RUMAHFIQIH.COM
Muka | Konsultasi | Fikrah | Tafsir | Ilmu Hadits | Dirasah Madzahib | Fiqih Nisa'


Pesan Disini

Konsultasi

Sampai Kapan Kita Masih Jadi Musafir?
Wed, 16 January 2013 20:51 | 4247 | baca versi desktop | kirim pertanyaan

Assalaamu'alaikum wr. wb.

1. Saya sekarang berada di Jerman dalam rangka studi dan sudah 3 tahun disini. Seorang teman pernah berkata bahwa kita masih bisa menjama' dan mengqoshor sholat karena masih musafir. Ada yang bilang batasnya hingga 30 hari, dan ada juga yang bilang hanya 3 hari. Yang mana yang benar, ustadz?

2. Lalu mengenai sholat yang diqadha', uzhur apa saja yang menyebabkannya?

Jazakallah khairan katsiran.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertanyaan anda ada dua hal : Pertama, tentang batasan masa musafir dan muqim. Kedua, tentang udzur apa yang membolehkan kita mengqadha' shalat.

A. Musafir dan Muqim

1. Pengertian

Musafir itu adalah isim fail dari kata dasar yang berkentuk kata kerja : safar. Safar adalah melakukan perjalanan, sedangkan musafir adalah orang yang menjadi pelaku atau orang yang melakukan safar.

Lawan dari musafir adalah muqim. Muqim adalah isim fail dari kata dasar aqama - yuqimu yang artinya menetap atau bertempat tinggal. Muqim berarti bertempat tinggal atau menetap.

a. Bahasa

Secara etimologis, kata safar dalam bahasa Arab bermakna qath'ul-masafah (قَطْعُ الْمَسَافَةِ), yaituperjalanan menempuh suatu jarak tertentu. 

b. Istilah

Namun dalam istilah para fuqaha (ahli fiqih) yang dimaksud dengan safar bukan sekedar seseorang pergi dari satu titik ke titik yang lain. Namun makna safar dalam istilah para fuqaha adalah :

أَنْ يَخْرُجَ الإنْسَانُ مِنْ وَطَنِهِ قَاصِدًا مَكَانًا يَسْتَغْرِقُ الْمَسِيرُ إِلَيْهِ مَسَافَةً مُقَدَّرَةً عِنْدَهُمْ

Seseorang keluar dari negerinya untuk menuju ke satu tempat tertentu, yang perjalanan itu menempuh jarak tertentu dalam pandangan mereka (ahli fiqih).

Para ulama sepakat bahwa agar suatu tindakan dikatakan sebagai safar, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain harus ada niat atau kesengajaan untuk melakukan safar, musafirnya harus keluar dan meninggalkan dari tempat dia bermuqim sebelumna, juga harus punya tujuan tertentu, kemudian juga harus ada jarak tertentu yang minimal untuk dilalui.

2. Berakhirnya Safar

Semua ketentuan safar di atas akan berakhir bila terjadi hal-hal tertentu, dimana hukum-hukum yang tadinya berlaku untuk musafir pun tidak lagi berlaku. Di antara hal-hal yang mengakhiri hukum safar adalah tiba kembali ke tempat asal, atau tiba di tempat muqim yang lain, atau berniat untuk menetap di suatu tempat dalam waktu tertentu untuk sementara waktu.

a. Tiba Kembali Ke Tempat Asal

Bila seseorang telah selesai melakukan perjalanan dan telah kembali ke tempat asalnya, yaitu rumah tempat tinggalnya, maka berakhirlah hukum safar atasnya.

Dalam hal ini tidak ada perbedaan, apakah perjalanan yang dilakukannya hanya 1 jam saja, atau pun memakan waktu berbulan-bulan. Pokoknya, asalkan dia sudah tiba di rumahnya, maka otomatis sudah selesai perjalanannya.

Dan walaupun niatnya cuma pulang sebentar saja dan langsung pergi lagi, secara hukum tetap saja dianggap sudah selesai dari safarnya pada saat sudah berada di rumah.

Oleh karena itu, semua hukum yang terkait dengan safar sudah tidak berlaku lagi bila sudah pulang sampai di rumah. Termasuk bila sudah pulang sampai di rumah dari safarnya, maka sudah tidak boleh lagi menjama' atau mengqashar shalat.

b. Tiba di Tempat Lain Yang Hukumnya Tempat Muqim

Bila seseorang punya dua tempat muqim atau lebih, meski bukan rumah miliknya sendiri, maka pada tempat-tempat yang hukumnya juga berlaku sebagai tempat muqim itu, juga berlaku hukum untuk bermuqim.

Contohnya adalah Rasulullah SAW yang aslinya tinggal di Mekkah. Ketika beliau SAW hijrah ke Madinah, memang saat itu beliau berniat untuk menjadikan kota itu sebagai tempat tinggal keduanya. Maka selama tinggal di Madinah, beliau tidak pernah mengqashar atau menjama' shalat. Sebab hukum kota Madinah bagi beliau SAW adalah tempat muqim, meski beliau bukan asli orang Madinah.

Ketika Anda memutuskan untuk tinggal di suatu tempat, katakanlah di Jerman, dengan tujuan kuliah, tentu saja hukum Jerman buat  Anda ibarat hukum Madinah buat Rasulullah SAW. Tidak ada istilah musafir, karena pada kenyataannya Anda dan Rasulullah SAW sama-sama menetap dalam kurun waktu yang lama.

Mudahnya begini, kalau ada orang bertanya kepada Anda,"Anda tinggal dimana?", maka pasti anda akan menjawab,"Jerman". Iya kan? Nah, jawaban itu saja sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa Anda memang ber-MUQIM di Jerman, walau pun Anda bukan orang Jerman. Itu persis dengan kasus Rasululah SAW dan para shahabat yang bermuqim di Madinah, dimana mereka terhitung sebagai orang yang bermuqim di Madinah,  meski asalnya bukan dari Madinah.

Jadi Anda saat ini punya dua tempat muqim. Pertama, kota tempat asal anda yang asli, bila memang anda masih punya rumah, atau setidaknya anak dan istri anda memang masih tinggal di kota asal anda. Kedua, adalah kota atau negara tempat sekarang anda bermuqim, yaitu Jerman. Manakala anda berada pada salah satu di antara kedua tempat itu, maka hukumnya anda adalah orang yang bermuqim, bukan orang yang musafr.

Kemusafiran anda hanya sebatas anda di atas kendaraan, terhitung setelah keluar dari salah satu rumah anda di dua tempat berbeda itu, dan berakhir ketika anda sudah sampai di salah satu dari dua tempat anda yang lain.

c. Niat Menetap Sementara Lebih Dari Empat Hari

Hukum safar juga berakhir ketika seseorang dalam suatu perjalanannya, berhenti dan berniat untuk menetap sementara lebih dari empat hari. Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika melakukan perjalanan haji di tahun kesepuluh hijriyah.

Pada saat itu, beliau sudah bersatus sebagai penduduk Madinah dalam arti bermuqim, dan beliau sudah tidak lagi berniat untuk menetap di Mekkah. Artinya, pada saat itu Rasulullah SAW sudah tidak lagi menganggap bahwa Makkah adalah tempat tinggal atau tempat bermuqim dari dirinya.

Maklumlah, pada saat haji itu, beliau SAW sudah tinggal di Madinah selama kurang lebih sepuluh tahun. Beberapa kali beliau memang pernah singgah di Mekkah, namun beliau sama sekali tidak lagi menganggap bahwa Mekkah adalah tempat beliau bermuqim. Tiga kalu umrah yang beliau lakukan sebelumnya menunjukkan bahwa beliau SAW memang tidak lagi menganggap bahwa Mekkah adalah tempat beliau bermuqim. Bahkan seusai melakukan ibadah haji di tahun kesepuluh itu, beliau pun kembali ke Madniah. Semua itu menunjukkan bahwa Mekkah sudah bukan lagi tempat muqim bagi beliau.

Oleh karena itu, ketika beliau singgah sementara di Mekkah pada saat haji, beliau memperlakukannya seperti beliau sedang dalam keadaan safar. Maka beliau SAW menjama' dan mengqashar shalat sejak tanggal 9 hingga tanggal 12 Dzulhijjah, yaitu ketika selama di Arafah, Muzdalifah, Mekkah dan Mina.

Namun menarik untuk dikaji, begitu ritual haji yang empat hari itu usai, beliau tidak segera meninggalkan Mekkah. Beliau masih tinggal beberapa lama di Mekkah. Dan pada saat itu ternyata beliau SAW tidak lagi menjama' atau mengqashar shalat lima waktu. Beliau SAW melaksanakan shalat lima waktu dengan genap dan sempurna, tanpa dijama' atau diqashar.

Dari fakta itu maka kebanyakan ulama menarik kesimpulan, bahwa apabila seseorang menetap untuk sementara, tanpa niat untuk menetap seterusnya di suatu tempat di antara perjalanan safarnya, maka selama durasi empat hari, dia masih terbilang sebagai musafir.

Akan tetapi bila durasi itu melebihi empat hari, maka hitungannya secara hukum sudah dianggap bermuqim. Walau pun niatnya tidak muqim, tetapi hukumnya hukum orang yang muqim. Oleh karena itu semua fasilitas kebolehan dalam safar sudah tidak lagi berlaku.

Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama` dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqoha.

Imam Malik dan Imam As-Syafi`i berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Sedangkan Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap di suatu tempat selama 15 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap di suatu tempat lebih dari 4 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar.

Ibnul Qoyyim berkata, ” Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat”.

Disebutkan Ibnu Abbas, ” Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna”. (HR Bukhari)

Wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


kirim pertanyaan | baca sebelumnya :

Rumah Fiqih Indonesia :: Sampai Kapan Kita Masih Jadi Musafir? Minta Dana Pembangunan Masjid di Tengah Jalan Bikin Macet | Tue, 15 January 2013 23:17 | 3141


Bolehkah Menabung di Bank Tanpa Ambil Bunga? | Tue, 15 January 2013 21:31 | 3382
Mana Sajakah Bacaan Rukun dan Sunah Dalam Shalat | Tue, 15 January 2013 02:58 | 6970
HP Terinstal Quran Dibawa Masuk WC, Bolehkah? | Tue, 15 January 2013 02:20 | 6125
Jual Beli Online Haramkah? | Tue, 15 January 2013 02:09 | 2837
Beberapa Contoh Judi Terselubung | Tue, 15 January 2013 01:51 | 4278
Bolehkah Nyicil Bayar Padi | Mon, 14 January 2013 04:19 | 1928
Apakah Takhrij Hadits Termasuk Hasil Ijtihad | Mon, 14 January 2013 03:46 | 3046
Adakah Tanda Bahwa Taubat Kita Diterima Allah | Sun, 13 January 2013 22:06 | 12022
Anggota Keluarga Murtad, Kita Menanggung Dosa Tujuh Turunan? | Sat, 12 January 2013 21:55 | 4844

Muka | Konsultasi | Fikrah | Tafsir | Ilmu Hadits | Dirasah Madzahib | Fiqih Nisa'