Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Benarkah Haram Menyentuh Mushaf Quran Tanpa Wudhu? | rumahfiqih.com

Benarkah Haram Menyentuh Mushaf Quran Tanpa Wudhu?

Sat 9 May 2015 07:50 | Quran | 11.456 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Sejak kecil saya diajarkan bahwa tidak mengapa menyentuh mushaf meski tanpa berwudhu'. Tetapi teman saya kemarin bilang bahwa menurut jumhur ulama hukumnya memang tidak boleh. Katanya yang membolehkan cuma pendapat satu ulama saja, sedangkan semua ulama yang lain sepakat mengharuskan dengan wudhu'.

Saya jadi agak bingung ustadz, apakah informasi teman saya yang nota bene kuliah di fakultas syariah itu memang benar adanya. Mohon dijelaskan ya ustadz mengenai masalah ini biar saya tentram.

Sebelumnya saya ucapkan syukran katsira

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang disampaikan teman Anda itu ada benarnya. Memang kalau kita membuka khazanah fiqih klasik, langsung ke kitab-kitab turats para fuqaha asli, kita akan menemukan fakta yang akan membuat kita agak terheran-heran.

Entah karena kita kurang perhatian atau memang jarang membuka kitab-kitab yang amat mulia itu, yang jelas memang banyak sekali praktek fiqih kita dihari ini yang cuma sekedar ikut-ikutan dari sumber yang kurang jelas. Mungkin cuma sekedar penjelasan sekilas dari ustadz atau ustadzah tertentu yang bukan pakar ilmu fiqih. Tetapi karena 'terpaksa' harus menjawab on the spot, akhirnya asal bunyi saja.

Maka akibatnya kita sering terseok-seok kalau membahas detail fiqih. Dan begitu ketemu dengan rujukan fiqih aslinya, malah jadi terheran-heran tidak percaya. Tetapi mau bagaimana lagi, pihak yang paling berkompeten untuk bicara masalah detail fiqih tidak lain dan tidak bukan adalah para ulama fiqih, yaitu para fuqaha dari empat mazhab dengan segala kemampuan mereka dalam melakukan tahqiq atas kesimpulan hukum tiap mazhab.

Maka sudah seharusnya kita merujuk ke kitab-kitab turats yang asli, dimana para penyusunnya memang para fuqaha nomor wahid dan diakui oleh umat Islam sepanjang 15 abad ini. Kita tidak perlu lagi merujuk hukum syariah kepada mereka yang berprofesi sebagai 'tukang  ceramah' atau 'motivator lokal dan abal-abal'. Tipe tokoh macam itu hari ini gemar naik panggung dakwah, mengaku-ngaku sebagai ahli agama, tetapi ilmu syariahnya nol besar.

Kemampuannya hanya bisa hafal dua tiga potong ayat dan satu dua terjemahan hadits, ditambah hasil download dari google yang entah sumbernya dari mana. Lalu tiba-tiba merasa dirinya sudah menjadi ulama paling pandai sejagat, merasa berhak untuk bikin-bikin fatwa seenaknya, padahal tidak jelas asal usulnya.

Konyolnya, ketika pendapatnya itu bertentangan dengan jumhur ulama, tiba-tiba dia merasa bahwa jumhur ulama itu sekedar sekumpulan kerbau tolol yang dianggapnya tidak mengerti hadits nabi. Dia merasa hanya dirinya saja yang paham ilmu musthalah hadits, yang lain hanya sekumpulan orang-orang goblok yang perkataannya harus dibuang. La haula wala quwwata illla billah.

Jumhur ulama umumnya menyatakan bahwa diharamkan menyentuh mushaf Al-Quran bila seseorang dalam keadaan hadats kecil atau dalam kata lain bila tidak punya wudhu'.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Para ulama mazhab Al-Hanafiyah umumnya berpendapat bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan berwudhu.

