Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Inovasi dan Perluasan Zakat Modern Ditolak? | rumahfiqih.com

Mengapa Inovasi dan Perluasan Zakat Modern Ditolak?

Thu 22 January 2015 02:00 | Zakat | 7.995 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon maaf sebelumnya kalau pertanyaan saya ini kurang sopan dan kurang hormat. Namun saya butuh sedikit diskusi dengan ustadz dalam masalah ini.

Begini ustadz, kalau saya perhatikan jawaban-jawaban dari ustadz selama ini, khususnya terkait dengan zakat-zakat modern, seperti zakat profesi, zakat perusahaan dan lainnya, saya mendapat kesan yang kuat bahwa ustadz kurang setuju dan tidak sejalan, serta cenderung menolak keberadaan zakat-zakat tersebut.

Saya tahu memang ada khilafiyah besar di tengah ulama, antara yang setuju dan tidak setuju, dan saya menghargai keberpihakan ustadz termasuk yang tidak setuju. Cuma saya punya beberapa hal yang mengganjal dengan pilihan itu.

Kalau kita tidak memperluas sumber-sumber zakat, serta tidak melakukan revisi ulang atas batasan-batasan pada zakat-zakat klasik, maka resikonya penerimaan sumber-sumber zakat akan menurun drastis. Karena zakat akan terkekang dengan aturan-aturan fiqih yang kurang sesuai dengan zamannya.

Dan dampaknya, umat jadi tidak punya kekuatan dana (al-quwwah al-maliyah) yang bisa digunakan untuk dakwah dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan Islam. Bukankah kita sangat membutuhkan dana besar untuk membela agama? Dari mana lagi kita bisa membiayai dakwah ini kalau bukan dari zakat? Apakah kita akan mengharapkan musuh-musuh Islam yang mendanai dakwah ini?

Satu lagi ustadz, bukankah fiqih itu harus dinamis, apa yang diijtihadkan di masa lalu, bisa saja sudah kurang sejalan dengan realitas di zaman sekarang? Apakah sedemikian sempitnya fiqih itu sehingga menolak semua inovasi zakat modern?

Mohon pertimbangan dan analisa syar'i dan waqi'i terhadap masalah zakat yang satu ini, ustadz. Dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas sharing dan diskusinya.

Wassalam
 

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A. Zakat Hanya Salah Satu Instrumen

Sebenarnya saya bukan orang yang menolak pentingnya bersedekah dan saling membantu sesama umat Islam. Selain pahalanya besar, hikmahnya banyak, bersedekah itu tentu akan menjadi pemberat timbangan amal kita nanti di akhirat. Sekaligus juga kita bisa menegakkan dakwah dan membantu umat Islam yang lemah. Sampai disini saya kira kita semua sepakat dan sekata.

Hanya saja yang harus diperhatikan bahwa untuk mendapatkan dana dari umat, tentu tidak harus semuanya dari sumber zakat. Sebab di dalam Syariat Islam ada banyak ibadah yang terkait dengan memberi harta kepada orang lain di luar zakat.

Kita mengenal sedekah atau infaq sunnah, nafkah, mahar, wakaf, hibah, fidyah, kaffarah, cicilan, pinjaman, pembebasan hutang, memelihara anak yatim, membebaskan budak, qurban, aqiqah, dan lainnya.

Tentu menjadi kurang kaffah kalau dalam menjalankan agama Islam ini kita hanya berputar-putar di sekitar zakat saja, sedangkan sumber-sumber keuangan yang lain malah kita tinggalkan.

Selain itu, kalau kita pelajari secara lebih mendalam, sesungguhnya tiap bentuk ibadah harta itu punya sifat, karakteristik, syarat dan ketentuan yang spesifik, unik dan baku. Dimana kita tidak bisa mengubah segala ketentuan itu dengan seenak perut kita sendiri. Akibatnya jenis-jenis ibadah itu akan menjadi rancu dan malah kehilangan jati dirinya sendiri.

Ibarat perkakas pertukangan yang ada banyak macamnya, kita harus gunakan sesuai dengan kepentingannya. Jangan sampai kita menebang pohon menggunakan pisau dapur. Dan jangan sampai kita memecahkan batu dengan obeng. Kalau pun bisa dan berhasil, namun kurang efektif dan resikonya alat-alat itu malah jadi rusak.

Maka gunakanlah perkakas itu sesuai dengan sifat dan karekter serta kegunaannya. Palu yang kegunaannya untuk memukul pun masih ada banyak jenisnya. Dan belum tentu satu palu cocok untuk memukul sembarang benda.

Demikian juga dengan zakat, tentu zakat hanya salah satu dari instrumen atau perkakas dari sumber-sumber keuangan Islam. Namun kita harus menggunakan fiqih dalam bersikap dan bertindak, jangan paksa zakat untuk mengerjakan hal-hal yang bukan kegunaan dan kemampuannya. 

