Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan? | rumahfiqih.com

Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan?

Thu 5 March 2015 01:00 | Ushul Fiqih | 14.971 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum Wr Wb

Saya ingin bertanya tentang hukum berijtihad di masa sekarang. Apakah kita dibolehkan untuk melakukan ijtihad di masa sekarang ini? Apakah pintu ijtihad sudah tertutup dan kita hanya boleh melakukan taqlid saja? Bukankah itu malah membuat kita menjadi jumud, ustadz?

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum bicara lebih lanjut terkait pertanyaan Anda ini, ada baiknya kalau kita sepakati terlebih dahulu yang dimaksud dengan ijtihad itu sendiri. Sebab seringkali terjadi kita berdebat tentang hukum suatu masalah, sementara kita belum sepakat batasan dari objek yang kita bicarakan. Maka kalau perdebatan itu sampai tidak jelas ujung pangkalnya, jangan salahkan siapa-siapa.

A. Pengertian Ijtihad

Secara bahasa, kata ijtihad berasal dari kata dasar ijtahada – yajtahidu (اجتهد - يجتهد). Akar katanya bersumber dari tiga huruf hijaiyah, yaitu ja-ha-da (جهد). Di dalam kamus, kata ini bermakna badzlul juhdi (بذل الجهد) yaitu bersungguh-sungguh, atau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Sedangkan secara istilah fiqih, pengertian ijtihad menurut Dr. Alauddin Husein Rahhal, dalam kitabnya, Ma'alim wa Dhawabithul Ijtihad Inda Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Taymiyah, menuliskan tentang definisi ijtihad :

بذْلُ الطاّقةِ مِن الفقِيْهِ فِي تحْصِيلِ حُكْمٍ شرْعِيٍّ وتطْبِيْقِهِ عقْلِيّاً كان أوْ نقْلِيّاً قطْعِيّاً كان أوْ ظنِّيّاً

Mengabiskan segenap kekuatan yang dilakukan seorang ahli fiqih dalam rangka mendapatkan hukum syar'i dan implementasinya, baik secara logika atau naql, dengan hasil yang qathi'i atau zhanni.

B. Peranan Para Mujtahid

Walaupun kita sudah mendapatkan dua warisan yang sangat berharga dari Rasulullah SAW, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, dan kita pun dijamin tidak akan sesat selama masih berpegang teguh pada keduanya, namun bukan berarti siapa saja bisa paham isinya begitu saja dan mengerti hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Disitulah peran ijtihad dari seorang ahli fiqih menjadi sangat dibutuhkan, karena mereka itulah yang mengerti maksud dan tujuan dari ayat-ayat Al-Quran diturunkan. Dan mereka juga yang mengerti isi hadits nabawi sekaligus yang mengerti cara memilah mana hadits shahih dan tidak shahih. Sehingga hukum apa yang dikandung oleh tiap ayat dan hadits itu menjadi jelas di tangan mereka.

Bagaimana para mujtahid ahli fiqih itu bisa mengetahui isi kandungan Al-Quran dan As-sunnah? 

Tentu saja ada ilmunya, bukan cuma satu tetapi sangat banyak. Mulai dari ilmu alatnya yaitu penguasaan sempurna ilmu nahwu, sharaf, balaghah, bayan, badi' dan manthiq. Selain itu seorang mujtahid juga harus menguasai ilmu-ilmu terkait dengan sumber-sumber agama, yang terdiri dari Al-Quran, Hadits, Ijma', Qiyas, Mashalalih Mursalah, Istishhab, Saddu Adz-Dzari'ah, 'Urf, Qaul Shahabi, Syar'i Man Qabalana, Istihsan dan seterusnya.

Dan yang lebih utama lagi, ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid adalah ilmu ushul fiqih. yang di dalamnya terdapat beragam jenis ilmu, seperti nasakh mansukh, 'aam khash, istidlal, hukum taklifi, hukum wadh'i, termasuk juga ilmu qawaid fiqhiyah dan seterusnya.

C. Tergantung Siapa Yang Melakukannya

Yang perlu digaris-bawahi dari pengertian ijtihad di atas adalah faktor siapa yang melakukannya, yaitu seorang mujtahid yang merupakan ahli fiqih.