Al-Kasani (w. 587 H) ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' menuliskan sebagai berikut :

فللحدث أحكام وهي أن لا يجوز للمحدث أداء الصلاة لفقد شرط جوازها، وهو الوضوء قال - صلى الله عليه وسلم - «لا صلاة إلا بوضوء» ، ولا مس المصحف من غير غلاف عندنا

Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hadats kecil yaitu tidak boleh bagi orang yang berhadats kecil melakukan shalat karena ketiadaan syarat bolehnya, yaitu wudhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tidak sah shalat kecuali dengan wudhu”, dan tidak boleh menyentuh mushaf Al Qur’an tanpa tempatnya dalam mazhab kami.[1]

Al-Marghinani (w. 593 H) ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayah Al-Mubtadi juga menyebutkan hal serupa:

وكذا المحدث لا يمس المصحف إلا بغلافه

Begitu juga orang yang berhadats kecil tidak boleh menyentuh mushaf kecuali dengan tempatnya.[2]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Para ulama mazhab Al-Malikiyah juga berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang yang berhadats menyentuh mushaf Al Qur’an secara sengaja, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

وأما المصحف فلا يمسه أحد قاصدا إليه مباشرا له أو غير مباشر إلا وهو على طهارة

Mushaf tidak boleh disentuh oleh siapa pun dengan sengaja baik secara langsung atau pun tidak kecuali dalam keadaan suci.[3]

Imam Ar Ru’iyni (w. 954 H) dari kalangan malikiyah dalam kitabnya Mawahib Al Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil menyebutkan:

يعني أن المحدث يمنع من مس المصحف هذا مذهب الجمهور

Maksudnya adalah orang yang berhadats dilarang menyentuh mushaf Al Qur’an, dan ini adalah Mazhab jumhur. [4]

3. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Para ulama mazhab Asy-Syafi'iyah pun juga berpendapat sama, yaitu bahwa tidak boleh bagi orang yang berhadats menyentuh mushaf Al Qur’an.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq besar dalam mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Raudlatu At-Thalibin wa ‘Umdatu Al-Muftiyyin menuliskan sebagai berikut :

يحرم على المحدث جميع أنواع الصلاة، والسجود، والطواف، ومس المصحف

Haram bagi orang yang berhadats melakukan semua jenis shalat, sujud, thawaf dan menyentuh mushaf.[5]

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim menuliskan sebagai berikut :

ويحرم بالحدث الصلاة إجماعا ونحوها كسجدة تلاوة وشكر وخطبة جمعة وصلاة جنازة. والطواف, ولو نفلا لأنه صلاة كما في الحديث ،وحمل المصحف ومس ورقه وحواشيه وجلده المتصل به

Haram ketika sedang berhadats melakukan shalat secara ijma’ dan hal yang sejenisnya seperti sujud tilawah, sujud syukur, khutbah jum’at, shalat jenazah, thawaf sekalipun sunnah seperti terdapat dalam hadits, dan membawa mushaf, menyentuh kertasnys, hasyiyahnya serta covernya yang menyatu.[6]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Para ulama mazhab Al-Hanabilah juga ternyata berpendapat sama seperti tiga mazhab sebelumnya, yaitu bahwa kita  tidak boleh menyentuh mushaf Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci.

Ibnu Qudamah (w. 620) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

ولا يمس المصحف إلا طاهر يعني طاهرا من الحدثين جميعا

Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci, suci dari hadats kecil dan besar.[7]

Bahkan yang menarik, ulama sekelas Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dari yang sering dinisbatkan kepada mazhab Al-Hanabilah di dalam buku beliau Majmu’ Fatawa menyebutkan pendapat jumhur ulama dalam masalah ini:

مذهب الأئمة الأربعة أنه لا يمس المصحف إلا طاهر كما قال في الكتاب الذي كتبه رسول الله صلى الله عليه وسلم لعمرو بن حزم: أن لا يمس القرآن إلا طاهر

Mazhab imam empat adalah tidak boleh menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci sebagaimana tertulis dalam surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikirim ke ‘amar bin hazm: “bahwa tidaklah seseorang menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci.[8]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Satu-satunya ulama salaf yang berbeda pendapatnya dengan jumhur ulama adalah Ibnu Hazm, yang sering disebut-sebut bahwa beliau itu menganut aliran mazhab 'aneh', yaitu mazhab Azh-Zhahiriyahyah.

Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

وقراءة القرآن والسجود فيه ومس المصحف وذكر الله تعالى جائز، كل ذلك بوضوء وبغير وضوء وللجنب والحائض

Membaca Al Qur’an, sujud tilawah, menyentuh mushaf serta berzikir boleh, semuanya boleh baik berwudhu atau tidak, dan boleh bagi orang junub dan haidh.[9]

Alasan yang dikemukakan bahwa ayat yang dipakai sebagai larangan orang tanpa wudhu menyentuh mushaf ditafsirkan sebagai bukan larangan, melainkan hanya berita atau kabar saja.

