiri yang memimpin kafilah dagang kembali dari Syam. Maka saat itu beberapa shahabat meminta izin kepada Nabi SAW untuk mencegat kafilah dagang itu. Kemudian Allah SWT berikan izin.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". (QS. Al-Hajj : 39-40)

Ayat ini sama sekali tidak bernada perintah untuk berjihad, namun sekedar izin yang diberikan, karena pertimbangan yang sangat urgen.

3. Fase Jihad Diwajibkan

Setelah melewati periode diizinkan berjihad, barulah kemudian Allah SWT mensyariatkan jihad dalam bentuk sebuah perintah dan kewajiban. Ayat-ayat yang turun kemudian sudah berbentuk perintah.

انْفِرُواْ خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. At-Taubah : 41)

Juga turun ayat yang dikenal sebagai ayat pedang, yaitu :

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. (QS. At-Taubah : 36)

Namun ada yang mengatakan bahwa ayat pedang adalah ayat berikut ini :

فَإِذَا انسَلَخَ الأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُواْ الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُواْ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَخَلُّواْ سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 5)

Catatan

Di masa Rasulullah SAW, semua kebijakan jihad dan damai itu umumnya dilihat dari kacamata masyarakat Madinah. Sementara para shahabat hidup menyebar bukan hanya di Madinah saja, tetapi di berbagai kota dan negeri.

Seringkali kebijakan yang diambil oleh Rasulullah SAW hanya bersifat lokal Madinah saja, namun tidak berlaku untuk para shahabat di Mekkah dan wilayah-wilayah lainnya.  Boleh jadi ketika di Madinah terjadi kewajiban berjihad secara individu, di Mekah dan wilayah lainnya hukum itu justru tidak berlaku. 

Mengapa demikian?

Karena selain terkait dengan hukum syariat, jihad juga terkait dengan kondisi nyata di lapangan. Dimana teknis pelaksanaannya sangat tergantung dengan situasi 'perpolitikan' yang berkembang. Sehingga tidak bisa disamakan secara general di semua wilayah.

Kebijakan perintah jihad umumnya berlaku lokal dan bergantung dengan posisi tawar, pertimbangan untung rugi dan juga nilai-nilai strategis yang lainnya. Oleh karena itulah umumnya di masa awal kenabian, jihad justru diharamkan. Karena secara hitung-hitungan di atas kertas, jihad di masa itu sama sekali tidak efektif, cenderung malah merugikan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kedudukan Hadits Tentang Perselisihan Umat
7 January 2015, 01:00 | Hadits | 12.388 views
Bagaimana Kita Menjamin Keaslian Al-Quran?
6 January 2015, 06:00 | Quran | 23.021 views
Najiskah Tubuh Orang Kafir?
4 January 2015, 03:50 | Thaharah | 12.419 views
Dasar Perintah Memberi Fatwa dan Keutamaannya
2 January 2015, 02:00 | Ushul Fiqih | 5.049 views
Perbedaan Antara Fatwa, Qanun, Qadha dan Ijtihad
1 January 2015, 00:01 | Ushul Fiqih | 39.545 views
Cerai Tanpa Pernah Jima' : Apakah Mahar Harus Dikembalikan?
29 December 2014, 08:14 | Nikah | 25.504 views
Benarkah Orang Yang Punya Hutang Berhak Mendapatkan Zakat?
28 December 2014, 04:17 | Zakat | 21.789 views
Adakah Nabi Perempuan?
27 December 2014, 19:16 | Aqidah | 14.012 views
Kenapa Bahasa Arab Mutlak Diperlukan?
25 December 2014, 04:30 | Ushul Fiqih | 7.776 views
Masa Lalu Calon Isteri Pernah Berzina
24 December 2014, 07:03 | Nikah | 11.602 views
Apakah Agama Kristen Sama Dengan Nasrani?
21 December 2014, 21:01 | Aqidah | 64.383 views
Pakaian Santa Claus Apakah Termasuk Tasyabbuh Yang Diharamkan?
20 December 2014, 06:00 | Aqidah | 14.808 views
Mengucapkan Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain
18 December 2014, 08:07 | Aqidah | 63.077 views
Halalkah Berhaji Dengan Sistem Arisan?
16 December 2014, 06:01 | Haji | 6.058 views
Haramkah Kita Memiliki Pembantu Rumah Tangga?
15 December 2014, 04:49 | Wanita | 13.193 views
Syarat Menjadi Saksi Pernikahan
13 December 2014, 11:07 | Nikah | 71.122 views
Yang Harus Dibunuh Itu Cecak Apa Tokek?
12 December 2014, 05:40 | Kuliner | 97.397 views
Istri Yang Nusyudz Kepada Suaminya
11 December 2014, 06:22 | Nikah | 14.887 views
Setelah Akad Langsung Cerai, Apakah Maharnya Harus Dikembalikan?
10 December 2014, 10:06 | Nikah | 10.869 views
Ijab Kabul Tidak Menyebutkan Mahar, Apakah Sah Hukumnya?
9 December 2014, 19:10 | Nikah | 54.902 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,282,068 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

11-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:47 | Ashar 15:14 | Maghrib 18:04 | Isya 19:18 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img