Apakah Seseorang Guru Perlu Mendapat Sanad Bersambung kepada Nabi Muhammad? | rumahfiqih.com

Apakah Seseorang Guru Perlu Mendapat Sanad Bersambung kepada Nabi Muhammad?

Tue 19 December 2006 04:19 | Umum > Belajar agama | 7.629 views

Pertanyaan :

Assalamua'laukum warohmatullah

Kepada ustadz, saya ucapkan ribuan terima kasih. Saya mendapat pertanyaan daripada seorang rakan saya siapakah kamu? Siapakah guru kamu? Dan daripada mana dia mendapat sanad daripada ilmu yang diberikannya? Buat pengetahuan ustadz saya baru belajar untuk berda'wah. Namun pertanyaan sahabat saya tadi merunsingkan saya. Kerana beberapa minggu lepas, berlaku pertentangan pendapat antara kami berkenaan dengan ikhwan muslimin, manhaj salaf dan politik dalam Islam. Dia mengatakan Masyaikhnya mempunyai sanad sehingga kepada Rasulullah. Mohon dijelaskan.

Wassalamualaikumwarohmatullahi wabarokatuh

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah sanad dalam menerima ajaran Islam memang sangat penting dan merupakan penentu kebenaran ajaran Islam yang dianut seseorang. Setiap orang harus punya sanad tentang ajaran Islam yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Namun hal ini tidak berlaku secara umum di kalangan awam, kecuali di tingkat para ulama ahli dan di bidang-bidang ilmu tertentu tertentu.

a. Ilmu Qiraat

Misalnya, para ulama ahli qiraat Al-Quran, memang diharuskan punya sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Kita mengenal ada beberapa jenis qiaraat Al-Quran yang berbeda-beda. Tiap qiraat itu punya riwayat lewat orang-orang yang dikukuhkan menjadi ulama qiraat, sejak zaman nabi SAW hingga hari ini.

Maka khusus para ulama di kalangan ahli qiraat, sanad-sanad seperti ini masih berlaku dan terus bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Adapun orang awam seperti kita, cukuplah belajar kepada orang yang dianggap baik.

b. Periwayatan Hadits

Misalnya lainnya, di bidang ilmu periwayatan hadits. Kita juga mengenal riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW lewat para shahabat, tabi'in, tabi'it-tabi'in hingga kepada para muhadditsin di era Bukhari dan Muslim. Khusus untuk para ulama mutakhashshishin di bidang hadits, kepastian riwyat dan sanad ini menjadi hal yang mutlak. Terutama sebelum masa tadwinul (penulisan) hadits di masa kitab shahihain dan kutub sittah.

Setelah itu, tradisi menggunakan sanad dalam belajar ilmu hadits masih tetap digunakan, namun khusus hanya di kalangan ulama khusus saja. Buat orang awam, cukuplah membaca karya kitab-kitab hadits yang suah menyebar kemudian. Bahkan seorang Al-Bani pun tidak punya sanad periwayatan hadits lewat para masyaikhnya secara khusus yang bersambung langusng kepada Rasulullah SAW, kecuali beliau adalah peneliti dan kritikus hadits di perpusatakaan.

Sebab riwayat hadits itu sudah final di masa lalu, tidak perlu lagi setiap ahli hadits punya riwayat khusus dan talaqqi kepada syeikh tertentu, kecuali sekedar mengambil barokah.

Salah seorang dosen hadits kami waktu kuliah di S-2 lalu menyatakan bahwa dirinya punya jalur periwayatan hadits yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Tidak berhenti di tingkat Bukhari dan Muslim saja, tetapi riwayatnya terus bertambah panjang hingga ke diri beliau. Namun beliau sendiri mengatakan bahwa memiliki sanad seperti itu sudah tidak diperlukan lagi sebagai syarat seorang ulama hadits di zaman ini. Kalau pun beliau punya sanad, maka hal itu sekedar mengambil barakahnya saja.

c. Ilmu Fiqih

Misal lainnya di bidang ilmu fiqih, juga ada riwayat dan sanad. Para ulama fiqih juga menggunakan sanad baik urusan bacaan quran maupun urusan periwayatan hadits. Bahkan khusus ahli fiqih, ada tambahan periwayatan hingga ke tingkat mujtahid mutlak dari masing-masing mazhab.

Ada sebuah buku berbahasa arab karya ulama Indonesia yang berjudul: al-Imam Asy-Syafi'i baina mazhabaihil qadim wal jadid (Imam Asy-Syafi'i di antara kedua mazhabnya yang lama dan baru). Di dalam buku itu diuraikan dengan jelas sanad dan periwayatan yang dimiliki Al-Imam As-Syafi'i, semenjak dari Rasulullah SAW hingga kepada dirinya. Lalu dari dirinya kepada para muridnya yang sangat banyakitu.

