Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kenapa Imam As-Sudais Membaca Basmalah Dengan Keras? | rumahfiqih.com

Kenapa Imam As-Sudais Membaca Basmalah Dengan Keras?

Thu 2 April 2015 05:45 | Shalat | 27.524 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya ingin bertanya terkait dengan masalah bacaan lafadz bismillahirrahmanirrahim dalam shalat.  Hal ini saya tanyakan karena baru-baru ini saya dikirimi video rekaman saat kedatangan imam masjid Al-Haram As-Sudais ke Indonesia. Saya agak kaget juga. Dalam tayangan itu ternyata beliau yang biasanya mengimami tidak membaca bismillah dengan keras, kali ini membacanya dengan sangat keras.

Saya belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Beberapa kali saya berkesempatan shalat di masjid Al-Haram Mekkah, belum pernah saya dengar imam-imamnya membaca basmalah dengan keras. Teman-teman saya juga bilang tidak pernah mendengar imam-imam di masjid Al-Haram mengeraskan bacaan basmalah.

Yang menjadi pertanyaan saya sebagai berikut :

1. Apakah yang dilakukan oleh Imam As-Sudais ini bisa dikategorikan talfiq antar mazhab? Bolehkah seseorang pindah mazhab dengan alasan kompromi dengan tuan rumah atau berbasa-basi diplomasi, padahal apa yang dilakukannya berbeda dengan keyakinannya?

2. Mohon ustadz jelaskan perbedaan pendapat para ulama dalam masalah bacaan basmalah dalam shalat, apakah memang yang benar itu tidak dibaca sama sekali, atau dibaca tetapi sirr, ataukah dibaca dengan keras (jahr). Manakah pendapat yang paling benar dalam hal ini?

Itu saja yang kami tanyakan semoga ustadz berkenan memberikan pencerahan kepada kami. Dan sebelumnya kami ucapkan jazakallahu khairan katsira.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya dalam catatan database kami, pertanyaan seperti ini sudah pernah dibahas, bahkan sampai dua kali. Tetapi karena pertanyaanya agak lebih spesifik, maka meski ada kemiripan dengan jawaban sebelumnya, tetap kami jawab.

A. As-Sudais Mengeraskan Basmalah

Apa yang dilakukan oleh Imam Masjid Al-Haram Mekkah sesungguhnya wujud dari keluasan dan kedalam ilmu syariah yang beliau miliki. Perlu diketahui bahwa beliau bukan hanya sekedar hafal Al-Quran 30 juz dan enak bacaannya, tetapi yang harus diketahui beliau juga seorang doktor dalam bidang ushul fiqh. Ilmunya sangat luas dan pemahaman beliau atas fiqih perbedaan mazhab pun sudah matang.



Meski beliau tinggal dan tumbuh belajar agama di Saudi Arabia yang notabene akar mazhabnya adalah Hambali, namun tidak mentang-mentang jadi Imam Masjid Al-Haram lantas beliau jadi arogan dan memaksakan pendapatnya sendiri. Apalagi ketika beliau mengadakan kunjungan ke negeri-negeri lain yang kebetulan akar mazhabnya agak berbeda. Maka beliau melakukan yang paling tepat, yaitu menyesuaikan diri dengan apa yang dianut oleh umumnya bangsa tersebut.

Ketika berkunjung ke Indonesia, beliau tahu persis bahwa rata-rata bangsa Indonesia ini terdidik secara akar fiqihnya dalam mazhab Asy-Syafi'i. Maka apa yang dianut oleh bangsa ini dalam masalah menjaharkan bacaan basmalah itu sangat beliau hormati. Kalau biasanya di Masjidilharam beliau tidak menjaharkan basmalah, kali ini untuk menghormati dan mengapresiasi bangsa Indonesia yang bermazhab Asy-syafi'i, maka sangat terpuji bila beliau menjaharkannya.

Apakah Termasuk Talfiq?

