2. Al-Baqarah : 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah : 2)

Abdullah Yusuf Ali : This is the Book; in it is guidance sure, without doubt, to those who fear Allah;



1 | 2 | 3

T A F S I R


Lafadz dzalika (ذلك) bermakna ’itu’ untuk menunjuk tempat yang jauh. Sedangkan untuk menunjukkan tempat yang dekat menggunakan ‘ini’ hadza (هذا). Asalnya dza (ذا) menunjukkan sesuatu yang dekat, bila ditambah dengan huruf lam (اللام), maka menunjukkan pada yang agak jauh, namun bila ketambahan huruf kaf (كاف), maknanya menjadi jauh.

Namun sebagian mufassir seperti As-Suddi, Ikrimah, Mujahid bahkan Ibnu Abbas memaknainya dengan ‘ini’ yang berarti dekat.

 Karena orang Arab seringkali menggunakannya meski untuk sesuatu yang dekat. Di dalam Al-Quran keduanya digunakan untuk menunjuk Al-Quran, kadang menggunakan itu dan kadang ini. Ketika menggunakan kata itu, makna yang terkandung memang terasa jauh, naun maksudnya jauh di atas sana sehingga menunjukkan keagungan.

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 56

Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M), Vol 1 h. 225



Menurut banyak mufassir bahwa yang dimaksud al-Kitab dalam ayat ini adalah Al-Quran itu sendiri, dimana Al-Quran memang punya banyak nama. Al-Fakhru ar-Razi menyebutkan dalam Mafatih al-Ghaib sekitar 32 nama untuk Al-Quran dan yang pertama adalah al-Kitab.

كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ

Kitab yang Kami turunkan kepadamu (QS. Al-A’raf : 2)

Al-Kisa’i mengatakan bahwa kitab yang dimaksud adalah Al-Quran yang ada di langit dan belum diturunkan. Sehingga digunakan kata tunjuk yang jauh, ‘itu’.

  • Ibnu Kaisan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kitab adalah Al-Quran yang turun lebih dulu di Mekkah. Lantaran surat Al-Baqarah ini turun di Madinah setelah melewati hari-ha7ri turunnya Al-Quran di Mekkah.
  • Ikrimah menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kitab di ayat ini adalah Taurat dan Injil, yang juga datang dari Allah SWT.

Ibnu Hajib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kitab adalah Lauh al-mahfuzh.

NAMA AYAT
1. Al-Kitab كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ ]الأعراف : 2[
2. Al-Quran إشَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ [الْبَقَرَةِ: 185] .
3. Al-Furqan تَبارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى عَبْدِهِ [الْفُرْقَانِ: 1]
4. Adz-Dzikr وَهذا ذِكْرٌ مُبارَكٌ أَنْزَلْناهُ [الْأَنْبِيَاءِ: 50] إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ [الْحِجْرِ: 9]
5. At-Tanzil وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ [الشُّعَرَاءِ: 192- 193] .
6. Al-Hadits اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتاباً [الزُّمَرِ: 23]
7. Al-Mau’izhah يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ [يُونُس: 57]
8. Al-Hukm وَكَذلِكَ أَنْزَلْناهُ حُكْماً عَرَبِيًّا [الرَّعْدِ: 37]
9. As-Syifa’ وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [الإسراء: 82]
10. Al-Huda وَشِفاءٌ لِما فِي الصُّدُورِ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [يُونُس: 57]
11. As-Shirath وَأَنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ.
12. Al-I’tisham وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً [آلِ عِمْرَانَ: 103]
13. Ar-Rahmah وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [الْإِسْرَاءِ: 88]
14. Ar-Ruh وَكَذلِكَ أَوْحَيْنا إِلَيْكَ رُوحاً مِنْ أَمْرِنا [الشُّورَى: 52]
15. Al-Qashash نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ [يُوسُفَ: 3]
16. At-Tibyan وَنَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْءٍ [النَّحْلِ: 89]
17. Al-Bashair هَذَا بَصائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ [الْأَعْرَافِ: 203]
18. Al-Fashl إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ وَما هُوَ بِالْهَزْلِ [الطَّارِقِ: 13، 14]
19. An-Nujum فَلا أُقْسِمُ بِمَواقِعِ النُّجُومِ [الْوَاقِعَةِ: 75]
20. Al-Matsani مَثانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ [الزُّمَرِ: 23]
21. An-Nikmah وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ [الضُّحَى: 11]
22. Al-Burhan قَدْ جاءَكُمْ بُرْهانٌ مِنْ رَبِّكُمْ [النِّسَاءِ: 174]
23. Al-Basyir بَشِيراً وَنَذِيراً فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ [فُصِّلَتْ: 4]
24. Al-Qiyam قَيِّماً لِيُنْذِرَ بَأْساً شَدِيداً [الْكَهْفِ: 2]
25. Al-Muhaimin مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ [الْمَائِدَةِ: 48]
26. Al-Hadi إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ [الْإِسْرَاءِ: 9]
27. An-Nur وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ [الْأَعْرَافِ: 157]
28. Al-Haq وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ [الْحَاقَّةِ: 51]
29. Al-Aziz وَإِنَّهُ لَكِتابٌ عَزِيزٌ [فُصِّلَتْ: 41]
30. Al-Karim إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتابٍ مَكْنُونٍ [الْوَاقِعَةِ: 77]
31. Al-Azhim وَلَقَدْ آتَيْناكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [الحجر: 87]
32. Al-Mubarak وَهذا ذِكْرٌ مُبارَكٌ [الْأَنْبِيَاءِ: 50]

Al-Fakhru Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, 2/260-265

Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo, Darul Kutub Al-Mishriyah, 1964 M) Cet-2, Vol 1 h. 158

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 61

Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo, Darul Kutub Al-Mishriyah, 1964 M) Cet-2, Vol 1 h. 158

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 61



Dalam struktur kalimat, posisi kata la raiba ini menjadi khabar atas mubtada' yaitu dzalikal kitabu.

Makna la raiba adalah tidak ada syak atau tidak ada keraguan. Maksudnya tidak ada keraguan atas Al-Quran, dimana Al-Quran ini kebenarannya sudah tidak perlu diragukan lagi.

Namun ada sebagian kalangan yang menganggap huruf lam di ayat ini bermakna larangan (nahyu), sehingga maknanya jangan lah kamu meragukannya. Sebagaimana larangan tidak boleh melakukan rafats, fusuq dan jidal dalam haji yang juga menggunakan lam yang sama. (فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج).

2. Waqaf

Ada tiga macam waqaf dalam kaitannya dengan lafadz raib ini :

a. Dzalikal Kitabu - La Raiba

b.



Huda adalah cahaya, yaitu cahaya bagi orang yang bertaqwa sebagaimana pendapat as-Suddi. Sedangkan Asy-Sya’bi mengatakan huda adalah petunjuk dari kesesatan. Dan Said bin Jubaik mengatakan huda adalah tibyan (penjelasan) bagi ora     ng muttaqin. Dan semuanya shahih.

Ibnu Katsir



Muttaqin adalah orang yang bertaqwa, yaitu yang menghindari diri dari syirik kepada Allah dan mengamalkan dengan ketaatan. Al-Kalbi mengatakan muttaqin adalah orang yang menjaga diri dari melakukan dosa besar.

At-Tirmizy dan Ibnu Majah meriwayatan sebuah hadits terkait dengan orang yang bertaqwa sebagai berikut :

لا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ المتَّقين حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

Seorang hamba tidak sampai derajat muttaqin hingga dia meninggalkan hal-hal yang tidak mengapa karena takut akan tertimpa apa-apa.(HR. Tirmizy dan Ibnu Majah)

At-Tirmizi memberi status hadits ini sebagai Hasan Garib. Lihat Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Libanon Darul Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt) vol.2 h. 1402


1 | kembali | 3