Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berbicara Dalam Shalat, Mana Yang Membatalkan Mana Yang Tidak? | rumahfiqih.com

Berbicara Dalam Shalat, Mana Yang Membatalkan Mana Yang Tidak?

Mon 13 April 2015 11:10 | Shalat | 15.216 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Izinkan saya bertanya terkait masalah shalat dan hukum berbicara di dalamnya. Pembicaraan yang mana yang dianggap membatalkan shalat, padahal kita tahu bahwa shalat itu sendiri terdiri dari gerakan dan bacaan. Mohon rincian penjelasan dari ustadz.

Syukran terima kasih banyak atas penjelasannya.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya shalat itu adalah gabungan dari perkataan dan gerakan. Maka pada dasarnya shalat itu adalah berbicara atau berkata-kata.

Namun yang dimaksud dengan berbicara yang membatalkan shalat maksudnya adalah pembicaraan yang diluar shalat, di antara pembicaraan dengan sesama manusia secara lisan (verbal), di luar dari yang telah ditetapkan sebagai bacaan shalat.

Dasar larangan berbicara di dalam shalat antara lain adalah hadits-hadits berikut ini :

كُنَّا نَتَكَلَّمُ فيِ الصَّلاَةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ مِنَّا صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلىَ جَنْبِهِ حَتَّى نَزَلَتْ: وَقُومُوا للهِ قَانِتِيْنَ فَأُمِرْناَ بِالسُّكُوتِ وَنُهِيْنَا عَنِ الكَلاَمِ

Dari Zaid bin Al-Arqam radhiyallahuanhu berkata,"Dahulu kami bercakap-cakap pada saat shalat. Seseorang ngobrol dengan temannya di dalam shalat. Yang lain berbicara dengan yang disampingnya. Hingga turunlah firman Allah SWT "Berdirilah untuk Allah dengan khusyu". Maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara dalam shalat". (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah)

Selain itu juga ada hadits lainnya :

إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هِيَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيْرُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ

Shalat ini tidak boleh di dalamnya ada sesuatu dari perkataan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa'i dan Abu Daud)

Para ulama memasukkan ke dalam kategori berbicara adalah menjawab sesuatu perkataan, baik perkataan imam dalam bacaannya atau pun perkataan orang lain.

A. Bicara Yang Membatalkan Shalat

Dan termasuk dalam perkara menjawab perkataan orang lain misalnya :

1. Tertawa

Masih dekat dengan berbicara adalah tertawa. Jumhur ulama diantaranya Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa orang yang tertawa dalam shalatnya, maka shalatnya batal.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

الْقَهْقَهَةُ تَنْقُضُ الصَّلاَةَ وَلاَ تَنْقُضُ الْوُضُوءَ

Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tertawa itu membatalkan shalat tapi tidak membatalkan wudhu" (HR.Ad-Daruquthuny)

Namun umumnya para ulama sepakat bahwa batasan tertawa adalah tertawa yang sampai mengeluarkan suara. Sedangkan bila tertawa itu hanya sebatas tersenyum, belumlah sampai batal puasanya.

Mazhab Asy-Syafi'iyah memberikan batasan bila suara tertawa itu melebihi dua huruf, maka shalat itu batal.[1]

2. Mengucapkan Salam dan Menjawabnya

Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka shalatnya batal. Sebab fungsi salam di dalam shalat adalah sebagai penutup dari shalat, sehingga bila penutup itu dilakukan, para ulama mengatakan shalatnya otomatis selesai.

Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa salam adalah hal yang mengakhiri shalat.

عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله  مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطَّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir". (HR. Muslim)

Menjawab shalat memang hukumnya wajib. Tetapi kalau dilakukan ketika shalat, jawaban salam itu membatalkan shalat.

3. Membaca Shalawat

Ketika mendengar nama beliau SAW disebut, memang disunahkan bagi kita untuk membaca shalatwat. Tetapi bil shalawat itu diucapkan di dalam shalat, padahal bukan bagian dari ayat Al-Quran atau tasyahhud, maka termasuk membatalkan.