Secara bahasa apa yang beliau lakukan memang termasuk talfiq, yaitu mencampur aduk mazhab. Sebab dalam mazhab orang Saudi yang rata-rata menganut mazhab Al-Hanabilah, basmalah tetap dibaca tetapi dengan suara lirih (sirr) dan tidak dikeraskan.

Namun talfiq yang beliau lakukan termasuk jenis talfiq yang mulia dan terpuji. Kita harus tahu bahwa tidak semua talfiq ini salah. Ada juga talfiq yang hukumnya boleh, wajib dan juga bahkan mulia dan terpuji. Apalagi yang melakukannya adalah ulama yang ilmunya sudah mencukupi, sehingga talfiq yang dilakukan bukan termasuk talfiq yang keliru.

Tetapi karena sepanjang hidupnya beliau selalu menjalani mazhab Al-Hanabilah, maka dalam rekaman video itu beliau mungkin agak 'terlupa'. Sebab pada rakaat kedua beliau kembali membaca dengan sirr seperti kebiasaannya sehar-hari, meski tetap terdengar di pengeras suara.

Tetapi intinya, apa yang beliau perlihatkan adalah wajah persahabatan, bukan wajah permusuhan. Sebab meski beda mazhab, tetapi semua pasti benar dan tidak ada yang salah.

B. Perbedaan Pendapat Tentang Mengeraskan Basmalah Dalam Shalat

Terkait dengan surat Al-Fatihah, sering menjadi perdebatan orang-orang awam tentang bacaan basmalah (bismillahirrahmanir-rahim) di dalam surat Al-Fatihah. Ada sebagian orang yang tidak membaca basmalah saat membaca surat Al-Fatihah, dan hal itu menjadi bahan perdebtan yang tidak ada habisnya.

Masalah ini kalau kita mau runut ke belakang, ternyata berhulu dari perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah lafadz basmalah itu bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan. Sebagian ulama mengatakan basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, dan sebagian yang lain mengatakan bukan.

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Kalau pun kita membacanya di awal surat Al-Fatihah, kedudukannya sunnah ketika membacanya.

Namun mazhab ini tetap mengatakan bahwa bacaan basmalah pada surat Al-Fatihah sunnah untuk dibaca, dengan suara yang sirr atau lirih.

As-Sarakhsi (w. 483 H) di dalam kitabnya Al-Mabsuth menuliskan sebagai berikut :

والمسألة في الحقيقة تنبني على أن التسمية ليست بآية من أول الفاتحة ولا من أوائل السور عندنا

Dan masalahnya pada dasarnya dibangun di atas logika bahw basmalah itu bukan ayat pertama dari surat Al-Fatihah dan juga bukan ayat pertama dari surat-surat menurut kami. [1]

Al-Kasani (w. 587 H) menuliskan di dalam kitab Badai' As-Shanai' sebagai berikut : jilid 1 hal. 203

فعند أصحابنا ليست من الفاتحة ولا من رأس كل سورة

Menurut ulama kami basmalah itu bukan termasuk surat Al-Fatihah dan juga bukan termasuk awal dari surat.[2]

Al-Marghinani (w. 593 H) di dalam kitab Al-Hidayah fi Syarhi Bidayah Al-Mubtadi menuliskan sebagai berikut 1 - 49

ويقرأ بسم الله الرحمن الرحيم هكذا نقل في المشاهير ويسر بهما

Dan membaca bismillahirrahmanirrahim -demikian dinaqal dalam al-masyahhir- dengan melirihkannya.[3]

Ibnu Najim (w. 970 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قوله وسمى سرا في كل ركعة أي ثم يسمي المصلي بأن يقول: بسم الله الرحمن الرحيم هذا هو المراد بالتسمية هنا

(Qauluhu : dan bertasmiyah secara sirr di setiap rakaat) Orang yang shalat membaca bismilillahirrahmanirrahim. Dan itulah yang dimaksud dengan tasmiyah disini.[4]

b. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah.

