Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Proses Munculnya Mazhab Fiqih, Apakah Merupakan Gerakan Sempalan? | rumahfiqih.com

Bagaimana Proses Munculnya Mazhab Fiqih, Apakah Merupakan Gerakan Sempalan?

Wed 12 August 2015 03:00 | Ushul Fiqih | 9.573 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Asslaamu 'alaikum wr. wb.

Apakah mazhab-mazhab yang sering ustadz sebutkan tiap kali menjawab pertanyaan sudah ada di masa Rasulullah SAW, ataukah hanya gerakan sempalan yang muncul kemudian? Mohon ustadz ceritakan bagaimana proses munculnya mazhab-mazhab fiqih.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mazhab fiqih tentu saja bukan gerakan sempalan, sebaliknya merupakan aktifitas keilmuan dan intelektual. Mazhab itu adalah ilmu syariat yang sudah dibentuk oleh Rasulullah SAW dan para shahabat yang prosesnya sudah ada sejak awal dakwah Rasulullah SAW.

Memang terkadang antara satu mazhab dengan mazhab yang lain tidak sama. Sebab mazhab itu adalah sebuah metodologi ilmiyah tapi manusiawi, yang tugasnya menarik kesimpulan hukum dari sumber Al-Quran dan As-Sunnah.

Mazhab adalah hasil ijtihad manusia, dan hasilnya boleh tidak sama. Yang penting kapasitas dan kualifikasi orang yang berijtihad itu memang harus benar-benar memenuhi syarat, tidak bolah sembarang orang sok berijtihad.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang yang hidup sezaman dan bertemu dengan Rasulullah SAW layak untuk melakukan proses istimbath hukum. Jumlah para shahabat memang banyak, salah satu riwayat menyebutkan ada sekitar 124.000 orang. Tetapi tidak semua berkapasitas sebagai ahli fiqih. Hanya sebagian saja, yaitu mereka yang benar-benar mendapatkan gemblengan langsung dari Rasulullah SAW khususnya dalam hal metodologi ijtihad.

Di dalam Al-Quran Al-Karim kita menemukan isyarat harus adanya penggemblengan kepada segelintir shahabat itu ketika Allah SWT telah mewanti-wanti agar jangan semua shahabat pergi berperang. Harus ada sebagian dari mereka kelompok yang lebih memperdalam ilmu agama, demi nantinya bisa mengajarkan kepada shahabat yang lain.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

Dalam prosesnya berkembangnya ilmu syariah, Rasulullah SAW sudah menyiapkan para kader inti dakwah, yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitabnya, I'lamul Muwaqqi'in, ada sekitar 120 orang shahat.

Di antara mereka itu kita sebut saja empat orang khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ridwanullahi 'alaihim. Mereka dibentuk untuk menjadi fuqaha dengan berbagai ciri dan kecenderungan masing-masing. Mereka diajarkan, dilatih dan digembleng langsung oleh Rasulullah SAW bagaimana cara yang benar dalam menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah. Kita menyebutnya dengan istimbath hukum.

Dan di era masing-masing mereka adalah para ulama, fuqaha, ahli ijtihad dan sering disebut memiliki fiqih sendiri-sendiri. Kita sering mendengar ada fiqih Abu Bakar, fiqih Umar, fiqih Utsman dan fiqih Ali. Maksud fiqih disini adalah hasil ijtihad mereka, atau sering juga disebut dengan mazhab.

Jadi mazhab fiqih sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup. Justru beliau SAW sendiri yang meletakkan dasar-dasarnya, dan mengajarkan tata caranya, serta memastikan kadernya memang bisa diandalkan.

1. Fiqih dan Mazhab di Masa Shahabat

Sepeninggal Rasulullah SAW dan para khulafaurrasyidun, banyak sekali para shahabat yang berlevel mujtahid dan fuqaha yang berpencar ke berbagai penjuru peradaban Islam. Sebab banyak negeri yang ditaklukkan oleh para mujahidin yang amat sangat membutuhkan pelajaran agama dari para shahabat.

Maka para shahabat menyebar ke seluruh dunia. Saat itu terkenal ada tujuh wilayah yang diempu secara langsung oleh para shahabat terkemuka, yaitu Madinah, Mekkah, Kufah, Bashrah, Syam, Mesir dan Yaman.

Maka lahirlah ajaran ilmu fiqih yang merupakan hasil ijtihad para shahabat mulia itu. Dan mazhab orang-orang amat bergantung dari dimana dia berguru.

Di masa itu, orang-orang sudah bermazhab dalam beragama. Tapi yang dimaksud dengan bermazhab jangan dibayangkan dengan berpecah belah atau berkelompok-kelompok. Bermazhab itu tidak lain beragama dengan bimbingan para ulama setempat.

