Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Wisatawan Arab ke Puncak Buat Kawin Sesaat : Zinakah? | rumahfiqih.com

Wisatawan Arab ke Puncak Buat Kawin Sesaat : Zinakah?

Wed 18 December 2013 03:10 | Nikah | 12.641 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya kadang-kadang mau muntah kalau melihat kelakuan wisatawan Arab di daerah Bogor, Puncak dan Cianjur. Ternyata mereka datang semata-mata untuk wisata seks tetapi dengan selubung perkawinan.

Seolah-olah mereka menikah dengan sah, padahal kita semua tahu bahwa mereka menikah sama sekali tidak berniat membangun rumah tangga, kecuali sekedar menikmati liburan ditemani para perempuan penghibur.

Tetapi ada yang bilang bahwa selama mereka memenuhi semua syarat dan rukun nikah, seperti adanya wali, saksi, mahar dan ijab kabul, maka pernikahan mereka itu tetap sah. Sehingga apa yang mereka lakukan memang halal dan bukan zina.

Mohon ustadz jelaskan fenomena ini, dan apa benar perkawinan mereka yang cuma sesaat itu sah di dalam pandangan syariat Islam?

Syukran jazakalllahu ahsanal jaza', wassalam.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita semua memang cukup terusik dengan kelakuan para wisatawan Arab di Bogor, PuncaK, Cianjur (Bopunjur) sebagaimana yang Anda tanyakan. Tentunya penyebutan ini bukan untuk mengucilkan atau menjelekkan warga yang tinggal disana, tetapi kadang memang hal-hal seperti itu sulit ditepis. Dan boleh jadi hal seperti ini terjadi dimana saja, bukan hanya di satu tempat itu saja.

Yang jadi pertanyaan adalah : Apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah menurut syariat Islam, ataukah memang menjadi wisata seks dan prostitusi berselubung agama?

Secara umum, memang para ulama sendiri agak berbeda pendapat dengan model pernikahan semacam ini, yaitu pernikahan yang sejak awal sudah diniatkan untuk sementara. Sebagian ulama membolehkan dengan dalil-dalil yang mereka tetapkan, namun sebagian lainnya mengharamkan.

Yang menarik, para ulama di Saudi Arabia seperti Syeikh Al-Ustaimin dan juga Lajnah Daimah, sama-sama mengharamkan pernikahan dengan niat talak. Padahal wisatawan Arab yang melakukannya banyak yang berwarga negara Saudi Arabia.

Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas dari pengertian nikah dengan niat talak, serta hukum-hukumnya.

A. Pengertian Nikah Dengan Niat Talak

Nikah dengan niat talak (النكاح بنية الطلاق) adalah sebuah istilah dimana seseorang melakukan akad nikah seperti umumnya pernikahan biasa, namun yang membedakan adalah bahwa pada saat akad nikah itu berlangsung, di dalam hatinya sudah terpasang niat untuk segera mentalak istrinya.

Niat ini dipendam di dalam hati, tanpa diketahui oleh istri yang dinikahinya.

Walaupun boleh jadi karena sudah merupakan trend, orang-orang dengan mudah bisa menebak berdasarkan pola tertentu adanya pernikahan dengan niat talak.

1. Perbedaan Dengan Nikah Biasa

Perbedaan utama dengan nikah biasa adalah bahwa pernikahan itu dibangun sejak awal dengan niat dalam hati suami akan mentalak istrinya, kecuali bila ada hal-hal yang akan membuat suami berubah niat.

Sedangkan dalam pernikahan biasa pada umumnya, sejak awal pernikahan itu terjadi, tidak ada niat apapun untuk mentalaknya, kecuali bila di tengah-tengah samudera kehidupan muncul masalah yang membawanya kepada talak.

Maka nikah dengan niat talak sangat jauh berbeda dengan nikah biasa pada umumnya.

2. Perbedaan Dengan Nikah Mut'ah

Nikah dengan niat talak juga berbeda dengan nikah mut'ah atau nikah kontrak. Letak titik perbedaannya adalah pada kesepakatan yang terjadi antara suami dan istri untuk menikah hanya dalam jangka waktu tertentu, dengan nilai mahar tertentu.

Dalam nikah mut'ah, tidak ada niat talak yang dirahasiakan oleh suami. Justru suami dan istri sejak awal sudah menyepakati kontrak pernikahan dengan jangka waktu tertentu, yang mana lama jangka waktu itu sangat berpengaruh kepada 'harga' maskawin atau mahar.

Biasanya semakin cepat jangka waktu pernikahan hingga talak, semakin murah 'harganya'. Hampir tidak ada bedanya dengan kita naik taksi, semakin jauh jaraknya atau semakin lama waktunya, tentu argonya pun semakin mahal.