Al-Imam Malik (w. 179 H) menuliskan pendapatnya di dalam kitabnya Al-Mudawwanah sebagai berikut :

وقال مالك: لا يقرأ في الصلاة بسم الله الرحمن الرحيم في المكتوبة لا سرا في نفسه ولا جهرا

Al-Imam Malik berkata,"Di dalam shalat tidak perlu membaca bismillahirrahmanirrahim, yaitu dalam shalat fardhu, tidak sir dalam hati dan tidak jahr. [5]

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) di dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut : 1 - 201

ولا يقرأ فيها بسم الله الرحمن الرحيم لا سرا ولا جهرا وهو المشهور عن مالك وتحصيل مذهبه عند أصحاب

Dan tidak membaca bismillahirrahmanirrahim baik secara sir atau jahr. Dan itulah yang masyhur dari Imam Malik dan mazhabnya. [6]

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُول اللَّهِ  وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ فَكَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلاَ يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّل قِرَاءَةٍ وَلاَ فِي آخِرِهَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,”Aku shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahuanhum. Mereka memulai qiraat dengan membaca Al-Hamdulillahirabbil ‘alamin, dan tidak membaca bismillahirramanirrahim di awal qiraat atau di akhirnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada satu pendapat di kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah yang membolehkan seseorang membaca basmalah di dalam Al-Fatihah, namun khusus untuk shalat sunnah dan bukan shalat wajib.

c. Mazhab As-Syafi'iyah

Menurut mazhab As-Syafi'iyah, lafaz basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah.

Asy-Syairazi (W. 476 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut 1 - 138

ويجب أن يبتدئها بسم الله الرحمن الرحيم فإن آية منها والدليل عليه ما روت أم سلمة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فعدها آية منها ولأن الصحابة رضي الله عنهم أثبتوها فيما جمعوا من القرآن فيدل على أنها آية منها فإن كان في صلاة يجهر فيما جهر بها كما يجهر في سائر الفاتحة

Wajib untuk memulai Al-Fatihah dengan bismillahirrahmanirrahim, karena merupakan salah satu ayatnya. Kalau shalatnya jahr, maka basmalah dibaca jahr juga sebagaimana ayat lainnya.[7]

An-Nawawi (w. 676 H) menuliskan di dalam kitabnya Raudatu Ath-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin sebagai berikut : 1 - 242

فرع: (بسم الله الرحمن الرحيم) آية كاملة من أول الفاتحة بلا خلاف، وأما باقي السور، سوى (براءة) فالمذهب أنها آية كاملة من أول كل سورة أيضا

Bismillahirrahmanirrahim adalah ayat yang sempurna yang merupakan ayat pertama dari Al-Fatihan tanpa adanya perbedaan pendapat. Sedangkan pada surat-surat lainnya kecuali Baraah menurut mazhab juga termasuk ayat sempurna dari awal tiap surat.[8]

Al-Haitami (w. 974 H) menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj sebagai berikut :

والأصح أنها آية كاملة من أول كل سورة

Yang lebih shahih bahwa basmalah itu adalah ayat yang sempurna pada tiap awal surat. [9]

Dalilnya adalah hadits berikut ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  إِذَا قَرَأْتُمْ الفَاتِحَةِ فَاقْرَءُوا ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) فَإِنَّهَا إِحْدَى آيَاتِهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila kamu membaca surat Al-Fatihah, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena bismillahir rahmanirrahim adalah salah satu ayatnya". (HR. Ad-Daruquthuny).

فَاتِحَةُ الْكِتَابِ سَبْعُ آيَاتٍ إِحْدَاهُنَّ : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Fatihatul-kitab (surat Al-Fatihah) berjumlah tujuh ayat. Ayat pertama adalah bismillahirrahmanirrahim. (HR. Al-Baihaqi)

عَنْ عَلِيٍّ t كَانَ إِذَا افْتَتَحَ السُّورَةَ فِي الصَّلاَةِ يَقْرَأُ : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu, beliau berkata,"Rasulullah SAW memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmanirrahim.

