Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berbagai Keringanan dan Rukhshah Dalam Ibadah Haji | rumahfiqih.com

Berbagai Keringanan dan Rukhshah Dalam Ibadah Haji

Sun 13 August 2017 15:00 | Haji | 934 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah. Mohon dijelaskan tentang berbagai keringanan dalam rangka kita menjalankan ibadah haji. Sebab saya mendapatkan kesan bahwa ibadah haji itu adalah ibadah yang sangat berat. Dibutuhkan mental tinggi dan kesiapan lahir batin yang mendalam.

Akibatnya banyak orang yang merasa belum siap, takut, cemas bahkan saya sendiri sampai terbangun sendiri di tengah malam sejak beberapa hari menjelang keberangkatan haji.

Entah bagaimana, kesannya saya takut sekali kalau-kalau haji yang saya kerjakan ini tidak sah, tidak sempurna, dan sebagainya.

Demikian dan mohon saran serta nasehat sebelum saya berangkat haji, serta terima kasih banyak.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang perasaan cemas, khawatir dan takut ini seringkali menghantui para calon jamaah haji. Takut kalau hajinya tidak diterima, atau kurang sempurna, sehingga sering dilanda perilaku-perilaku yang aneh-aneh.

Padahal sebenarnya meski sekilas ibadah haji itu terkesan ibadah yang berat untuk dilaksanakan, namun di dalamnya justru kita menemukan banyak sekali keringanan. Dan semua keringanan ini bersifat syar'i, sebagaimana karakter asli agama Islam yang merupakan agama yang mudah, ringan, fleksible serta manusiawi.

Berikut saya berikan beberapa contoh bagaimana ibadah haji itu didesain sedemikian rupa sehingga menjadi ibadah yang penuh dengan berbagai rukhshah, keringanan, toleransi, kemurahan, kemudahan serta fleksiblelitas yang tinggi. Biar semua orang dengan segala kondisinya bisa menjalankannya, meski tidak harus dengan sesempurna mungkin.

1. Keringanan Pertama : Khusus Bagi Yang Mampu

Meskipun ibadah haji termasuk rukun Islam, namun para ulama sepakat haji itu tidak diwajibkan kecuali hanya kepada mereka yang mampu saja. Al-Quran Al-Karim secara tegas menyebutkan bahwa Allah mewajibkan ibadah ini hanya kepada mereka yang mampu untuk berangkat haji, sehingga mereka yang tidak masuk dalam kategori mampu maka tidaklah diwajibkan untuk mengerjakan Ibadah Haji

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu  orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran : 97)

Sementara kalau kita bandingkan dengan ibadah yang lainnya, seperti shalat, puasa, zakat,  dan yang lain-lainnya, tidak ada yang perintahnya dikhususkan bagi yang mampu saja.

Allah tidak pernah memerintahkan kita shalat sambil mengatakan hanya berlaku bagi yang mampu. Sebagaimana Allah juga tidak memerintahkan kita puasa sambil mensyaratkan hanya bagi yang mampu. Demikian juga Allah tidak memerintahkan kita berzakat, sambil mengkhususkan secara eksplisit berlakunya hanya buat mereka mampu saja. Lain halnya dengan haji, secara eksplisit Allah khususnya hanya bagi yang mampu saja.

Jadi kalau kita berada pada posisi yang tidak mampu, kita tidak usah resah gelisah dan termehek-mehek mau pergi haji. Wong Allah saja sebagai 'pihak pengundang' sebenarnya tidak mengundang. Jadi kalau pun kita tidak datang juga tidak apa-apa. Tanda bahwa Allah mengundang kita, maka Dia SWT akan berikan kita keluasan harta sebagai tanda kemampuan. Jadi santai saja kalau pun belum mampu, ya tidak usah grasa-grusu.

2. Keringanan Kedua : Cukup Sekali Seumur Hidup

Ibadah haji hanya diwajibkan sekali saja seumur hidup,  sementara ibadah-ibadah yang lain seperti shalat, zakat dan  puasa diwajibkan untuk seterusnya berulang-ulang setiap putaran waktu, dan berlaku untuk selama-lamanya seumur hidup.