Maka tradisi keilmuwan dalam bidang fiqih khusus untuk para ulama memang mengenal sanad dan periwayatan ini. Namun tidak berlaku untuk orang-orang awam, mereka cukup bertaqlid saja kepada ulama.

Tradisi Sanad

Dengan masuknya era tadwin atau penulisan ilmu di dalam kitab-kitab oleh para ulama, maka kepentingan talaqqi langsung sudah mulai berkurang. Sebab buku itu sudah berfungsi sebagai penyampai riwayat dan sanad yang diterima di kalangan ahli riwayat.

Beberapa tulisan hadits milik para muhaddits di masa lalu, juga diakui sebagai bagian dari sanad yang diterima dan tersambung secara sah. Beberapa shahabat nabi SAW menuliskan hadits yang mereka terima dari Rasululah SAW, maka tulisan para shahabat itu bila dibaca oleh para tabi'in tidaklah menggugurkan sanad periwayatan. Bahkan dalam beberapa hal, semakin menguatkan jalur periwayatan.

Kecuali mungkin dalam hal yang tidak bisa dituliskan, seperti masalah bacaan qiraat quran, maka masih tetap dibutuhkan sanad periwayatan yang talaqqi, yaitu langsung bertemu dengan gurunya, tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan saja.

Maka di zaman sekarang ini, penggunaan sanad tetap penting dan punya peran tersendiri, namun tidak harus dalam bentuk talaqqi langsung. Dan talaqqi bukan merupakan syarat keilmuwan. Dan bukan pula syarat keIslaman seseorang.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Beda antara Talak dan Cerai
18 December 2006, 03:34 | Pernikahan > Talak | 10.223 views
Peminta Sumbangan Masjid di Jalan dan Bus
18 December 2006, 01:33 | Umum > Sosial | 5.822 views
Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat
15 December 2006, 08:49 | Qurban Aqiqah > Qurban | 8.231 views
Qiyamullail Berjamaah, Bid'ahkah?
15 December 2006, 08:39 | Shalat > Shalat Malam | 7.289 views
Apakah Wudhu Batal kalau Bersentuhan dengan Orang Kafir?
14 December 2006, 04:16 | Thaharah > Wudhu | 21.203 views
Isteri Kedua Wafat Meninggalkan Harta Hibah dari Suami
14 December 2006, 04:09 | Mawaris > Masalah terkait waris | 5.445 views
Memakai Kalung ID Card bagi Laki-laki
14 December 2006, 04:04 | Kontemporer > Hukum | 6.916 views
Masbuk ketika Imam Duduk Tasyahud Akhir?
13 December 2006, 01:26 | Shalat > Makmum | 7.137 views
Menggunakan Fasilitas Kesehatan Orang Lain
13 December 2006, 01:16 | Umum > Hukum | 5.078 views
Arisan Qurban, Bisakah?
12 December 2006, 04:11 | Qurban Aqiqah > Qurban | 9.129 views
Berniat Qurban Sapi, Apakah Akan Ditegur Allah Bila Saya Kurban Kambing?
12 December 2006, 02:12 | Qurban Aqiqah > Qurban | 7.368 views
Pembangunan Masjid Dua Lantai Multi Fungsi
12 December 2006, 01:08 | Umum > Sarana umum | 7.687 views
Dasar Zakat Penghasilan
11 December 2006, 01:00 | Zakat > Zakat Profesi | 7.193 views
Mengapa Rasulullah Melarang Puterinya Dipoligami?
8 December 2006, 02:39 | Pernikahan > Poligami | 10.402 views
Kafalah untuk Pengelola Lembaga Amil Zakat
8 December 2006, 02:39 | Zakat > Alokasi Zakat | 9.131 views
Sebenarnya Perempuan Pakai Celana, Boleh Gak Sih?
8 December 2006, 02:23 | Kontemporer > Fenomena sosial | 14.874 views
HIV/AIDS dalam Perspektif Islam dan Upaya Pencegahannya
8 December 2006, 02:19 | Umum > Sosial | 7.107 views
Ibu Menikah Saat Hamil, Dapatkah Kakak Saya Menjadi Wali?
8 December 2006, 02:14 | Pernikahan > Wali | 6.851 views
Menghajikan Almarhum Ayah dan Wakaf Tunai
7 December 2006, 00:32 | Haji > Haji Berbagai Keadaan | 8.260 views
Tata Cara Berjamaah dan Masbuk Shalat
7 December 2006, 00:21 | Shalat > Shalat Berjamaah | 11.338 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,545,224 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-10-2021
Subuh 04:11 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:50 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih