Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Rumah Fiqih Selalu Menampilkan Perbedaan Pendapat? | rumahfiqih.com

Mengapa Rumah Fiqih Selalu Menampilkan Perbedaan Pendapat?

Tue 7 April 2015 05:05 | Ushul Fiqih | 13.115 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

 

Assalamualaikum wr. wb.
Saya adalah pembaca setia situs rumahfiqih.com. Saya merasa banyak mendapatkan manfaat yang mencerahkan dan sekaligus juga sangat menambah wawasan agama Islam. 

Tetapi mohon maaf sebelumnya ustadz, kalau apa yang saya tanyakan agak kurang berkenan tetapi saya mohon pencerahannya. Ada beberapa catatan yang saya buat dan masih agak mengganjal di hati. Untuk itu perkenankan saya menyampaikan berberapa pertanyaan terkait dengan arah dan metode situs ini dalam menjawab pertanyaan.

Pertanyaan saya adalah sebagai berikut :

1. Mengapa situs ini dalam menjawab setiap pertanyaan selalu menampilkan perbedaan-perbedaan di antara para ulama?  Apa kira-kira maksud dan tujuan dari penyebutan perbedaan tersebut. Bukankah seharusnya kita meninggalkan perbedaan dan kembali kepada persatuan umat?

2. Seringkali kalau saya membaca jawaban-jawaban yang diuraikan panjang lebar, terasa ada yang masih mengganjal. Sebab seringkali semua jawaban yang berbeda-beda itu tidak disimpulkan mana yang benar dan mana yang salah. Seolah-olah kita dibiarkan begitu saja tanpa petunjuk yang benar.

Bukankah metode seperti ini malah agak 'menyesatkan' ustadz? Seharusnya ustadz memberikan rekomendasi manakah dari perbedaan pandangan para ulama yang harusnya kita pilih?

Terus terang dua pertanyaan di atas masih melahirkan tanda tanya besar di dalam hati saya. Untuk itu mohon kiranya ustazdz bisa memberikan sedikit penjelasan tentang alasan dan hikmah di balik itu.

Demikian pertanyaan saya, mohon maaf kalau pertanyaan ini dirasa agak kurang sopan dan kurang berkenan di hati. Untuk itu saya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Dan mohon keikhlasan ustadz untuk memberikan pencerahan kepada saya yang masih awam dalam agama ini.

Wassalam

 

Jawaban :

 

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Memang kami harus akui bahwa perbedaan-perbedaan pendapat ulama sangat dominan ditampilkan di dalam situs ini. Sekilas buat yang kurang terbiasa, memang ada kesan seolah-olah agama Islam ini hanya dipenuhi oleh perbedaan-perbedaan pendapat saja.

Jangankan antum, kami sendiri ketika masih kuliah syariah dulu, juga sempat mengalami perasaan yang sama. Dalam hati sempat terbersit begini,"Ngapain sih kita tiap hari cuma bicara perbedaan-perbedaan melulu? Apa nggak bisa pada bersatu saja? Toh kita sama-sama pakai Al-Quran dan Hadits yang sama, kok malah pada berbeda pendapat melulu?".

Jadi kalau hari ini kami menerima keluhan yang sama, tentu saja kami sudah tidak kaget lagi. Sebab kami sendiri pun dahulu pernah mengalami hal yang sama.

Namun setelah lama kami menempuh masa kuliah, akhirnya semua keluhan itu terjawab dengan sendirinya. Rupanya ada beberapa pertimbangan yang sangat penting untuk diperhatikan.

1. Perbedaan Pendapat Itu Memang Ada

Perbedaan pendapat di antara para ulama yang ahli dalam bidangnya memang ada dan tidak bisa dinafikan dalam kenyataannya. Di dalam hampir semua tema kehidupan, mulai dari hukum-hukum thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, muamalat, pernikahan, pakaian, makanan, rumah, perhiasan, hingga masalah seni, hiburan, waris, jinayat, jihad dan negara.

Tentu kurang tepat kalau kita menduga bahwa perbedaan pendapat itu terbatas hanya terjadi di akhir zaman dimana kita hidup sekarang ini saja. Tiap shahabat punya pendapat yang berbeda-beda, padahal mereka hidup di bawah naungan turunnya wahyu dan hidup langsung bersama Rasulullah SAW. Dengan kata lain kita ingin mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu terjadi saat wahyu masih turun dan Rasulullah SAW masih bersama kita.

Juga keliru besar kalau dituduhkan bahwa perbedaan pendapat itu terjadi akibat dari kita meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah. Percaya atau tidak, ternyata sekian banyak perbedaan yang terjadi semata-mata justru disebabkan oleh perbedaan di Al-Quran dan As-Sunnah itu sendiri yang membuka peluang perbedaan sangat besar dalam menarik kesimpulannya.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang kita yakini 100% kebenarannya, tetapi satu dengan lain ternyata saling berbeda atau bertentangan. Satu ayat ternyata bisa saja berbeda dengan ayat yang lain. Padahal sama-sama turun dari langit lewat Jibril alaihissalam kepada Rasulullah SAW. Kalau kita rajin belajar ilmu tafsri, khususnya tafsir ayat-ayat ahkam, maka semua perbedaan itu tiba-tiba muncul di hadapan kita, yang hanya akan membuat kita yang awam kebingungan sendiri.

Dan sangat banyak hadits-hadits sahih yang saling menyelisihi satu sama lain. Terlalu sering kita dibuat bingung dengan hadits-hadits shahih. Kita sama sekali tidak meributkan keshahihah hadits-hadits itu, karena sama-sama diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Namun dalam kenyataannya, justru sebagai sama-sama hadits Shahih, malah saling bertentangan. Kalau ilmu hadits ahkam kita masih terbilang dangkal, maka cuma bisa bengong dan bingung saja.

Apalagi nanti kalau kita perbandingkan antara ayat ahkam di dalam Al-Quran dengan hadits-hadits ahkam yang shaih, ternyata lagi-lagi kandungan hukumnya juga saling berbeda.

Di sisi lain, kita tahu bahwa ternyata tindakan menshahihkan atau mendhaifkan suatu hadits hanya hasil ijtihad manusia belaka. Nabi SAW sendiri tidak pernah menyebutkan bahwa hadits ini shahih dan hadits itu tidak shahih. Dalam kenyataannya, terlalu banyak kejadian dimana satu hadits yang dishahihkan oleh seorang ahli hadits belum tentu dishahihkan oleh ahli hadits yang lain. Dan sebaliknya, suatu hadits yang didhaifkan oleh yang satu belum tentu didhaifkan oleh yang lainnya.

Intinya, kita tidak mungkin menafikan adanya realita perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebab sejak dari hulunya yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, sudah begitu banyak terjadi perbedaan. Bahkan perbedaan itu sudah terjadi di depan hidung Rasulullah SAW sendiri. Jadi untuk apa kita tutup-tutupi perbedaan itu, lebih baik sekalian saja dibuka biar umat Islam paham adanya perbedaan itu.

2. Bukan Perbedaan Fundamental Aqidah

Tentu tujuan untuk 'membongkar' adanya perbedaan pendapat itu bukan untuk menjelekkan agama Islam, sehingga terkesan Islam itu agama yang centang perenan. Sekali-kali kita tidak berniat untuk itu.

Sebab semua perbedaan yang kita tampilkan itu hanyalah perbedaan di wilayah masalah yang furu'iyah alias cabang-cabang agama. Perbedaan pendapat itu sama sekali tidak mencederai aqidah fundamental kita sebagai muslim. Dan tentunya tidak wajar kalau sampai harus berujung kepada perpecahan umat.

Sebab kita umat Rasulullah SAW sudah diikat dan disatukan dalam satu kalimat yang sama, yaitu La ilaha illallah Muhammadun rasulullah. Kita mengimani 6 rukun iman yang sama, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, hari kiamat dan qadha serta qadar dari Allah SWT. Kita semua adalah umat Islam yang beraqidah ahlus-sunnah wal jamaah.

Kita semua juga berpegang tegus kepada rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. DImana kita meyakini bahwa kelimanya adalah kewajiban dasar yang tidak boleh dipungkiri keberadaannya.

Kita semua sama-sama menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber dalam memahami serta menjalankan syariat Islam. Tidak ada satu dari kita yang boleh meninggalkan keduanya, karena keduanya adalah warisan dari Rasulullah SAW, selama kita berpedang kepada keduanya, maka dijamin kita tidak akan sesat selamanya.

Dalam masalah yang fundamental ini tentu saja kita semua wajib bersatu dan tidak boleh ada perbedaan pendapat. Sebab perbedaan pendapat dalam masalah yang fundamental ini berarti penyimpangan dan keluar dari agama Islam.