Semua merupakan jenis ibadah maliyah, yaitu ibadah yang bentuknya memberi atau berbagi harta, yang ditujukan agar bermanfaat buat yang menerima. Umat Islam butuh pembiayaan di segala sektor, mengingat secara umum umat Islam di dunia ini termasuk mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

B. Kelemahan Zakat

Zakat memang sedikit banyak bisa dijadikan alternatif yang menawarkan solusi dari pembiayaan kebutuhan umat. Namun mengingat zakat merupakan syariat yang penuh dengan aturan dan ketentuan syariah yang sulit dilanggar, maka memaksakan zakat untuk menjadi satu-satunya solusi keuangan umat, termasuk perbuatan yang agak memaksakan diri.

Sebagai contoh sederhana, ketika wacana zakat profesi digulirkan oleh para ulama kontemporer, ternyata di sisi lain muncul berbagai resistensi dan keberatan dari sesama ulama yang berpengaruh juga. Sehingga upaya untuk menggalakkan zakat profesi masih tersandung-sandung dengan adanya ikhtilaf secara syar’i yang mengandung dan sekaligus mengundang perdebatan.

1. Sumbernya Terbatas

Zakat punya keterbatasan dalam hal sumbernya, mengingat bahwa tidak semua kekayaan yang dimiliki oleh seseorang termasuk wajib dikeluarkan zakatnya. Bahkan meski nilai nominalnya tinggi, tetapi bila bentuk atau jenis harta itu tidak memenuhi kriteria kewajiban zakat, maka harta itu tidak bisa dipaksa untuk wajib dizakatkan.

a. Hanya Harta Produktif

Seorang yang punya koleksi puluhan mobil mewah yang tidak produktif, meski nilai kekayaannya milyaran, tidak bisa ditarik zakat atas kepemilikannya.

Demikian juga seorang yang punya tanah berhektar-hektar, meski nilai NJOP tanah itu ratusan milyar, selama tidak produktif tanah itu tidak ada kewajiban zakatnya.

Hal ini mengingat bahwa di antara syarat harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah bahwa harta itu bersifat produktif, tumbuh, atau memberikan pemasukan. Istilahnya, harta itu bersifat an-nama’ (النَّمَأ).

b. Hanya Yang Melebihi Kebutuhan Dasar

Para ulama sepakat bahwa hanya orang yang kebutuhan dasarnya telah terpenuhi saja yang wajib membayar zakat. Sebab kewajiban dasar seseorang terlebih dahulu adalah memenuhi kebutuhan dasar atau hajat dasar untuk berlangsungnya kehidupan. Dan hajat itu sering diistilahkan dengan al-hajah al-ashliyah (الحاجة الأصلية).

Mereka yang punya nominal gaji besar, namun punya kewajiban untuk memberi nafkah dasar kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya, tentu belum wajib mengeluarkan zakat. Sehingga zakat profesi tidak berlaku untuknya.

Bila gajinya 3 juta, tetapi punya 4 istri dan dari masing-masing istri lahir 12 anak, maka mulut yang wajib diberi makan tidak kurang dari 52 buah, plus satu yaitu mulutnya sendiri. Gaji yang 3 juta itu jelas tidak akan cukup sekedar buat makan saja, belum lagi urusan sewa rumah, listrik, air, ongkos transportasi dan seterusnya. Alih-alih punya kelebihan, yang terjadi justru tombok. Pertanyaannya, apakah orang seperti itu mau diwajibkan untuk membayar zakat profesi?

c. Hanya Harta Pribadi

Dalam syariat Islam, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya hanya harta yang dimiliki oleh orang per orang, atau harta milik pribadi. Sedangkan harta milik publik, dimana pemiliknya adalah sejumlah orang tanpa jelas prosentase kepemilikannya, tidak wajib dizakatkan.

Bahkan sebuah perusahaan tidak wajib untuk membayar zakat, sebab pemilik perusahaan itu bisa saja orang yang tidak wajib membayar zakat, karena kekafirannya. Dalam hal ini, yang bayar zakat setidaknya hanyalah mereka yang muslim yang menjadi pemilik saham di suatu perusahaan. Artinya, yang membayar zakat pada hakikatnya pribadi-pribadi, bukan dalam arti institusi.

d. Harta Yang Dimiliki Secara Sempurna

Hanya harta yang dimiliki secara sempurna saja yang wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan harta yang kepemilikannya tidak sempurna, tidak diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya.

Emas yang dicuri dan tidak lagi jadi disimpan, tentu secara hukum masih menjadi miliknya, kalau ditemukan atau kembali. Tetapi kalau hilang seterusnya, maka pemiliknya sudah tidak perlu lagi mengeluarkan zakatnya.

Demikian juga uang yang dipinjam pihak lain, dan hampir mustahil kembali, maka pemiliknya tidak lagi wajib membayarkan zakatnya.

Termasuk harta yang dimiliki tidak sempurna adalah harta milik negara, sehingga asset-asset milik negara meski pun bersifat produktif, jelas tidak ada kewajiban zakatnya.

e. Hanya yang Bebas Kewajiban Membayar Hutang

Seorang yang punya harta yang telah memenuhi kewajiban untuk membayar zakat, tetapi di sisi lain dia punya kewajiban untuk melunaskan hutangnya, maka yang harus diprioritaskan bukan membayar zakat, melainkan membayar hutang.