B. Modus

Dalam kenyataannya, kasus-kasus dimana terjadi nikah dengan niat talak itu bisa beragam latar belakang sebab dan motivasinya. Di antaranya karena terpaksa, atau nikah muhallil, bahkan ada juga yang motivasinya semata-mata untuk sekedar bersenang-senang.Tapi dalam hal ini, kita sedang membicarakan tentang motivasi yang semata-mata nikah untuk tujuan bersenang-senang saja.

Di negeri kita, kawasan Bogor, Puncak dan Cianjur termasuk daerah yang sering didatangi oleh para wisatawan dari mancanegara, khususnya dari timur tengah. Salah satu pesonanya adalah wisata seks yang dikemas dengan judul pernikahan dengan niat talak.

Prakteknya mereka datang dengan Visa On Arrival (VOA) yang bisa dibeli di Bandara Soekarno Hatta dan puluhan perbatasan lainya dengan harga cuma 10-25 dolar. Untuk itu mereka mendapat izin berwisata di negeri kita selama 7 sampai 30 hari.

Karena mereka datang dari timur tengah yang rata-rata beragama Islam, maka yang jadi persoalan utama adalah apakah pernikahan seperti ini dibenarkan dalam syariah Islam.

C. Perbedaan Pendapat Ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menikah dengan niat talak, sebagian ada yang membolehkan dan sebagian lain ada yang mengharamkan.

1. Mereka Yang Membolehkan

Di antara para ulama yang membolehkan perniakahan dengan niat talak ini adalah jumhur ulama, diantaranya mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah.

Dalam hal ini mazhab Al-Hanabilah terpecah, sebagian ulamanya ada yang membolehkan, seperti Ibnu Qudamah dan juga Ibnul Muflih. Termasuk yang ikut membolehkannya adalah Ibnu Taimiyah.

2. Mereka Yang Mengharamkan

Sedangkan yang tidak membolehkan pernikahan dengan niat talak ini adalah mazhab Al-Hanabilah secara resmi, khususnya Imam Ahmad bin Hanbal sendiri dan para ulama pendukung mazhab ini. Selaini itu Imam Al-Auza'i memang terkenal melarang pernikahan semacam ini.

Sedangkan dari kalangan ulama modern di masa kini antara lain Muhammad Rasyid Ridha, Syeikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta' Kerajaan Saudi Arabia, dan Majma' Fiqih Islami

E. Dalil Pendapat Yang Membolehkan

Sebagian ulama berpendapat bahwa akad nikah walau pun diiringi dengan niat untuk mentalak, maka hukum akadnya itu sah. Adapun apa yang diniatkan seseorang di dalam hatinya, tidak ada kaitannya dengan sah atau tidak sahnya pernikahan. Pendapat ini punya beberapa hujjah, antara lain :

1. Niat Tidak Merusak Akad

Argumen yang dibangun oleh pendukung pendapat ini bahwa akad nikah sebagaimana umumnya akad dalam muamalah, bukan ibadah ritual. Tetapi akad itu merupakan bagian dari muamalat.

Maka dalam akad yang terkait dengan muamalat, faktor niat tidak terlalu mendominasi. Yang dijadikan ukuran lebih banyak pada faktor lahiriyah dari apa yang diucapkan dan dipahami oleh kedua belah pihak.

Maka pernikahan yang memenuhi semua syarat dan rukunnya, seperti adanya wali, saksi, mahar, dan ijab kabul, hukumnya sudah sah. Sehingga dalam pandangan syariah, pernikahan itu sah dan telah menghalalkan hubungan suami istri.

2. Niat Belum Sampai Kepada Amal

Bila seseorang punya niat di dalam hati, maka niat itu tidak nampak dan juga tidak merupakan bagian dari amal yang nyata.

Maka suatu perbuatan yang baru sampai pada taraf niat di dalam hati, tetapi belum dilaksanakan secara nyata, belum bisa dimasukkan ke dalam amal.

Dalam hal ini bila niat suatu pekerjaan itu baik, memang yang punya niat sudah mendapat pahala, yaitu pahala dari berniat. Namun apabila perbuatan itu merupakan suatu amal yang melahirkan dosa dan larangan, asalkan belum dikerjakan, maka belum ada dosa dan belum dijatuhi hukuman.

Bagaimana kita bisa menghukum sesuatu yang belum dikerjakan oleh pelakunya.

Seorang yang punya niat jahat untuk mencuri harta, tentu tidak bisa ditangkap dan dijatuhi hukuman, apalagi dipotong tangan.

Mengapa?