Maka jangan khawatir kalau menyaksikan para ulama berbeda pendapat dalam hukum agama, sama sekali tidak mengurangi 'izzah (kebanggaan) kita sebagai umat Islam. Dan sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam kualitas keimanan dan keislaman kita.

3. Umat Sering Terjebak Perpecahan Karena Adanya Perbedaan

Kita tidak memungkiri bahwa dalam kenyataannya umat Islam ini suka berpecah-belah antara satu dan lainnya. Bahkan dengan sesama pecahan itu di dalamnya masih pecah-pecah lagi. Serpihan-serpihannya yang sudah sangat halus  ukurannya itu kadang masih punya acara berpecah-belah lagi di dalamnya. Dan begitulah kenyataannya, pecah belah seakan sudah menjadi nyanyian abadi umat ini.

Namun kita juga harus arif dalam menganalisa sebab-sebab perpecahan umat yang sering kita saksikan. Ada begitu banyak faktor perpecahan, namun secara umum perpecahan umat itu tidak ada kaitannya dengan perbedaan pendapat para ulama.

a. Perpecahan Karena Perebutan Kekuasaan dan Aliran Politik

Umumnya perpecahan umat yang terjadi di sekitar kita justru karena faktor perebutan kekuasaan, kursi dan jabatan. Satu kelompok ingin berkuasa dengan jalan mencurangi dan mempecundangi kelompok lainnya. Yang jadi korban tidak terima lalu bangkit melawan. Akhrinya pecah percekcokan dan berakhir menjadi saling bermusuhan, baik dengan jalur resmi atau lewat jalur 'jalanan'.

Lalu tiap kelompok yang berkuasa itu masih rebutan lagi di dalamnya, entah karena merasa kurang jatahnya atau merasa paling berjasa, sehingga mengakibatkan pecah kongsi dalam satu kelompok besar. Maka kongsi itu retak di dalam, tinggal menunggu waktu untuk berpecah lagi.

Percekcokan politik di dalam tubuh umat Islam umumnya disebabkan pertaruhan dan perebutan kekuasaan belaka dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan perbedaan pendapat dalam hukum-hukum agama. Sebab yang diperjuangkan memang bukan hukum agama, melainkan hanya sebatas kekuasan dan jabatan belaka. Cuma kadang-kadang perpecahan itu dibumbui dengan membawa-bawa masalah hukum agama.

b. Perebutan Harta

Faktor pemicu perpecahan umat yang juga tidak bisa dipungkiri adalah sebab terjadinya perebutan harta dan kekayaan duniawi. Kadang satu kelompok bersaing dengan kelompok yang lain, dan sering satu kelompok mencurangi kelompok yang lain, lalu mereka bermusuhan. Saling mencurangi, saling merampok dan saling menghalalkan segala cara dalam memperebutkan sesuatu yang ujung-ujungnya uang.

Peperangan yang terjadi antara sesama umat Islam di berbagai belahan dunia dewasa ini kalau kita renungkan pelan-pelan secara mendalam, ternyata ujung-ujungnya cuma memperebutkan minyak bumi dan potensi alam lainnya. Ujung-ujungnya cuma urusan rebutan harta saja.

Cuma di kalangan awam, perpecahan ini sering membawa-bawa masalah perbedaan hukum agama. Sehingga terkesan pecahnya umat semata-mata karena masalah perbedaan hukum agama.

c. Rebutan Popularitas dan Gemar Konflik

Faktor pemicu perpecahan umat yang lainnya adalah karena saling berebut popularitas dari masing-masing kelompok yang ada. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian elit dan tokoh kelompok-kelompok itu memang pada dasarnya gemar berkonflik. Sampai ada anekdot bahwa untuk menghancurkan umat Islam itu mudah, jauhkan mereka dari musuh bersama, maka mereka akan saling serang dengan sesama.

Entah apa yang terlintas di benak para tokoh masing-masing kelompok itu. Seolah-olah hidup itu sepi dan kurang asyik kalau tidak ada konflik. Ketika musuh yang sesungguhnya tidak nampak, mereka akan kreatif menciptakan musuh baru, yang tidak lain adalah sesama saudara muslim sendiri.

Selalu tidak pernah kehabisan akal untuk mencari-cari kesalahan saudaranya di lain kelompok. Bahkan kesalahan yang cuma sebesar semut sekalipun akan diperbesar berkali-kali sehingga nampak sebesar gajah bengkak. Padahal pada diri dan kelompoknya ada kekeliruan sebesar gajah dan kandangnya, tetapi sama sekali tidak kelihatan.

