Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Landasan Syar'i Kita Boleh Berpolitik? | rumahfiqih.com

Apakah Landasan Syar'i Kita Boleh Berpolitik?

Wed 8 March 2006 04:25 | Negara > Arus politik | 5.680 views

Pertanyaan :

Asaalaamu'alaiku, Ustadz.


Saya mau tanya, apakah ada dalil yang menyatakan kita boleh berpolitik? Jika ada, apakah ada adab-adab yang harus dipenuhi. Jazakallah.

Wassalaamu'alaikum,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum menjawab pertanyaan ini, seharusnya dijawab dulu pertanyaan yang sebelumnya, "Adakah landasan syar'i dari haramnya berpolitik?"

Mungkin titik pangkalnya adalah dalam batasan istilah politik itu sendiri. Di mana sebagian orang memandang politik dalam arti yang terlalu sempit serta cenderung menampilkan politik dalam wajah negatifnya. Seperti keculasan, penindasan, perebutan kekuasaan, pembunuhan, perang dan ceceran darah.

Politik dalam arti sempit dan wajah negatif ini seringkali muncul menjadi icon yang mewakili pengertian kata istilah politik. Padahal ini hanyalah sebuah aliran dan pemahaman subjektif dari Machiavelli yang termasyhur dengan nasihatnya, bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan.

Tentu saja politik dalam konsep si Machivelli itu bukan sekedar diharamkan dalam syariat Islam, tetapi juga dikutuk. Bahkan turunnya syariat Islam itu salah satu perannya untuk membasmi konsep politik si terkutuk dariItalia itu.

Politik dalam pengertian si pembuat onar ini juga dikutuk oleh semua orang dan dianggap selaku bajingan tak bermoral. Hanya para bajingan yang tak bermoral saja yang memuji konsepnya itu. Para diktator dunia seperti Hitler, Musolini, Lenin, Stalin, Bush, Blair dan orang-orang sejenisnya, bisa dimasukkan dalam kelompok para pemuja ide-ide syetan muntahan dari mulut Machiavelli.

Para Nabi dan Shahabat Adalah Politikus yang Benar

Namun kalau kita kembalikan pengertian politik dalam arti luas dan positif, di mana politik pada dasarnya adalah sebuah sistem untuk mengatur masyarakat atau negara dengan tujuan demi kemashlahatan umat manusia, tentu saja politik itu mulia.

Bahkan sejak masa awal manusia diturunkan ke muka bumi dengan dikawal oleh para nabi dan rasul, tugas utama syariah adalah mengatur kehidupan masyarakat dan negara. Dan itu adalah politik. Tapi bukan versi Machiavelli, melainkan versi langit alias versi syariah.

Maka bisa kita sebutkan bahwa menjalankan politik yang benar itu bukan hanya boleh, tetapi wajib bahkan menjadi inti tujuan risalah. Untuk mengatur politik-lah para nabi dan rasul diutus ke muka bumi, selain mengajarkan ritual peribadatan.

Diplomasi dengan Penguasa Zalim

Dalam realitasnya, ternyata para nabi dan Rasul pun bukan hidup di dalam hutan jauh dari politik kotor. Justru mereka berhadapan langsung -face to face- dengan para pelaku politik jahat. Bukankah Allah SWT memerintahkan kepada Musa untuk mendatangi Fir'aun?

Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.(QS. Thaha: 24)

Bahkan Nabi Musa as. sendiri lahir di dalam istana Fir'aun yang sedang aktif berpolitik kotor. Dan Musa ikut masuk dalam gelanggang politik berhadapan dengan Fir'aun, namun membawa konsep politk langit. Maka begitulah, sebagian besar isi Al-Quran yang bercerita tentang Nabi Musa as, lebihbesar porsinya tentang kisah politik Nabi Musa versus Fir'aun.

Datangnya Musa as berdebat dan berdiplomasi langsung ke istana Fir'aun, bukankah itu tindakan politik?

Perang

Selain Musa as., nyaris semua nabi memang menjadi pimpinan politik umatnya. Mereka tidak mengurung diri di dalam mihrab meninggalkan urusan duniawi, melainkan mereka ikut dalam semua aktifitas membangun bangsa. Bahkan tidak sedikit di antara para nabi itu yang mati lantaran perjuangan mereka dalam masalah politik. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar.(QS. Ali Imran: 146)

Apakah perang bukan urusan politik?

Mengatur Kekayaan Negara

Nabi Yusuf as. juga seorang politkus yang handal dan sukses menyelamatkan negaranya dari berbagai krisis ekonomi. Bahkan Al-Quran secara nyata mengisahkan bagaimana deal-deal politik Nabi Yusuf as. untuk mengincar jabatan sebagai penguasa masalah logistik negara.

Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf: 55)

Apakah mengatur logistik dan kekayaan negara bukan urusan politik?

Maka berpolitk yang tujuan dan caranya sesuai dengan misi ilahi, tentu saja hukumnya boleh dan bahkan wajib. Sedangkan berpolitik yang tujuan dan caranya bagai si Machiavelli durjana itu, jelas haram bahkan dilaknat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Bagaimana Cara Mengganti Sholat yang Tertinggal?
8 March 2006, 04:20 | Shalat > Shalat Qadha | 24.640 views
Dapat Pacar Dari Guna-guna
8 March 2006, 04:19 | Aqidah > Syirik dan Bidah | 7.133 views
Batas Zina yang Mewajibkan Rajam/Cambuk
7 March 2006, 06:45 | Jinayat > Zina | 7.387 views
Mazhab yang Kelima, Mazhab Apa?
7 March 2006, 05:00 | Ushul Fiqih > Mazhab | 8.799 views
Cara Membedakan Al-Qur'an yang Asli dengan Al-Qur'an Yang Sudah Diubah Tangan-Tangan Tak Bertanggungjawab?
6 March 2006, 02:36 | Al-Quran > Mushaf | 7.297 views
Perihal Seperangkat Alat Sholat dan Al-Qur'an sebagai Mas Kawin
3 March 2006, 07:21 | Pernikahan > Mahar | 9.418 views
Adakah Dasar Sunnah untuk Memboikot Denmark?
3 March 2006, 07:18 | Kontemporer > Dalil | 5.258 views
Bolehkah Makan Pemberian non Muslim dan Menjabat Tangan Mereka?
2 March 2006, 00:44 | Umum > Non muslim | 19.547 views
Besaran Bagian Warisan bagi Para Ahli Waris
2 March 2006, 00:33 | Mawaris > kadar bagian ahli waris | 6.515 views
Wali Nikah Beda Agama
28 February 2006, 03:55 | Pernikahan > Wali | 6.002 views
Mengapa Syaitan Dimasukkan ke Dalam Neraka?
28 February 2006, 03:50 | Aqidah > Surga Neraka | 6.209 views
Hukum Gadai dalam Syariah.
28 February 2006, 03:30 | Muamalat > Gadai | 18.807 views
Masbuq Tidak Baca Fatihah
27 February 2006, 03:16 | Shalat > Yang Membatalkan Shalat | 7.402 views
Menerima Upah Mengajar Ngaji dari Karyawan Bank Konvensional
24 February 2006, 01:57 | Kontemporer > Hukum | 7.755 views
Pembagian Warisan Cucu dan Keponakan
24 February 2006, 01:50 | Mawaris > kadar bagian ahli waris | 6.157 views
Pinjam Uang pada Bank Konvensional untuk Beli Motor, Bolehkah?
22 February 2006, 06:47 | Muamalat > Bank | 8.765 views
Senggama Pasca Haidh, Kapan Batas Waktu Kebolehannya?
22 February 2006, 06:44 | Pernikahan > Terkait jima | 31.630 views
Halalkah Beer Bintang 0% Alkohol?
22 February 2006, 04:19 | Kuliner > Alkohol | 36.933 views
Walimatuh Safar dan Aqiqah
22 February 2006, 04:08 | Haji > Ritual terkait haji | 6.878 views
Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama, Manakah yang Kita Pakai?
21 February 2006, 04:03 | Ushul Fiqih > Ulama | 7.650 views

TOTAL : 2.312 tanya-jawab | 43,158,412 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-9-2020
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:58 | Maghrib 17:52 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img