4. Mendoakan Orang Bersin

Orang yang bersin disunnahkan untuk mengucapkan lafadz alhamdulilah, dan yang mendengar disunnahkan mendoakan dengan lafadz yarhamukallah, lalu yang bersin disunnahkan menjawab dengan lafadz yahdina wa yushlihu balakum.

Akan tetapi manakala semua itu dilakukan di dalam shalat, maka batal shalat mereka.

5. Mengucapkan Shadaqallahul-Adzhim

Sebagian orang ada yang terbiasa membaca lafadz shadaqallahul-adzhim seusai membaca ayat-ayat Al-Quran. Dan sebagian lainnya memakruhkan, karena takut dianggap bagian dari Al-Quran.

Lepas dari perbedaan pendapat di antara mereka, yang pasti bila orang yang sedang shalat mengakhiri bacaan ayat Al-Quran dengan lafadz tersebut, shalatnya batal.

6. Mengucapkan Istirja'

Lafadz istirj’ adalah ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Biasanya kita ucapkan manakala kita menghadapi cobaan, bala’, musibah, kematian dan sebagainya, baik kita langsung yang mengalaminya, atau dialami oleh orang lain.

Tetapi manakala lafadz itu diucapkan pada saat seseorang melakukan shalat, maka shalatnya batal.

7. Suara Tanpa Arti

Dan juga termasuk dikatakan telah berbicara atau berkata-kata adalah apabila seseorang berdehem, mengaduh, menangis, merintih, menguap dan sebagainya, semua itu dilakukan tanpa udzur hingga mengeluarkan suara atau membentuk kata yang terdiri dari 2 huruf atau lebih.

B. Bicara Yang Tidak Membatalkan Shalat

Sedangkan bicara yang tidak termasuk membatalkan shalat antara lain al-fathu dan doa-doa yang kita susun dan dibaca di dalam shalat.

1. Al-Fath

Dibolehkan bagi makmum mengingatkan bacaan ayat Al-Quran yang imam melupakannya. Istilahnya adalah al-fath, yang artinya 'membuka'. Maksudnya, membuka diamnya imam yang lupa atau bingung dengan bacaannya yang tersilap. Asalkan niatnya untuk membaca Al-Quran dan bukan untuk berdialog atau talqin, hukumnya boleh. Bahkan mazhab Asy-syafi'I mewajibkannya.

Dasarnya adalah hadtis berikut :

أَنَّ النَّبِيَّ  صَلىَّ صَلاَةً فَقَرَأَ فِيْهَا فَلَبَسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لأِبيِ: أَصَلَّيْتَ مَعَنَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ: فَمَا مَنَعَكَ ؟

Dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu bahwa Nabi SAW melakukan shalat dan membaca ayat Al-Quran, namun ada yang tersilap. Ketika selesai shalat beliau bertanya kepada Ayahku (Umar bin Al-Khttab),"Apakah kamu shalat bersama kita?". Umar menjawab,"Ya". Nabi bertanya,"Apa yang menghalangimu (dari mengingatkan Aku)?". (HR. Abu Daud)

Namun bila fath itu ditujukan kepada selain imam, maka hukumnya membatalkan shalat.

Al-Fathu adalah istilah yang digunakan di dalam shalat berjamaah, dimana makmum yang berada di belakang imam mengoreksi bacaan atau gerakan imam yang keliru.

Rasulullah SAW mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan

التَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ

Tasbih untuk laki-laki dan bertepuk buat wanita. (HR. Muslim)

Makmum boleh membetulkan bacaan imam yang salah, keliru atau terlupa, dengan bersuara yang sekiranya bisa didengar oleh imam.

Demikian juga makmum boleh menyebut lafadz subhanallah, apabila mengetahui imam bersalah dalam gerakan, seperti hampir mau menambah jumlah rakaat dari empat menjadi lima, atau sebaliknya, belum sampai empat rakaat sudah mau duduk tahiyat akhir.

Ketika makmum mengucapkan tasbih ini, tidak dianggap dia telah batal dari shalatnya. Sebab melakukan fath ini adalah hal yang pernah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

2. Melafadzkan Doa

Melafadz doa tidak membatalkan shalat, karena pada dasarnya shalat itu memang doa. Bahkan di dalam shalat ada posisi tertentu yang memang kita dianjurkan untuk memperbanyak doa.