Shalat itu terus menerus wajib dikerjakan bahkan sehari sampai 5 kali, dan berlaku sepanjang hayat. Tidak pernah kita diberi libur shalat untuk selamanya. Puasa Ramadhan itu pun juga diwajibkan berulang-ulang setiap tahun hingga kita wafat. Termasuk juga  zakat, diwajibkan untuk dikeluarkan setiap tahun, bahkan untuk petani setiap kali panen. Hanya ibadah haji saja yang kewajibannya itu cuma sekali saja untuk seumur hidup dan setelah itu tidak wajib. Kalau mau balik lagi silahkan, tapi tidak wajib.

Dan hal ini langsung dipraktekkan oleh Nabi SAW. Meskipun Beliau SAW tinggal di tanah suci Mekah Al-Mukaramah, tetapi hanya sekali saja melaksanakan ibadah haji dalam hidupnya.

3. Keringanan Ketiga : Boleh Ditunda Meski Sudah Mampu

Dalam pandangan MAzhab Asy-Syafi'i, kewajiban haji itu masuk kategori al-wujubu li at-tarakhi. Maksudnya, walaupun seseorang sudah masuk dalam kategori mampu tetapi tidak lantas dia langsung wajib untuk mengerjakannya.

Kenapa demikian?

Jawabannya karena ternyata Rasulullah SAW yang melakukannya. Turunnya ayat tentang haji tahun ke-6 Hijriyah, tetapi Beliau SAW baru berhaji di tahun kesepuluh. Selama 4 tahun hajinya ditunda dengan sengaja.

Lalu mengapa sampai menunda ibadah haji 4 tahun lamanya, padahal sudah diperintahkan di dalam al-qur'an pada tahun ke-6? Apakah karena Beliau SAW tidak mampu?

Jawabnya jelas tidak. Sebab dalam kurun 4 tahun itu Beliau SAW justru bolak-balik ke Mekah sebanyak 3 kali. Siapa bilang Beliau SAW tidak mampu untuk berangkat ke Mekah?

Beliau sebenarnya sangat mampu. Tetapi memang karena kewajiban haji itu tidak harus segera dilaksanakan, walaupun seseorang sudah dianggap mampu. Kewajiban haji itu boleh ditunda, setidaknya itulah yang menjadi prinsip dalam ajaran madzhab Syafi'i.

4. Keringanan Keempat : Boleh Pilih Tamattu', Qiran Atau Ifrad

Walaupun ibadah haji itu kelihatannya berat karena harus meninggalkan tanah air dan jangka waktu yang panjang dan jarak yang jauh, tetapi di balik itu juga ada kemudahan kemudahan. Salah satunya adalah dibolehkannya jamaah haji memilih satu dari tiga jenis ibadah haji yaitu : Tamattu’, Qiron dan Ifrad. Ketika para jamaah boleh memilih salah satu dari tiga jenis ibadah haji itu, sebenarnya ada maksud keringanan di balik pilihan itu. 

Tamattu' : Kalau mau tidak mau terganganggu dengan larangan-larangan berihram, jamaah bisa pilih haji tamattu' saja. Sebab ber-tamattu' artinya kita boleh melepas pakaian ihram dan terbebas dari semua larangan. Kita tinggal di Mekkah dengan santai sambil berleha-leha hingga datangnya tanggal 9 Dzulhijjah untuk wuquh. Namun untuk itu kita wajib menyembelih seekor kambing sebagai denda haji tamattu'.

Ifrad : Jamaah juga boleh pilih untuk haji dengan cara ifrad, yaitu hanya melakukan ibadah haji saja tanpa mengerjakan umrah. Keuntungan haji Ifrad ini adalah satu-satunya bentuk berhaji yang tidak mewajibkan denda membayar dam dalam bentuk ritual menyembelih kambing. Ini tentu haji paket hemat sekaligus cepat. Karena mereka yang ber-ifrad cukup melakukan satu kali tawaf saja, yaitu hanya Tawaf Ifadhah. Sedangkan tawaf lainnya yaitu Tawaf Qudum dan Tawaf Wada' tidak diperlukan.