Karena secara hukum, perbuatan pencurian itu belum lagi dilakukan. Walau pun ada indikasi kuat bahwa si maling akan melakukan aksinya, namun selama pencurian itu sendiri belum terjadi, tidak boleh dijatuhi hukuman sebagai pencuri.

Maka demikian juga dengan kasus pernikahan sah yang diiringi niat di dalam hati untuk menjatuhkan talak. Pada saat akad itu berlangsung, belum ada talak. Kalau pun talak itu nanti dijatuhkan, sebenarnya penjatuhannya dilakukan kalau sudah selesai akad secara sah.

3. Talak Bukan Sesuatu Yang Haram

Perbuatan talak itu sendiri pada dasarnya bukan suatu hal yang mutlak haramnya. Talak termasuk perbuatan yang masyru', meski pun bukan jalan yang utama dalam solusi masalah ketidak-akuran antara suami istri.

Lepas dari skala prioritasnya, perbuatan menjatuhkan talak sendiri bukan perbuatan yang berdosa atau terlarang. Setidaknya dalam syariah, kita mengenal ada dua jenis talak, yaitu talak sunni dan talak bid'iy.

Ketika talak itu berstatus sunni, banyak kalangan yang menyebutkan bahwa talak itu sah dan tidak menjadi larangan, serta tidak melahirkan dosa. Talak yang melahirkan dosa itu adalah talak yang statusnya talak bid'iy. Misalnya talak yang dijatuhkan ketika istri masih haidh, atau dijatuhkan di masa suci, namun sudah sempat disetubuhi.

F. Dalil Pendapat Yang Mengharamkan

Pendapat kedua dari para ulama dalam masalah nikah dengan niat talak adalah pendapat yang mengharamkan. Pendapat ini berangkat dari beberapa hujjah yang juga kuat, antara lain :

1. Tujuan Nikah Untuk Ketenangan

Di dalam Al-Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa tujuan pernikahan itu untuk mendapakat ketenangan dan ketentraman. Diistilahkan dengan lafadz : li taskunu ilaiha.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (QS. Ar-Ruum : 21)

Tetapi bagaimana tujuan mencapai ketenteraman itu tercapai kalau sewaktu akad nikah dilakukan sudah terpasang niat untuk menceraikan? Maka nikah dengan niat talak itu bertentangan dengan ayat ini.

2. Tujuan Nikah Untuk Selamanya

Di dalam Al-Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa tujuan pernikahan itu tidak boleh untuk sementara waktu, tetapi untuk seterusnya. Allah SWT memerintahkan suami untuk bermu'asyarah dengan makruf, sebagaimana firman-Nya :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. (QS. An-Nisa' : 19)

Namun bagaimana melakukan mu'asyarah bil ma'ruf kalau sejak awal pernikahan sudah terpasang niat untuk menceraikan? Maka nikah dengan niat talak ini bertentangan secara langsung dengan ayat ini.

3. Tujuan Pernikahan Untuk Mendapatkan Keturunan dan Memeliharanya

Selain kedua tujuan di atas, salah satu tujuan pernikahan tidak lain adalah untuk melahirkan generasi yang baik, yaitu anak-anak dan keturunan yang bisa menjadi lapis generasi peradaban manusia di masa mendatang. Sebab generasi itu memang harus dipersiapkan.

Rasulullah SAW bersabda :

تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAw bersabda,"Nikahilah wanita yang banyak anak, karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat. (HR. Ahmad)

Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi) 

Namun bagaimana perintah Rasulullah SAW direalisasikan bila sejak awal pernikahan sudah ada tekad dan niat di hati suami untuk menceraikan istri? Lalu generasi macam apa yang akan dilahiran dari orang tua yang bercerai, bahkan sudah niat bercerai sejak pernikahan belum dilaksanakan?

Maka jelaslah bahwa nikah dengan niat talak sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW di atas.

G. Madharat Nikah Dengan Niat Talak

Kalau pun seandainya mereka yang menghalalkan nikah dengan niat talak ini berlindung di balik pendapat jumhur ulama yang menghalalkan, namun kita juga harus melihat dulu fakta di lapangan terkait dengan manfaat dan madharat yang dihasilkan.

Intinya, tidak mentang-mentang sesuatu itu hukum asalnya halal, lalu selamanya akan jadi halal tanpa memperhatikan perubahan zaman dan kondisi yang sudah tidak cocok lagi.

Khusus dalam kasus wisata seks orang Arab di Bogor, Puncak dan Cianjur, nampaknya alasan fatwa halal dari jumhur ulama tidak bisa digunakan. Sebab yang terjadi sudah jauh melenceng dari apa yang diijtihadkan di masa lalu.

Mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah ketika mengatakan halal tentu tidak melihat fakta di lapangan secara langsung, sebagaimana yang terjadi di Bopunjur itu. Mereka tentu tidak memperhitungkan adanya mafia, jalinan prostitusi dan bisnis besar di balik semua itu.

Kelemahan

Sebenarnya kalau kita dalami lebih jauh, terlalu banyak cacat dari nikah semacam ini. Saya hanya akan menyebutkan dua saja dari sekian banyak cacatnya.

1. Wali Nikah Palsu

Sebutlah satu contoh yang sederhana tentang cacatnya nikah ini secara syar'i : Apa benar yang bertindak sebagai wali dalam pernikahan itu ayah kandung yang sah? Ataukah wali-walian yang tidak jelas asal-usulnya?

Logikanya, mana mungkin seorang ayah kandung rela menyerahkan kemaluan anak gadisnya untuk dijadikan objek sasaran nafsu syahwat sesaat para turis Arab itu? Logika bejat mana yang membuat ayah tega menjual kehormatan puterinya?

Dari satu pertanyaan ini saja sudah ketahuan bahwa pernikahan itu jelas abal-abal alias tidak sah, karena yang jadi wali ternyata bukan ayah kandung. 

2. Nikah Ilegal

Secara hukum negara, pernikahan ini juga ilegal, karena bisa dipastikan tidak akan terpenuhinya syarat-syarat legalitas. Dalam ketentuan undang-undang kita, bila ada warga negara asing menikah di Indonesia, setidaknya dia harus menyerahkan beberapa dokumen, seperti Ijin dari kedutaan/konsulat perwakilan di Indonesia dan dalam bahasa Indonesia.

Mereka jelas tidak akan punya surat izin dari kedutaan atau konsulat perwakilan di Indonesia, sebab mereka datang sebagai turis yang masa berlakunya cuma 10-30 hari.

Selain itu harus punya akta cerai bagi janda/duda cerai.Nah, yang ini jelas-jelas mustahil mereka miliki. Sebab umumnya mereka punya istri yang sah di negaranya masing-masing.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Memasak Menggunakan Arak
17 December 2013, 11:02 | Kuliner | 31.150 views
Was-was Jangan-jangan Bekas Dijilat Anjing
16 December 2013, 21:40 | Thaharah | 18.100 views
Gugatan Cerai Dari Istri : Talak, Fasakh Atau Khulu?
15 December 2013, 21:40 | Nikah | 47.258 views
Fasakh Versus Talak
14 December 2013, 06:15 | Nikah | 15.051 views
Menyembelih Tanpa Bismillah, Halalkah?
13 December 2013, 09:17 | Qurban Aqiqah | 51.003 views
Haramnya Laki-laki Memakai Emas Tidak Ada di Quran
12 December 2013, 00:49 | Umum | 12.793 views
Mendukung Partai Islam Demi Tegaknya Hukum Islam di Indonesia
10 December 2013, 03:09 | Negara | 10.728 views
Bagaimana Kiat Mempelajari Kitab
9 December 2013, 03:40 | Umum | 7.641 views
Terpaksa Harus Memanipulasi Bon Nota, Bagaimana Menyikapinya?
8 December 2013, 03:49 | Muamalat | 10.574 views
Suara Wanita, Auratkah?
6 December 2013, 22:13 | Wanita | 10.375 views
Adzan Dua Kali di Hari Jumat
6 December 2013, 01:29 | Shalat | 10.533 views
Membangun Masjid di Atas Kuburan
5 December 2013, 03:25 | Aqidah | 10.612 views
Kereta Komuter Penuh Sesak, Bagaimana Cara Shalat Maghribnya?
3 December 2013, 21:21 | Shalat | 15.832 views
Bolehkah Memotong Kuku dan Mengkeramasi Rambut Sewaktu Haid?
1 December 2013, 06:20 | Thaharah | 11.911 views
Tata Cara Wudhu di Dalam Pesawat
30 November 2013, 00:15 | Thaharah | 24.205 views
Cara Melakukan Shalat di Pesawat Terbang
28 November 2013, 09:04 | Shalat | 49.630 views
Daging Kodok dan Kepiting : Halal Atau Haram
27 November 2013, 03:48 | Kuliner | 39.668 views
Hukuman Pakai Uang
26 November 2013, 07:29 | Muamalat | 8.754 views
Isteri Kedua dan Warisannya
25 November 2013, 04:15 | Mawaris | 7.396 views
Kopi Luwak, Halalkah?
24 November 2013, 06:50 | Kuliner | 14.330 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,439,623 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-9-2019
Subuh 04:26 | Zhuhur 11:46 | Ashar 14:56 | Maghrib 17:52 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img