Kalau kita hidup di masa para shahabat dan kebetulan tinggal di Madinah misalnya, otomatis mazhab kita adalah mazhab Ibnu Umar radhiyallahuanhu. Karena beliau adalah orang paling alim dan paling paham agama di Madinah.

Tapi kalau kita domisili di Mekkah, tentu mazhab kita adalah mazhab Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Dalam banyak hal, kedua mazhab shahabat itu sangat banyak persamaannya, meski juga ada beberapa yang berbeda.

Dan bila kita tinggal di Kufah, mazhab kita adalah mazhab Ali bin Abi Thalib atau Abdullah bin Mas'ud. Karena keduanya adalah shahabat nabi sumber agama Islam di Kufah.

Dan demikian seterusnya, bila kita tinggal di Syam, kita bermazhba Muadz atau Abu Darda', bila kita tinggal di Mesir maka kita bermazhab Amr bin Ash dan puteranya.

Berikut tabel penyebaran fiqih dan mazhab para shahabat sepeninggal Rasulllah SAW :



2. Fiqih dan Mazhab di Masa Tabiin

Para shahabat di masing-masing wilayahnya kemudian melahirkan para kader baru yang juga meneruskan ilmunya. Mereka adalah generasi tabi'in, yaitu ulama ahli fiqih dan mujtahid, namun tidak bertemu langsung dengan Rasulullah SAW, tetapi bertemu dengan para shahabat. Mereka adalah murid-murid langsung para shahat. Silahkan lihat tabel di atas.

Dan prinsipnya sama dengan sebelumnya, dimana seorang itu menetap dan belagar agama, maka ilmu yang tersedia umumnya adalah ilmu para ulama setempat.
  • Bila di masa itu kita tinggal di Madinah, maka mazhab fiqih kita adalah mazhab Said bin Al-Musayyid dan mazhab Nafi maula Umar.
  • Bila di masa itu kita tinggal di Mekkah, maka mazhab kita adalah mazhab Mujahid, Atha' dan Thawus.
  • Bila di masa itu kita tinggal di Kufah, maka mazhab kita adalah mazhab Ibrahim An-Nakha'i, Asy-Sya'bi dan Alqamah.
  • Bila di masa itu kita tinggal di Bashrah, maka mazhab kita adalah mazhab Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin.
  • Bila di masa itu kita tinggal di Syam, maka mazhab kita adalah mazhab Umar bin Abdul Aziz, Al-Kaulani dst
  • Bila di masa itu kita tinggal di Mesir, maka mazhab kita adalah mazhab Yazid dan Al-Laits
  • Bila di masa itu kita tinggal di Yaman, maka mazhab kita adalah mazhab Mathraf dst
Maka bisa kita ambil kesimpulan, mazhab itu sebenarnya adalah kampus, universitas dan pusat pengajaran agama, yang dipimpin oleh para shahabat dan tabi'in di masa masing-masing. Dan sangat dibolehkan para shahabat dan tabi'in itu punya hasil ijtihad yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sehingga melahirkan cabang ilmu fiqih yang saling berbeda dalam beberapa hal. Namun dibandingkan dengan perbedaannya, sebenarnya lebih banyak persamaannya.

3. Fiqih dan Mazhab di Masa Imam Empat

Di masa berikutnya peta mazhab berubah lagi. Para tabi'in yang disebutkan di atas sudah punya murid-murid baru, dan murid-murid itu juga sudah punya murid lagi. Dan ilmu tentang metodoligi ijtihad dan istimbath hukum semakin lengkap, bahkan sudah mulai disusun menjadi kitab secara khusus.

a. Al-Imam Abu Hanifah dan Sufyan At-Tsauri di Kufah

Di masa pemerintahannya, Ali bin Abi Thalib pernah memindangkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah. Dan bersama dengan itu ikut pula tidak kurang dari 1.500 orang shahabat ahli ilmu bersama beliau. Maka Kufah menjadi negeri yang penuh sesak dengan para ulama di level shahabat.

Sebelumnya, ketika Umar bin Al-Khattab memerintah, beliau mengutus salah seorang shahabat Nabi yang ahli fiqih, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahuanhu, untuk menjadi pemimpin Kufah serta menjadi guru yang mengajarkan ilmu syariah buat penduduknya serta bertugas untuk mencetak para ulama ahli fiqih.

Misi itu ternyata sukses dan berhasil dilakukan oleh Abdullah bin Mas’ud. Tidak kurang 4.000 ulama fiqih berhasil beliau kader selama bertugas di Kufah. Lahirlah para ulama mujtahid dari kalangan tabi’in, antara lain ’Alqamah, Al-Aswan, Masruq, Syuraih, Asy-Sya’biy, An-Nakha’i dan Said bin Jubair. An-Nakha’i adalah tokoh tabi’in yang menjadi salah satu guru dari Al-Imam Abu Hanifah nantinya.