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعاَءَ

Posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ketika sujud, maka perbanyaklah doa pada waktu sujud (HR. Muslim)

إنِّي نُهِيْتُ أَنْ أَقْرَأَ القُرْآنَ رَاكِعاً أَوْ سَاجِداً َفَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيْهِ الرَّبُ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فيِ الدُّعَاءِ فَقُمن أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan ruku’ atau sujud. Ketika ruku’ agungkanlah Rabb, sedangkan ketika sujud maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim)

Lafadz doa yang paling utama adalah lafadz yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran, kemudian dari sunnah Rasulullah SAW yang ma’tsur. Namun bukan berarti berdoa dengan lafadz yang kita susun sendiri menjadi terlarang.

Meski pun lafadz doa nampak seperti pembicaraan di luar shalat, namun berdoa di dalam shalat dengan lafadz yang kita karang sendiri dibolehkan. Syaratnya doa itu harus berbahasa Arab. Bila doa itu dilakukan dalam bahasa Indonesia atau bahasa selain Arab, maka doa itu termasuk dianggap lafadz di luar shalat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA 

[1] Al-Khatib Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 159

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bisakah Hari Ini Kita Memiliki Budak Dan Menyetubuhinya Tanpa Dinikahi?
10 April 2015, 08:25 | Nikah | 119.761 views
Pernah Khilaf Berzina Dengan Pacar, Apakah Jadi Haram Menikahinya?
9 April 2015, 18:30 | Nikah | 109.799 views
Haruskah Meniatkan Puasa Secara Khsusus Untuk Tiap Hari Puasa Ramadhan?
8 April 2015, 06:20 | Puasa | 8.656 views
Mengapa Rumah Fiqih Selalu Menampilkan Perbedaan Pendapat?
7 April 2015, 05:05 | Ushul Fiqih | 12.110 views
Hukum Membaca Ushalli Dalam Shalat, Bid'ahkah?
6 April 2015, 11:33 | Shalat | 20.266 views
Delapan Perkara Yang Harus Dilakukan Ketika Bertaubat
5 April 2015, 05:15 | Umum | 18.286 views
Bersalaman Seusai Shalat : Antara Boleh Dan Haram, Mana Yang Benar?
3 April 2015, 05:38 | Shalat | 23.041 views
Kenapa Imam As-Sudais Membaca Basmalah Dengan Keras?
2 April 2015, 05:45 | Shalat | 31.769 views
Berdosakah Seorang Ibu Yang Tidak Membagi Harta Waris Suami Kepada Anak-anaknya?
31 March 2015, 10:53 | Mawaris | 59.464 views
Kapan Laki-laki Boleh Memakai Sutera?
30 March 2015, 09:49 | Umum | 9.441 views
Agar Terbebas Cambuk 80 Kali Karena Terlanjur Menuduh Orang Berzina
29 March 2015, 17:46 | Jinayat | 6.548 views
Kapankah Orang Yang Meninggalkan Shalat Itu Menjadi Kafir?
28 March 2015, 14:53 | Shalat | 23.447 views
Mazhab Manakah Yang Paling Benar Untuk Hari Ini?
26 March 2015, 09:18 | Ushul Fiqih | 25.121 views
Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum?
25 March 2015, 11:22 | Thaharah | 40.666 views
Mana Yang Benar Waktu Shalat, Tangan di Dada Atau di Bawah Dada?
24 March 2015, 10:28 | Shalat | 38.527 views
Benarkah Jumhur Ulama Salaf Sepakat Tarawih 20 Rakaat?
23 March 2015, 10:10 | Shalat | 18.877 views
Mohon Rincian Khilafiyah Najisnya Anjing
20 March 2015, 10:01 | Thaharah | 8.690 views
Shalat Menggunakan Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa
18 March 2015, 05:15 | Shalat | 10.270 views
Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'
17 March 2015, 11:45 | Thaharah | 12.624 views
Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 13.488 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 28,898,305 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema