Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Memakan Hewan Yang Mati Oleh Hewan Pemburu | rumahfiqih.com

Hukum Memakan Hewan Yang Mati Oleh Hewan Pemburu

Tue 3 February 2015 10:43 | Kuliner | 10.708 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dimuliakan Allah SWT, mohon izin bertanya masalah kehalalan hewan.

Saya ingin bertanya tentang hukum memakan binatang hasil buruan. Misalnya rusa yang diburu oleh anjing. Apakah halal dimakan, padahal hewan mati disebabkan oleh terkaman hewan yang buas yang memangsanya? Apakah tidak najis atau jadi bangkai?

Terimakasih

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A. Halalnya Hewan Hasil Buruan

Berburu hewan untuk dimakan dagingnya telah dibolehkan hukumnya untuk dilakukan oleh seorang baik di dalam Al-Quran maupun di dalam As-Sunnah An-Nabawiyah.

Dan hewan yang mati dengan cara diburu halal hukumnya, meski tidak lewat penyembelihan sebagaimana yang kita kenal. Karena berburu itu sendiri sama hukumnya dengan penyembelihan yang masryu’.

B. Berburu Menggunakan Hewan

Selain menggunakan senjata, berburu juga bisa menggunakan hewan pemburu. Tentunya hewan pemburu adalah hewan yang buas dan punya kemampuan dasar berburu. Hewan-hewan jinak atau ternak biasanya tidak punya kemampuan itu.

Yang dimaksud dengan berburu dengan hewan pemburu adalah membunuh hewan buruan itu dengan dikejar dan diterkam mati oleh hewan pemburu. Jadi intinya, hewan yang diburu itu memang mati semata-mata oleh sebab dilukai dan diterkam oleh hewan pemburu.

Fungsi dan peran hewan pemburu itu memang untuk membunuh buruannya, dan bukan sekedar untuk menangkap hidup-hidup lalu disembelih oleh manusia. Dan hukum memakan hasil buruan ini halal dimakan dalam pandangan syariat, sehingga sudah tidak perlu lagi dilakukan penyembelihan.

C. Kebolehan Hewan Buas Untuk Berburu

Adapun dasarnya kebolehan berburu dengan menggunakan hewan pemburu seperti anjing dan lainya adalah firman Allah SWT :

فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Makanlah hewan yang diburu oleh hewan pemburu untukny dan sebutlah nama Allah (ketika melepas hewan pemburu). (QS. Al-Maidah : 4)

Meski hewan buas itu haram dimakan dan air liurnya termasuk najis, namun syariat Islam membolehkan kita berburu dengan menggunakan jasa dari hewan buas.

D. Hewan Untuk Berburu

Hewan yang digunakan untuk berburu dalam istilah fiqih disebut dengan beberapa istilah yang berbeda namun saling terkait. Di antaranya adalah al-muallam (المعلّم), al-jawarih (الجوارح) dan al-mukallab (المكلَّب).

1. Al-Muallam

Asal kata al-muallam (المعلّم) adalah isim maf'ul dari kata 'allama - yu'allimu (علَّمّ - يُعّلِّمُ) yang salah satu maknanya adalah mengajarkan. Maka kata al-mu'allam berarti yang diajarkan, dan dalam hal ini maksudnya adalah hewan yang digunakan untuk berburu sudah diajarkan sedemikian oleh pelatihnya sehingga memenuhi semua syarat untuk berburu secara syar'i.

2. Al-Jawarih

Kata al-jawarih (الجوارح) adalah bentuk jamak dari al-jarihah (الجارحة). Asal katanya adalah al-jarh (الجرح) yang bermakna luka. Hewan yang digunakan untuk berburu disebut al-jarihah atau al-jawarih karena dia melukai mangsanya hingga mati.

3. Al-Mukallab

Istilah ketiga adalah dan al-mukallab (المكلَّب). Asal katanya dari kalb (كلب) yang makna asli adalah anjing. Tetapi yang dimaksud disini bukan sebatas hanya anjing, tetapi juga hewan-hewan lainnya yang bisa berburu. 

E. Syarat Pada Pengguna Hewan

Syarat yang paling utama dalam hal berburu dengan menggunakan hewan pemburu pihak pemburunya sendiri. Syarat yang berlaku dalam hal ini, tuannya harus seorang muslim, atau setidak-tidaknya dia seorang ahli kitab, baik memeluk agama Kristen dan Yahudi.

Bila hewan itu tanpa dikomando telah melakukan perburuan sendiri, meski tidak dimakannya, tetap saja hasil buruannya itu haram dimakan.

Sebaliknya, meski hewan itu berburu lewat perintah tuannya, tapi bila tuannya bukan seorang muslim atau ahli kitab, tetap saja hewan buruan itu haram dimakan.

