Rumah Fiqih
Muka | Konsultasi | Fikrah | Ensiklopedi | Maktabah

Konsultasi Syariah | Thu, 7 September 2006 02:37

Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan?

[ baca versi desktop ]

Assalaamualaikum wr. wb.

Pak ustadz yang dirahmati Allah SWT, perkara warisan bagi anak laki-laki atau perempuan dari hasil perzinaan saya jelas, tapi yang masih menjadi pertanyaan adalah siapakah yang bisa atau berhak menikahkan anak perempuan hasil zina atau hasil perkosaan? Sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seorang wanita yang lahir dari hasil perzinaan kedua orang tuanya, secara hukum nasabnya terputus dari ayah kandungnya. Sehingga si ayah kandung itu tidak bisa menjadi wali atas dirinya.

Keadaan ini berlangsung hingga ayahnya itu menikahi ibunya secara syar'i. Dengan menikahnya mereka, maka hubungan nasab antara ayah dan anak akan tersambung kembali. Sehingga si ayah itu boleh dan berhak menjadi wali bagi anak gadisnya.

Seadainya pernikahan sah antara kedua orang tuanya itu tidak terlaksana, maka tidak ada garis nasab antara anak gadis itu dengan ayah biologisnya. Statusnya boleh dibilang hanya sebagai ayah biologis semata, bukan ayah secara hukum.

Maka bila anak gadis itu akan dinikahkan, hanya ada satu di antara dua pilihan. Pertama, meminta kepada si ayah biologis itu untuk menikahi ibu gadis itu, agar hubungan nasab antara keduanya bisa terbentuk kembali.

Kedua, bila gadis itu tidak punya wali, maka yang berwenang untuk menjadi wali baginya adalah penguasa (sultan). Sultan adalah pemerintah yang sah yang berkuasa di negeri tempat tinggalnya. Kalau dalam tatanan negara kita, wewenang itu biasanya ada pada hakim pada pengadilan agama atau petugas Kantor Urusan Agama Departemen Agama RI.

Ke kantor inilah si gadis mengurus masalah perwalian atas dirinya, bila akan menikah dengan seorang laki-laki.

Semua itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW:

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sultan (penguasa) adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali." (HR. Arba'ah)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

[ kembali ] Rumah Fiqih Indonesia :: Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan?

  • Apakah Janin Dalam Kandungan Dapat Warisan? | Thu, 17 April 2014 06:24
  • Hukum Rajam Tidak Ada Dalam Al-Quran? | Wed, 16 April 2014 01:00
  • Sahkah Shalat Jamaah Diimami Anak Kecil? | Tue, 15 April 2014 04:01
  • Bayar Hutang Dulu atau Bayar Zakat Dulu? | Mon, 14 April 2014 09:30
  • Takbiratul Ihram di Pesawat Harus Menghadap Kiblat? | Sun, 13 April 2014 07:10
  • Telapak Kaki Perempuan Bukan Aurat? | Sat, 12 April 2014 03:21
  • Bolehkah Menjama Dua Shalat dan Mengqasharnya Sekaligus? | Thu, 10 April 2014 08:42
  • Apakah Setiap Pembunuh Wajib Dibunuh Juga? | Wed, 9 April 2014 05:59
  • Pernah Berzina, Bisakah ke Saudi untuk Minta Dirajam | Tue, 8 April 2014 06:01
  • Bisakah Dosa Ditransfer ke Orang Lain Sebagaimana Pahala? | Mon, 7 April 2014 15:20

    kirim soal