Begitulah seni hidup para tokoh yang gemar konflik dan hobi bermusuhan, kalau musuh tidak ada, maka harus diciptakan musuh baru, meskipun sebenarnya yang dimusuhi itu kawan sendiri. Bahkan yang memalukan, cara bermusuhannya lebih kasar dari pada memusuhi orang kafir harbi dalam perang yang sesungguhnya.

Semua itu kalau kita renungkan lahir dari sikap yang kurang arif dari para elit dan tokohnya, yaitu gemar konflik, mabuk popularitas dan penuh dengan sikap ujub. Seolah kesetiaan dari pendukungnya hanya bisa dihadirkan dengan cara menciptakan musuh disana-sini. Nyaris semua materi pengajiannya adalah mencari semua kesalahan orang lain dan mencaci-maki saudaranya sendiri. Dari awal kajian sampai akhir yang dibaca hanya daftar orang-orang bersalah dan bersalah.

4. Menyatukan Umat Bukan Dengan Memberangus Pendapat Yang Berbeda

Ada sementara kalangan yang tidak bisa menerima adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Seolah-olah perbedaan pendapat itu ingin dinafikan dan dihapus dari tinta sejarah, kemudian diganti saja dengan satu pendapat, yaitu pendapat dirinya sendiri.

Alasanya kadang terkesan mulia, yaitu agar umat Islam tidak terkotak-kotak dalam banyak pendapat yang berbeda. Cuma kadang caranya kurang tepat. Alih-alih umat ini diberi wawasan dan dicerdaskan, yang dilakukan malah menghabisi pendapat yang tidak disukainya. Lucunya, kriteria pendapat yang dipilih semata-mata yang sreg di hati dan bukan karena adanya suatu kaidah yang baku.

Maka mulai bermunculan institusi-institusi yang mengaku-ngaku sebagai 'dewan juri' yang mengadili pendapat para ulama. Seolah-olah pendapat para ulama para mujtahid mutlak sepanjang zaman itu dianggap anak-anak kecil bodoh yang sedang bertikai, lalu datang mereka yang merasa jadi orang dewasa dan paling pintar, lalu membenarkan satu pihak dan menyalahkan pihak lain. Kadang sampai menggoblok-goblokkan para ulama.

Tiba-tiba orang-orang kurang ilmu dan awam tapi duduk di lembaga itu merasa posisinya jauh lebih tinggi dari para ulama. Sehingga mereka membuat-buat fatwa sesuai selera pribadi, tanpa ilmu, tanpa kaidah, tanpa pernah merasa dirinya awam. Kemudian dengan congkak dan sombong merasa berhak untuk 'mentarjih' suatu pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain.

Konyolnya, mentang-mentang lembaga itu punya kedudukan di suatu organisasi, maka dipaksakannya selera mereka kepada semua anggota. Kalau masih mau dianggap anggota maka wajib ikut fatwa mereka. Kalau tidak mau nurut, berarti siap ditendang keluar. Dan itu harga mati. La haula wala quwwata illa billah.

Kasihan sekali para anggotanya, bukan diajarkan biar pintar dan melek ilmu agama, tetapi malah dicocok hidungnya agar 'bertaqlid-buta' sebuta-butanya kepada selera petingginya. Sementara kampanye yang didengungkan adalah memerangi fanatis mazhab, bahkan sampai mengharamkan bermazhab, tetapi justru mereka sendiri yang menuhankan pendapat lembaga fatwa mereka. Seolah kebenaran itu hanya ada di dalam lembaga fatwa kebanggaan mereka. Di luar itu, semua orang di dunia ini hanya tersisa orang-orang bodoh saja.

5. Sampaikan Semua Pendapat Ulama, Silahkan Masing-masing Memilih

Rumah Fiqih Indonesia dalam aktifitasnya tentu berkewajiban untuk menghindari cara-cara yang kurang simpatik sepeti itu. Apa yang menjadi fatwa para ulama di masa lalu, khususnya para mujtahid mutlak serta pendapat suatu mazhab fiqih yang muktamad tentu harus kita hargai dan kita hormati.

Biar bagaimana pun mereka adalah ulama, yang level ilmu dan ibadahnya jauh di atas kita berkali-kali. Para ulama itu bukan cuma hafal Al-Quran dan isinya sejak balita, tetapi mereka menghafal lebih dati setengah juga butir hadits lengkap dengan matan dan sandanya. Bahkan mereka pada hakikatnya justru guru besar dari para ahli hadits di zamannya. Karya-karya mereka ribuan halaman, masih teronggok rapi di dalam perpusatakaan.