Tugas berijtihad yang sesungguhnya amat berat ini tidak mungkin dikerjakan oleh sembarang orang. Kita yang tidak punya potongan sebagai mujtahid, tentu saja diharamkan mengerjakan tugas semacam ini. Tugas ini hanya boleh dilakukan oleh mereka yang ekspert, ahli dan pakar yang terdidik dan terlatih secara profesional di bidangnya. Mereka itu kita sebut ahli fiqih.

Sebagai ilustrasi sederhana, setiap pekerjaan membutuhkan tangan-tangan trampil dan terlatih, sesederhana apapun pekerjaan itu. Apalagi untuk pekerjaan yang berat, maka butuh orang ahli di bidangnya.

Membakar sate itu barangkali pekerjaan sepele. Tetai membakar sate tidak akan sempurna, kalau tangan-tangan amatir yang melakukannya. Walau pun hanya membakar sate, tetap saja butuh keahlian. Maksudnya, agar satenya tetap enak dimakan, tidak terlalu gosong tetapi juga tidak keras karena masih mentah.

Apalagi kerja untuk menarik kesimpulan hukum, tentu bukan hal yang sederhana. Pekerjaan seperti itu hanya boleh dilakukan oleh ulama dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mereka yang telah memenuhi syarat sebagai mujtahid. Ada sekian banyak persyaratan, dimana kita-kita ini nyaris tidak masuk hitungan.

Kalau kita ibaratkan dengan dunia kesehatan, ahli fiqih itu ibarat seorang dokter ahli, yang tentunya harus merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran, mulai dari jenjang S-1 sampai S-3.

Meski menolong orang sakit itu sebuah ibadah yang mendatangkan pahala dan disunnahan kepada setiap orang, namun mengobati orang sakit tidak boleh dikerjakan oleh sembarang orang. Karena ilmu kesehatan itu amat komplek dan rumit, membutuhkan keahlian di atas rata-rata.

Sejak dari menjadi calon mahasiswa Fakultas Kedokteran, sudah ada seleksi ketat. Hanya mereka yang tahan begadang untuk belajar berjam-jam dan mereka yang benar-benar siap mental saja, yang berani mendaftarkan diri. Mereka yang etos belajarnya lemah dan terbelakang, biasanya sejak awal sudah menghindari jauh Fakultas Kedokteran.

Kenyataannya, kuliah di Fakultas Kedokteran itu memang teramat berat. Tidak semua lulusan SMU dan sederajat boleh berhayal bisa masuk fakultas ini. Para calon dokter itu kadang harus mengikuti berbagai macam perkuliahan dan praktek yang amat tidak manusiawi, seperti membedah mayat dan sebagainya.

Lulus dari Fakultas Kedokteran, tidak lantas sudah boleh praktek. Masih ada sekian banyak proses lain yang wajib diikuti, sampai akhirnya resmi diberi izin praktek.

Demikian juga dengan ahli fiqih, mereka hanya berjumlah beberapa gilintir orang saja di tiap-tiap zamannya. Mereka adalah orang-orang langka yang hidup di masing-masing zamannya. Hal itu karena pekerjaan mereka hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang amat terdidik dan terlatih secara ketat.

D. Bolehkah Kita Berijtihad?

Jadi kalau pertanyaannya bolehkah kita berijtihad hari ini? Tentu jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Yang penting bukan hari ini atau zaman dulu, tetapi siapa yang berijtihad. Kalau yang melakukannya seorang ahli ijtihad yang ilmunya mumpuni, tentu saja boleh, malah wajib hukumnya. Meskipun sang mujtahid itu hidup di zaman sekarang.

Sebaliknya, meskipun hidup bersama Nabi SAW di Madinah, kalau dia bukan mujtahid dan tidak memiliki syarat-syarat sebagai mujtahid, tentu saja haram hukumnya berijtihad. Sebab orang yang tidak punya kapasitas untuk berijtihad, kalau ijtihadnya benar tetep tidak boleh diikuti. Apalagi kalau ijtihadnya salah, lebih haram lagi untuk diiikuti.

Berbeda dengan mujtahid betulan, kalau pun salah dalam berijtihad, dia tidak berdosa dan tetap mendapat pahala meski hanya satu. Dan kalau ijtihadnya benar, dia mendapat dua pahala sekaligus.

