Al-Baqarah [2] : 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah : 2)


Bagikan ke WhatsApp
1 | 2 | 3

Lafadz dzalika (ذلك) bermakna ’itu’ untuk menunjuk tempat yang jauh. Sedangkan untuk menunjukkan tempat yang dekat menggunakan ‘ini’ hadza (هذا). Asalnya dza (ذا) menunjukkan sesuatu yang dekat, bila ditambah dengan huruf lam (اللام), maka menunjukkan pada yang agak jauh, namun bila ketambahan huruf kaf (كاف), maknanya menjadi jauh.[1]

Namun sebagian mufassir seperti As-Suddi, Ikrimah, Mujahid bahkan Ibnu Abbas memaknainya dengan ‘ini’ yang berarti dekat[2].

 Karena orang Arab seringkali menggunakannya meski untuk sesuatu yang dekat. Di dalam Al-Quran keduanya digunakan untuk menunjuk Al-Quran, kadang menggunakan itu dan kadang ini. Ketika menggunakan kata itu, makna yang terkandung memang terasa jauh, naun maksudnya jauh di atas sana sehingga menunjukkan keagungan.

 


[1] Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 56

[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M), Vol 1 h. 225

Menurut banyak mufassir bahwa yang dimaksud al-Kitab dalam ayat ini adalah Al-Quran itu sendiri, dimana Al-Quran memang punya banyak nama. Al-Fakhru ar-Razi menyebutkan dalam Mafatih al-Ghaib sekitar 32 nama untuk Al-Quran dan yang pertama adalah al-Kitab.

كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ

Kitab yang Kami turunkan kepadamu (QS. Al-A’raf : 2)

NAMA AYAT
1. Al-Kitab كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ ]الأعراف : 2[
2. Al-Quran إشَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ [الْبَقَرَةِ: 185] .
3. Al-Furqan تَبارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى عَبْدِهِ [الْفُرْقَانِ: 1]
4. Adz-Dzikr وَهذا ذِكْرٌ مُبارَكٌ أَنْزَلْناهُ [الْأَنْبِيَاءِ: 50] إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ [الْحِجْرِ: 9]
5. At-Tanzil وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ [الشُّعَرَاءِ: 192- 193] .
6. Al-Hadits اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتاباً [الزُّمَرِ: 23]
7. Al-Mau’izhah يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ [يُونُس: 57]
8. Al-Hukm وَكَذلِكَ أَنْزَلْناهُ حُكْماً عَرَبِيًّا [الرَّعْدِ: 37]
9. As-Syifa’ وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [الإسراء: 82]
10. Al-Huda وَشِفاءٌ لِما فِي الصُّدُورِ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [يُونُس: 57]
11. As-Shirath وَأَنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ.
12. Al-I’tisham وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً [آلِ عِمْرَانَ: 103]
13. Ar-Rahmah وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [الْإِسْرَاءِ: 88]
14. Ar-Ruh وَكَذلِكَ أَوْحَيْنا إِلَيْكَ رُوحاً مِنْ أَمْرِنا [الشُّورَى: 52]
15. Al-Qashash نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ [يُوسُفَ: 3]
16. At-Tibyan وَنَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْءٍ [النَّحْلِ: 89]
17. Al-Bashair هَذَا بَصائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ [الْأَعْرَافِ: 203]
18. Al-Fashl إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ وَما هُوَ بِالْهَزْلِ [الطَّارِقِ: 13، 14]
19. An-Nujum فَلا أُقْسِمُ بِمَواقِعِ النُّجُومِ [الْوَاقِعَةِ: 75]
20. Al-Matsani مَثانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ [الزُّمَرِ: 23]
21. An-Nikmah وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ [الضُّحَى: 11]
22. Al-Burhan قَدْ جاءَكُمْ بُرْهانٌ مِنْ رَبِّكُمْ [النِّسَاءِ: 174]
23. Al-Basyir بَشِيراً وَنَذِيراً فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ [فُصِّلَتْ: 4]
24. Al-Qiyam قَيِّماً لِيُنْذِرَ بَأْساً شَدِيداً [الْكَهْفِ: 2]
25. Al-Muhaimin مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ [الْمَائِدَةِ: 48]
26. Al-Hadi إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ [الْإِسْرَاءِ: 9]
27. An-Nur وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ [الْأَعْرَافِ: 157]
28. Al-Haq وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ [الْحَاقَّةِ: 51]
29. Al-Aziz وَإِنَّهُ لَكِتابٌ عَزِيزٌ [فُصِّلَتْ: 41]
30. Al-Karim إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتابٍ مَكْنُونٍ [الْوَاقِعَةِ: 77]
31. Al-Azhim وَلَقَدْ آتَيْناكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [الحجر: 87]
32. Al-Mubarak وَهذا ذِكْرٌ مُبارَكٌ [الْأَنْبِيَاءِ: 50]

Al-Fakhru Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, 2/260-265

Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo, Darul Kutub Al-Mishriyah, 1964 M) Cet-2, Vol 1 h. 158

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 61

Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo, Darul Kutub Al-Mishriyah, 1964 M) Cet-2, Vol 1 h. 158

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 61

Huda adalah cahaya, yaitu cahaya bagi orang yang bertaqwa sebagaimana pendapat as-Suddi. Sedangkan Asy-Sya’bi mengatakan huda adalah petunjuk dari kesesatan. Dan Said bin Jubaik mengatakan huda adalah tibyan (penjelasan) bagi ora     ng muttaqin. Dan semuanya shahih.

Ibnu Katsir

Muttaqin adalah orang yang bertaqwa, yaitu yang menghindari diri dari syirik kepada Allah dan mengamalkan dengan ketaatan. Al-Kalbi mengatakan muttaqin adalah orang yang menjaga diri dari melakukan dosa besar.

At-Tirmizy dan Ibnu Majah meriwayatan sebuah hadits terkait dengan orang yang bertaqwa sebagai berikut :

لا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ المتَّقين حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

Seorang hamba tidak sampai derajat muttaqin hingga dia meninggalkan hal-hal yang tidak mengapa karena takut akan tertimpa apa-apa.(HR. Tirmizy dan Ibnu Majah)

At-Tirmizi memberi status hadits ini sebagai Hasan Garib. Lihat Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Libanon Darul Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt) vol.2 h. 1402

Dalam struktur kalimat, posisi kata la raiba ini menjadi khabar atas mubtada' yaitu dzalikal kitabu.

Makna la raiba adalah tidak ada syak atau tidak ada keraguan. Maksudnya tidak ada keraguan atas Al-Quran, dimana Al-Quran ini kebenarannya sudah tidak perlu diragukan lagi.

Namun ada sebagian kalangan yang menganggap huruf lam di ayat ini bermakna larangan (nahyu), sehingga maknanya jangan lah kamu meragukannya. Sebagaimana larangan tidak boleh melakukan rafats, fusuq dan jidal dalam haji yang juga menggunakan lam yang sama. (فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج).

2. Waqaf

Ada tiga macam waqaf dalam kaitannya dengan lafadz raib ini :

a. Dzalikal Kitabu - La Raiba

b.

TAFSIR WAJIZ

nilah Kitab yang sempurna dan penuh keagungan, yaitu Al-Qur'an yang Kami turunkan kepada Nabi Muhammad, tidak ada keraguan padanya tentang kebenaran apa-apa yang terkandung di dalamnya, dan orang-orang yang berakal sehat tidak akan dihinggapi keraguan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah karena sangat jelas kebenarannya.

Al-Qur'an juga menjadi petunjuk yang sempurna bagi mereka yang mempersiapkan diri untuk menerima kebenaran dengan bertakwa, yaitu mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya agar terhindar dari siksa Allah. Meski petunjuk Al-Qur'an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, hanya orang-orang bertakwa saja yang siap dan mampu mengambil manfaat darinya.

TAFSIR TAHLILI

Ayat ini menerangkan bahwa Al-Qur‘an tidak dapat diragukan, karena ia wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw Nabi yang terakhir dengan perantaraan Jibril a.s. :

Dan sungguh (Al-Qur‘an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) (asy-Syu‘ara‘/26: 192-193). Yang dimaksud “Al-Kitab” (wahyu) di sini ialah Al-Qur‘an.

Disebut “Al-Kitab” sebagai isyarat bahwa Al-Qur‘an harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad saw memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Qur‘an. Al-Qur‘an merupakan bimbingan bagi orang yang bertakwa, sehingga dia berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Orang yang bertakwa ialah orang yang memelihara dan menjaga dirinya dari azab Allah dengan selalu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di antara tanda-tanda orang yang bertakwa ialah sebagaimana yang tersebut pada ayat-ayat berikut:

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili