RUMAHFIQIH.COM
Muka | Konsultasi | Fikrah | Tafsir | Ilmu Hadits | Dirasah Madzahib | Fiqih Nisa'


Pesan Disini

Konsultasi

Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan?
Thu, 7 September 2006 02:37 | 1542 | baca versi desktop | kirim pertanyaan

Assalaamualaikum wr. wb.

Pak ustadz yang dirahmati Allah SWT, perkara warisan bagi anak laki-laki atau perempuan dari hasil perzinaan saya jelas, tapi yang masih menjadi pertanyaan adalah siapakah yang bisa atau berhak menikahkan anak perempuan hasil zina atau hasil perkosaan? Sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seorang wanita yang lahir dari hasil perzinaan kedua orang tuanya, secara hukum nasabnya terputus dari ayah kandungnya. Sehingga si ayah kandung itu tidak bisa menjadi wali atas dirinya.

Keadaan ini berlangsung hingga ayahnya itu menikahi ibunya secara syar'i. Dengan menikahnya mereka, maka hubungan nasab antara ayah dan anak akan tersambung kembali. Sehingga si ayah itu boleh dan berhak menjadi wali bagi anak gadisnya.

Seadainya pernikahan sah antara kedua orang tuanya itu tidak terlaksana, maka tidak ada garis nasab antara anak gadis itu dengan ayah biologisnya. Statusnya boleh dibilang hanya sebagai ayah biologis semata, bukan ayah secara hukum.

Maka bila anak gadis itu akan dinikahkan, hanya ada satu di antara dua pilihan. Pertama, meminta kepada si ayah biologis itu untuk menikahi ibu gadis itu, agar hubungan nasab antara keduanya bisa terbentuk kembali.

Kedua, bila gadis itu tidak punya wali, maka yang berwenang untuk menjadi wali baginya adalah penguasa (sultan). Sultan adalah pemerintah yang sah yang berkuasa di negeri tempat tinggalnya. Kalau dalam tatanan negara kita, wewenang itu biasanya ada pada hakim pada pengadilan agama atau petugas Kantor Urusan Agama Departemen Agama RI.

Ke kantor inilah si gadis mengurus masalah perwalian atas dirinya, bila akan menikah dengan seorang laki-laki.

Semua itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW:

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sultan (penguasa) adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali." (HR. Arba'ah)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


kirim pertanyaan | baca sebelumnya :

Rumah Fiqih Indonesia :: Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan? Hutang Puasa Bisakah Dibayar setelah Ramadhan Berikutnya? | Thu, 7 September 2006 00:00 | 1676


Islam Tanpa Syariat Versi Islam Liberal, Oriantalis, dan Mu'tazillah | Wed, 6 September 2006 01:04 | 1337
Menikah tanpa Ridha Orang Tua | Wed, 6 September 2006 00:55 | 1352
Pakaian Bidan | Wed, 6 September 2006 00:53 | 1296
Bagaimana Menentukan Arah Kiblat? | Wed, 6 September 2006 00:51 | 1476
Status Harta Warisan | Wed, 6 September 2006 00:47 | 1331
Cara Menguburkan Tembuni (Ari-Ari) secara Syar'i | Wed, 6 September 2006 00:41 | 1835
Masih Haramkah Poliandri Setelah Ditemukannya Test DNA? | Wed, 6 September 2006 00:39 | 1496
Keluarkah Saya dari Islam? | Tue, 5 September 2006 04:59 | 1720
Sebenarnya di Mana Allah Itu? | Tue, 5 September 2006 04:57 | 2215

Muka | Konsultasi | Fikrah | Tafsir | Ilmu Hadits | Dirasah Madzahib | Fiqih Nisa'