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ المـُطَهَّرُون

Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. (QS. Al-Waqi’ah : 79)

Perhatikan hujjah Ibnu Hazm dalam ayat ini, katanya di dalam ayat ini kita tidak menemukan kata 'dilarang' atau 'diharamkan'. Ayat ini cuma menyebutkan bahwa orang yang tidak berwudhu tidak menyentuh Al-Quran, dan bukan 'jangan menyentuh Al-Quran.

Sementara jumhur ulama selain menggunakan ayat di atas sebagai dasar larangan, juga menguatkan pendapat mereka dengan hadits yang mereka shahihkan, yaitu hadits berikut ini :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَحِمَهُ اَللَّهُ أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لاَ يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada ‘Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci”.(HR. Malik)

Kesimpulannya, teman Anda benar ketika menyampaikan informasi bahwa menurut jumhur ulama tidak boleh menyentuh mushaf Al-Quran kecuali dengan berwudhu'. Dan satu orang yang menentang pendapat jumhur itu adalah Ibnu Hazm pembela mazhab Zhahiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA 


[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 Hal. 33

[2] Al Marghinani, Al Hidayah Syarah Bidayah Al Mubtadi jilid 1 Hal. 33

[3] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, jilid 1 Hal. 172

[4] Ar Ru’iyni, Mawahib Al Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil jilid 1 Hal. 303

[5] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 1 hal. 79

[6] Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim, hal. 38

[7] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 108

[8] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, jilid 21 hal. 266

[9] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 94

[10] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 147

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Kita Tidak Boleh Menggambar Nabi Muhammad SAW?
8 May 2015, 06:30 | Aqidah | 15.630 views
Bolehkah Kita Makan Benda Yang Terbuat Dari Najis
6 May 2015, 10:50 | Kuliner | 5.512 views
Apakah Makanan Yang Syubhat Berarti Hukumnya Haram?
5 May 2015, 10:00 | Kuliner | 14.132 views
Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah dan Haruskah Diqadha?
4 May 2015, 18:32 | Puasa | 16.898 views
Ingin ke Mesir dan Suriah Untuk Berjihad
3 May 2015, 18:35 | Negara | 13.892 views
Keliru Menyebutkan Bin dalam Ijab Kabul, Apakah Sah Akadnya?
1 May 2015, 13:20 | Nikah | 7.892 views
Khamar Haram Diminum, Tetapi Apakah Khamar Najis?
30 April 2015, 09:49 | Thaharah | 6.384 views
Dimana Kita Bisa Belajar Ilmu Pembagian Harta Waris?
28 April 2015, 06:05 | Mawaris | 5.781 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Haji Tamattu' dan Berapa Dendanya ?
26 April 2015, 02:00 | Haji | 4.803 views
Bermalam Bersama Istri dan Menggilir Para Istri, Wajibkah Hukumnya?
25 April 2015, 14:50 | Nikah | 7.139 views
Terkena Najis Saat Rakaat Terakhir Shalat
24 April 2015, 07:50 | Shalat | 5.304 views
Apakah Shalat Sunnah Wudhu Termasuk Disyariatkan? Haruskah Menghadap Kiblat?
23 April 2015, 05:50 | Shalat | 8.306 views
Bolehkah Menyambung Rambut?
19 April 2015, 05:17 | Wanita | 4.572 views
Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan Dengan Sengaja Puluhan Tahun
17 April 2015, 20:00 | Shalat | 150.951 views
Memasukan Jari ke Kemaluan Pacar, Haruskah Kami Dicambuk atau Dirajam?
16 April 2015, 07:28 | Jinayat | 62.380 views
Mencium Bau Gosong Saat Shalat, Diteruskan Shalatnya Atau Batalkan?
15 April 2015, 20:00 | Shalat | 6.557 views
Isteri Saya Nasrani, Islamkah Anak Saya?
14 April 2015, 17:37 | Aqidah | 13.438 views
Berbicara Dalam Shalat, Mana Yang Membatalkan Mana Yang Tidak?
13 April 2015, 11:10 | Shalat | 8.841 views
Bisakah Hari Ini Kita Memiliki Budak Dan Menyetubuhinya Tanpa Dinikahi?
10 April 2015, 08:25 | Muamalat | 77.043 views
Pernah Khilaf Berzina Dengan Pacar, Apakah Jadi Haram Menikahinya?
9 April 2015, 18:30 | Nikah | 78.167 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,190 views