Membayar hutang lebih didahulukan dari membayar zakat, bila pilihannya satu di antara keduanya. Bahkan para ulama masih berbeda pendapat atas kewajiban zakat tanaman yang bukan merupakan makanan pokok, seperti petani buah-buahan segar, sayuran, jamur dan sejenisnya. Para ulama juga masih berbeda pendapat tentang kewajiban zakat atas hasil ternak di luar unta, sapi, dan kambing, seperti ternak ikan, kepiting, atau ulat sutera.

2. Alokasinya Terbatas

Di sisi lain, pihak-pihak yang berhak untuk menerima harta zakat pun juga terbatas. Al-Quran hanya membatasi kepada 8 ashnaf saja, yang bila ada usaha untuk meluaskan pengertiannya, selalu akan muncul penentangan dari para ulama.

Hal itu karena Al-Quran menegaskan bahwa alokasi harta zakat itu ditetapkan secara eksklusif.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمـسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالمـؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah : 60)

Yang pasti dana zakat tidak dibenarkan begitu saja digunakan untuk membangun masjid, mushalla, pesantren, sekolah, dan sejenisnya, kecuali dengan jalan ijtihad yang tentu akan segera menimbulkan perdebatan fiqih.

Dana zakat juga tidak dibenarkan bila diserahkan kepada anak-anak yatim atau para janda, kecuali bila mereka memang masuk dalam kategori miskin atau fakir.

3. Pengelolaannya Terbatas

Ketika dana zakat yang terkumpul untuk dialokasikan kepada mereka yang berhak, maka akan muncul kendala bila harta itu terlebih dahulu dikelola dengan cara diinvestasikan agar menjadi dana abadi. Apakah secara fiqih hal itu dibenarkan? Bukankah harta zakat itu sifatnya harus diserahkan apa adanya kepada para mustahiq-nya, ketimbang ditahan-tahan untuk diputar atau diinvestasikan?

Pendek kata, secara hukum fiqih, banyak pendapat yang melarang pihak amil zakat untuk mengelola dana zakat sebagai bentuk perputaran uang dan sejenisnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tujuh Wanita Yang Jadi Mahram Karena Sebab Persusuan
20 January 2015, 02:22 | Nikah | 8.784 views
Batalkah Wudhu Kita Bila Makan Daging Unta?
19 January 2015, 04:19 | Thaharah | 10.420 views
Sepuluh Kriteria Yang Perlu Dipertimbangkan Ketika Memilih Istri
18 January 2015, 04:37 | Nikah | 35.067 views
Bolehkah Melihat Langsung Calon Istri Dan Bagaimana Teknisnya?
17 January 2015, 16:00 | Nikah | 22.253 views
Apakah Shalat Harus Pakai Sutrah?
16 January 2015, 18:00 | Shalat | 29.751 views
Haruskah Mata Kaki Jamaah Saling Menempel Sepanjang Shalat?
15 January 2015, 09:06 | Shalat | 29.390 views
Manusia Berasal dari Kera?
14 January 2015, 08:40 | Aqidah | 34.081 views
Menjama' Shalat Karena Hujan, Bolehkah?
13 January 2015, 06:15 | Shalat | 11.484 views
Membersihkan Diri dengan Kertas Toilet
12 January 2015, 03:59 | Thaharah | 10.375 views
Apakah Isteri Kedua Dapat Warisan?
11 January 2015, 03:31 | Mawaris | 8.243 views
Shalat Fardhu di Atas Kendaraan, Apakah Sah Hukumnya?
10 January 2015, 06:04 | Shalat | 24.111 views
Proses Pensyariatan Jihad Dalam Islam
9 January 2015, 04:07 | Negara | 9.093 views
Kedudukan Hadits Tentang Perselisihan Umat
7 January 2015, 01:00 | Hadits | 12.388 views
Bagaimana Kita Menjamin Keaslian Al-Quran?
6 January 2015, 06:00 | Quran | 23.021 views
Najiskah Tubuh Orang Kafir?
4 January 2015, 03:50 | Thaharah | 12.418 views
Dasar Perintah Memberi Fatwa dan Keutamaannya
2 January 2015, 02:00 | Ushul Fiqih | 5.049 views
Perbedaan Antara Fatwa, Qanun, Qadha dan Ijtihad
1 January 2015, 00:01 | Ushul Fiqih | 39.544 views
Cerai Tanpa Pernah Jima' : Apakah Mahar Harus Dikembalikan?
29 December 2014, 08:14 | Nikah | 25.504 views
Benarkah Orang Yang Punya Hutang Berhak Mendapatkan Zakat?
28 December 2014, 04:17 | Zakat | 21.789 views
Adakah Nabi Perempuan?
27 December 2014, 19:16 | Aqidah | 14.011 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,279,809 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

11-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:47 | Ashar 15:14 | Maghrib 18:04 | Isya 19:18 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img