Jadi, boleh atau tidaknya berijtihad itu tidak ditentukan berdasarkan kapan dilakukan ijtihad, zaman dahulu atau zaman sekarang. Tetapi berdasarkan siapa yang melakukan ijtihad itu, apakah dia orang yang memenuhi syarat sebagai mujtahid atau bukan?

E. Pintu Ijtihad Tidak Pernah Tertutup

Pintu ijtihad di hari ini tidak tertutup, besok dan sampai kiamat pun tidak akan pernah ditutup. Pendeknya selama masih ada kehidupan di muka bumi ini, pintu ijtihad masih terbuka lebar. Tetapi yang harus diketahui dan dicamkan baik-baik, tidak mentang-mentang pintu ijtihad masih terbuka lebar, lantas siapa saja boleh masuk ke dalamnya. Tentu saja tidak boleh begitu.

Yang boleh melalui pintu ijtihad itu hanya para mujtahid saja. Sebab kalau siapa pun orang masuk ke dalamnya, maka hasilnya pasti akan acak-acakan. Ibaratnya rumah sakit, yang bekerja di dalamnya harus dokter yang punya izin praktek resmi dan sah, bukannya malah rombongan dukun dan tukang santet yang meracau mengaku-ngaku sebagai ahli dalam pengobatan.

Kalau yang mau masuk hanya dukun dan tukang santet, tentu saja pintu rumah sakit tertutup rapat-rapat. Tetapi kalau dokter spesialis, tentu saja kedatangannya ditunggu-tunggu pasien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe
4 March 2015, 10:00 | Kuliner | 6.140 views
Hukum Jual Beli Padi Non Tunai
3 March 2015, 06:40 | Muamalat | 4.803 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Hukum Qishash dan Perbedaannya Dengan Jinayat dan Hudud
2 March 2015, 06:40 | Jinayat | 14.457 views
Sudah Mampu Tapi Tidak Mendaftar Haji : Kafirkah?
1 March 2015, 23:45 | Haji | 5.359 views
Bolehkah Makan dan Minum di dalam Masjid?
27 February 2015, 10:13 | Kuliner | 21.894 views
Benarkah Riba Tidak Haram Kalau Tidak Berlipat Ganda?
26 February 2015, 06:18 | Muamalat | 6.902 views
Bolehkah Jual Barang Secara Kredit Seperti Ini?
25 February 2015, 10:24 | Muamalat | 8.015 views
Menjawab Tuduhan Kejamnya Syariat Islam
23 February 2015, 01:00 | Jinayat | 7.524 views
Perbedaan Antara Ghanimah, Fai, Jizyah, Nafl dan Salab
22 February 2015, 06:01 | Umum | 31.636 views
Perbedaan Tanda Baca Dua Mushaf, Apakah Bukti Al-Quran Dipalsukan?
20 February 2015, 01:00 | Quran | 7.376 views
Empat Pertanyaan Terkait Ijab Kabul Dalam Pernikahan
19 February 2015, 01:00 | Nikah | 48.817 views
Apakah Haram Bila Meminta Mahar Yang Mahal?
18 February 2015, 01:00 | Nikah | 9.219 views
Diundang Pernikahan Tetapi Tidak Hadir, Berdosakah?
17 February 2015, 00:01 | Nikah | 10.436 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
16 February 2015, 17:52 | Aqidah | 6.890 views
Judi Yang Terlanjur Dianggap Bukan Judi
14 February 2015, 02:00 | Muamalat | 5.560 views
Perbuatan Apa Saja Yang Berakibat Batalnya Shalat Kita?
12 February 2015, 09:30 | Shalat | 78.689 views
Haramkah Perabotan Rumah Tangga Yang Terbuat Dari Emas Perak?
10 February 2015, 05:01 | Kuliner | 5.119 views
Haram Bermazhab Karena Taqlid Buta dan Memecah Belah?
9 February 2015, 10:04 | Ushul Fiqih | 13.107 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Mati Syahid?
8 February 2015, 10:00 | Umum | 16.400 views
Benarkah Ahli Waris Belum Tentu Menerima Harta Waris?
7 February 2015, 19:50 | Mawaris | 4.475 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,184 views