Qiran : Keuntungan berhaji dengan cara Qiran ini adalah dengan hanya satu pekerjaan, sudah mendapatkan dua ibadah sekaligus, yaitu haji dan umrah sekaligus. Namun terkena denda membayar dam menyembelih seekor kambing.

Jadi silahkan pilih paket-paket yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kita masing-masing.

Lalu manakah dari ketiga jenis haji itu yang paling utama?

Jawabnya semuanya utama dan semuanya afdhal. Namun kalau mau detailnya, silahkan baca pada artikel terdahulu http://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1389876734-mana-lebih-utama-haji-qiran-ifrad-atau-tamattu'.html. Sebab para sahabat juga tidak sepakat jenis ibadah haji yang manakah yang dipakai oleh Nabi SAW pada saat Beliau SAW melaksanakannya. Ada yang mengatakan Beliau SAW haji tamattu, tapi ada yang bilang ’Ifrad dan juga ada yang bilang Qiran. Maka ketiga-tiganya disepakati kebolehannya dan sama afdhalnya.

5. Keringanan Kelima : Boleh Dikerjakan Orang Lain

Dalam ibadah haji dikenal istilah populer yaitu badal haji. Istilah bakunya adalah al-hajju anil ghair, melakukan ibadah haji untuk orang lain.

Ibadah yang bisa diwakilkan oleh orang lain umumnya adalah ibadah yang bersifat muamalah atau setidaknya bernuansa maliyah. Misalnya, menikahkan anak itu boleh diwakilkan orang lain. Jual-beli juga boleh diwakilkan orang lain. Tetapi ibadah badaniyah seperti shalat dan puasa, jelas tidak bisa diwakilkan oleh orang lain.

Tetapi ibadah haji boleh diwakilkan orang lain, padahal sebenarnya termasuk jenis ibadah badiniyah. Ibadah haji bisa diwakilkan meski orangnya masih hidup, misalnya karena sudah tua atau dalam keadaan sakit, maka haji itu dikerjakan oleh orang lain yang mewakilinya.

Melontar jumrah itu pun bisa diwakilkan orang lain, kecuali wuquf di Arafah yang memang harus dikerjakan sendiri.

6. Keringanan yang keenam : Dam Diganti Puasa

Dalam ibadah haji dibolehkan seandainya seseorang tidak mampu membayar Dam yaitu menyembelih kambing maka bisa diganti misalnya dengan berpuasa 3 hari di tanah suci dan 7 hari di tanah air.

Orang yang berhaji secara tamattur dan qiran terkena kewajiban membayar dam. Namun kalau pun kita tidak punya uang untuk beli kambing, maka kita bisa tukar dendanya dengan berpuasa 3 hari selama di tanah suci, plus 7 hari setelah kita kembali ke tanah air.

فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ

Apabila kamu telah  aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji,  korban yang mudah didapat.  Tetapi jika ia tidak menemukan, maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari  apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh  yang sempurna. (QS. Al-Baqarah : 196)

7. Keringanan yang ketujuh : Boleh Tidak Bermalam di Mina

Bermalam di Mina untuk melontar jamarat ternyata juga bukan termasuk rukun haji. Posisinya adalah termasuk wajib haji, sehingga pada dasarnya boleh saja tidak dikerjakan asalkan membayar Dam. Kecuali wukuf di Arafah, Tawaf Ifadah dan Sa'i, maka selebihnya bukanlah rukun di dalam ibadah haji.

Nabi SAW memberikan banyak keringanan kepada para sahabat yang tidak bisa ikut bermalam di Mina atau di Muzdalifah sambil mengatakan silahkan dan tidak ada masalah

Bahkan yang rukun sekalipun yaitu wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzulhijjah itu pun tidak harus dilakukan sejak pagi sampai malam. Yang penting seseorang sudah berada di Arafah walaupun hanya sesaat, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa haji itu adalah berada di Arafah.