Sedangkan kita ini apa, boro-boro menulis kitab sebanyak itu, bahkan membacanya saja pun belum pernah. Apalagi banyak diantara kita yang tidak bisa mengeja huruf Arab. Bayangkan, huruf Arab saja masih dieja dengan patah-patah, tiba-tiba dengan lugunya kita mengangkat diri menjadi 'juri' yang mengadili pendapat para ulama? Betapa konyolnya!

Kebijakan situs ini adalah kita tidak perlu merasa terlalu percaya diri, sok merasa diri sebagai ulama, lalu merasa berhak merajihkan dan menyalahkan pendapat para ulama. Padahal kalau kita berkaca, kita akan malu hati sendiri. Sama sekali tidak ada potongan jadi ulama, kok belagu merasa berhak ini dan itu.

Karena itulah para pembaca yang budiman, mohon maaf kalau harapan antum belum bisa kami penuhi. Kami tidak bisa merajihkan atau menyalahkan salah satu pendapat para ulama. Kewibawaan dan ketinggian ilmu mereka jauh di atas keawaman dan kebodohan kita. Maksimal yang bisa kita lakukan sebatas menampilkan dengan jujur dan apa adanya pendapat para ulama empat mazhab yang kita cintai dan kita banggakan. Adapun pilihan kami serahkan sepenuhnya kepada para pembaca.

Dalam keyakinan kami, para pembaca tentu bukan hanya dari satu mazhab saja, tetapi dari banyak mazhab. Mereka perlu tahu juga adanya perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab ulama, sekaligus juga dengan dalil dan sebab perbedaanya.

Semoga jawaban ini bisa sedikit memberikan penjelasan dan klarifikasi yang bermanfaat. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Membaca Ushalli Dalam Shalat, Bid'ahkah?
6 April 2015, 11:33 | Shalat | 22.249 views
Delapan Perkara Yang Harus Dilakukan Ketika Bertaubat
5 April 2015, 05:15 | Umum | 22.717 views
Bersalaman Seusai Shalat : Antara Boleh Dan Haram, Mana Yang Benar?
3 April 2015, 05:38 | Shalat | 24.629 views
Kenapa Imam As-Sudais Membaca Basmalah Dengan Keras?
2 April 2015, 05:45 | Shalat | 33.877 views
Berdosakah Seorang Ibu Yang Tidak Membagi Harta Waris Suami Kepada Anak-anaknya?
31 March 2015, 10:53 | Mawaris | 69.288 views
Kapan Laki-laki Boleh Memakai Sutera?
30 March 2015, 09:49 | Umum | 10.688 views
Agar Terbebas Cambuk 80 Kali Karena Terlanjur Menuduh Orang Berzina
29 March 2015, 17:46 | Jinayat | 7.434 views
Kapankah Orang Yang Meninggalkan Shalat Itu Menjadi Kafir?
28 March 2015, 14:53 | Shalat | 26.765 views
Mazhab Manakah Yang Paling Benar Untuk Hari Ini?
26 March 2015, 09:18 | Ushul Fiqih | 28.116 views
Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum?
25 March 2015, 11:22 | Thaharah | 55.294 views
Mana Yang Benar Waktu Shalat, Tangan di Dada Atau di Bawah Dada?
24 March 2015, 10:28 | Shalat | 44.040 views
Benarkah Jumhur Ulama Salaf Sepakat Tarawih 20 Rakaat?
23 March 2015, 10:10 | Shalat | 20.391 views
Mohon Rincian Khilafiyah Najisnya Anjing
20 March 2015, 10:01 | Thaharah | 9.750 views
Shalat Menggunakan Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa
18 March 2015, 05:15 | Shalat | 11.709 views
Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'
17 March 2015, 11:45 | Thaharah | 14.377 views
Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 16.487 views
Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?
12 March 2015, 03:22 | Nikah | 99.457 views
Bagaimana Cara Membatalkan Baiat Yang Sudah Terlanjur?
11 March 2015, 11:29 | Dakwah | 13.094 views
Ibnu Sabil Sebagai Penerima Zakat
10 March 2015, 06:12 | Zakat | 12.953 views
Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir?
9 March 2015, 11:15 | Jinayat | 11.772 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 32,768,028 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img