Dasar dari syarat ini dari firman Allah SWT di dalam Al-Quran Al-Kariem surat Al-Maidah :

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ

Sembelihan ahli kitab itu halal bagimu dan sembelihanmu halal bagi mereka. (QS. Al-Maidah : 5)

Meski ayat ini bicara tentang sembelihan, namun menurut para ulama, ayat ini juga mencakup masalah berburu hewan menggunakan hewan pemburu.

F. Syarat Hewan Pemburu

Syarat dan ketentuan yang berlaku sebagai hewan pemburu yang harus dipenuhi dalam syariat Islam, antara lain :

1. Hewan Pemburu Harus Terlatih

Di dalam istilah Al-Quran, istilahnya adalah mu’allam (مُعُلُّم), artinya hewan itu sudah diajarkan tata cara berburu dan terlatih untuk melakukanya dengan benar, serta taat dan patuh pada perintah pemiliknya.

Dasar dari syarat ini adalah firman Allah SWT :

وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ

Dan hewan-hewan yang kamu ajarkan (QS. Al-Maidah : 4)

Dan juga didasarkan kepada hadits nabi SAW :

مَا صِدْتَ بِكَلْبِكَ الْمُعَلَّمِ فَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُل وَمَا صِدْتَ بِكَلْبِكَ غَيْرِ مُعَلَّمٍ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُل

Hewan-hewan yang kamu buru dengan menggunakan anjingmu yang terlatih dan melafazkan nama Allah, makanlah. Sedangkan hewan-hewan yang kamu buru dengan menggunakan anjingmu yang belum terlatih, bila kamu dapati maka sembelihlah dan makanlah. (HR. Bukhari Muslim)

Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menyebutkan bahwa bila bahwa syarat dari hewan yang terlatih adalah bila diperintah, dia mengerjakan. Sebaliknya, bila dilarang, dia pun tidak mengerjakan.[1]

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menambahkan lagi syaratnya, yaitu bila hewan itu memburu hewan lain, tidak sama sekali tidak ikut memakan hewan buruannya itu. Hal itu didasari oleh hadits nabi :

إِلاَّ أَنْ يَأْكُل الْكَلْبُ فَلاَ تَأْكُل فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ

Kecuali bila anjing pemburu itu ikut memakannya, maka janganlah kamu makan (hewan burua itu), sebab aku khawatir anjing itu berburu untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari)

Namun syarat ini tidak berlaku bila hewan pemburunya berupa burung pemburu, karena sulitnya mengajarkan hal itu. Syarat ini juga tidak termasuk bila hewan pemburu itu meminum darahnya tapi tidak memakan dagingnya. Maksudnya, bila hewan pemburu itu hanya meminum darah korbannya tanpa memakan dagingnya, maka hewan buruan itu masih halal untuk dimakan manusia.

2. Kulit Buruan Harus Luka dan Terkoyak

Syarat kedua dalam masalah ini adalah dari segi teknik membunuh, yaitu hewan pemburu itu harus dapat sampai mengoyak kulit hewan buruannya, sehingga dari lukanya itu keluar darah segar. Dan matinya hewan buruan itu semata-mata karena luka dan kehabisan darah.

Posisi letak luka yang mengeluarkan darah segara itu sendiri tidak harus di leher seperti ketika menyembelih. Posisinya bisa dimana saja dari tubuhnya. Sebab intinya bagaimana caranya agar hewan buruan itu mati karena kehabisan darah, akibat keluar lewat luka-luka yang menganga.

Maka bila hewan buruan itu ditemukan mati setelah diburu dan dikejar-kejar, tetapi tidak ada luka menganga dan tidak ada darah yang keluar, berarti boleh jadi hewan itu mati oleh sebab lain. Hewan buruan yang terbukti mati karena tercekik, terantuk batu, jatuh dari ketinggian, atau luka dalam, terpukul, terbanting dan sebagainya, maka hukumnya tidak halal dimakan. Dan statusnya adalah bangkai. Baik hal itu disebabkan atau dikerjakan oleh hewan pemburu atau pun hewan itu mengalami sendiri.

Syarat ini diajukan oleh Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah secara resmi, dan juga oleh sebagian dari para ulama di dalam lingkup mazhab As-Syafi’iyah. Istilahnya versi muqabilul adhzar.

Sedangkan versi al-ahdzhar dari mazhab As-Syafi’iyah tidak mensyaratkan masalah ini. Demikian juga pendapat Abu Yusuf yang termasuk berada di dalam jajaran para ulama dari mazhab Al-Hanafiyah, tidak mengajukan syarat ini. Dasar pendapat mereka adalah umumnya ayat, dimana Allah SWT mempersilahkan kita makan dari apa yang diburu oleh hewan pemburu, tanpa menyebutkan syarat harus ada luka di tubuh hewan itu yang mengeluarkan darah dan mati karena hal itu.

فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ

Makanlah dari apa yang telah diburu oleh hewan pemburu itu untukmu. (QS. Al-Maidah : 4)

3. Hewan Itu Tidak Berburu Untuk Diri Sendirinya

Syarat kedua adalah hewan itu tidak berburu demi untuk kepentingannya sendiri. Bila hewan itu berburu karena untuk kepentingannya, tanpa disuruh berburu untuk tuannya, maka hasil buruannya itu tidak boleh dimakan, karena hukumnya sama dengan bangkai.

Maka agar hasil buruannya itu halal, ada syarat bahwa pemilik hewan itu harus memberi perintah terlebih dahulu kepada hewan peliharaannya itu untuk berburu.

4. Hewan Itu Tidak Ikut Memakan

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menambahkan lagi syaratnya, yaitu bila hewan itu memburu maka dia tidak sama sekali tidak ikut memakan hewan buruannya itu. Hal itu didasari oleh hadits nabi :

إِلاَّ أَنْ يَأْكُل الْكَلْبُ فَلاَ تَأْكُل فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ

Kecuali bila anjing pemburu itu ikut memakannya, maka janganlah kamu makan (hewan buruan itu), sebab aku khawatir anjing itu berburu untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari)

5. Hewan Itu Tidak Mengerjakan Hal Lain

Syarat yang keempat dari berburu dengan memanfaatkan hewan pemburu adalah ketika diperintah oleh tuannya, hewan itu tidak mengerjakan perbuatan yang lain, tetapi langsung berburu. Syarat ini dinashkan di dalam mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Sebab kalau hewan itu mengerjakan perbuatan yang lain dulu baru berburu, maka langkahnya dalam berburu bukan lagi atas dasar perintah tuannya, melainkan karena keinginannya sediri.

Maka bila setelah diperintah dan dilepakan hewan pemburu itu sempat makan roti terlebih dahulu, atau menunaikan hajatnya seperti kencing atau buang air besar, maka ketika dia meneruskan berburunya, diaggap sudah bukan lagi atas dasar perintah tuannya.

Hal yang sama juga berlaku manakala setelah dilepas tuannya lalu tidak berhasil dan kembali lagi kepada tuannya, lantas tiba-tiba hewan itu kembali lagi mengejar buruannya semula namun tanpa perintah dari tuannya, maka hukumnya hasil buruannya juga tidak halal.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Asy-Syarhul Kabir ma’a Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 2 hal. 103-104

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pernah Mengolok-olok Ayat Al-Quran, Apakah Diterima Taubatnya?
1 February 2015, 18:00 | Aqidah | 5.233 views
Vonis Murtad dan Mahkamah Syari'ah
28 January 2015, 08:24 | Jinayat | 5.888 views
Murtad : Hukuman Dan Konsekuensinya
27 January 2015, 10:21 | Jinayat | 6.587 views
Tiga Jenis Penyebab Murtadnya Seorang Muslim
26 January 2015, 09:19 | Aqidah | 22.129 views
Apakah Penyihir Itu Kafir Dan Wajib Dihukum Mati?
25 January 2015, 08:22 | Jinayat | 5.228 views
Menjual Makanan Tidak Ada Label Halal
23 January 2015, 08:15 | Kuliner | 6.986 views
Mengapa Inovasi dan Perluasan Zakat Modern Ditolak?
22 January 2015, 02:00 | Zakat | 5.075 views
Tujuh Wanita Yang Jadi Mahram Karena Sebab Persusuan
20 January 2015, 02:22 | Nikah | 4.936 views
Batalkah Wudhu Kita Bila Makan Daging Unta?
19 January 2015, 04:19 | Thaharah | 6.134 views
Sepuluh Kriteria Yang Perlu Dipertimbangkan Ketika Memilih Istri
18 January 2015, 04:37 | Nikah | 24.258 views
Bolehkah Melihat Langsung Calon Istri Dan Bagaimana Teknisnya?
17 January 2015, 16:00 | Nikah | 8.806 views
Apakah Shalat Harus Pakai Sutrah?
16 January 2015, 18:00 | Shalat | 19.481 views
Haruskah Mata Kaki Jamaah Saling Menempel Sepanjang Shalat?
15 January 2015, 09:06 | Shalat | 17.255 views
Manusia Berasal dari Kera?
14 January 2015, 08:40 | Aqidah | 17.129 views
Menjama' Shalat Karena Hujan, Bolehkah?
13 January 2015, 06:15 | Shalat | 6.860 views
Membersihkan Diri dengan Kertas Toilet
12 January 2015, 03:59 | Thaharah | 7.720 views
Apakah Isteri Kedua Dapat Warisan?
11 January 2015, 03:31 | Mawaris | 6.167 views
Shalat Fardhu di Atas Kendaraan, Apakah Sah Hukumnya?
10 January 2015, 06:04 | Shalat | 8.593 views
Proses Pensyariatan Jihad Dalam Islam
9 January 2015, 04:07 | Negara | 5.177 views
Kedudukan Hadits Tentang Perselisihan Umat
7 January 2015, 01:00 | Hadits | 9.882 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,740 views