Sebenarnya yang menjadi ulama besar di Kufah bukan cuma Abu Hanifah seorang, tetapi ada banyak yang lain, seperti Sufyan At-Tsauri. Namun yang kemudian menjadi mazhab besar, punya murid amat banyak, dan ilmunya ditulis dan dibukukan sehingga tetap hidup terus hingga akhir zaman memang Abu Hanifah.

b. Al-Imam Malik di Madinah

Di Madinah, pusat pengajaran ilmu yang diempu oleh tujuh tabi'in utama, diantaranya Said bin Al-Musayyib dan Nafi maula Umar telah berhasil melahirkan sekian banyak murid yang sangat cerdas dan ilmunya tinggi. Salah satunya adalah Al-Imam Malik rahimahullah yang kemudian menjadi uama terbesar di zamannya.

Prinsip mazhab Al-Malikiyah adalah mengandalkan suasana kota Madinah yang baru saja ditinggalkan oleh Rasulullah SAW beberapa puluh tahun saja. Beliau SAW wafat tahun 10 hijriyah dan Al-Imam Malik lahir tahun tahun 93 hijiryah. Cuma terpaut 80-an tahun saja, dimana guru beliau cuma terpaut satu orang hingga kepada shahabat, yaitu Nafi' maula Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu.

Untuk mendapatkan riwayat dari Rasulullah SAW, beliau tidak butuh rantai silsilah yang terlalu panjang. Bandingkan dengan Al-Bukhari yang baru lahir tahun 256 hijriyah, terpaut 245 tahun dengan tahun wafat Rasulullah SAW. Al-Bukhari membutuhkan lima sampai sepuluh jajaran perawi hadits agar bisa tersambung dengan masa Rasulullah SAW.
Badningak

c. Al-Imam Asy-syafi'i di Iraq dan Mesir

Al-Imam Asy-Syafi'i sebenarnya adalah murid dari

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Mazhab Itu Bentuk Perpecahan Umat?
11 August 2015, 06:00 | Ushul Fiqih | 5.842 views
Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'?
10 August 2015, 04:35 | Shalat | 18.746 views
Shalat Idul Fithr dan Idul Adha : Mana Yang Lebih Utama, di Masjid atau di Lapangan?
8 August 2015, 06:03 | Shalat | 5.976 views
Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid?
7 August 2015, 03:01 | Shalat | 8.622 views
Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali
5 August 2015, 09:13 | Nikah | 13.714 views
Apa Yang Dibaca Pada Saat Sujud Dan Ketentuannya
2 August 2015, 03:12 | Shalat | 173.575 views
Haramkah Gaji Satpam di Bank Konvensional?
1 August 2015, 08:10 | Muamalat | 39.841 views
Fasakh dan Talak : Perbedaan dan Persamaannya
31 July 2015, 06:45 | Nikah | 29.470 views
Teknis Rujuk Setelah Menjatuhkan Talaq, Haruskah Ada Saksi?
30 July 2015, 16:05 | Nikah | 25.678 views
Haruskah Jadi Ulama Dulu Baru Boleh Dakwah?
29 July 2015, 07:13 | Ushul Fiqih | 25.127 views
Terlanjur Menikahi Pacar Ternyata Dahulu Pernah Berzina
28 July 2015, 07:18 | Nikah | 112.684 views
Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut?
19 July 2015, 23:15 | Puasa | 15.025 views
Bolehkah Kami Yang Domisili di Jepang Shalat Id di Rumah Tanpa Khutbah?
16 July 2015, 17:20 | Shalat | 11.456 views
Benarkah Ada Kewajiban Zakat Atas Madu?
14 July 2015, 08:11 | Zakat | 8.446 views
Perluasan Makna Fi Sabilillah Sebagai Mustahiq Zakat
13 July 2015, 00:09 | Zakat | 51.146 views
Nishab Zakat Uang, Ikut Nishab Emas atau Nishab Perak?
11 July 2015, 02:00 | Zakat | 13.058 views
Teknis Menghitung Zakat Uang
10 July 2015, 11:00 | Zakat | 12.359 views
Asal-Usul Anjuran Berbuka Puasa Dengan Yang Manis-manis
9 July 2015, 00:01 | Puasa | 21.891 views
Mohon Diterangkan Apa Perbedaan Antara Zakat Infaq dan Sedekah?
8 July 2015, 03:38 | Zakat | 109.827 views
Zakat Penghasilan Tidak Sampai Nisab, Bagaimana Zakat Profesinya?
7 July 2015, 08:23 | Zakat | 20.715 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,062,151 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-10-2019
Subuh 04:13 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:48 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img