Maka orang yang sedang sakit parah tetap bisa dianggap sudah berhaji asal kan sempat di Wukuf Safari kan di Arafah walaupun hanya sekedar beberapa menit, lalu dikembalikan lagi ke rumah sakit.

8. Keringanan Kedelapan : Banyak Ibadah Lain Berpahala Setara Haji

 

Orang yang tidak punya harta tidak punya kemampuan memang sudah gugur kewajiban hajinya, maka tidak berdosa bisa tidak pergi haji. Namun kasihan juga, karena ia akan tidak mendapatkan pahala pergi haji. 

Oleh karena itu Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan memberikan kompensasi berupa ibadah tertentu yang nilai pahalanya setara dengan menjalankan ibadah haji.

Khusus untuk masalah ini, saya akan jelaskan di lain kesempatan insyaallah.

Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Perbedaan Antara Qurban Dengan Zakat
11 August 2017, 10:45 | Qurban Aqiqah | 10.937 views
10 Penyimpangan Pembagian Waris di Indonesia
8 August 2017, 05:30 | Mawaris | 52.538 views
Iedul Adha Jatuh Hari Jumat, Gugurkah Kewajiban Shalat Jumatnya?
7 August 2017, 17:30 | Shalat | 13.081 views
Kenapa di Indonesia Shubuh Datang Lebih Awal?
4 August 2017, 17:50 | Kontemporer | 2.329 views
Mau Berangkat Haji, Apakah Disunnahkan Shalat Sunnah Sebelumnya?
3 August 2017, 04:30 | Haji | 1.218 views
Benarkah Nilai Mahar Nabi SAW 40 Juta?
21 July 2017, 06:48 | Nikah | 25.008 views
Hukum Pakaian Berbahan Campuran 50% Sutra dan 50% Katun, Bolehkah?
11 July 2017, 03:45 | Umum | 1.883 views
Pembagian Waris Untuk Suami, Tiga Anak Laki dan Satu Anak Perempuan
10 July 2017, 06:29 | Mawaris | 1.678 views
Benarkah Aisyah Bolehkan Laki-laki Dewasa Menyusu Pada Wanita Biar Jadi Mahram?
9 July 2017, 17:02 | Nikah | 22.850 views
Berdosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?
3 July 2017, 01:01 | Hadits | 4.025 views
Benarkah Puasa Syawwal Belum Boleh Dikerjakan Sebelum Qadha Ramadhan?
1 July 2017, 21:20 | Puasa | 1.927 views
Selama Mudik di Kampung Halaman Apakah Kita Boleh Tetap Menjamak-qashar Shalat?
28 June 2017, 04:53 | Shalat | 3.423 views
Mudik Tapi Tidak Shalat, Apakah Berdosa?
27 June 2017, 12:34 | Shalat | 1.983 views
Makna Idul Fithri Bukan Kembali Menjadi Suci?
26 June 2017, 09:35 | Puasa | 58.684 views
Wajibkah Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Fithri?
24 June 2017, 20:50 | Shalat | 19.885 views
Apa Saja Yang Disunnahkan Dalam Shalat Idul Fithri?
24 June 2017, 12:23 | Shalat | 3.192 views
Lebaran Bersama Rasulullah SAW
23 June 2017, 15:13 | Puasa | 2.655 views
Benarkah Jumat Terakhir Ramadhan Waktunya Menqadha Semua Shalat?
22 June 2017, 09:45 | Shalat | 5.241 views
Katanya Quran Turun Lailatul Qadar, Kenapa Peringatan Nuzulul-Quran 17 Ramadhan?
20 June 2017, 09:45 | Quran | 2.285 views
Bolehkah Bayar Zakat Fithr dengan Uang?
20 June 2017, 08:30 | Zakat | 34.698 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,934,590 views