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah. Dan dalam kitab Al-Majmu' ada enam orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah.[10]

d. Mazhab Al-Hanabilah

Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr). Bila kita perhatikan imam Al-Masjidil Al-haram di Mekkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya. Umumnya orang-orang disana bermazhab Hanbali.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut : jilid 1 hal. 344

مسألة: قال: (ويبتدئها ببسم الله الرحمن الرحيم) وجملة ذلك أن قراءة (بسم الله الرحمن الرحيم) مشروعة في الصلاة في أول الفاتحة، وأول كل سورة في قول أكثر أهل العلم

Masalah : Beliau berkata : Dan memulainya dengan bismillahirrahmanirrahim. Maka membacanya masyru' di dalam shalat pada awal Al-Fatihah dan awal tiap surat, menurut pendapat kebanyakan ahli ilmu.

مسألة: قال: (ولا يجهر بها) يعني (بسم الله الرحمن الرحيم) ولا تختلف الرواية عن أحمد أن الجهر بها غير مسنون

Masalah : Beliau berkata : Dan tidak menjaharkannya (bismillahirrahmanirrahim). Tidak ada perbedaan riwayat dari Al-Imam Ahmad bahwa menjaharkan tidak disunnahkan. [11]

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] As-Sarakhsi, Al-Mabstuh jilid 1 hal. 15

[2] Al-Kasani, Badai' As-Shanai', jilid 1 hal. 203

[3] Al-Marghinani, Al-Hidayah fi Syarhi Bidayah Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 49

[4] Ibnu Najim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 329

[5] Al-Imam Malik, Al-Mudawwanah,jilid 1 hal. 162

[6] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, jilid 1 hal. 201

[7] Asy-Syairazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 138

[8] An-Nawawi, Raudatu Ath-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin jilid 1 hal. 242

[9] Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj jilid 2 hal. 36

[10] An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 302

[11] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 344 -345

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Berdosakah Seorang Ibu Yang Tidak Membagi Harta Waris Suami Kepada Anak-anaknya?
31 March 2015, 10:53 | Mawaris | 42.521 views
Kapan Laki-laki Boleh Memakai Sutera?
30 March 2015, 09:49 | Umum | 7.002 views
Agar Terbebas Cambuk 80 Kali Karena Terlanjur Menuduh Orang Berzina
29 March 2015, 17:46 | Jinayat | 5.050 views
Kapankah Orang Yang Meninggalkan Shalat Itu Menjadi Kafir?
28 March 2015, 14:53 | Shalat | 17.607 views
Mazhab Manakah Yang Paling Benar Untuk Hari Ini?
26 March 2015, 09:18 | Ushul Fiqih | 19.211 views
Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum?
25 March 2015, 11:22 | Thaharah | 26.259 views
Mana Yang Benar Waktu Shalat, Tangan di Dada Atau di Bawah Dada?
24 March 2015, 10:28 | Shalat | 28.211 views
Benarkah Jumhur Ulama Salaf Sepakat Tarawih 20 Rakaat?
23 March 2015, 10:10 | Shalat | 15.660 views
Mohon Rincian Khilafiyah Najisnya Anjing
20 March 2015, 10:01 | Thaharah | 6.658 views
Shalat Menggunakan Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa
18 March 2015, 05:15 | Shalat | 7.754 views
Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'
17 March 2015, 11:45 | Thaharah | 10.057 views
Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 10.071 views
Sebelas Konsekuensi Jima' Dalam Perspektif Syariah
13 March 2015, 10:45 | Nikah | 10.260 views
Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?
12 March 2015, 03:22 | Nikah | 65.761 views
Bagaimana Cara Membatalkan Baiat Yang Sudah Terlanjur?
11 March 2015, 11:29 | Dakwah | 10.285 views
Ibnu Sabil Sebagai Penerima Zakat
10 March 2015, 06:12 | Zakat | 7.333 views
Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir?
9 March 2015, 11:15 | Jinayat | 5.158 views
Hukum Berburu Hewan, Halal atau Haram?
7 March 2015, 12:30 | Qurban Aqiqah | 11.884 views
Rukun Khutbah Jumat Versi Empat Mazhab
6 March 2015, 09:16 | Shalat | 19.698 views
Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan?
5 March 2015, 01:00 | Ushul Fiqih | 15.141 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,908,968 views