Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Shalat Dua Rakaat, Duduk Tasyahudnya Tawarruk atau Iftirasy? | rumahfiqih.com

Shalat Dua Rakaat, Duduk Tasyahudnya Tawarruk atau Iftirasy?

Wed 20 May 2015 10:26 | Shalat | 26.690 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr wb.

Barakallahufikum. Afwan ustad, Ana mau menanyakan tentang duduk tasyahud untuk shalat wajib atau sunnah yang berjumlah dua rakaat. Karena di beberapa jamaah Islam di Indonesia ana memperhatikan ada ikhwan yang ketika shalat 2 rakaat sunnah atau shalat shubuh duduk tasyahudnya iftirasy.

Pertanyaan ana :

1. Mungkin ini adalah perbedaan pendapat antar mahzab, mohon dalil dalil nya ustad?

2. Apakah kita boleh melakukannya dengan campur,misalnya...sesekali kita pakai duduk iftirasy dan di shalat lain kita pakai tawarruk?

3. Mohon beri kesimpulan untuk jumhur ulama berbendapat yang lebih kuat yang mana ustad untuk duduk tasyahud sholat 2 rakaat ini.

Jazakumullah khairan

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Khilafiyah Ulama

Benar sekali apa yang Antum katakan bahwa sebenarnya ini hanya sekedar perbedaan pendapat di kalangan para ulama mazhab yang empat.  Khususnya dalam hal ini mazhab Hanbali, dimana untuk shalat yang hanya terdiri dari satu tasyahhud, duduknya bukan tawaruk melainkan iftirasy.

Biar tidak lupa, duduk iftirasy itu adalah posisi duduk yang biasanya kita lakukan ketika kita duduk tahiyat awal atau duduk di antara dua sujud. Sedangkan duduk tawaruk itu adalah duduk sebagaimana umumnya duduk tahiyat akhir, yang posisi tubuhnya agak sedikit miring.

2. Bolehkah Dicampur?

Jawabannya antara boleh dan tidak boleh. Boleh hukumnya dicampur tetap dengan beberapa syarat. Di antaranya adalah :

a. Punya Sandaran Ilmu Ke Masing-masig Mazhab

Apabila seseorang sudah belajar kedua mazhab yang berbeda dengan segala kelengkapan dalil-dalil dan rincian kajian ilmunya, maka pada dasarnya dia bisa membandingkan dengan tepat tanpa keliru antara keduanya. Kalau dia memandang bahwa keduanya itu sama-sama benar dan posisinya seimbang, maka boleh-boleh saja sesekali pakai mazhab ini dan sesekali pakai mazhab itu. Toh keduanya sama-sama dikuasainya dengan valid dan benar.

Sebaliknya, orang awam yang sama baru saja belajar lewat hanya satu pintu mazhab, misalnya hanya mengaji lewat mazhab Asy-syafi'iyah semata. Sedangkan untuk mazhab Hanbali dia sama sekali awam dan tidak punya ilmu yang cukup, maka hukumnya tidak boleh baginya pindah-pindah mazhab seenaknya.

Sebagai contoh sederhana, untuk bisa naik ke puncak Merapi beberapa rute pendakian yang berbeda. Bila seseorang hanya tahu satu rute dan tidak tahu rute-rute lainnya, sebaiknya dia tidak usah bergaya mengambil rute yang tidak diketahuinya. Sebab akibatnya fatal dan bisa tersesat di jalan.

Lain halnya buat seorang pakar pendaki gunung yang sudah ratusan kali mendaki lewat beberapa rute berbeda. Baginya semua rute itu sudah dihafalnya luar kepala. Itu pun dia tetap tidak boleh lengah dan sombong.

b. Sebaiknya Pindah Dari dan Ke Mazhab Yang Sama Kuat

Pindah pilihan dari pendapat mazhab yang satu ke mazhab yag lain itu minimal harus seimbang. Jangan sampai kita tinggalkan satu pendapat dari suatu mazhab yang amat kuat untuk mendapatkan pendapat dari mazhab yang lebih lemah dalilnya.

Apalagi meninggalkan apa yang sudah disepakati oleh empat mazhab berpindah ke pendapat yang sama sekali tidak direkomendir oleh mazhab manapun, tentu ini konyol.

c. Ada Kepentingan Yang Mendesak

Bolehnya pindah-pindah ini juga kalau memang ada keperluannya. Misalnya karena tidak memungkinkan untuk pakai satu mazhab saja, sementara ada mazhab lain yang bisa memberi solusi. Seperti masalah batalnya wudhu' di tengah kerumunan jamaah haji di depan Ka'bah.

3. Rincian Pendapat Dari Empat Mazhab Terkait Duduk Tahiyat Akhir

Duduk tasyahhud akhir merupakan rukun shalat menurut jumhur ulama dan hanya kewajiban menurut Al-Hanafiyah.

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Menurut Al-Hanafiyah, posisi duduk tasyahhud akhir sama dengan posisi duduk antara dua sujud, yaitu duduk iftirasy.

Al-Kasani (w. 587 H) ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai'u Ash-Shanai' sebagai berikut :

أَمَّا كَيْفِيَّتُهَا فَالسُّنَّةُ أَنْ يَفْتَرِشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فِي الْقَعْدَتَيْنِ جَمِيعًا وَيَقْعُدُ عَلَيْهَا وَيَنْصِبُ الْيُمْنَى نَصْبًا

Adapun cara duduknya menurut sunnah adalah dengan mengiftirasykan kaki kiri kedua posisi duduk dan duduk di atasnya dan melempangkan kaki kanan.[1]

Ibnul Humam (w. 861 H) yang juga ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

وَجَلَسَ فِي الْأَخِيرَةِ كَمَا جَلَسَ فِي الْأُولَى) لِمَا رَوَيْنَا مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ وَعَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، وَلِأَنَّهَا أَشَقُّ عَلَى الْبَدَنِ، فَكَانَ أَوْلَى مِنْ التَّوَرُّكِ الَّذِي يَمِيلُ إلَيْهِ مَالِكٌ

Dan posisi duduk (tahiyat) akhir seperti posisi duduk pada (tahiyat) awal, sebagaimana kami riwayatkan dari hadits Wail dan Aisyah. Dan posisi itu lebih enak buat badan, lebih utama dari duduk tawaruk yang menjadi pilihan Imam Malik.[2]

Dasar atas fatwa ini adalah hadits berikut :

عَنْ وَائِل بنِ حجر  قَدِمْتُ المَدِيْنَةَ لأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُوْلِ الله  فَلَمَّا جَلَسَ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اليُسرَى وَوَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ اليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اليُمْنَى

Dari Wail Ibnu Hajar,"Aku datang ke Madinah untuk melihat shalat Rasulullah SAW. Ketika beliau duduk (tasyahhud), beliau duduk iftirasy dan meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya dan menashabkan kakinya yang kanan". (HR. Tirimizy)

b. Mazhab Al-Malikiyah

Adapun Al-Malikiyah sebagaimana diterangkan di dalam kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir menyunnahkan untuk duduk tawaruk baik pada tasyahhud awal maupun untuk tasyahhud akhir. Dalilnya adalah hadits Nabi :

Dari Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW duduk di tengah shalat dan akhirnya dengan duduk tawaruk.

c. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Sedangkan jumhur ulama menetapkan bahwa posisi duduk untuk tasyahhud akhir adalah duduk tawaruk. Posisinya hampir sama dengan istirasy, namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy.

Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sama-sama berpendapat bahwa untuk duduk tasyahhud akhir, yang disunnahkan adalah duduk tawaruk ini.

Namun keduanya berbeda pendapat ketika bicara tentang duduk tasyahhud akhir untuk shalat yang dua rakaat dan tidak ada tasyahhud awalnya, seperti shalat shubuh, shalat Jum’at, shalat witir satu raka’at, shalat Dhuha, shalat Idul Fithri dan Idul Adha serta umumnya shalat-shalat Sunnah yang lainnya. Pertanyaannya : apakah duduknya tawaruk atau iftirasy?

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa duduk pada saat tasyahud akhir baik yang memiliki dua raka’at maupun yang hanya memiliki satu tasyahud maka semuanya dilakukan dengan duduk tawarruk.

Mereka berdalil dengan hadits Abu Humaid As Sa’idi, beliau berkata:

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ  رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

“Aku adalah orang yang paling hafal shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diantara kalian. Aku melihat beliau apabila bertakbir maka beliau mensejajarkan kedua tangannya dengan kedua pundaknya, apabila beliau ruku’ maka beliau meletakkan kedua tangannya diatas kedua lututnya kemudian beliau meluruskan punggungnya, apabila beliau bangun dari ruku’ maka beliau berdiri tegak hingga tulang punggungnya kembali ketempat asalnya, apabila beliau sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan juga tidak melekatkannya (pada lambungnya) serta beliau menghadapkan jari-jari kaki beliau kearah kiblat, apabila beliau duduk pada raka’at kedua maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy), dan apabila beliau duduk pada raka’at terakhir maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya serta beliau duduk diatas tempat duduknya –bukan diatas kaki kirinya- (duduk tawarruk). (HR. Al Bukhari).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, ‘Imam Syafi’i dan para sahabat kami berkata:

“Hadits Abu Humaid jelas membedakan antara dua duduk tasyahud, sedangkan hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang muthlaq, maka wajib dibawakan sesuai dengan hadits ini (hadits Abu Humaid). Barangsiapa yang meriwayatkan duduk tawarruk, maka yang dimaksud adalah duduk tasyahud akhir, dan barangsiapa yang meriwayatkan duduk iftirasy, maka yang dimaksud adalah duduk tasyahud awal, dan harus diadakan penggabungan (al-jam’u) antara hadits-hadits yang shahih, terlebih hadits Abu Humaid As Sa’idi ini telah disetujui oleh sepuluh orang pembesar para sahabat radhiyallahuanhum.[3]

Hadits Abu Humaid ini juga datang dengan lafazh-lafazh lain yang semakin memperkuat pendapat madzhab Syafi’i ini, diantaranya:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيْهَا التَّسْلِيْمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ.

“Hingga tatkala sampai sujud terakhir yang ada salamnya, maka Nabi SAW mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk dengan tawarruk diatas sisi kiri beliau SAW.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Diantaranya juga:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي تَكُوْنُ خَاتِمَةَ الصَّلَاةِ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْهُمَا وَأَخَّرَ رِجْلَهُ وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى رِجْلِهِ

“Hingga tatkala sampai pada sujud yang merupakan penutup shalat, maka beliau mengangkat kepalanya dari dua sujud tersebut dan beliau mengeluarkan kakinya serta duduk tawarruk diatas kakinya.” (HR. Ibnu Hibban).

Diantaranya juga:

إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيْهِمَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ

“Apabila sampai kepada raka’at terakhir yang menutup shalat, maka beliau SAW mengeluarkan kaki kirinya dan beliau SAW duduk tawarruk diatas sisinya kemudian beliau salam.” (HR. An Nasa’i)

d. Madzhab Al-Hanabilah

Madzhab Hanbali berpendapat bahwa untuk shalat yang hanya memiliki satu tasyahud maka duduknya adalah duduk iftirasy. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, ‘Dan tidaklah dilakukan duduk tawarruk kecuali pada shalat yang memiliki dua tasyahud, yaitu pada tasyahud yang kedua.[4]

Mereka berdalil dari beberapa hadits, diantaranya hadits ‘Aisyah radhiyallahuanha :

وَكَانَ يَقُوْلُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Adalah beliau SAW mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka’at, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). (HR. Muslim).

Selain itu juga ada hadits Abdullah bin Az Zubair radhiyallahuanhuma :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اِفْتَرَشَ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الْيُمْنَى

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila duduk pada dua raka’at, beliau menghamparkan yang kiri dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy).” (HR. Ibnu Hibban).

Dan ada juga hadits Wail bin Hujr radhiyallahuanhu :

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  حِيْنَ جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ اِفْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Aku melihat Rasulullah SAW ketika duduk dalam shalat beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Kasani, Badai'u Ash-Shanai', jilid 1 hal. 211

[2] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 316

[3] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 413

[4] Ibnu Qudamah, Al-Mughni jilid 2 hal. 227

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Terlambat ke Masjid Bolehkah Ikut Jamaah Gelombang Kedua?
19 May 2015, 07:32 | Shalat | 8.272 views
Baca Quran Langgam Jawa, Haramkah?
18 May 2015, 10:39 | Quran | 124.657 views
Benarkah Hukuman Buat Muslim Yang Minum Khamar Dicambuk 80 Kali?
15 May 2015, 10:30 | Jinayat | 4.354 views
Kapankah Jatuhnya Puasa Hari Syak dan Haramkah Hukumnya?
13 May 2015, 08:02 | Puasa | 7.818 views
Shalat Saat Melintasi Daerah Beda Zona Waktu
11 May 2015, 02:10 | Shalat | 8.001 views
Sembilan Orang Anggota Keluarga Terdekat Namun Ternyata Bukan Ahli Waris
10 May 2015, 16:11 | Mawaris | 7.210 views
Benarkah Haram Menyentuh Mushaf Quran Tanpa Wudhu?
9 May 2015, 07:50 | Quran | 11.473 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Menggambar Nabi Muhammad SAW?
8 May 2015, 06:30 | Aqidah | 15.674 views
Bolehkah Kita Makan Benda Yang Terbuat Dari Najis
6 May 2015, 10:50 | Kuliner | 5.525 views
Apakah Makanan Yang Syubhat Berarti Hukumnya Haram?
5 May 2015, 10:00 | Kuliner | 14.181 views
Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah dan Haruskah Diqadha?
4 May 2015, 18:32 | Puasa | 16.994 views
Ingin ke Mesir dan Suriah Untuk Berjihad
3 May 2015, 18:35 | Negara | 13.906 views
Keliru Menyebutkan Bin dalam Ijab Kabul, Apakah Sah Akadnya?
1 May 2015, 13:20 | Nikah | 7.928 views
Khamar Haram Diminum, Tetapi Apakah Khamar Najis?
30 April 2015, 09:49 | Thaharah | 6.412 views
Dimana Kita Bisa Belajar Ilmu Pembagian Harta Waris?
28 April 2015, 06:05 | Mawaris | 5.799 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Haji Tamattu' dan Berapa Dendanya ?
26 April 2015, 02:00 | Haji | 4.822 views
Bermalam Bersama Istri dan Menggilir Para Istri, Wajibkah Hukumnya?
25 April 2015, 14:50 | Nikah | 7.163 views
Terkena Najis Saat Rakaat Terakhir Shalat
24 April 2015, 07:50 | Shalat | 5.322 views
Apakah Shalat Sunnah Wudhu Termasuk Disyariatkan? Haruskah Menghadap Kiblat?
23 April 2015, 05:50 | Shalat | 8.348 views
Bolehkah Menyambung Rambut?
19 April 2015, 05:17 | Wanita | 4.597 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,909,162 views